
"Bismillah move on dari segalanya" ujarnya sembari menancapkan gas mobil
Rara memberhentikan mobilnya tepat di sebuah apotek, setelah membayar ia buru-buru pulang ke rumah
"Pak" panggil Rara pada penjaga gerbang rumah milik keluarganya
"Iya non"
"Papa sama mama di rumah?"
"Tuan David pergi ke kantor sedangkan nyonya ada di rumah non"
"Oh gitu makasih pak"
Setelah turun dari mobil Rara celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, setelah memastikan semuanya aman ia mengendap-endap membuka pintu rumahnya
"Akhirnya" Rara mengelus dadanya lega
"Sampai juga" ujar mama yang ntah muncul dari mana
"Astaghfirullah" pekik Rara terkejut kala mendapati mama nya berada tak jauh darinya
"Dari mana saja kamu?" tanya mama penuh selidik
"Eh anu....."
"Jujur dapat pahala, bohong dapat dosa" ujar mama yang menyilang kan tangannya di dada
"Habis ketemu teman lama ma, aku kan dah lama gak hang out bareng teman" mamanya memicingkan matanya menatap curiga
"Itu Amel ma, cuma berdua"
"Maafkan hamba berbohong ya Allah, Engkau Maha Pengampun sedangkan papa dan mama tidak maha pengampun" bisik Rara dalam hati
"Ohhhh kenapa tadi gak pamit dulu? kan bisa di antar sopir"
"Rara mau mandiri ma"
"Ya tapi tetap saja harus ada pengawasan, kalau sampai papa kamu tahu mama angkat tangan"
"Ma jangan bilang papa ya" ujar Rara memelas
"Tergantung performa kamu" mamanya langsung beranjak pergi
"Aduh performa apa lagi" gerutu Rara
Tak mempedulikan itu kini ia segera beranjak lari ke kamarnya, perlahan ia mengeluarkan sesuatu dari saku gamisnya
"Sebenarnya baiknya pagi tapi aku dah penasaran" gumam Rara yang tengah menatap benda kecil di tangannya
Langkah kakinya memasuki kamar mandi ntah apa yang ia lakukan hingga beberapa menit kemudian
"Dua garis" pekik Rara girang
"Aku punya bayi" Rara menatap wajah gembiranya di cermin
Beberapa hari lalu ia mulai merasakan mual-mual, tidak ***** makan, bahkan sensitif terhadap bau, apalagi di tambah dia tidak mendapatkan bulanannya di bulan ini, sesuai ilmu yang pernah ia pelajari ini termasuk gejala gejala kehamilan
"Tapi bayi ini juga punya dia....." gumam Rara kini wajahnya terlihat lesu di cermin
"Gak pa pa yang penting punya bayi" ujar nya kembali dengan ekspresi gembira
"Ya Allah aku masih gak nyangka bisa dapat secepat ini"
"Cowok cewek ya, mudah mudahan cewek biar bisa di ajak gibah bareng hahahaha"
"Pokoknya bayi ini harus mirip dengan ku" Rara mengelus perut yang masih nampak rata
***
Mama menatap heran ke arah putrinya yang kini asyik melahap makanannya, tak hanya mamanya seluruh keluarga nya juga sama bingungnya
Dariel melirik mamanya sembari menunjuk Rara dengan dagunya seakan-akan bertanya "Ada apa dengannya?" namun mamanya hanya mampu menggeleng kan kepalanya
Sungguh merupakan suatu perubahan yang besar kini Rara tengah menyantap nasi dengan lauk sayur serta ikan, yang membuat aneh adalah porsi sayurnya begitu banyak Rara bukanlah tipe orang yang menyukai sayur, biasanya dia memakan sayur hanya sekedarnya dan seperlunya saja
Tak hanya itu kini ia malah menambah setengah piring lagi dengan lauk yang sama
"Apa menatap wajahku dapat membuat perut kalian semua kenyang?" tanya Rara tanpa mengalihkan pada santapan keduanya
"Ehhhhh mama cuma ngerasa ada yang aneh aja sama kamu"
"Iya kayak ada sesuatu yang tiba-tiba muncul" timpal Dariel
"Sudah sudah ayo lanjutkan makanan nya" tegur papa
***
"Kak Dariel" teriak Rara yang membuka pintu kamar Dariel tiba-tiba tanpa mengetuknya
"Akhhhhhh" Dariel berteriak histeris sembari menyilang tangan di dadanya
Bukannya keluar ia malah duduk di atas kasur milik Dariel
"Kamu mau ngapain ra, kita gak pantas berbuat hal seperti itu" ujar Dariel memelas
Rara melihat tubuh Dariel dari atas hingga bawah, Dariel hanya mengenakan handuk di bagian bawahnya "Lumayan" gumamnya sembari tersenyum menggoda
"Udahlah kak biasa aja kali, aku juga pernah lihat seluruh tubuhmu" ujar Rara santai
"Itu kan waktu kecil sekarang udah beda, lagian ngapain sih masuk gak ngetuk pintu dulu" ujar Dariel kesal, ia mulai mengambil kaos di lemari nya
"Gak tau ya kak, aku belajar dari dua orang yang selalu memasuki kamar ku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, udah gitu pas mereka keluar pintu kamar ku gak di tutup coba, gak jelas kan mereka" sindir Rara
"Ck, ada perlu apa?" tanya Dariel
"Pingin roti bakar" pinta Rara memelas
"Terus?"
