
Hari berganti Minggu, lalu bulan berganti tahun. Begitulah seterusnya. Waktu berlalu begitu cepat untuk hati yang tak merindu. Namun, terasa lamban untuk sebuah hati menumpuk kerinduan.
...----------------...
Setahun berlalu....
Kehidupan yang dijalani dua insan berbeda tempat ini memberikan mereka sebuah rasa. Mengertinya sebuah kebersamaan, memahami kata pengertian. Dan sabarnya dalam penantian.
Semakin hari akar kerinduan itu menjalar ke relung hati yang terdalam. Namun tak ada daya semua akses seolah tertutup. Untuk menyampaikan salam rindu itu, mereka hanya bisa berbisik pada angin malam. Agar menerbangkannya ke tujuan yang tertera di alamat semestinya.
Valonia merasakan semua itu di dalam lubuk hatinya. Ia berdiri di pintu balkon bersedekap erat menahan tamparan angin malam. Rambut panjangnya begitu manja tertiup angin. Melambai lembut, berlenggak lenggok seiring irama angin.
Aroma manis semerbak memenuhi balkon kamar. Seiring itu pula kerinduan Valonia pada pemilik sumber aroma manis ini semakin dalam.
"Valo, ada berita baru !" Pekik Rara antusias ketika membaca artikel di ponselnya.
"Berita apa ?"
"JFB ! Perusahaan baru yang pemiliknya belum pernah diketahui. Dua Minggu lagi membuka induk kantornya disini. Itu artinya dia akan datang. Seperti apa wajahnya ya." Rara begitu penasaran.
"JFB. Perusahaan itu bergerak di bidang perhiasan. Aku pernah melihat di majalah bisnis saat pertunjukan produk terbarunya. Dia memakai beberapa model untuk pertunjukannya. Dan perhiasan itu juga memakai kuncup Jasminum sebagai ciri khasnya."
"Bukankah ? Dulu Keyan juga membuat sketsa perhiasan berciri khas kuncup Jasminum juga ? Apa mungkin, itu Key !" Tebak Rara. Entahlah keyakinan hatinya terarah ke sana.
"Tidak mungkin, Keyan sudah tidak memiliki akses lagi. Karena Pak Johan menutupnya. Varen bercerita padaku ayahnya sengaja melakukan itu agar Keyan kembali pulang dan memimpin perusahaannya. Tekad Pak Johan untuk menikahkan Tita dan Keyan masih ada sampai saat ini."
"Sudahlah jangan dipikirkan. Bagaimana baju-baju rancangan terbarumu?" Rara mengalihkan pembicaraan.
Valonia melangkah menghampiri Rara. Ia tersenyum lalu menyalakan laptopnya. Ia yakin sahabatnya ini akan berteriak histeris.
"Ini e-mail dari JFB meminta Jasmine Boutique untuk ikut bergabung dalam pertunjukannya. Dia ingin modelnya mengenakan pakaian rancangan terbaru dari butik ini."
"E-mailnya baru masuk satu jam lalu. Aku langsung menyetujuinya. Jadi aku tidak perlu mencari model dan menyewa studio foto." Valonia juga menanggapi undangan dari JFB dengan antusias.
"Selamat Valo. Apa ada butik lain yang ikut bergabung ?"
"Entahlah, tapi tiga hari sebelum pertunjukan itu. Sekretarisnya akan membuat janji temu padaku. Disitulah kami akan membahasnya." Jelas Valonia.
"Perusahaan baru dalam waktu setahun dia sudah menempati peringkat pertama dunia bisnis. Sungguh pemiliknya itu bekerja sangat keras. Aku harap kamu bisa berkenalan dengannya." Rara yang selalu memantau perkembangan bisnis itu sangat tahu apa saja yang baru dalam dunia bisnis.
"Semoga saja." Valonia tersenyum menanggapinya. Ia teringat pada Keyan. Bagaimana kabar laki-laki itu ? Apa pekerjaannya sekarang ? Apa dia sehat ?
Valonia kembali termenung mengingat Keyan. Sekarang mimpi yang pernah laki-laki itu ucapkan telah didahului orang lain yaitu pemilik JFB. Di sini Valonia merasa sedikit bersalah karena menerima undangan dari perusahaan itu. Tapi tidak memungkiri kalau Valonia membutuhkannya sebagai penunjang kemajuan butiknya. Ada tawaran bagus dari JFB maka Valonia tidak ingin menyia-nyiakannya.
"Aku harus pulang. Mama akan cemas padaku setelah pulang bekerja tidak langsung ke rumah." Pamit Rara.
...----------------...
Malam semakin larut, Valonia masih betah memandang langit malam lebih lama lagi. Ia teringat ucapan Rara. Dulu, Keyan bermimpi menjadi seorang perancang perhiasan yang memiliki ciri khas sebagai karyanya. Dan itu ia ambil dari kuncup Jasminum.
Sekarang entah kemana laki-laki itu menghilang tanpa kabar. Valonia merasa bersalah padanya. Setelah mendengar penjelasan Varen tentang Keyan dan teman-teman lainnya.
Varen tidak bisa melihat Valonia dalam kebingungan setiap bertemu orang-orang masa lalunya. Ia menguatkan tekatnya untuk menceritakan jika Valonia hilang ingatannya. Saat mengalami kecelakaan di masa kuliah.
Andai Keyan ada di sini, maka Valonia akan meminta maaf padanya karena melupakan teman sekolahnya ini. Mengingat nama laki-laki itu. Valonia teringat lagi dengan perusahaan baru yang jadi topik hangat di pemberitaan dunia usaha.
"Key, dulu kamu punya mimpi seperti itu sekarang ada orang lain memiliki mimpi sama sepertimu. Aku juga terlibat dalam pertunjukannya kali ini. Maafkan aku." Valonia menutup pintu balkon lalu naik ke atas kasurnya.
Tubuh lelahnya begitu terasa, kelopak matanya yang telah memberat tidak ia sia-siakan lagi. Valonia memejamkan matanya memanfaatkan rasa kantuk itu dengan baik. Meski beberapa jam lagi akan terbangun.
Tidak butuh lama, Valonia benar-benar terlelap. Hingga tidak menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam rumahnya. Orang itu seolah hafal tata letak ruangan lantai tiga di Jasmine Boutique ini. Ia bahkan dengan santainya mengganti pakaiannya dengan piyama lalu menyusup ke dalam selimut Valonia.