
Laki-laki berparas tampan ini menyandarkan tubuhnya di dinding kasur. Masih terpikirkan perubahan sikap Valonia Jasmine, ia juga menduga jika gadis itu sengaja melakukannya.
Dugaan Keyan tidak tepat, ia berpikir jika mendengar kabar pertunangannya dan Tita. Valonia akan menangis dan menyesal karena pernah menolaknya. Namun semua malah sebaliknya. Ia yang dibuat resah oleh Valonia.
Merasa bosan sendiri, Keyan memutuskan untuk keluar dari rumah. Ia ingin menikmati masa sendirinya sebelum nanti menikahi Tita. Mengingat gadis itu, Keyan seakan lupa keberadaannya. Bahkan, ia lupa untuk menelpon Tita seperti biasanya.
Keyan berencana esok pagi saja menemuinya. Laki-laki ini mengenakan jaketnya lalu meraih kunci mobil dan ponsel. Ia bergegas keluar dari kamar. Di undakan tangga Keyan berpapasan dengan Bunda Arini.
"Mau kemana, Key ?"
Pertanyaan Bunda menghentikan langkah putranya.
"Mau keluar sebentar, Bun !" Pamit Keyan sambil lanjut melangkah.
"Hati-hati !" Teriak Bunda melihat punggung putranya sudah di ambang pintu.
Keyan melajukan mobilnya menuju butik Valonia Jasmine. Dia mengatakan benci. Tapi hatinya menuntun untuk melihat gadis itu.
Apakah perasaan itu sudah musnah ? Atau hanya sekedar beku. Tapi, tetap terpatri di hatinya.
Mobil Keyan berhenti tak jauh dari halaman butik. Dari sana, ia mengamati situasi. Netranya tertuju pada lantai tiga. Lampunya menyala pertanda penghuninya masih bangun. Keyan mencoba menerobos tirai yang menghalangi pandangannya. Ia memfokuskan penglihatannya dengan setajam-tajamnya.
Di balik tirai itu nampak samar seseorang tengah duduk. Terdengar juga alunan nada yang tak nyaring. Namun, karena suasana sepi Keyan bisa mendengarnya. Ia pun bertanya dalam hati, apakah Valonia tinggal di lantai itu ?
Hampir satu jam, ia berdiam diri di samping mobil sambil melihat ke atas. Entah apa yang pikirkannya sekarang hingga rela membuang waktu hanya untuk datang ke tempat itu.
Saat pikirannya bergejolak, ia dikejutkan dengan sosok Valonia Jasmine yang turun dari undakan tangga. Gadis itu lebih senang menggunakan tangga dari pada lift di samping butiknya.
Valonia turun dengan pakaian training, di telinganya tertempel earphone. Ia melangkah meninggalkan butiknya. Keyan melirik jam di tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan jam delapan malam.
Kenapa dia jalan kaki ? Ini sudah jam delapan, mau ke mana dia ?
Keyan memilih mengikuti gadis itu. Dia yakin jika Valonia sengaja bersikap tidak mengenalnya. Seharusnya, ia senang tapi kenapa rasanya begitu kesal. Dari jarak yang tak jauh Keyan mengikuti langkah Valonia. Perjalanan gadis itu semakin jauh dari butiknya.
Setelah lama berjalan, Valonia berhenti dan duduk di salah satu kursi. Ia mendengarkan lagu di earphone nya. Melihat hal itu Keyan tak membuang kesempatan. Ia sengaja berjalan cepat lalu dengan sengaja menginjak ujung sepatu Valonia.
"Hei, kalau jalan lihat-lihat. Kenapa menginjak ujung sepatuku !" Bentak Valonia melepaskan earphone nya. Suasana hatinya hari ini memang sedikit kurang baik.
Keyan memundurkan langkahnya lalu menoleh. " Rupanya kamu !" Ia tersenyum sinis. "Ayolah Jasmine jangan berpura-pura tidak mengenaliku lagi. Kita hanya berdua di sini." Sambungnya ketika melihat raut keterkejutan di wajah Valonia.
"Tuan Ganendra?" Tebak Valonia menunjuk ke arah Keyan. Ia menatap kesal pada laki-laki itu.
Keyan tertawa. "Aktingmu bagus sekali ! Kamu sengajakan berpura-pura lupa padaku ?"
Valonia menatap wajah Keyan dengan raut tak bersahabat. "Maksud anda apa ? Saya tidak berpura-pura ! Kita memang tidak saling mengenal." Tegasnya datar. Kemudian meninggalkan tempat itu
Seringai sinis di bibir Keyan lenyap begitu saja. Ia menatap punggung Valonia yang menjauh. Tanpa terasa sudah pukul sepuluh malam. Sebagai laki-laki ia tak mungkin membiarkan gadis itu jalan kaki sendiri. Keyan kembali mengikuti Valonia, bukan hanya merasa terpanggil jiwa lelakinya. Tapi mobil Keyan berada tak jauh dari butik gadis itu.
Valonia tidak lagi jalan kaki. Ia berlari berharap tubuhnya lelah dan cepat tidur setelah ini. Jujur, ia terpikirkan dengan ucapan Alvan dan Keyan saat menyebutkan malam reunian. Seingatnya, dia tidak pernah datang ke acara apa pun.
"Valo !"
Valonia tersadar saat suara yang sangat dikenalnya. Memanggil namanya. Ia menghentikan langkahnya karena memang sudah tiba di halaman butik.
"Sonny, kamu baru pulang ?" Valonia melangkah menghampiri sahabatnya itu.
