
Azril membuka pintu kamar Rara, dilihatnya istrinya itu sedang duduk di tepi tempat tidur dengan pandangan yang kosong
"Sayang" panggil Azril yang mendekat ke arah istrinya
Mata Rara terlihat sembab, wajahnya nampak pucat, melihat kondisi istrinya ingin rasanya Azril membatalkan penerbangan namun jika ia membatalkan penerbangan sudah dipastikan kondisi Rara akan semakin parah
Perlahan Azril berlutut di hadapan Rara mensejajarkan dirinya dengan istrinya, tangannya sibuk mengancing jaket yang dikenakan oleh Rara, kemudian dia menggenggam tangan istrinya benar saja kedua telapak tangan Rara terasa cukup dingin
Azril menghela nafasnya kasar, dia mengusap kedua mata Rara dengan lembut "Ayo kita berangkat sekarang" Azril mulai berdiri, dia mengambil topi bucket yang sempat ia beli setelah dari rumah Azizah, kemudian dia memakaikan topi cantik tersebut di atas kepala istrinya
Tangan kanan Azril menggenggam erat tangan Rara sedangkan tangan kirinya menggeret koper yang cukup besar milik mereka, ntah sampai berapa lama mereka berada di Sidoarjo
"Hati hati ya sayang" ujar mama sembari memeluk putrinya, hanya ada mamanya di rumah beserta para pembantu, papa Rara kemarin pergi ke luar kota, Alfred mengurusi masalah Rara sedangkan Dariel ntah anak itu berkelana kemana
Taksi mulai berjalan menuju bandara, sepanjang perjalanan Rara hanya diam termenung
"Rara sarapan dulu ya tadi di rumah kan kamu belum makan" bujuk Azril, mereka kini telah berada di bandara, penerbangan masih menunggu dua jam lagi
Rara hanya menggelengkan kepalanya, namun Azril tetap menarik tangan Rara menuju stand roti
"Makasih mas" ujar Azril yang telah menerima tiga bungkus roti bulat-bulat
***
"Bro" teriak Faishal dari jauh hingga mengundang banyak perhatian
Azril segera menarik tangan Rara serta kopernya untuk menghampiri makhluk yang telah lama tidak ia temui, ah terakhir mereka bertemu sebelum Azril balik ke Jakarta untuk meneruskan pengobatan Rara
Faishal mengambil alih koper dari tangan Azril, dia melihat Rara sekilas senyum tipis terukir di wajahnya, dia jadi bernostalgia saat dulu Rara mengerjai dirinya
Rara tertidur di dalam mobil, kepalanya berada di atas paha Azril, nampaknya gadis itu merasa kelelahan fisik maupun batinnya
Azril mengelus rambut Rara dengan penuh kasih sayang dengan harapan rambut itu akan cepat tumbuh memanjang
Mobil berhenti di sebuah hotel yang cukup dekat dengan restoran milik Azril, selama ia tinggal di Sidoarjo dulu kerjaannya hanya sibuk mengembangkan restoran miliknya, kini restoran Azril telah berdiri di berbagai macam daerah
"Ini kartu aksesnya" Faishal menyodorkan kartu kamar hotel yang sudah ia pesan sejak tadi pagi
"Makasih shal" ujar Azril tulus
"Ra bangun yuk sudah sampai" Azril menepuk pipi Rara pelan
"Rara bangun yuk" ia juga mengusap pundak Rara agar gadis itu segera membuka matanya
Benar saja mata bulatnya telah terbuka lebar, ia mendudukkan dirinya sembari memijat kepalanya yang terasa pening
"Mana makamnya?" tanya Rara yang celingak-celinguk dari kaca mobil
"Kita istirahat dulu di hotel ya" ujar Azril
Rara menggelengkan kepalanya "Kamu janji bakal ke makam" degus Rara sebal
"Iya nanti sore kita ke makam" bujuk Azril lagi
"Mau sekarang" kekeh Rara
