Love Story' Keyan & Valonia

Love Story' Keyan & Valonia
Rapuhnya Derry & Marisa



Matahari merangkak naik, teriknya semakin terasa. Namun tak membakar semangat Keyan untuk mencari tahu kasus penyerangan kemarin. Ditambah lagi berita yang baru Keyan dengar. Seolah benang kusut belum menemukan ujungnya.


Laki-laki ini melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Keyan harus membagi waktunya dengan tepat. Mobil mewah milik CEO JFB itu berhenti di halaman kantor keamanan. Ia menghembuskan nafas panjang sebelum melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya. Manik matanya melihat logo keamanan yang tertempel di atas gedung.


Haruskah ? Kejadian ini terjadi dalam ruang lingkup keamanan. Kenapa bisa kecolongan hingga pelaku tewas begitu saja ? Keyan merasa ada yang janggal di sini.


Keyan melangkah dengan tergesa-gesa. Tidak sabar untuk bertemu Endi. Sorot matanya langsung tertuju pada tiga orang yang duduk sambil berbincang.


"Bagaimana ? Kenapa ini bisa terjadi ?"


"Key." Endi segera berdiri dari tempatnya duduk. Ia menarik kursi untuk atasannya itu.


"Mereka keracunan. Tadi pagi ada kurir yang mengantarkan makanan. Namun beberapa menit setelah mereka makan. Tiga orang itu tergeletak begitu saja dengan mulut yang berbusa." Jelas Varen yang juga melihat mayat tiga orang itu.


"Ini rekaman Cctv nya, Kak." Derry memperlihatkan layar laptop pada Keyan. "Keamanan di sini sedang menyelidiki kurir itu. Dia datang pagi tadi mengantar makanan mengatasnamakan dari keluarga korban. Jadi, salah seorang petugas menerimanya dan memberikan makanan itu pada para pelaku penyerangan." Lanjut Derry memperjelas lagi.


"Key, menurutku ini bukan kasus biasa. Menurut pendapatku, Valonia target mereka. Hanya saja kemarin bertepatan Alvan juga di sana." Varen meletakan ponselnya di atas meja.


"Tuan Varen benar. Istri anda target pelaku karena barang-barang berharga tidak ada yang hilang. Apa ada orang yang anda curigai?" Seorang detektif datang menghampiri meja tempat Keyan duduk.


Apa mungkin Ayah setega itu ? Tapi Om Andre meyakini Ayah tidak melakukan hal keji itu. Apa mungkin Tita dan Om Anton ?


"Saya minta selidik tiga orang ini." Keyan menulis nama tiga orang yang ia curigai di selembar kertas.


"Ayah anda ?" Detektif menatap heran pada CEO JFB itu. Kenapa Keyan melakukan itu ?


"Iya, karena tiga orang ini yang tidak menyukai istriku." Tegas Keyan yakin. Dari iris matanya tak ada keraguan ketika mengatakannya.


"Baiklah, Tuan ! Secepatnya kami mengabari anda." Detektif itu segera menarik jaket kulitnya dan pergi melaksanakan tugas.


"Lalu... Bagaimana dengan tiga orang itu ?"


Keyan menoleh dan berkata. "Cari identitas mereka dan kirim pada keluarganya."


Endi mengangguk paham dan mengajak Derry mengurus mayat tiga pelaku itu. Sementara Varen duduk termenung sambil menatap layar ponselnya.


Keyan bersiap untuk pulang, karena ia harus mengurus kepulangan istrinya dari rumah sakit. Namun langkahnya terhenti ketika Derry menghampirinya dengan cepat serta raut wajah panik.


"Kak, aku akan kembali ke apartemen. Ada penyusup masuk ke dalam unit. Mama baru saja menelpon."


"APA ?! Kenapa ini ?" Keyan semakin bingung dengan situasi yang dihadapinya. "Ayo kita ke sana." Ajaknya kembali melangkah.


"Aku ikut." Varen berdiri dari tempatnya duduk. Ia bisa melihat betapa cemasnya Keyan dan Derry saat ini.


"Dimana Bang Levin ?" Keyan baru menyadari jika laki-laki itu tidak ada di sana.


Perjalanan yang lumayan jauh itu terasa sebentar saja, karena di tiap kesempatan Derry melajukan mobil di kecepatan atas rata-rata. Tiga laki-laki ini menaiki satu mobil yang dibawa Derry milik Valonia Jasmine. 


Setiba di basemen apartemen, Derry tak sabar untuk langsung naik ke lantai lima tempat unitnya berada. Laki-laki itu merasa pergerakan Lift begitu lambat. Ia bahkan tak memperdulikan Keyan dan Varen yang berdiri di belakangnya. Ia lupa akan statusnya sebagai bawahan dari Keyan.