Dari jauh Keyan masih memperhatikan Valonia Jasmine. Kini ia semakin yakin jika gadis itu berpura-pura lupa, terbukti Valonia bisa mengenali Sonny.
"Jangan terlalu lelah. Belajarlah menciptakan zona nyaman agar kamu bisa tidur nyenyak." Sonny memberikan saran. Hampir setiap malam ia akan melewati butik sahabatnya ini.
"Siapa?" Sonny penasaran siapa yang sudah bertemu gadis ini ?
"Tuan Muda Ganendra itu !" Kesal Valonia. Kemarin ia sudah menceritakan pertemuannya pada orang aneh menurutnya pada Levin, Varen dan Sonny.
Sonny mengepalkan tangannya. "Jika kamu bertemu mereka lagi menghindarlah. Johan Ganendra tidak akan suka putranya dekat dengan orang biasa seperti kita. Sekarang masuklah, istirahat jangan pikirkan macam-macam ! Jika mimpi itu datang lagi, maka cobalah tidur lagi anggap mimpi itu tidak ada."
Valonia mengangguk lalu masuk kedalam lift karena sudah terlalu lelah untuk naik tangga. Di bawah sana Sonny masih menunggu sampai Valonia benar-benar masuk ke rumahnya di lantai tiga. Sonny meraih ponselnya dan menelpon Varen lalu menceritakan apa saja yang disampaikan Valonia.
Dari dalam mobilnya, Keyan bertanya-tanya. Apa hubungan Valonia dan Sonny ? Kenapa mereka begitu akrab ?
...----------------...
Satu Minggu berlalu, Valonia dan Keyan tidak lagi bertemu. Hari ini, laki-laki yang menjabat sebagai wakil direktur itu ada janji temu dengan kliennya. Sialnya janji itu diadakan di Ren'cafe. Mau tidak mau Keyan harus ke sana. Tapi dia tidak sendiri ada Tita dan Alvan yang menemaninya.
Setiba disana, Keyan, Tita dan Alvan melebarkan penglihatan masing-masing. Rupanya klien mereka sudah ada di sana. Sebenarnya, Alvan tidak ada hubungannya dengan pertemuan itu. Ia hanya ingin makan siang saja. Mereka membicarakan perihal pekerjaan hingga menghabiskan waktu empat puluh menit.
Setelah menemukan kesepakatan, klien itu meninggalkan kafe. Kini Keyan , Tita dan Alvan ingin makan siang karena klien tadi tidak ingin bergabung.
Sambil menunggu pesanan, netra ketiganya tertuju pada salah satu meja. Di sana ada Valonia Jasmine dan teman-temannya.
"Kamu lihat, Al. Dia hanya berpura-pura lupa pada kita." Keyan menunjuk Valonia dengan sorot matanya.
"Itu keputusannya biarkan saja." Alvan malas menanggapi emosi sahabatnya ini.
"Al, Benar. Key ! Biarkan saja dia bersikap seperti itu. Tidak ada hubungannya dengan kita. Lebih baik kita fokus pada rencana pertunangan kita." Tita setuju dengan kata-kata Alvan.
Keyan hanya diam tidak menanggapi perkataan Tita maupun Alvan. Ia masih saja ingin membuktikan jika Valonia berpura-pura.
Di meja lain, Valonia dan yang lainnya tengah menikmati makan siang mereka. Di antara mereka ada anak laki-laki berusia sekitar dua tahun. Anak laki-laki itu duduk dipangkuan Levin.
"Jadi dia menemui, Jasmine lagi ?" Levin bertanya sambil menyuapi makanan pada anak laki-laki di pangkuannya.
"Iya, aku hanya takut kehadiran mereka berpengaruh pada kesehatan Valonia. Kemarin saja mereka sudah membahas tentang reunian waktu itu." Jelas Sonny meletakkan sendok di piring. Laki-laki itu menyudahi makan siangnya.
"Setelah mempermalukan Valo malam itu. Mereka masih berani bertemu dengannya !" Geram Rara. Ia juga menyudahi makannya.
"Kalian bicara apa ? Dan reunian apa ?" Valonia bingung dengan arah pembicaraan teman-temannya.
"Bukan hal penting, Valo. Kemarin kamu cerita ada tiga orang yang mengaku mengenal mu, 'kan ?" Rara mengalihkan pembicaraan.
Valonia mengangguk. "Iya mereka keluarga Ganendra. Mereka datang untuk mencari gaun pertunangan."
"Jadi mereka akan bertunangan?" Varen meletakkan gelas setelah meminum airnya sampai habis.
"Iya, laki-laki yang bernama Keyan itu dan gadis bernama Tita." Ujar Valonia membenarkan lagi.
"Jasmine, mereka hanya teman satu angkatanmu sewaktu SMA. Wajar jika kamu lupa" Levin tersenyum hangat. Mengingatkan kembali tentang tiga orang yang dimaksud Valonia
"Laki-laki itu terlihat kesal." Tanggap Valonia santai.
"Abaikan saja ! Mereka tidak penting, jangan dipikirkan lagi. Sekarang fokus pada dirimu sendiri." Sahut Varen menatap sepupunya itu. Valonia mengangguk setuju.
Dari jarak tak jauh, Keyan masih memperhatikan Valonia Jasmine. Entah kenapa dia ingin sekali membuktikan jika gadis itu hanya berakting.
Siapa anak laki-laki itu ? Apa Bang Levin menikahi Jasmine. Kemarin karyawannya sempat mengatakan jika Bang Levin sudah menikah. Tapi aku tidak melihatnya saat di butik
Keyan berperang dengan pikirannya sendiri.