
Di ufuk barat matahari hampir tenggelam. Kilau senja membias indah di cakrawala. Desir angin menggelitik kulit dua insan yang bermanja-manja di atas balkon kamar kediaman mereka. Menyambut malam dengan rasa suka cita dan penuh syukur.
Keyan memeluk erat tubuh istrinya, serta mencium harum rambutnya yang melayang diterpa angin. Laki-laki ini tak menyia-nyiakan kesempatan saat berdua. Sejak lama ia inginkan hal semacam ini, namun Keyan harus bersabar dan saat ini ia menikmati buah kesabarannya yang telah matang.
"Key, kapan kamu mulai masuk bekerja ?"
Keyan menjatuhkan dagunya di bahu Valonia. Pemandangan hijau yang terlihat dari balkon kamar mereka sangat menyegarkan mata. "Cuti ku dua Minggu."
"Kamu bekerja dimana setelah kembali ke sini?" Valonia menoleh hingga Keyan dengan liciknya menempelkan bibir mereka.
"Aku masih bekerja di perusahaan asing yang sama. Mereka sedang membuka cabangnya."
"Kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal ke butik setiap hari ? Aku harus menyiapkan segala kelengkapan untuk JFB." Valonia menyandarkan kepalanya di dada Keyan.
"Aku ikut denganmu ke butik. Menurutku, barang-barang di sana tidak perlu dipindahkan kecuali yang penting saja. Jadi bila kita malas pulang bisa tidur di sana." Keyan memberi usul. "Harusnya dua Minggu cuti ku setelah pernikahan kita akan pergi bulan madu. Tapi karena kerja samamu dan JFB jadi kita tunda saja ya." Sambungnya lagi.
"Aku setuju !" Valonia mendongak ke atas menatap wajah suaminya. "Ada yang mengetuk biar aku buka dulu." Ia melepaskan tautan tangan Keyan di tubuhnya. Ia gegas membuka pintu.
"Nyonya, ada Ibu tuan Keyan di bawah."
"Terimakasih, Bi. Katakan pada beliau kami segera turun." Valonia tersenyum pada Bi Noni.
"Baik Nyonya. Apa beliau boleh minum manis ?"
"Bunda tidak ada pantangan, Bi !" Sahut Keyan menyusul Valonia karena lama membuka pintu.
"Baiklah." Pamit Bi Noni turun lebih dulu.
Keyan membawa Valonia turun, tangan mereka saling menggenggam. Keyan merasakan jika telapak tangan istrinya dingin, pertanda jika Valonia sedang gugup. Keyan tersenyum lalu mengecup buku-buku jari istrinya dengan lembut. Seolah mengatakan semuanya baik-baik saja. Kehadiran Bunda Arini di hari pernikahan tidak terlalu meyakinkan untuk Valonia.
"Bunda." Sapa Keyan memeluk Bunda Arini.
"Keyan." Bunda Arini memeluk Keyan dan Valonia bergantian.
"Bunda naik apa kesini ? Apa ayah tahu ?"
Bunda Arini tersenyum. "Bunda naik taksi, ayah belum tahu. Karena itu Bunda tidak mau di antar sopir." Netra nya melirik ke menantunya yang hanya diam menyimak.
"Sayang, aku mandi dulu ya. Kamu temani Bunda." Keyan memberi waktu berdua untuk istri dan ibunya. Ia tahu hubungan keduanya masih canggung. Tanpa malu Keyan mengecup pipi Valonia di depan Bunda Arini.
"Kamu belum mandi ?" Bunda Arini tersenyum melihat wajah malu Valonia. Ia juga melihat rasa cinta putranya pada Valonia Jasmine.
"Iya Bun. Nanti kita makan malam bersama."
Keyan melangkah meninggalkan ruang tengah. Bunda Arini melihat punggung Keyan sudah tidak nampak di tangga. Ia menggeser duduknya agar dekat dengan Valonia Jasmine.
"Valonia, Bunda minta maaf. Atas sikap Bunda yang tidak menyenangkan. Waktu itu Bunda hanya frustasi karena tidak tahu keberadaan Keyan, Om Andre sudah menceritakan kemana anak itu pergi selama ini."
Valonia menatap manik mata Bunda Arini, terpancar ketulusan di dalam sana. Ada pengharapan besar yang tersimpan. Valonia menghela nafas panjang dan berkata. "Aku sudah melupakannya. Sekarang Bunda percaya, 'kan? kalau aku tidak menyembunyikan, Keyan."
