
Tiga hari berlalu
"Mas berangkat dulu ya" Azril memeluk tubuh Rara dengan hati-hati, jika memeluk bagian depan ia harus berhati-hati, namun jika bagian belakang ia akan memeluk dengan erat
"Mas yang harusnya hati-hati"
"Kamu juga"
"Iya iya, cepet berangkat sana nanti ketinggalan pesawat, jangan lupa bawain oleh-oleh buat istri mas yang cantik ini"
"Pasti sayang" Azril mencium wajah Rara berkali-kali
"Papah berangkat dulu ya, jangan ngerepotin mamah, nanti aja ngerepotinnya kalau ada papah" Azril berbicara tepat di perut Rara, memberikan kecupan di sana untuk sang buah hati
Rara mengelus rambut Azril, perdebatan kemarin akhirnya bisa teratasi, akhirnya Azril berangkat ke Surabaya karena Rara selalu membujuknya
Memang mengurus pekerjaan di Surabaya cukup penting baginya, pasalnya restoran di sana sedang mengalami penurunan drastis akibat orang yang tak bertanggung jawab menjalankan tugasnya
"Nanti kalau mama papa sudah sampai ke sini hubungi mas ya"
"Iya iya mas, udah gak usah khawatir, sana berangkat" Rara mendorong pelan tubuh Azril dari belakang, mengiringi cowok itu sampai mobil
"Cium mas dulu biar mas semangat kerjanya" Azril menyodorkan pipinya tepat di hadapan Rara
Rara mencium pipi Azril sekilas kanan dan kiri
"Udah mas sana kerja, cari uang yang banyak"
Rara membuka pintu mobil bagian belakang, menuntut suaminya agar cepat pergi, padahal di situ ada Baheer dengan tidak tahu malunya Azril bermesraan dengan istrinya
Mobil berjalan menjauh dari halaman rumah milik mereka berdua, saat dirasa mobil tak nampak lagi ia buru-buru beranjak ke kamarnya
***
Sebuah mobil memasuki gerbang rumah, Azril buru-buru turun dari mobil karena tiket pesawat tertinggal di kamar, bagaimana mungkin benda penting terlupakan begitu saja
"Assalamualaikum ra" Azril teriak girang, beruntung ada sesuatu yang tertinggal itu artinya dia dapat bertemu dengan istrinya kembali
Azril mencoba membuka pintu namun ternyata terkunci, ia memencet bel berulang kali serta meneriaki istrinya namun tak ada sahutan dari dalam
Panik mulai di rasakan oleh Azril, ia meraih hp nya dan menelpon istrinya berkali-kali namun tak ada jawaban
"Baheer bawa tas ku kemari, ada kunci rumah di sana" teriak Azril panik, Baheer yang mendengar teriakan Azril segera turun dari mobil dan menghampirinya, tangannya membawa apa yang diperintahkan Azril tadi
Dengan segera Azril mengubek-ngubek tas kerjanya mencari kunci yang biasa Rara taruh untuk berjaga-jaga kalau seandainya ada hal mendesak
Begitu tangannya bertemu dengan kunci ia segera membuka pintu tersebut dengan kasar
"Rara kamu dimana" teriak Azril yang berjalan menuju kamar mereka, namun hasilnya nihil
"Ra kamu dimana sayang" Azril terus mencari di seluruh ruangan di bantu oleh Baheer
"Sayang" teriak Azril frustasi
"Bang, coba telpon mertua Abang barangkali non Rara pergi ke sana"
"Astaghfirullah aku lupa, saking paniknya" Azril segera merogoh saku celananya mencari benda pipih itu kembali dan menelpon mertuanya
"Halo Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam ma"
"Ini aku mau nanya ma, apa Rara sudah berada di rumah mama"
"Belum lah Azril kan dua hari lagi kami berangkat ke rumah kamu nemenin Rara, selama kamu di Surabaya"
"Apa?"
"Emang kenapa, Rara gak ada di rumah?"
