
Acara masih terus berlanjut, sehabis makan tumpukan sate Rara berjalan-jalan mencari sesuatu yang diinginkan lidahnya, mumpung mertuanya asyik bermain dengan sikem dan bahkan sikem di bawa duduk di pelaminan
Mata Rara berbinar kala melihat stand es krim namun sayang antriannya lumayan panjang dan yang mengantri rata-rata memakai almet ponpes dan masih muda-muda, tentu saja itu santri putra dan tak ada santriwati sama sekali karena memang acaranya di pondok putra
"Masak ustadz ngantri makan es krim pasti itu santri di sini" gumam Rara
Ia buru-buru meminta wadah mangkok dengan ukuran yang lumayan besar di bagian dapur setelah mendapatkan apa yang ia inginkan dengan pedenya ia maju ke depan akang-akang penjaga es krim
"Kang es krim 6 skop" pinta Rara
"Woyyy ngantri dong"
"Woyy ngantri bisa gak"
"Tau ih main nyerobot aja"
Rara mendapatkan repan dari para santri yang mengantri di sana, salahkan ia yang dengan pedenya menerobos antrian, dan tak tanggung-tanggung ia langsung berjalan ke depan
"Ihhhh kalian gitu amat sih sama perempuan, kalian tahu gak sih istilah "ladies first" yang artinya perempuan diutamakan atau didahulukan, gak gentleman banget sih jadi cowok" ujar Rara dengan keras agar semuanya bisa mendengar apa yang ia ucapkan
"Lagian nih ya ini tuh buat ustadz Azril" lanjut Rara yang mengeluarkan senjata ampuhnya, benar saja semua santri terdiam sejenak, kemudian mereka berbisik-bisik
"Eh buat ustadz Azril tau"
"Gus Azril cuy Gus Azril"
"Duhhh ternyata buat Gus Azril"
"Nah lo aku gak ikut-ikutan ya, itu buat ustadz Azril ternyata"
"Eh inikan cewek tadi, yang dia ngambil sate itu juga yang nyuruh Gus Azril"
"Punya hubungan keluarga kayaknya deh sama ustadz Azril"
"Hayo lo yang tadi ngerepin dia"
"Aduh mati aku"
Rara tersenyum puas mendengar bisikan-bisikan mereka
"Kang 6 skop besar yang coklat sama chocho chip" pinta Rara yang menyodorkan mangkuk agak besar
"6 skop? banyak amat, apa gak enek ya"
"Banyak amat ternyata Gus Azril makannya"
"Tadi aja beliau makan sate 3 porsi"
"Iyakah? aku gak liat"
"Sayang sekali kamu gak lihat"
"Makasih kang" ujar Rara girang, ia puas mendapatkan apa yang ia inginkan meski dengan membawa nama Azril
Rara menikmati es krim tersebut di tempat duduk yang disediakan bagi para ustadzah, tempat duduk ustadz dan ustadzah memang di pisah apalagi tempat duduk bagi keluarga dekat, namun Rara malah memilih duduk di sana sejenak karena sudah sangat ingin menyantap es krimnya, padahal biasanya ia makan es krim sambil jalan namun setelah di nasehati Azril perlahan ia merubah kebiasaannya
Azril berjalan mencari istrinya, baru di tinggal ngobrol satu jam aja udah menghilang gimana kalau setengah hari
"Assalamualaikum ustadz"
"Assalamualaikum ustadz"
"Waalaikumsalam"
Mereka memberi salam pada Azril, namun bukannya langsung pergi tanpa sadar mereka malah menatap aneh ke arah Azril
"Heem" Azril berdehem guna menyadarkan mereka
"Mari ustadz"
"Mari ustadz"
Mereka buru-buru pergi
"Apa ada yang salah dengan penampilan ku" batin Azril
"Ukhh enak tapi kenyang" ujar Rara, es krim itu masih ada seperempat, ia buru-buru pergi dari tempat duduk itu dan berjalan menuju habitat aslinya
"Rara" panggil Azril kala menemukan istrinya yang baru keluar dari tenda ustadzah
"Mas" Rara buru-buru menghampiri suaminya yang menjadi tempat pembuangan makanan baginya
"Mas mau es krim?" tawar Rara sembari menyodorkan mangkuk es krim tersebut
Azril tersenyum tipis, tangannya mengusap lembut bibir Rara yang nampak belepotan
"Ini habisin aku kenyang" ujar Rara
"Berapa es krim ini?" tanya Azril curiga
"Cuma 6"
"CUMA?"