Bunda Arini mengangguk. "Iya, Bunda percaya. Jangan sungkan, Nak. Anggap Bunda sama seperti Mamamu."
"Terimakasih, Bunda."
"Keyan sangat mencintaimu, tolong cinta dia. Cintanya amat besar padamu. Bunda juga tahu dia mengancam dengan berniat meloncat dari lantai tiga butik mu agar mau menikah dengannya, Alvan menceritakannya." Bunda Arini mengatakannya penuh harap.
"Bunda tidak perlu cemas, tanpa ancaman itu pun aku tetap akan mau menikah dengannya. Sebagai orang tua, Bunda dan pak Johan pasti ingin yang terbaik untuk Keyan. Aku juga sudah memaafkan apa yang terjadi sebelum ingatan ini hilang. Aku juga mencintai Keyan."
Di anak tangga Keyan berpegang erat pada pinggiran tangga. Pandangannya buram bukan karena mau pingsan. Namun karena netra nya berembun hingga pandangannya tidak terlalu jelas. Ia terharu dan bahagia. Perasaannya terbalas dengan sempurna dari Valonia Jasmine. Meski pun tak terucap secara langsung padanya. Laki-laki ini melangkah perlahan dengan kebahagiaan yang membuncah dalam hatinya.
"Ehm, membahas apa ? Sepertinya seru."
Keyan langsung menjatuhkan tubuhnya di sisi Valonia, tanpa canggung pada Bunda Arini. Ia menghujani Valonia dengan banyak kecupan di wajah merahnya. Ya, Valonia merasa malu atas pengakuannya pada Bunda Arini.
"Aku mencintaimu sayang." Keyan memeluk erat Valonia. Kristal bening yang ia tahan sejak tadi pecah di sudut matanya. "Jangan pernah tinggalkan aku, kecuali kematian kita tidak bisa mencegahnya." Sambungnya lagi.
Valonia merasakan jantung Keyan berdegup lebih kencang. Suara suaminya juga terdengar serak dan bergetar. Ia tak mampu bersuara tenggelam dalam rasa haru suaminya. Valonia hanya mengangguk pelan.
Bunda Arini ikut merasakan kebahagiaan anak menantunya. Kini ia tahu kebahagian Keyan ada pada Valonia Jasmine.
"Tuan, Nyonya. Makan malam sudah siap." Bi Noni datang memecahkan suasana haru biru di ruang tengah itu.
"Iya, Terimakasih." Sahut Bunda Arini. Ia menepuk Keyan untuk segera ke ruang makan.
Keyan melepaskan pelukannya pada Valonia lalu tersenyum dan mengecup kening istrinya penuh kasih sayang.
"Ayo makan."
"Sepertinya ada tamu." Valonia menghentikan langkah mereka. Karena mendengar suara bel.
"Biar saja nanti ada yang membuka pintu." Keyan kembali melangkah. Ia yakin itu para sahabatnya. Karena sampai detik ini hanya mereka yang tahu alamat rumah barunya.
Valonia mengambilkan makanan untuk Keyan. Hati Bunda Arini menghangat, seketika ia teringat tentang hubungannya pada Ayah Johan yang kurang baik selama setahun belakangan ini.
"Bunda tidak apa-apa, Nak. Ayo makan !" Bunda Arini dengan cepat mengikis rasa sedihnya dengan tersenyum.
Keyan dan Valonia saling pandang seolah tahu. Apa yang membuat bunda Arini bersedih. Wanita paruh baya itu tak pandai menutupi kesedihannya.
"Wah, kebetulan aku memang lapar." Suara Sonny mengalihkan perhatian Keyan dan Valonia.
"Kalian..." Valonia merasa senang melihat para sahabatnya datang.
"Rumah kalian besar sekali, kemarin aku ingin sekali masuk ke sini. Tapi Varen melarang ku." Rara mengatakan kekesalannya.
"Aku akan membuatkan mu rumah lebih besar dari ini. Ayo menikah !"
"Lamaran macam apa itu." Cibir Sonny merangkul pundak Mia.
Varen mengangkat bahunya acuh lalu tanpa permisi langsung duduk di samping Keyan. Sonny membawa Mia juga duduk di sebelah Bunda Arini.
"Selamat malam Tante. Maafkan cacing di perut saya tidak tahu malu melihat makanan ini." Sonny meraih piring kosong lalu meminta Mia mengisinya.
"Maafkan ketidak sopanan kami, Tante." Mia ikut bicara karena merasa tidak enak.
Bunda Arini tertawa. "Tidak apa-apa. Tante senang bisa makan bersama kalian."
