
Langit berganti warna dari hitam karena gelapnya malam, lalu berganti biru karena matahari telah menyapa. Di penghujung daun, setetes embun pagi jatuh ke atas rerumputan. Seluruh penghuni alam semesta menyambut pagi dengan penuh syukur dan semangat.
Di pembaringan berukuran king size ini. Valonia enggan membuka matanya, ia merasa sangat nyaman di posisinya. Keyan tersenyum lalu menghadiahkan wajah istrinya dengan banyaknya morning kiss. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh ramping Valonia Jasmine
"Sayang, Ayo jalan-jalan pagi !" Keyan mengecup bahu istrinya yang terlihat. Setelah Valonia berbalik membelakanginya. Istrinya itu merasa terganggu karena dihujani banyak ciuman saat masih mengantuk.
"Masih ngantuk."
"Nanti setelah jalan-jalan kamu bisa tidur lagi. Aku akan menemanimu." Bujuk Keyan sembari membalik tubuh Valonia untuk menghadapnya lagi. Bibirnya tidak bisa diam selalu saja meninggalkan kecupan sana-sini.
"Tapi dingin."
"Pakai jaket sayang. Ayo hanya sebentar !" Keyan sedikit memaksa. Ia memang rutin melakukan olahraga ringan di luar rumah. Dan hari ini ia ingin istrinya ikut menemaninya.
Valonia terpaksa membuka matanya. Ia menyingkap selimut dari tubuhnya. Dengan malas Valonia melangkah ke arah kamar mandi. Keyan merapikan tempat tidur kemudian ke ruang ganti untuk mengambil jaket.
Valonia keluar dengan wajah segar. Ia mencepol rambutnya ke atas. "Mana jaketnya?" Ia melangkah ke sisi kasur meraih ponselnya.
"Ini, sini aku bantu." Dengan sabar Keyan membantu Valonia mengenakan jaketnya. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan saat istrinya bersikap manja. Karena Valonia jarang menunjukan sifat itu.
Usai bersiap, Keyan dan Valonia keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Valonia sesekali masih menguap. Tangannya bergelayut di lengan suaminya. Keyan merasa gemas lalu mendaratkan kecupan lembut di pipi Valonia.
"Selamat pagi, Tuan... Nyonya." Sapa Bi Noni berserta asisten lainnya. Mereka berdiri tak jauh dari tangga hanya untuk sekedar menyapa atasan mereka itu.
"Selamat pagi."
Balas Keyan dan Valonia bersamaan. Selama ini mereka tidak pernah beranggapan jika asisten rumah tangga mereka adalah pelayan. Namun, Keyan dan Valonia menganggap mereka adalah bawahannya dalam hal pekerjaan. Hanya beda tempat dan profesi. Agar seseorang yang disebut asisten rumah tangga itu tidak merasa rendahan.
Mereka langsung menuju meja makan. Di sana sudah ada dua gelas susu disajikan. Valonia merasakan sesuatu yang bergejolak saat netra nya tertuju pada gelas susu. Ia meraba perutnya yang terasa aneh menurutnya.
"Sayang, minum susunya." Keyan terlihat heran karena istrinya seperti enggan menyentuh gelas susunya.
Valonia mengangguk lalu meraih gelas itu. Ia meminumnya sedikit lalu meletakkannya kembali. "Kenapa amis ya ?" Tanyanya sembari melihat ke dalam gelas.
"Amis ?" Keyan mencium aroma susu di gelasnya. "Tidak sayang. Sama seperti biasanya."
"Coba kamu minum, rasanya amis." Valonia mengangkat gelasnya lalu menyodorkan ke bibir suaminya. "Bagaimana ?"
"Tidak amis."
Valonia meletakan kembali gelas lalu berkata. "Apa lidahku bermasalah? Sudah beberapa hari ini aku merasa makananku tidak ada yang enak. Padahal, makanan kita sama."
Keyan menangkup wajah istrinya sambil tersenyum. "Jangan bicara seperti itu sayang. Lebih baik kita periksakan ke dokter."
"Nanti saja, siapa tahu nanti lidahku kembali normal. Ayo jalan !"
Keyan mengangguk dan menghabiskan sisa susu di gelasnya. Ia mengapit tangan Valonia dan melangkah bersama. Udara pagi menusuk pori-pori. Namun sehat di paru-paru. Valonia beberapa kali menghirup udara pagi lalu menghembuskan nya dan rasanya begitu segar.
Kaki keduanya semakin jauh melangkah dari rumah. Keyan sengaja membuat pintu samping halaman rumahnya agar tidak jauh keluar jika ingin jalan kaki. Keyan menggenggam tangan Valonia lalu memasukannya ke dalam saku jaketnya. Keyan benar-benar bahagia, hari ini bisa ia lalui bersama Valonia Jasmine. Setelah beberapa masalah menghampiri mereka.
"Bagaimana kabar Tante Marisa dan Derry? Apa masih ada orang yang mengganggu ?"
"Semenjak tinggal di unit apartemen kita, masih aman. Semoga saja tidak ada masalah lagi." Keyan menoleh sambil tersenyum.
"Syukurlah, andai dia mau mengatakan siapa ayah biologisnya. Mungkin kita bisa membantunya."
"Biar saja itu privasinya. Jika dia sudah bicara baru kita bergerak." Keyan merapikan anak rambut istrinya yang sedikit berantakan.
"Bagaimana hasil mediasi Pak Anton dan Ibu Tania?"
