I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Mantan Berkunjung



Rara membelalakkan matanya "Sudah pernah menikah, berarti aku istri kedua?"


"Tidak sayang kamu istri satu-satunya" ujar mama Rara yang mendekat ke arah putrinya, dia takut kalau Rara berfikir macam-macam itu akan mengganggu pikirannya dan berdampak buruk bagi kesembuhannya


"Iya sayang kamu istri satu-satunya milik Azril" uminya ikut mendekati Rara


"Dariel" gertak sang papa bisa-bisa nya mulut anak itu ceplas-ceplos sana sini


"Maaf pa aku lupa, gak sengaja sumpah" bisik Dariel yang merasa bersalah


Papanya langsung menarik lengan putra keduanya untuk keluar dari ruangan Rara


"Tunggu pa" Dariel langsung meraih mangkuk bubur lobster sebelum di seret keluar oleh papanya


Setelah dua pria itu meninggalkan ruangan Rara menatap semua orang dengan penuh curiga


"Sebenarnya aku siapa sih? apa benar pria itu suami aku, kalau memang benar mana anak kita?" ujar Rara yang sampai sekarang masih belum percaya bahwa makhluk yang bernama Azril ini adalah suaminya


Deg


Azril tertegun mendengar perkataan Rara, memang benar mereka pernah melakukannya sekali namun tidak pernah terbesit di pikiran Azril bahwa Rara akan langsung hamil


"Pernikahan kalian kan baru delapan bulan lebih, wajar saja kalau belum jadi" ujar umi Azril meyakinkan


"Iya benar makanya habis ini kalian berusaha lagi ya biar cepat jadi" ujar abi Azril santai


Azril melotot mendengar perkataan abi nya, ah dia jadi bernostalgia mengingat malam pertamanya, malam pertama yang harusnya diperuntukkan untuk Azizah malah ia habiskan untuk Rara yang dulu notabenya adalah gadis yang bukan mahramnya tanpa ikatan pernikahan


"Mas ih" istrinya menyikut lengan suaminya


"Lah kenapa memang dek? kan biar kita segera dapet cucu" ujar abi sembari terkekeh kecil


"Iya benar itu mama juga mau cucu" ujar mama Rara dengan mata yang berbinar-binar


Rara hanya menatap Azril dengan tatapan yang penuh penyelidikan, pria yang di tatap Rara malah larut dalam pemikirannya sendiri, dia belum percaya sepenuhnya bahwa Azril adalah suaminya


"Kapan aku keluar dari sini ma?" tanya Rara


"Kata dokter In Syaa Allah besok kamu bisa keluar dari sini" ujar mama yang membuat Rara tersenyum, rasanya sudah suntuk tinggal di rumah sakit ingin cepat-cepat keluar dan menghirup udara luar


***


Sementara itu di kediaman Azizah


"Iza ayo dong makan ya kamu kemarin udah gak makan sama sekali masa sekarang gak mau makan lagi" bujuk bunda Azizah


"Iza gak lapar bun" ujar Azizah yang tengah duduk di ruang tamu, pandangannya ke arah tv namun pikirannya ntah kemana


"Nanti kamu sakit lagi" bundanya terus membujuk putri sulungnya, semenjak dia kehilangan Azril rasanya hidupnya hampa dia menjalankan hidupnya layaknya mayat yang berjalan ke sana kemari


"Bun aku bener gak lapar" Azizah langsung mematikan tv dan pergi ke kamar meninggalkan sang bunda yang tengah duduk sembari memegang piring berisi nasi goreng udang kesukaan putrinya


"Dia gak mau makan lagi bun?" tanya suaminya yang baru saja keluar dari kamar


Istrinya hanya mengangguk pelan pandangnya menatap lekat pintu kamar putri sulungnya


Suaminya hanya menghela nafasnya kemudian dia mendudukkan dirinya di samping istri tercintanya


"Setelah menemui Azril apa yang akan kita lakukan, meminta dia untuk menikahi Azizah lagi?"