"Ma." Derry menggedor pintu. Karena tak ada sahutan dari dalam. Ia mengakses code pintu. "Mama." Panggilnya lagi sembari berlari ke setiap sudut mencari keberadaan ibu Marisa. Ia tak memperdulikan barang-barang yang berserakan dilantai.


Keyan dan Varen terpaku di depan pintu. Melihat keadaan bak kapal pecah itu. Barang-barang berserakan persis seperti dirampok. Tapi bukankah ? Gedung apartemen ini aman.


"Kenapa bisa seperti ini?" Gumam Varen heran. Ia melangkah hati-hati karena banyaknya pecahan kaca dari benda-benda yang terjatuh.


"Mama." Derry segera memeluk tubuh ibunya yang gemetar dan pucat ketakutan. Air mata ibu Marisa mengalir deras menangis tak bersuara. "Apa yang sebenarnya terjadi ?" Derry berucap lembut sembari menghapus lelehan air mata di wajah ibunya. "Katakan padaku." Derry menunduk bahunya bergetar. Tak hanya sekali ia menyaksikan keterpurukan ibunya seperti  ini.


Keyan melangkah, ia meremas bahu Derry. Menyalurkan kekuatan agar laki-laki itu tegas dan menjadi kekuatan untuk ibu Marisa. Ia dapat melihat betapa rapuhnya ibu dan anak itu.


"Tante, minumlah." Varen datang memberikan air putih pada ibu Marisa. Ia pun iba melihat kondisi wanita paruh baya itu terlebih Derry yang ikut menangis.


Keyan membantu ibu Marisa untuk minum. Suami Valonia itu tanpa canggung menempelkan gelas di bibir ibu Marisa. Sambil meminum air itu, netra ibu Marisa tak lepas dari wajah tampan Keyan. Hal sama pun juga terjadi pada Derry, iris matanya menatap lekat atasannya ini. Tanpa aba-aba ibu dan anak itu langsung memeluk tubuh Keyan yang berdiri.


Meski terkejut, Keyan menerima pelukan itu. Ia dan Varen saling tatap seolah bicara dengan isyarat. Tangan Keyan mengusap-usap pundak Derry dan Ibu Marisa.


Varen tersenyum seolah berkata dengan isyarat matanya. 'Mereka minta perlindunganmu' sebagai tameng dari orang-orang yang merusuh tempat itu. Keyan menghela nafas lalu membiarkan ibu dan anak itu memeluknya dan menangis.


Setelah cukup tenang, Derry dan ibu Marisa melepaskan tubuh Keyan. Mereka berdua mengusap jejak air mata masing-masing.


"Maafkan Tante, Nak."


"Tidak apa-apa Tante. Sekarang ceritakan padaku. Ada apa ? Kenapa unit ini bisa berantakan seperti ini?" Keyan duduk di kasur karena Derry berdiri memberi tempat.


Ibu Marisa mulai menceritakan jika ada orang-orang yang masuk dan mencari sesuatu di kediamannya. Keyan semakin penasaran, apa yang dicari di kediaman ibu Marisa ?


"Kak, kemarin di pemakaman aku menceritakan diriku dan Mama pada Kak Valonia. Aku pikir dia wanita yang bisa memberiku perlindungan."


"Iya, dia menceritakannya juga padaku. Maaf kami tidak bisa menyimpan rahasia apa pun sebagai suami istri. Jadi, orang-orang itu mencari surat perjanjian tentang pembagian harta jika Derry sudah dewasa." Keyan menebak dengan mudah tujuan orang yang masuk ke dalam unit.


"Iya, sepertinya dia akan mengingkari janji itu. Makanya mencari surat perjanjian itu disini." Sahut Ibu Marisa sendu.


"Begini saja, aku akan menyelesaikan permasalah yang menimpa istriku lebih dulu. Setelahnya baru aku membantu kalian untuk menuntut hak Derry. Meski pun tidak terjadi pernikahan. Tapi laki-laki itu telah membuat perjanjian hitam di atas putih. Aku akan meminta pengacaraku mengurusnya." 


Maafkan aku, Kak ! Melibatkan kalian dengan masalah ini. Karena dengan berada di sisimu, aku merasa terlindungi dari pria tak berperasaan itu. Karena kamu memiliki uang dan kuasa. Dan melalui mu juga, aku bisa menghancurkannya seperti dia menghancurkan ibuku. Maaf jika aku memanfaatkan kebaikanmu dan Kak Valonia .


Derry membereskan barang-barang berserakan dibantu Keyan dan Varen.