Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Penyusup



Derasnya hujan mengawali pagi dengan dentuman petir saling bersahutan, mengiringi ribuan hujan yang jatuh ke bumi. Angin menerbangkannya hingga terbagi rata, sementara di langit awan masih menggelap sendu menangis lama.


Cuaca begitu dingin memeluk tubuh, hingga sedikit memberikan efek malas hanya untuk bergerak. Valonia Jasmine berdiri di sisi kaca balkon. Menatap hujan di balik tirai dengan tangan bersedekap di dada.


Di setiap hujan deras datang mengguyur bumi. Maka refleks ingatan Valonia langsung pada kejadian na'as yang pernah di alaminya. Malam itu begitu mengerikan terasa di tengah gelapnya malam. Membayangkannya saja Valonia tidak sanggup.


"Memikirkan apa?" Keyan menyusupkan tangannya ke tubuh Valonia. Laki-laki ini baru saja selesai mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian rumahan. Niatnya bekerja jadi batal karena cuaca yang cukup tidak bersahabat. Ia meletakkan dagunya di atas kepala Valonia sambil ikut melihat kilatan tetes air hujan di atas pagar balkon kamarnya.


"Ketika hujan seperti ini, aku pasti ingat kecelakaan itu."


"Sayang, aku tidak memintamu melupakannya. Tapi berusahalah agar kamu tidak memikirkannya. Papa sudah tenang di sana. Tinggal kita saja yang mengatur kehidupan ini untuk lebih baik." Keyan mengecup pucuk kepala Valonia berulang-ulang.


"Kamu ganti baju."


"Hm, aku tidak ada pertemuan penting hari ini. Cuaca juga tidak bersahabat. Jadi, aku di rumah saja hari ini menemani istriku." Keyan semakin merapatkan tubuhnya. Tangan kanannya mengusap-usap lembut perut Valonia. "Kapan dia besar? Kamu pasti menggemaskan saat perutmu membesar."


"Beberapa bulan lagi, bersabarlah."


"Setelah selesai gaun yang sedang kamu kerjakan. Jangan terima pesanan apa pun lagi ya... Aku tidak mau kamu lelah." Keyan memutar tubuh Valonia untuk menghadapnya. Ibu jarinya mengelus lembut pipi mulus istrinya. Iris matanya menatap lekat bibir Valonia yang nampak menggoda. "Sayang aku ngidam lagi."


"Ngidam lagi?"


"Iya." Keyan mendekatkan wajahnya lalu menyesap lembut bibir istrinya itu. Bibirnya semakin menuntut menyesap semakin dalam dan penuh penghayatan. Tangan kirinya menahan tengkuk Valonia yang juga menikmati pagutan bibir mereka.


...----------------...


Derry yang mendapatkan pesan untuk tidak menjemput Keyan pagi ini merasa senang. Ia segera mengganti baju kerjanya. Senyum di bibirnya mengembang karena hari ini ada banyak waktu menemani ibu Marisa di rumah.


Rasa sayang Derry sangat besar tak terukur. Meski hanya memiliki orang tua tunggal, tidak membuatnya minder. Hanya saja kadang kerinduan dan iri hinggap di hatinya. Namun sekuat tenaga Derry mengusir rasa itu, agar dirinya tidak menjadi egois.


"Ma, aku hari ini tidak bekerja." Derry menjatuhkan tubuhnya di samping ibu Marisa.


"Benarkah? Wah sayang sekali. Jika tahu kamu tidak bekerja. Mama tidak akan memanggil tukang AC untuk memperbaiki AC di kamar mama."


"Aku juga tidak bisa memperbaikinya Ma. Tidak apa-apa." Derry mengambil satu roti kukus yang masih hangat dibuat oleh sang mama.


Ibu Marisa memiliki banyak kepandaian dalam hal dapur.  Hanya saja langkahnya terhenti untuk berkarya karena tekanan dari orang yang mengincar dokumen perjanjian itu. Dia dan Derry harus berpindah-pindah tempat untuk sembunyi sambil menunggu Derry mampu untuk menghadapi ayah biologisnya.


"Sepertinya tukang AC nya datang." Ibu Marisa bergegas membuka pintu. "Silahkan masuk." Sambungnya lagi membuka lebar daun pintu


"Terimakasih, Bu."


"Seharusnya tunggu hujan reda pak, baru anda kesini. Jalanan licin dengan kondisi cuaca seperti ini." Ibu Marisa langsung melangkah ke dapur membuatkan teh hangat untuk tukang AC itu.


"Tidak apa-apa, Bu ! Jadi, AC dimana yang akan saya perbaiki?"


"Di kamar. Sebaiknya anda minum tehnya dulu." Sahut Derry menyambut nampan dari tangan ibu Marisa lalu meletakkannya di depan tukang AC itu.


"Terimakasih." Tukang AC tersenyum canggung. Ia meraih cangkir teh lalu meniupnya perlahan. Serasa lumayan dingin ia segera meminumnya.


"Santai saja pak. Nikmati tehnya." Derry menyodorkan piring berisi roti kukus yang baru diambil oleh ibu Marisa.


"Iya. Tapi saya kejar target. Boleh saya perbaiki sekarang ?"


"Oh maaf saya tidak tahu anda kejar target. Baiklah mari saya antar." Derry bangkit dari tempatnya duduk. Lalu menuntun tukang AC itu.


Di dalam kamar ibu Marisa. Laki-laki itu membuka tas peralatannya. Ia meraih kursi dan memanjat untuk melepaskan AC dari dinding.


"Der, buang sampah dulu, Nak !"