"Beliin"
"Gak mau udah malam, kakak sibuk"
"Kak ayo dong pingin banget makan roti bakar yang di beli sama kakak"
"Dua hari yang lalu kamu udah nyuruh kakak keluar cuma buat beliin kamu seblak, sekarang mau roti bakar, apa perut kamu terbuat dari gentong ya, udah makan nambah mulu masih aja lapar"
"Ehhhh iya iya kakak beliin jangan mewek ya" ujar Dariel kala melihat adiknya sudah berkaca-kaca
***
"Astaga ra kamu ngapain di situ?" tanya Alfred yang baru saja keluar dari kamar mandi, sama halnya kayak Dariel ia hanya mengenakan handuk di bagian bawahnya
"Mau kebab"
"Hah?"
"Mau kebab, sekarang" ujar Rara datar
"Ini udah jam 10 malam"
"Siapa suruh kakak pulang telat lagi"
"Kakak sibuk ra"
"Pokoknya kebab" Rara membaringkan tubuhnya di atas kasur milik Alfred
"Kalau gak aku tidur sini"
"Eehhh jangan ra, nanti kakak bisa khilaf"
"Khilaf apa?" tanya Rara polos
"Ya khilaf jadiin kamu guling"
"Oh ya kakak kan tidurnya berantakan, aku kasian sama istri masa depan kakak bisa remuk tubuhnya" sindir Rara
"Ya gak gitu juga kali ra"
"Udah sana beliin kebab"
"Iya iya ah, kebiasaan deh nyuruhnya malam malam"
***
"Kak Lan"
"Ya ampun non Rara, bikin kaget aja" pekik Lan yang mengelus dadanya pelan, siapa yang tidak kaget tiba-tiba muncul wajah Rara yang menempel pada kaca mobil kala ia bersiap mau pulang sehabis mengantar Alfred pulang
"Kak" panggil Rara lagi sembari mengetuk-ngetuk kaca mobil
Lan menurunkan kaca mobilnya
"Ada apa non?" tanya Lan
"Ada sate kambing di jalan nusa, beliin ya" pinta Rara
"Hah?"
"Tapi non itu jauh banget apa gak kelamaan nunggunya kalau saya belikan sekarang"
"Gak, gak pa pa jauh lagi pingin sate yang di sana"
"Gak mau yang depan kompleks yang di jalan crocodile aja, di sana tadi saya lihat masih buka"
"Gak mau, maunya di sana"
"Kan sama saja non"
"Beda kak, yang di jalan crocodile itu sate kambing nya udah gak perawan mana dia udah janda lagi, kakak mau Rara jadi janda" Rara mengerucut bibir nya ke bawah
"Hah" Lan melongo mendengar ucapan Rara, bagaimana bisa dia menyimpulkan bahwa sate kambing yang di jual di sana udah gak perawan dan udah jadi janda
"Kak Lan"
"Baik non saya belikan, mudah mudahan masih buka" ujar Lan
"Apa iya sate kambing di jalan nusa pada masih perawan semua, apa ada juga yang masih perjaka, betah banget ngejomblo sampai akhir hayatnya" gumam Lan sembari menyetir mobilnya
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