"Itu.... bunda juga tidak tahu yah" istrinya mengusap pipinya yang sudah basah akibat air mata yang keluar tanpa ia sadari


"Ok besok kita ke pesantren, ayah dengar kedua orang tua Azril ada di sana untuk beberapa saat, kita akan mencoba berbicara pada mereka" perlahan tangannya mengelus lembut pundak istrinya berusaha memberi ketenangan serta kenyamanan


Esok paginya kedua orang tua Azizah datang ke pesantren milik keluarga Azril tak lupa mereka juga membawa Azizah, awalnya Azizah bingung kemana kedua orang tuanya mau membawanya, setelah sampai di pesantren barulah Azizah mengerti bahwa kedua orang tuanya mau membawa ia untuk menemui Azril, namun sayang sekali kedua orang tua Azril serta Azril sendiri tidak berada di rumah


"Kira-kira kemana mereka pergi?" tanya ayah Azizah sopan kepada kakek Azril


"Mereka semua pergi ke rumah sakit" ujar kakek Azril ramah


"Kalau boleh tahu siapa yang sakit?" ayah Azril memberanikan diri untuk bertanya


Kakek Azril tersenyum "Rara istrinya Azril"


"Astaghfirullah apa boleh kami menjenguknya" ujar bunda Azizah


Awalnya kakeknya ragu untuk memberitahukan rumah sakit tempat Rara di rawat namun ia merasa tidak enak hati toh juga mereka bilang mau menjenguknya bukan, apa salahnya menjenguk orang sakit bukankah itu malah menambah pahala "Pergilah ke rumah sakit ××"


Setelah mereka berpamitan mobil mereka segera meluncur ke rumah sakit ××


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu ruangan tempat Rara di rawat, abi Azril segera membuka pintu tersebut


"Loh pak Masrur ada perlu apa ke sini?" tanya abi Azril bingung


"Kami mau menjenguk Rara" ujar bunda Azizah ramah sembari membawa sekeranjang buah yang baru saja mereka beli sebelum menginjakkan kaki mereka ke rumah sakit ini


"Silahkan masuk" abi Azril mempersilahkan mereka masuk ke dalam


Azizah mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan terlihat Rara yang sedang tertidur pulas, sehabis shalat subuh serta memakan sarapannya ia memilih untuk melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda, Azizah kembali merasakan sesak di dadanya kala tangan kiri Azril yang setia menggenggam tangan Rara sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengelus rambut Rara, bahkan Azril tak henti-hentinya menatap ke arah Rara tanpa mempedulikan siapa yang baru saja memasuki ruangan ini


"Kalian" ujar mama Rara yang menatap ke arah keluarga Azizah, suaminya yang sedari tadi fokus dengan laptopnya ikut menatap ke arah pandangan istrinya


"Mohon maaf mengganggu semuanya, kedatangan kami ke sini untuk menjenguk Rara sekaligus ada sesuatu yang ingin kami sampaikan" ayah Azizah memulai pembicaraan


Mendengar suara mantan mertuanya, Azril langsung menghadap ke arah pintu, benar saja keluarga Azizah sedang berada tepat di depan pintu ruangan


Azril segera berdiri dari duduknya, ketika ia hendak melepaskan genggaman tangannya dari jari jemari Rara seperti ada sesuatu yang menahannya, ia menatap mata Rara yang masih setia terpejam di sertai dengan nafas yang teratur, nampaknya tanpa Rara sadari ia tertidur pulas dengan menggenggam kuat tangan Azril


Azril mendekatkan bibirnya ke telinga Rara


"Sayang aku cuma mau menyalami mantan mertua aku sebentar aja kok, gak kemana-mana" bisik Azril lembut, perlahan genggaman jari jemari Rara melemah seakan-akan ia mendengar bisikan dari Azril


Azril segera berjalan menuju ke dua mantan mertuanya serta menyalami keduanya sebagai tanda kehormatan dan kesopanannya


"Om"


"Tante"