"Tuan rumah cuek saja." Sindir Rara duduk di samping Valonia.
Keyan meletakkan sendok nya lalu berkata. "Oh, ada kalian ! Ra, Kamu tahu kesalahanmu apa ?"
Rara menoleh pada Keyan. Tak hanya dirinya tapi semua orang. "Aku tidak melakukan kesalahan."
"Kamu memisahkan aku dan istriku."
Rara melihat kiri dan kanannya. Benar saja ia duduk di antara Keyan dan Valonia. "Maaf." Ia tersenyum menampilkan deretan giginya.
"Dasar budak cinta !" Cibir Alvan. Laki-laki ini yang hanya diam sejak tadi akhirnya mengeluarkan suara.
Makan malam begitu ramai. Keyan merasa senang atas kehadiran teman-temannya. Namun, ia merasa tidak nyaman dengan tatapan Alvan pada Valonia Jasmine. Keyan bukan laki-laki tidak peka. Meski pun sahabatnya itu tidak mengatakan apa-apa. Namun, Keyan tahu jika Alvan menyukai istrinya.
"Kamu kenapa ?"
Keyan terhenyak merasakan tangan Valonia menyentuh lengannya. Ia menoleh dan tersenyum. "Tidak apa-apa."
"Bunda mau pulang ayo kita antar dulu ke depan."
Keyan mengangguk, ia dan Valonia meninggalkan ruang tengah untuk mengantarkan Bunda Arini.
...----------------...
"Jadi anak itu sudah pulang ?"
Suara Ayah Johan menghentikan langkah Bunda Arini yang akan masuk ke dalam kamar. Saking fokusnya Bunda Arini tidak menyadari jika ada tamu di rumahnya.
"Kalau dia pulang kamu mau apa ?" Bunda Arini langsung berpaling menghadap pada suaminya. "Kamu akan tetap menikahkan dia dan Tita ?" Sinis nya sembari tersenyum.
"Iya, dia harus hidup dalam pengaturan ku. Anak itu tidak akan menjadi apa-apa tanpa aku."
"Keyan sudah menikah dan hidup bahagia bersama Valonia. Jadi, kubur mimpimu itu. Biarkan dia berjalan atas kemauannya." Bunda Arini tanpa takut menatap orang-orang di ruang tamu.
"Benarkan Om dia sudah menikah. Aku tidak mau kehilangan Keyan lagi." Rengek Tita tanpa malu.
"Kamu tidak punya harga diri ! Asal kamu tahu, sejujurnya aku tidak menyukaimu sejak awal. Sebagai gadis terhormat, kamu tidak menghormati dirimu sendiri."
"Arini !" Bentak Ibu Tania. Ia tak terima putrinya direndahkan. Tangannya mengepal kuat dengan wajah merah. "Sejujurnya aku juga tidak menyukai putramu yang tidak memiliki pendirian !"
Bunda Arini terkekeh. "Kalian yang memaksanya, andai kalian tidak egois keadaannya tidak seperti ini. Hanya karena ingin memperat hubungan persahabatan dan bisnis kalian menghancurkan putraku !" Ia membalas membentak.
"Arini jaga bicaramu !"
Ayah Johan emosi mendengar kata-kata Bunda Arini. Ia tak sadar menyebut nama istrinya secara langsung.
"Sebelum kalian semua tenggelam dalam kapal yang sama, lebih baik kalian berpisah."
Bunda Arini melenggang masuk ke dalam kamarnya. Setahun lalu Bunda Arini menjadi wanita tegas dan tidak mengenal takut. Tak selamanya ia hanya menundukkan kepalanya sambil menangis menahan telunjuk orang-orang yang menekannya. Perangai Ayah Johan yang buruk membuat Bunda Arini ingin menyadarkannya dengan caranya sendiri.
"Bagaimana ini, Om ?" Tita mulai merengek lagi. Ia tak terima Keyan sudah menikahi Valonia Jasmine.
"Tenanglah, biarkan Papa dan Om Johan yang memikirkannya." Sahut Pak Anton mengurai lembut rambut panjangnya.
"Aku harus menikah dengan Keyan, Pa. Dari awal dia milikku !" Tita menatap penuh damba foto keluarga Ayah Johan yang terpajang di ruang tengah.
Rentetan rencana sudah ada di benaknya. Pernikahan bahagia bersama Keyan sudah terbayang di pelupuk matanya. Tak hanya itu, kekalahan seorang Valonia Jasmine seolah pasti terjadi.