"Ma sebentar ya aku matikan dulu ya, wassalamu'alaikum"
Panggilan terputus, wajahnya mulai panik kembali
Azril menggeleng ia mendudukkan dirinya di atas kasur, namun ada sesuatu yang mengganjal buru-buru ia bangkit lagi dari duduknya
Azril mengambil benda pipih yang tak sengaja ia duduki tadi, ia memutar-mutar hp itu
"Milik siapa ini?" ujarnya kala melihat merk Vivo pada hp tersebut, hp istrinya adalah i phone dengan tipe yang sama dengan miliknya hanya warna yang membedakannya
Ia membuka layar hp tersebut, aplikasi nya hanya sedikit, itu hanya aplikasi bawaan dari hp, namun matanya tertuju pada aplikasi wa di sana, tanpa ragu ia menyentuh logo yang bergambar telpon dengan gelembung percakapan berwarna hijau putih
Hanya ada satu pesan di sana "Siapa ini, apa ini selingkuhannya" gumam Azril bergemuruh, ia tidak sanggup jika membayangkan istrinya di sentuh oleh cowok lain
Deg
Prang
Jantungnya terasa mau copot membaca teks yang ada di sana, pandangan kosong, pikiran mulai kacau
Baheer yang bingung segera mengambil hp yang telah tergeletak di lantai, layarnya tidak pecah sama sekali karena ia terjatuh tidak terlalu keras
"Bang" Baheer ikut tertegun membaca teks yang ada di sana
"Kenapa dia tega ngelakuin itu" air mata Azril perlahan menetes
"Apa dia tidak ingin bersama ku"
"Bang, ayo kita ke rumah sakit sekarang" Baheer menarik tangan Azril agar mengikutinya, mobil melaju dengan kecepatan penuh hingga sampailah di rumah sakit dengan aman
Azril segera berlari memasuki rumah sakit tersebut, ia mencari dokter kandungan sesuai dengan nama yang tertera di hp tadi, setelah mendapat instruksi dari suster penjaga di sana ia buru-buru pergi ke ruangan tersebut
Brukkkk
Pintu ruangan terbuka dengan kasar, dilihatnya Rara telah berbaring dengan pakaian lengkap untuk melakukan operasi, kini ia hendak di pindahkan ke ruang operasi
Rara terkejut kala mendapati suaminya telah berdiri di sana di dekat pintu sembari menatapnya dengan penuh kekecewaan
Azril berjalan mendekat ke arah Rara, membuat Rara menduduki dirinya di ranjang
"Kenapa kamu tega melakukan ini" bentak Azril
"Mas aku......"
Azril mencengkeram baju biru khas rumah sakit itu tepat di bagian leher Rara "Dia anak aku, kalau kamu tidak menginginkannya tunggu sampai ia lahir dan berikan saja padaku, biarkan aku yang merawatnya" teriak Azril tepat di hadapan istrinya
Rara tercengang, ia tak tahu harus berbuat apa, tak pernah ia melihat suaminya begitu murka, wajah suaminya merah padam menahan gejolak kemarahan yang sangat besar
"Kenapa kamu melakukan ini hah, jawabbb"
"Uhukkk" Rara terbatuk kala merasakan cengkraman itu semakin menyekik dirinya
"Pak bapak tenang dulu, operasi belum dilaksanakan, bapak bisa membicarakannya baik baik dengan istri bapak" ujar salah seorang dokter yang berusaha melepaskan tangan Azril dari tubuh Rara
Azril menepis tangan dokter tersebut "Diam kamu, kalian semua sama aja, kalian semua hanya mau membunuh anak ku" teriakan Azril terdengar pilu, beberapa suster yang tadi siap membawa Rara ke ruang operasi hanya diam mematung
"Mas aku bisa jelasin" suara Rara hampir tak terdengar, matanya mulai berkaca-kaca
"Mas tahu kamu membenci mas, tapi tolong jangan lampiaskan pada bayi yang tidak bersalah ini" suaranya melemah, tangisan pecah lagi, ia terisak bagaimana mungkin istrinya tidak memiliki hati nurani seperti ini
"Kamu pembunuh ra, kamu PEMBUNUH" Azril kembali berteriak dengan keras hingga mengundang beberapa orang yang nampak lalu lalang dari luar karena pintu yang masih terbuka setengah
Air mata Rara lolos begitu saja, sungguh ia juga tak ingin seperti ini, tapi kalimat yang sering ia bilang kutukan itu selalu menghantuinya
"Kenapa kamu nangis?" Azril mengusap air mata Rara "Kamu tidak pantas menangisi perbuatan kejimu ra, hentikan air mata buaya ini" perkataan Azril tambah memicu air mata Rara yang kini keluar semakin deras
"Kalau kamu mau mas bisa talak kamu sekarang, tunggu anak ini lahir maka berikanlah padaku, aku mencintaimu ra, sangat mencintai mu, tapi perbuatan mu sungguh di luar batas"
Azril melepas cengkraman dari tubuh Rara, ia mengusap wajahnya kasar
"Baheer tolong bawa istriku pulang, tarik saja lengan bajunya jangan sampai menyentuh kulitnya"
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