Tukang AC tersenyum tipis. Lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Sementara Derry membawa dua kantong sampah keluar dari unit.  Karena hari ini jadwalnya untuk membuang sampah. 


Ibu Marisa berniat melihat tukang AC di kamarnya. Ia mengayunkan langkahnya untuk menuju kamarnya. Dengan perlahan ibu Marisa mendorong pintu yang tertutup tidak rapat.


"Apa yang anda lakukan ?!"


Tukang AC tersentak. Iris matanya menatap tajam pada ibu Marisa. Ia bergerak cepat lalu menarik tangan ibu Marisa ke dalam kamar. Ibu Marisa terkejut ketika tukang AC itu membuka lemari pakaiannya. Jantungnya berdegup kencang. Apa maksud orang ini membuka lemari pakaiannya?


"Bekerja samalah denganku !"


"Tolong ! Derry ! Tolong !"


Ibu Marisa meronta karena tukang AC itu mengikat kaki dan tangannya di atas kasur. Ia sangat ketakutan dan ingin meninggalkan kamar itu.


"DIAM ! "Bentak Tukang AC. "Katakan dimana dokumen perjanjian itu ?!" Tanyanya sambil mencengkram dagu ibu Marisa. Netra nya menatap penuh intimidasi.


"Lepaskan ! Tolong ! Derry..."


"KATAKAN !" Tukang AC itu kembali membentak. Cengkraman tangannya semakin kuat di dagu ibu Marisa. Nafasnya juga memburu sambil menoleh ke arah pintu kamar.


"A—aku tidak tahu."


Tukang AC itu meraih lakban lalu menempelkannya ke mulut ibu Marisa. Ia bergerak cepat lalu membuka seluruh lemari dan laci dalam kamar itu. Hari ini, ia harus mendapatkan dokumen itu. Ini kesempatan yang bagus karena pengawal JFB ditarik kembali ke kantor atas permintaan Derry. Tukang AC itu mengacak-ngacak berbagai sudut ruang kamar ibu Marisa.


"MAMA." Pekik Derry terkejut. Tak hanya dirinya. Tukang AC itu pun tak kalah terkejutnya. "Apa yang kamu lakukan ?!" Derry menarik kerah tukang AC itu.


"Di mana dokumen perjanjian itu ?!"


"Oh, kamu penyusup." Derry melayangkan pukulan ke rahang penyusup itu hingga tubuhnya terpental ke dinding.


"Aku butuh dokumen itu saja." Penyusup itu mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya.


"Tidak akan pernah kuberikan ! Sebelum dia menepati janjinya yang tertulis." Derry kembali menyerang. Kakinya tepat menendang perut pria itu. Merasa ada kesempatan Derry menghampiri ibu Marisa dan melepaskan lakban di mulutnya.


"Derry Awas !"


Tubuh Derry jatuh di sudut dinding. Ia meringis menahan sakit. Sementara penyusup itu keluar dari kamar dan masuk ke dalam kamar Derry.


"Mama tenanglah." Derry berusaha berdiri berpegang kuat pada pinggiran kasur lalu melepaskan ikatan yang melilit kaki dan tangan ibu Marisa. "Hubungi Kak Keyan sekarang." Ucapnya lalu keluar dari kamar.


Penyusup itu masih menyelesaikan misinya yaitu mencari dokumen perjanjian itu. Karena sudah ketahuan menyusup, ia pun melanjutkan pencariannya.


Kamar Derry berantakan. Laki-laki itu masih saja fokus untuk mencari dokumen itu. Tanpa dia sadari jika Derry sudah di belakangnya. Satu tendangan mengenai tubuhnya hingga ia terseok di depan lemari.


"Bekerja samalah denganku. Setelah ini, kami tidak akan mengusik kalian lagi." Laki-laki itu berusaha bangun


"Tidak akan pernah !" Derry melayangkan tinjunya kembali ke wajah laki-laki itu.


Tidak ingin hanya menerima, penyusup pun membalas. Mereka saling memukul. Lebam dan bercak merah sudan tercetak di wajah mereka berdua. Derry yang masih mempertahankan haknya. Dan penyusup itu masih menerobos menyelesaikan tugas yang nanti akan mengalirkan pundi-pundi rupiah di rekeningnya.


Nafas mereka tersengal saling mengusap lelehan darah yang keluar dari kening dan bagian wajah lainnya. Derry bersandar di dinding. Menepuk dadanya yang terasa sesak. Tendangan penyusup itu tepat mengenai dadanya hingga ia tersungkur di lantai.


"Jadi, kamu masih mau dokumen itu ?!" Derry terbatuk karena tenggorokannya kering. "Padahal, aku hanya berniat baik pada Tuan mu." Sambungnya terkekeh. "Selagi aku menunggu dengan sabar maka kekacauan tidak akan terjadi. Tapi dia memilih untuk mengingkari janjinya dan mengirim kamu ke sini." Derry berusaha bangkit melawan rasa sakitnya. Ia berdiri di hadapan penyusup yang masih mengatur nafasnya. "Ayo kita hancur bersama!" Ucapnya lalu berbalik dan memutar tubuhnya menendang penyusup itu hingga terpental di depan pintu.


"Pak bawa  laki-laki ini. Dia penyusup." Ibu Marisa datang membawa keamanan gedung itu. Tangisnya pecah melihat wajah putranya babak belur.


"Baik, Bu. Maaf keterlambatan kami. Karena tukang AC yang biasanya memang bekerja disini ditemukan tidak sadarkan diri dan terikat di rooftop."