
Tiga bulan kemudian...
Suasana hati Keyan berangsur membaik. Begitu pun JFB berjalan dengan normal. Sampai detik ini, ia belum juga mencari pengganti Endi. Meski pun, pelamar posisi itu sudah ada yang masuk.
"Sayang kamu memikirkan apa ?" Valonia masuk ke dalam ruangan kerja suaminya dan mendapati laki-laki itu termenung menatap laptopnya. Ia meletakkan gelas susu hangat di atas meja.
"Aku hanya memikirkan tentang asisten baru. Tapi tidak mau sembarang pilih."
"Kenapa harus bingung, kamu memiliki karyawan yang banyak dan juga bisa menjadi asisten. Kenapa tidak di angkat salah satu dari mereka saja ?"
Keyan tersenyum cerah lalu meraih tubuh berat istrinya itu ke atas pangkuannya. "Kamu memang pencerah ku sayang, saat aku tidak memiliki ide apa pun. Kamu pasti datang bak dewi penolong." Ujarnya merapikan anak rambut istrinya itu.
"Biasakan lain kali berdiskusi dengan ku."
"Iya, Maaf."
"Turunkan aku, tubuhku berat loh." Valonia berusaha turun dari pangkuan suaminya itu.
"Kapan dia keluar? Aku sudah tidak sabar. Kenapa dia tidak mau menunjukan gender nya saat USG." Keyan menempelkan telapak tangannya.
"Sabar, ini sudah trimester akhir. Hanya menunggu hari. Mungkin, surprise buat kita." Valonia melapisi punggung tangan Keyan di perutnya. "Aku berharap dia lahir setelah pernikahan Alvan dan juga Nanda."
"Semoga saja, ayo kita istirahat." Keyan membantu Valonia turun dari pangkuannya dan juga meraih gelas susu dari atas meja.
...----------------...
Kesibukan dan juga rentetan aktivitas sangat mengalihkan perhatian Valonia dan juga Keyan Ganendra. Hingga saat ini mereka belum melengkapi keperluan sang bayi. Sepasang calon orang tua itu berniat untuk pergi berbelanja hari ini.
"Sayang, bagaimana kasus kecelakaan Endi ?"
Keyan melirik ke kaca sekilas lalu memarkirkan mobilnya dengan benar di salah satu pusat perbelanjaan. "Sopirnya sudah menjalani masa kurungan. Memang salahnya, melihat dari TKP dan juga kemera pengawas. Dia mengendarai mobilnya cukup kencang. Hasil pemeriksaan di dalam tubuhnya juga ada alkohol. Kesimpulannya, dia mengendarai mobil dengan keadaan mabuk." Jelasnya sambil menggandeng tangan Valonia.
"Masih sore kenapa harus mabuk-mabukkan? Membuat aku kesal saja."
Keyan tersenyum sambil mengecup buku-buku jarinya. "Semua sudah selesai, dia mempertanggung jawabkan perbuatannya tanpa perlawanan. Padahal, dia putra orang berada."
Langkah pasangan suami istri ini, berhenti di toko perlengkapan bayi. Manik mata mereka berbinar melihat susunan perlengkapan bayi yang lucu-lucu. Para karyawan toko itu menyambut kedatangan Keyan dan Valonia, tak menyangka toko mereka dikunjungi oleh dua orang ini. Tanpa mereka tahu para pengawal telah berada di posisinya masing-masing.
"Sayang, lucu-lucu." Keyan takjub melihat ranjang bayi yang imut dan cantik. "Kita pilih warna umum saja ya, karena tidak tahu bayi kita laki-laki atau perempuan."
"Iya, aku pilih peralatan mandinya dulu." Valonia mengambil beberapa tempat mandi
Valonia hanya tersenyum, ia melihat beberapa kaos kaki mungil yang unik. Di benaknya tiba-tiba terlintas perkataan Endi di saat masih hidup.
'Valo, ajak aku ya. Kalau ingin belanja perlengkapan bayi mu. Aku ingin membeli juga untuknya.'
Hati Valonia terasa diremas ketika kalimat itu muncul di benaknya. Ya, dia bukan wanita yang mudah menunjukkan perasaannya. Tidak ada yang tahu kalau wanita hamil ini sangat kehilangan sahabat suaminya itu.
'Valo, ambil warna biru ya. Biar warna kesukaan kami sama.'
Setetes air mata jatuh dari sudut mata Valonia Jasmine. Perkataan itu seakan baru saja kemarin terucap dan kini pemiliknya tak pernah bisa terlihat lagi.
"Sayang, apa itu cukup di kakinya?" Keyan menghampiri istrinya lalu tanpa malu memeluknya dari belakang. CEO JFB ini selalu menunjukkan kemesraannya. "Hei, kamu kenapa sayang ?" Ia terkejut ketika menoleh melihat ada jejak air mata di wajah istrinya.
"Aku hanya terharu, karena sebentar lagi memiliki bayi dan papanya adalah kamu."
"Memangnya kenapa ? Kalau aku papanya, seorang Keyan Ganendra adalah pria tampan. Pasti gen nya juga mengikuti." Keyan berucap penuh percaya diri.
"Percaya diri sekali anda."
Keyan semakin mengeratkan lingkaran tangannya. "Untuk berdiri di sisi wanita sehebat kamu harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sebab, banyak orang yang lebih pantas memiliki wanita seperti istriku ini. Tapi sayangnya, peluang itu telah aku singkirkan. Hanya Keyan Ganendra yang boleh memiliki Valonia Jasmine. Jika ada yang berani merebutnya, maka akan aku tenggelamkan di laut. Atau aku gantung di tengah hutan." Ucapnya mendaratkan kecupan lembut di pipi Valonia.
"Iya-iya aku percaya. Mari kita pilih bajunya."
Keyan tersenyum melepaskan lingkaran tangannya.
Aku tahu, kamu mengingat Endi. Aku mendengar semua keinginannya pada mu. Kita akan mengabulkan keinginannya, memilih warna kesukaannya.
Tawa bahagia menghiasi wajah Valonia dan Keyan. Mereka memilih pakaian bayi dengan penuh semangat. Troli yang mereka bawa hampir penuh dengan barang-barang belanjaan. Di tambah lagi Keyan yang takut jika pakaian bayinya kekecilan. Untuk masalah kualitas laki-laki ini mempercayakannya pada Valonia.
"Tolong, kalian kirimkan ke rumah kami barang yang besar. Untuk yang kecil biar kami bawa sendiri." Keyan melihat barang belanjaan ternyata sangat banyak.
"Baik Tuan, terimakasih karena sudah belanja di toko kami."
"Untuk ranjang bayi, kalian membawanya harus hati-hati." Keyan begitu takut jika ranjang bayi pilihannya rusak.
"Iya Tuan."
Keyan dan Valonia keluar dari toko itu, membuat para pegawai kelabakan. Karena barang belanjaan yang akan dibawa mereka tinggal. Saat salah satunya ingin memanggil Valonia. Dua pengawal berseragam JFB, masuk dan meraih beberapa paper bag berukuran besar itu. Para pegawai tertawa dengan kepanikan mereka sendiri. Tidak mungkin, 'kan? Seorang Keyan Ganendra membawa paper bag belanjaan sendiri dalam jumlah banyak. Terlebih tangan pria itu hanya sibuk menggandeng istrinya.