"Belum tahu, semoga saja mereka bisa berdamai." Keyan membawa Valonia duduk di salah satu bangku. Ia menyeka keringat yang bermunculan di kening istrinya menggunakan handuk yang ia bawa. Perlakuan manis Keyan membuat para penikmat weekend merasa iri. "Ya Tuhan kenapa kamu cantik sekali." Satu kecupan mendarat di kening Valonia.
"Tapi, tidak semudah itu jika aku yang diperlakukan seperti ibu Tania. Dikhianati berulang kali. Bahkan kekurangan dirinya malah dilemparkan pada ibu Tania. Ah, aku sangat kesal !" Valonia tiba-tiba emosi karena bisa merasakan sakit hati ibu Tania.
Ada apa dengannya ?
"Ayo pulang ! Nanti siang Bunda akan berkunjung." Valonia bangkit dari kursi dan melangkah di ikuti Keyan.
Mereka berjalan santai menyusuri jalan menuju pulang. Saling bertautan tangan dan bercerita di sepanjang jalan. Tiba-tiba langkah Valonia terhenti.
"Kenapa sayang? Kamu lelah, ayo naik ke punggungku." Keyan maju selangkah di hadapan istrinya dan sedikit berjongkok berniat menaikan Valonia ke punggungnya.
"Kamu bawa uang?"
Keyan kembali berdiri tegak lalu memutar tubuhnya untuk menghadap Valonia. Ia meraba sakunya sebelum menjawab karena Keyan ingat menyelipkan uang disaku celananya sebelum keluar tadi. "Ada sayang." Ia memperlihatkan beberapa lembar uang di tangannya.
"Aku mau buah itu." Tunjuk Valonia pada mangga cangkokan di halaman rumah di hadapan mereka. "Itu mangga muda belum ada biji. Aku mau itu sayang, ayo kita beli !"
"I—iya Ayo." Keyan terbata. Ini bukan kebiasaan istrinya meminta buah yang belum matang. Ia mengikuti langkah Valonia dan menekan bel rumah pemilik pohon mangga itu.
Pemilik mangga tak berniat menjualnya, tapi karena Keyan memaksa mau tidak mau pemilik pohon mangga itu menerima uang dari Keyan. Valonia tersenyum senang menerima kantong plastik yang berisi sepuluh biji mangga muda tanpa biji itu.
"Ayo sayang kita pulang !"
"Iya." Keyan turut bahagia melihat binar senang di manik mata istrinya. Ia mengambil alih plastik buah dari tangan Valonia. "Akan kamu apakan buah ini?"
"Aku ingin memakannya dengan sambal kacang, aku jadi tidak sabar."
"Makan nasi dulu sayang, ini asam sekali. Dari kemarin kamu tidak ada makan nasi." Keyan menjadi cemas karena Valonia sejak pulang dari apartemen ibu Marisa tidak ada makan nasi.
...----------------...
Usai membersihkan diri, Keyan dan Valonia bersiap untuk sarapan. Mereka menuruni anak tangga sambil bertautan tangan. Senyum penuh bahagia tak pudar dari wajah keduanya.
"Tuan, Nyonya. Sarapannya sudah siap. Dan juga Nyonya Arini sudah menunggu anda berdua di meja makan."
"Bunda sudah datang." Valonia terlihat senang bahkan ia melangkah cepat dari suaminya.
"Sudah setengah jam lalu, Nyonya."
"Iya terimakasih, Bi. Kalian juga boleh makan." Valonia mempersilahkan Bi Noni untuk mengajak asisten lain untuk sarapan.
"Pelan-pelan saja sayang." Keyan tertawa melihat Valonia begitu senang ingin bertemu ibunya.
"Selamat pagi, Bunda."
"Selamat pagi, Nak." Bunda Arini menyambut Valonia dan Keyan sembari berdiri dan memeluk mereka bergantian.
Di atas meja, telah tertata sarapan dengan beberapa menu. Mata Valonia berbinar melihat makanan yang tersaji. Hampir semua makanan favorit nya. Sebelum mengambil untuk nya, Valonia lebih dulu mengambilkan untuk Keyan dan Bunda Arini.
"Terimakasih, Nak." Bunda Arini menerima piring yang telah terisi makanan dari Valonia.
"Iya Bun, ayo sarapan." Valonia mengambil makanan untuk nya sendiri. Wanita ini memang merasa lapar karena tadi malam hanya makan roti. Valonia menyendok makanan ke mulutnya lalu mengunyah nya perlahan. "Kenapa rasanya aneh ya?" Valonia menelan paksa makanannya.
"Aneh ?"
"Iya, coba kamu cicip. Rasanya tidak enak." Valonia menyendok makanannya ke mulut suaminya.
"Ini enak sayang." Jujur Keyan setelah menelan makanannya. Ia kembali cemas karena istrinya masih belum bisa menikmati makanannya. Sekarang ia khawatir jika indra mengecap istrinya memang bermasalah.
Tak ingin di buat bingung, Bunda Arini juga mencicip beberapa hidangan itu. Beliau mengangguk setelah merasakannya. "Makanan ini sangat enak, Nak."
"Sejak beberapa hari ini, aku merasakan makanan tidak ada yang enak Bun. Ya sudahlah kalian sarapan saja. Aku tidak selera lagi." Valonia menjauhkan piringnya.
"Sayang, makan sedikit ya. Dari kemarin makanmu tidak teratur. Aku suapi ya." Bujuk Keyan mengarahkan sendok ke mulut Valonia.
"Aku makan buah yang kemarin saja. Aku sudah tidak selera. Kamu makan saja sama Bunda. Aku mau ke ruang tengah." Valonia bangkit dari kursi lalu menuju kulkas. Ia tersenyum melihat mika manisan kedondongnya masih tersisa dua.