"Ra kan pihak keluarga sopir itu sedang ke luar kota, nanti siang baru mereka balik"
Rara melirik Azril tajam "Mau sekarang, pokoknya sekarang" ujar Rara dengan nada yang tinggi
"Faishal pergi ke alamat ini" Azril menyodorkan hpnya, layar hp tersebut menampilkan isi pesan chat dia dan Afham tentang alamat rumah abadi sopir taksi
"Siap" Faishal langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang
Rara menatap jalanan dari balik jendela "Pondok Pesantren Al-Farabi" gumam Rara ketika melihat sebuah plang yang cukup besar, bangunan sederhana namun terlihat besar
"Beli bunga dulu" teriak Rara kala melewati sebuah toko bunga
Faishal langsung menghentikan mobil, dengan sigap Rara turun dan memasuki toko tersebut, pandangannya tertuju pada bunga mawar putih dengan buket yang cukup besar, terlihat cantik dan indah
Setah Azril membayar bunga tersebut mobil kembali melaju pesat dan berhenti di area pemakaman
"Ini makamnya" ujar Faishal
Rara berjongkok di samping makam, dia menaruh buket itu tepat di atas makam, cukup lama dia berdiam diri di sana dengan air mata yang terus mengalir, air mata itu sudah cukup melukiskan perasaannya saat ini
***
Brukkkk
"Gila dasar gila" teriak Alfred di dalam ruang kerjanya
"Bagaimana mungkin bisa ada dua sidik jari" bentak Alfred
"Milik siapa satunya lagi" Alfred mengacak rambutnya frustasi, bagaimana bisa sidik jari yang di temukan oleh Baheer dan Lan berbeda
"Kemana otak kalian, bisa-bisanya kalian gak becus dalam memecahkan masalah" bentak Alfred, dia melampiaskan segalanya pada dua orang yang ada di hadapannya ini
Dalam hati Baheer merasa sangat bersyukur memiliki atasan yang jauh lebih sabar dari Alfred, Alfred tipikal orang yang terkadang melampiaskan kemarahannya pada orang di sekitar sedangkan Azril jika marah hanya terdiam dengan aura yang tidak ingin didekati
Sedangkan Lan hanya diam sembari menunduk pasrah, hal seperti ini sudah biasa terjadi
Puk puk puk "Sabar ya" bisik Baheer yang berdiri di samping Lan, tangannya menepuk punggung Lan cukup keras
"Kau juga salah bukan saya doang" Lan membalas bisikan Baheer
Brakkkkk
Baheer dan Lan yang sedari tadi berbisik terlonjak kaget
"Masih bisa bisanya kalian mengobrol" bentak Alfred geram
"Aduhhh kenapa aku bisa berada di sini sih" keluh Baheer dalam hati
"Periksa ulang! jangan kembali jika tidak ada hasil"
"Keluar kalian berdua!"
"Sekarang!"
Lan dan Baheer keluar dari ruangan dengan perasaan lega
"Kamu tuh yang salah dalam penyelidikan" ujar Lan kesal
"Enak aja mana mungkin saya salah, saya sudah ke TKP langsung, bukan hanya mengandalkan bawahan saja" ujar Baheer yang tidak terima dirinya disalahkan sekaligus menyindir cara kerja Lan
"Benarkah? tapi bukankah sidik jari temuan saya yang benar" ujar Lan sinis
"Jelas jelas foto itu sama, tubuh dan pergerakannya juga sama, apa ada dalang lagi di balik ini semua" ujar Baheer, nampaknya ada yang janggal di sini
"Ck pantas saja tuan Azril lembek orang bawahan bermasalah"
"Cih padahal kamu juga salah, mengutus bawahan ke pesantren lain"
"Apa kamu bilang?" Lan mengerutkan dahinya bingung
"Noh periksa lagi dokumennya" Baheer menyodorkan dokumen yang berada di tangannya tepat di dada Lan, kemudian dengan santainya dia pergi meninggalkan Lan begitu saja
"Heyy kau lari dari tanggung jawab" teriak Lan tak terima