
"Ra maaf" ujar Azril lirih, meskipun Rara memejamkan matanya namun ia tahu bahwa istrinya belum tertidur
"Ehh Azril udah datang" sapa papa yang baru saja memasuki kamar
"Iya pa ma, maaf aku datang terlambat" ujar Azril penuh rasa bersalah
"Harusnya kamu jangan tinggalin Rara dong, dah tahu dia hamil gede, apa kamu tidak pernah mendengar bahwa wanita yang hamil bayi kembar cenderung melahirkan secara prematur" omel sang mama
"Maaf ma pa" ujar Azril sembari menunduk, jujur ia tidak tahu sama sekali, harusnya ia mencari tahu tentang kehamilan kembar, dan lebih sering bertanya pada dokter kandungan tiap kali Rara melakukan pemeriksaan, tapi sayang pada bulan ke 7 dan 8 ia tak menemani Rara melakukan pemeriksaan
"Kemana aja kamu, kenapa gak ngangkat telpon hah?" tanya mama sinis
"Maaf ma, hp nya mati" ujar Azril
"Duhh gimana sih kok bisa ceroboh gitu, harusnya kamu tuh pantengin terus hpnya, tahu sendiri kondisi istri sedang hamil besar, kamu tuh sebagai suami harusnya nemenin Rara di ruang bersalin, udah tahu umur Rara masih muda gini butuh dukungan dari suaminya malah di tinggal"
"Maaf ma, In syaa Allah kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali" ujar Azril pelan
"Ehhh kejadian apa, emang kamu mau buat Rara hamil lagi, gak gak mama gak tega lihat dia kejang-kejang kayak tadi, bahkan tadi sempat transfusi darah saking banyaknya darah yang keluar"
Azril tertegun mendengar perkataan mamanya, Rara bahkan mengalami pendarahan sehabis melahirkan, bukankah itu hampir memicu kematian
"Tuh dengerin Azril, kamu jadi laki-laki harus punya rasa tanggung jawab, apalagi terhadap keluarga, pekerjaan memang penting tapi keluarga juga sangat penting, kamu harus bisa memilah mana kepentingan keluarga yang tak bisa di tunda" ujar papa tegas
"Bahkan Rara sempat pingsan beberapa jam lamanya, dari pagi hingga sore, kamu tahu gak seberapa khawatirnya mama, untung aja Rara gak kenapa-kenapa" mamanya terus saja mengomel dan memarahi si Azril hingga sang suami mengelus punggung istrinya berulang kali
"Udah ma, sabar udah terjadi, nanti kita beri pelajaran buat menantu kita ya" ujar papa menenangkan
"Pelajaran apa?" tanya mama
"Pelajaran genetika dan reproduksi" ujar papa
"Pa yang serius coba" mamanya menatap tajam ke arah suaminya
"Iya iya sayang maaf, udh gak usah marah lagi ya"
"Ra bangun yuk sayang, makan dulu" ujar mama yang mengacungkan suaminya, ia mulai menyentuh pundak Rara pelan
Rara yang sedari tadi pura-pura tertidur perlahan membuka matanya "Ma" panggil Rara
"Iya, ini mama ayo makan dulu habis itu kita beri asi cucu-cucu mama"
Azril dengan sigap membantu mertuanya menduduki Rara dan bersandar di ranjang
"Ma biar Azril aja yang suapi" pinta Azril kala melihat mertuanya membuka bungkus makanan dan memindahkannya di mangkuk
"Nih" ujar mama yang masih saja ketus dan sinis
"Ma ayo turun ke bawah, pesen nasi goreng dulu, kan dari pagi kamu belum makan" ajak papa Rara
Mama Rara menurut, setelah berpamitan ia dan suaminya keluar ruang pasien
"Ayo sayang buka mulutnya aaa" Rara bergeming, ia tak menghiraukan suaminya
"Sayang... maaf" ujar Azril lirih
Pintu kamar terbuka menampilkan sosok para kakak Rara "Ra ini baju-baju kamu, serta peralatan lainnya" ujar Alfred, padahal yang membawa tas besar adalah Lan
"Ehh siapa kamu?" tanya Dariel sinis
"Bang" gumam Azril
"Kita gak punya adik ipar kayak kamu, yang menelantarkan istrinya sendiri" ujarnya pedas
Alfred mengambil alih mangkuk yang di pegang Azril secara paksa, perlahan ia menyuapkan ke mulut sang adik, sebenarnya Rara tidak ***** makan namun mengingat bayi-bayi nya membutuhkan asi darinya akhirnya ia menerima suapan kakaknya
"Maaf bang hp ku mati" ujarnya
Ammar memberi kode pada Azril agar ia mau keluar ruangan sebentar, mereka akan berbicara empat mata
"Kenapa bang?" tanya Azril kala mereka sudah keluar dan menjauh dari pintu
"Kata Baheer kamu nemenin Fera di rumah sakit?"
