
Sunyi senyap melingkupi ruang tengah rumah Ayah Johan. Setelah pembicaraan panjang lebar bersama Bunda Arini. Kedua paruh baya itu saling diam larut dalam pemikiran masing-masing. Apa yang telah dihindari Ayah Johan selama ini? Akhirnya datang juga. Apa yang telah disembunyikannya selama bertahun-tahun. Sekarang terkuak sudah. Menyesal pun tidak berguna dan tidak mengembalikan segala yang telah terjadi selama bertahun-tahun ini.
Helaan nafas ayah Johan terdengar kasar. Laki-laki ini menatap ujung kakinya sambil berpikir keras. Tentang status Derry dalam keluarganya. Benar kata Bunda Arini jika para pemegang saham akan mempertanyakan tentang putra keduanya itu.
"Nikahi Marisa."
Kepala ayah Johan refleks menoleh ke samping setelah mendengar penuturan istrinya. "Apa yang kamu bicarakan?" Tiba-tiba suasana terasa mencekam setelah kalimat itu keluar dari bibir Bunda Arini.
"Nikahi Marisa dengan begitu status Derry akan jelas dimata hukum." Bunda Arini menoleh dan membalas tatapan lekat dari suaminya. Tidak ada unsur keterpaksaan dari raut wajahnya hanya ada tatapan tulus.
"Jangan bercanda, kamu tahu itu tidak bisa kulakukan. Jika aku mau, sejak dulu sudah aku lakukan?" Tolak Ayah Johan mentah-mentah. Tak mungkin ia menikah lagi di usianya yang telah hampir setengah abad dan mengkhianati pernikahan.
"Aku tidak bercanda ! Derry butuh kejelasan. Bukan masalah harta dan juga tanggapan para komisaris. Tapi untuk Derry dan Marisa sendiri. Orang-orang akan selalu menganggap Derry anak di luar nikah. Pikirkan perasaannya juga. Bertahun-tahun dia tidak pernah mendapatkan keadilan dan juga kasih sayangmu."
"Aku setuju."
Suara Keyan membatalkan niat Ayah Johan untuk menyahut perkataan bunda Arini. Tak hanya Keyan yang datang namun ada juga Valonia dan Derry.
Perasaan Ayah Johan campur aduk. Bagaimana bisa istri dan putranya mendukung pernikahan keduanya yang selama ini telah ia hindari.
"Tidak perlu melakukan itu." Sahut Derry. Ia tak enak hati jika sampai bunda Arini dan Ayah Johan berpisah hanya untuk statusnya.
"Perlu." Tegas Bunda Arini.
"Bunda benar, setidaknya Derry akan jadi anak dalam pernikahan sah. Apabila ayah dan tante Marisa menikah. Sebab, sewaktu ayah mengumumkan Derry sebagai putra kedua. Maka ibunya akan dipertanyakan, bagaimana Ayah menjawabnya? Sementara selama ini kehadirannya tidak diketahui." Sambung Keyan mendaratkan tubuhnya di sisi Bunda Arini.
"Tapi, itu akan mempersulit posisi Ayah nanti." Cemas Derry sambil merapatkan tubuhnya di sisi Valonia.
"Aku harus minta persetujuan Marisa. Bila dia menolak, aku juga tidak akan memaksanya. Untuk Derry jangan khawatir ayah akan mengurusmu."
...----------------...
Satu Minggu kemudian...
Tidak ada pesta atau pun persiapan lebih. Hanya ada pendaftaran pernikahan. Ya, Ayah Johan mengambil keputusan untuk menikahi ibu Marisa. Meski pun harus membujuk berkali-kali agar ibu Marisa menyetujui pernikahan itu.
Jika membicarakan rasa sakit. Bunda Arini sangat merasakannya. Tapi ia harus berbesar hati menerima semua yang telah terjadi. Andai dirinya atau Valonia yang mengalami apa yang di alami ibu Marisa. Mungkin dia tak memiliki kesabaran seperti Derry dan ibunya. Melahirkan anak tanpa status pernikahan.
"Bunda baik-baik saja?" Keyan menjatuhkan tubuhnya di sisi Bunda Arini.
"Jika dikatakan baik-baik saja, Bunda merasakan sakit hati. Dikatakan tidak baik-baik saja, ini keputusan harus Bunda terima."
"Kenapa tidak minta pisah saja?" Keyan menggenggam kedua tangan Bunda Arini. Ia bisa merasakan tangan bundanya meresap dingin bagai es. "Jangan memaksakan terlihat baik-baik saja. Jika nyatanya Bunda terluka." Sambungnya lagi.
"Perpisahan? Itu bukan solusi terbaik saat ini. Jangan cemas, nanti juga Bunda terbiasa."
Keyan memeluk Bunda Arini begitu erat. Bundanya adalah wanita terhebat dalam hidupnya. Tak ada wanita yang mau dimadu. Tapi Bunda Arini menawarkan untuk itu. Keyan tahu tertoreh luka besar dalam hati sang ibu. Karena ia dapat melihat pergulatan batin antara rela dan tidak rela. Namun, Keyan juga tahu Bunda Arini tulus atas keinginannya. Tidak mudah berbagi suami pada wanita lain.
"Jangan ulangi kesalahan yang sama seperti Ayah pada menantu Bunda. Valonia wanita baik dan juga hebat. Hati-hati dalam melangkah, sebab. Jika kamu terperosok pada lubang kesalahan maka tidak hanya istri dan anakmu yang terluka. Kamu sendiri juga merasakannya. Terkecuali di hatimu sudah tidak ada cinta untuk mereka."
"Aku akan selalu hati-hati, Bun. Jasmine juga sering memperingatkan aku jika menghadiri pertemuan." Keyan tersenyum meyakinkan.
"Iya, lebih baik kamu menghindari sesuatu yang memicu masalah ketimbang mengharapkan pujian tapi imbalannya sebuah masalah besar." Bunda Arini menepuk lembut pergelangan tangan putranya.