
Mari mewek bersama lagi 🤭
...----------------...
Alam ikut berduka hingga gerimis datang mengguyur bumi. Awan tak sehitam saat sore, entah dimana ia ledakan tangisnya. Berita kepergian Endi sudah tersebar luas. Stasiun televisi hampir seluruhnya memberitakan tentang kepergian asisten CEO JFB itu.
Publik sangat tahu kiprah seorang Endi di dunia bisnis. Usai mendapatkan pernyataan resmi dari rumah sakit milik pak Ariel ayah Sonny. Seluruh rekan bisnisnya mengirimkan karangan bunga di kediaman Keyan Ganendra.
Tak hanya itu, karyawan JFB sangat berduka kehilangan partner kerja mereka yang begitu baik. Mereka berbondong-bondong datang di kediaman CEO mereka untuk menyampaikan rasa bela sungkawa.
Kedatang mereka berbingkai air mata kesedihan, baru beberapa hari yang lalu pesta ulang tahun JFB dilaksanakan. Sekarang malah bersambut duka yang mendalam.
Halaman rumah Keyan yang luas itu sudah separuh dipenuhi karangan bunga. Para pengawal JFB diatur untuk berjaga di rumah Keyan Ganendra. Sementara pengaturan kantor diambil alih oleh Derry dan juga Anggun sang sekretaris JFB.
Rumah Keyan masih ramai dikunjungi para karyawannya. Mereka juga ikut menguatkan sang atasan. Hari ini mereka bisa melihat keterpurukan seorang Keyan Ganendra.
Malam semakin larut. Sedetik pun, Keyan tak beranjak dari sisi kotak jenazah Endi. Laki-laki ini duduk di kursi mengenakan pakaian duka. Bibirnya kering dengan wajah sedikit pucat.
"Key, minum dulu." Varen datang membawakan teh manis. Ia sangat mengerti kehilangan Keyan lebih dalam darinya, karena laki-laki ini lebih banyak menghabiskan waktu bersama asistennya itu.
"Aku tidak haus, Ren."
"Bibirmu kering, minumlah." Alvan meraih gelas teh manis itu dan mendekatkannya ke bibir sahabatnya.
Mau tidak mau Keyan meminumnya. Netranya tak beralih dari wajah Endi yang terbujur kaku di dalam kotak.
"Nak, kamu makan ya." Bunda Arini. Membawa nampan makanan menghampiri putranya.
"Aku belum lapar, Bun."
"Bunda biar aku saja." Valonia meraih nampan itu dan menarik tangan Keyan untuk berdiri. "Ayo kita makan di kamar." Ujarnya membawa Keyan keluar dari sana.
Tidak ada bantahan, Keyan menurut hingga mereka sampai ke dalam kamar. Valonia meletakan nampan di atas nakas lalu menjatuhkan tubuhnya di tepi kasur. Jari-jarinya merapikan anak rambut suaminya yang berantakan.
"Sayang, maaf aku mengabaikanmu." Keyan menatap dengan rasa bersalah pada istrinya.
"Aku ingin berbaring sebentar dipangkuanmu."
Valonia mengangguk dan membiarkan Keyan berbaring dipangkuannya. Ia mengelus lembut rambut sang suami. Valonia menyadari jika Keyan tengah menangis. Ia dapat merasakan air mata suaminya membasahi bajunya.
Dengan sabar, Valonia menunggu suaminya itu menyelesaikan luapan rasa kehilangannya. Hingga beberapa menit kemudian Keyan mengangkat kepalanya dan menatap Valonia dengan lekat.
"Sudah sedikit nyaman ?"
Keyan mengangguk lalu memposisikan tubuhnya untuk duduk yang benar. "Kamu sudah makan?" Tanyanya parau dan sengau.
"Sudah, sekarang giliran kamu yang makan." Valonia mengusap jejak air mata di wajah suaminya itu lalu mendaratkan kecupan penuh kasih sayang di kening Keyan.
...----------------...
Seluruh karyawan JFB sudah siap mengantarkan Endi ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mereka tak semuanya hadir di rumah Keyan. Namun, ada yang menunggu di tempat pemakaman. Sebagai penghormatan terakhir Anggun dan Derry meminta mereka mengenakan pakaian putih polos.
Mobil ambulans telah siap. Keyan dan para sahabatnya ikut masuk ke dalam mobil itu. Sementara para istri mereka menaiki mobil milik Keyan yang dikemudi oleh Rara. Suara sirene menyayat hati menandakan duka yang belum juga selesai, gerimis masih bertahan hingga pagi ini.
Di wajah keluarga besar JFB termasuk CEO nya tidak ada lagi buliran air mata, hanya ada sembab yang terlihat di wajah mereka. Pagi ini mereka mengantarkan Endi dengan hati yang ikhlas.
Setiba di area pemakaman, Keyan tak mengijinkan para petugas atau pengawal JFB mengangkat kotak jenazah asistennya itu. Laki-laki ini membawa Endi bersama para sahabatnya. Tak memperdulikan status atau pakaiannya yang kotor. Keyan turun langsung meletakkan sahabatnya itu ke dalam tanah. Disisa kekuatannya, ia menjatuhkan tanah bersama Varen dan yang lainnya menutup tubuh Endi selamanya.
Selamat jalan kawan. Kebaikan, kesetiaan dan pengabdian mu di JFB serta padaku. Tidak pernah aku lupakan. Meski tempat kita berbeda, yakinlah nama mu selalu membekas dalam kehidupan ku. Kamu adalah saksi perjuangan ku, untuk JFB dan juga Jasmine
Keyan menjatuhkan tubuhnya di sisi gundukan tanah basah itu. Tangannya terkepal erat menggenggam tanah. Ia menunduk dan memejamkan matanya. Nafasnya naik turun terdengar kasar.
"Tuan Endi."
Suara seseorang begitu lirih menarik perhatian semua orang. Ya, dia adalah Sera. Setelah melakukan beberapa prosedur ia bisa hadir di tempat itu. Wajahnya lebih kacau dari sebelum dirinya di tetapkan sebagai tersangka. Dengan tangan terborgol, ia menyentuh papan nama yang baru saja di tanam.
Maafkan aku. Kenapa pergi secepat ini ? Aku ingin melihat mu hidup bahagia bersama wanita yang pantas mendampingi laki-laki sempurna seperti mu. Jika kamu bertanya tentang perasaan ku. Jawabannya adalah 'iya aku juga menyukai mu'. Tapi aku sadar diri, aku bukan orang baik. Banyak cerita yang aku ukir dalam hidupku hingga aku memutuskan menutup hati ini pada siapa pun. Maaf, aku telah melukai hati mu. Bidadari-bidadari di sana pasti senang menyambut kedatangan laki-laki baik seperti mu.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Sera meninggalkan tempat itu dengan derai air matanya. Ia datang tak sendiri, namun didampingi para kemanan dengan ketat