"Iya bang, dia habis kecelakaan" ujar Azril
"Pukul berapa kecelakaannya?"
"Sekitar pukul 10 an bang, kapan Rara melahirkan?" tanya Azril, ada rasa bersalah serta penyesalan yang mendalam dari lubuk hatinya menemani wanita lain dan bukan istrinya, kalau saja ia tahu Rara melahirkan sudah pasti ia akan segera terbang ke Jakarta memilih menemani Rara meski Fera juga ia anggap sebagai keluarga nya sendiri
"Pukul tujuh pagi kita udah beranjak ke rumah sakit, untuk berojolnya abang lupa pukul berapa, kita sudah menghubungi kamu ratusan kali"
"Maaf bang hpnya mati" ujar Azril lirih
"Haissh kamu buat kesalahan lagi, siap-siap menanggung resikonya ya" ujar Ammra yang menepuk pundak Azril
Azril terdiam, wajahnya nampak memelas, bahkan tadi mertuanya saja sudah mengomeli ia habis-habisan, belum lagi nanti umi serta abinya, tapi bukan itu yang ia takuti melainkan Rara
"Oh ya bang, makasih sudah memberikan nama untuk bayi-bayi ku" ujar Azril lirih, bukannya tulus ia malah agak sedikit kesal bercampur cemburu
"Nama?" Ammar mengerutkan dahinya, ia mengingat kembali obrolannya dengan keluarga Rara, karena usulan Dariel lah mampu terciptanya sebuah nama yang indah
"Itu mah yang beri nama bukan cuma abang aja, melainkan kakak kakak nya Rara juga ikut berpartisipasi" ujar Ammar terkekeh geli melihat wajah cemburu Azril
"Benarkah? terus yang adzanin?"
"Itu juga kita semua, habis abang di paksa sama papanya Rara, ada-ada aja keluarga mereka itu" Ammar menggelengkan kepalanya dengan kekehan kekehan kecil
Azril mengangguk mengerti, dalam hati ia sedikit lega bukan sepenuhnya Ammar yang berikan
"Mau kemana sayang?" Azril segera menghampiri Rara kala melihat Rara di papah oleh Dariel
"Sayang sayang matamu tuh sayang, minggir sana" gerutu Dariel
"Sini mas saja yang batu, mau memberikan bayi kita asi kan" Azril berusaha merengkuh tubuh Rara, namun Rara menghindari sentuhan Azril
"Tuh kan di tolak, minggir sana" ujar Dariel yang mendorong tubuh Azril agar menjauh
***
Tiga hari berada di rumah sakit akhirnya Rara di perbolehkan untuk pulang, namun tidak dengan bayi-bayi mereka, karena butuh sekitar dua mingguan hingga berat badan mereka berdua stabil
Rara tiap hari harus bolak-balik ke rumah sakit untuk memberikan kedua buah hatinya asi, kini ia menempati rumah orang tuanya, tentu dengan Azril yang selalu membuntuti nya, padahal tiap hari Rara hanya bersikap cuek dan acuh pada sang suami, namun nampaknya hukuman ini belum seberapa bagi Rara
Saat ini Azril dan Rara tengah menempuh perjalanan pulang ke rumah sehabis dari rumah sakit
"Sayang mampir makan bakso mau?" tawar Azril, ia melirik ke arah kaca mobil yang di pasang di depan
Rara hanya terdiam sembari memejamkan matanya, ia memang sengaja duduk di belakang menjadikan suaminya sebagai seorang sopir
Kondisi Rara memang belum sepenuhnya stabil, tak jarang ia sering merasa pusing, mual, serta gemetaran kala melihat darah nifasnya sendiri, memang tak separah dulu namun itu semua sudah membuat ia kelelahan, bahkan Azril sudah membawanya ke psikiater beberapa kali pasca melahirkan, bukan hanya itu tiap hari Azril lah yang membantu Rara mengganti softex bahkan membersihkannya, dan melarang Rara melihatnya
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗
Biar Azril jera enaknya di apain ya 🤔