"Enak tapi kenyang, ayo buruan habisin tinggal dikit ini, nanti kita foto keluarga"
***
"Ngapain ra?" tanya Azril
"Mau mompa asi umi sama abi pingin tidur sama sikem" ujar Rara
"Alhamdulillah ya Allah terimakasih telah memberikan hamba kesempatan langka ini, hamba janji hamba tidak akan menyia-nyiakannya" batin Azril penuh syukur
Azril membuka pintu kamar sehabis memberikan susu pada kedua orangtuanya untuk sikem barangkali mereka kebangun karena haus
Ia mendapati Rara yang telah berbaring terlentang namun matanya masih terbuka lebar
"Udah di kasih mas?" tanya Rara basa basi
"Udah..... mmmm sayang" panggil Azril lembut, ia merangkak ke arah kasur dan mendekati istrinya
"Apa"
"Malam pertama loh ra" bisik Azril lembut
Rara segera mendudukkan dirinya "Iya bener tau mas, kira-kira mbak Ita dan kak Ammar ngapain ya di kamar sebelah" ujar Rara
"Mmmm bukan itu yang mas maksud"
"Terus?"
"Kita"
"Kita?"
"Iya kita, ini juga merupakan malam pertama kita, sehabis kamu nifas" ujar Azril penuh damba
"Ahh jangan dulu deh mas, makasih" belum sempat Rara meraih selimut tangannya sudah di cegah oleh Azril
"Mau nolak? nanti....."
"Selalu ngancam kayak gitu" gerutu Rara kesal
"Maaf mas cuma gak mau bohongin dirinya mas aja, kalau mas lagi pingin" ujar Azril
"Pliss boleh ya" pinta Azril dengan wajah memelas
"Tapi ini kan di rumah kakek"
"Cup" ciuman bertubi-tubi mulai Azril layangkan, dan perlahan ia membaringkan sang istri
Azril melantunkan sebuah doa dan mulai melancarkan aksinya
"Suttt jangan berisik sayang, gak boleh kedengaran sampai luar, ingat cuma mas yang boleh denger suara manja kamu" bisik Azril lirih, ia menutup mulut Rara dengan telapak tangannya sebentar
"Mas..."
"Mas.... Azril....."
"Iya sayang mas di sini"
"Jangan..."
"Jangan...... banyak-banyak...."
"Buat Ay..... sama Av....”
Rara menarik-narik rambut Azril pelan, tangannya mencari kutu di sana namun tak ia temukan sama sekali
"Sayang" panggil Azril selembut mungkin, jika sudah begini Rara tahu bahwa Azril menginginkannya lagi
***
"Sayang bangun yuk mandi besar dulu, mumpung kamar mandinya masih kosong" ujar Azril yang mencubit-cubit pipi Rara
"Emmm"
"Mau mas mandiin, mas gendong ya" ujar Azril
"Iya iya ini aku bangun"
"Jam berapa sekarang?" tanya Rara
"Jam dua, ayo buruan mandi keburu yang lain bangun untuk shalat tahajud, lihat mas udah mandi udah ganteng gini"
Rara mengangguk Azril membantu istrinya berpakaian, dan menyiapkan baju untuk Rara juga agar lebih cepat, ia menemani Rara ke kamar mandi yang memang letaknya diluar kamar dan hanya ada tiga kamar mandi saja
Ammar baru saja terbangun dan membuka pintu kamarnya ia hendak ke kamar mandi, di sana ia menemukan Azril yang tengah duduk tak jauh dari kamar mandi
Ammar memegang pundak Azril "Eh bang" sapa Azril
"Ngapain duduk di sini? mau masuk ke kamar mandi?" tanya Ammar kala melihat dua pintu kamar mandi masih kosong
"Ngak bang ini lagi nungguin Rara" ujar Azril, Ammar hanya mengangguk ia melirik rambut Azril yang masih nampak basah kemudian ia mengacak-acak rambut adik kandungnya
"Yang nikah siapa yang malam pertama siapa" ujar Ammar yang langsung memasuki kamar mandi
"Hehehe" Azril menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tau aja abang batinnya
Rara keluar kamar mandi bersamaan dengan Ammar yang keluar dari pintu sebelah
"Kak Ammar" sapa Rara
Ammar tersenyum "Gimana malam pertamanya lancar?" tanyanya kemudian
"Hah harusnya aku yang nanyak kak" ujar Rara bingung
"Ayo ra" buru-buru Azril menarik lengan Rara, ia dapat melihat sekilas rambut Ammar yang tak basah sedikit pun padahal tadi jelas-jelas abangnya sedang mandi
"Kak kita duluan, jangan lupa tahajud" ujar Azril ia menarik lengan Rara dan berjalan menjauh meninggalkan Ammar
***
Eh ketemu lagi, selamat membaca semua, see you next time, next episode, Ilal iqo' wa sanaltaqi fi halaqotil khadimah In Syaa Allah, Jan lupa like and comment yo thans a lot