
"Cumi-cumi kaki satu"
"Brokoli gundul"
"Jengkol rasa pete kuah gulai"
Gumam Azril yang tengah duduk di depan meja kerjanya
"Bang ini data-data..........." Baheer menghentikan ucapannya kala melihat Azril bergumam sendiri dengan pandangan yang kosong, wajahnya nampak tertekan lahir dan batin
"Sate ayam rasa sapi"
"Sate sapi rasa kelinci"
"Ikan teri berenang di kuah rawon"
Baheer yang mendengar gumaman Azril sungguh sangat memprihatinkan, ia tak tega apalagi biasanya dia yang ikut membantu Azril mencari makanan langka yang ada di planet mars itu, Baheer mengguncang pundak Azril untuk menyadarkan Azril
"Bang sadar bang"
"Sadar bang"
"Kuatkan diri abang"
"Abang harus kuat, perjalanan anak abang masih jauh"
"Katanya abang mau nambah lagi, ayo bang semangat"
Kepala Azril bergerak naik turun akibat guncangan Baheer yang semakin lama semakin kuat, namun sayangnya guncangan itu tak membuat dirinya sadar
"Lobster kembar siam"
"Sayap ayam goreng yang bisa terbang"
"Shaun the sheep panggang"
"Bang sadar bang" Baheer tak menyerah ia terus mengguncang tubuh Azril
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Baheer menarik kedua tangannya dari pundak Azril, ini sudah jam makan siang pantas ada orang yang mengetuk pintu ruangan Azril
Baheer membuka pintu dan mempersilahkan seorang koki cantik menyajikan makanan yang di siapkan untuk Azril
"Permisi pak" ujar chef Jenni yang menaruh sepiring nasi dan teman-temannya serta segelas air putih di meja Azril
"Bang ada non Rara kemari" pekik Baheer yang baru saja mendapat kabar dari salah satu pelayan di sana
"Hah" seketika Azril berdiri dari duduknya, ia tersadar dari sesuatu yang merasuki tubuhnya tadi
"Pak Azril gak pa pa?" tanya Jenni yang melihat raut wajah Azril nampak pucat
Azril menatap Jenni sebentar "Gak pa pa jen, makasih jen kamu boleh keluar"
"Baik pak, kalau pak Azril merasa tidak enak badan lebih baik istirahat saja, saya pamit permisi" Jenni segera keluar dengan nampan kosong di tangannya
"Mas" tepat setelah Jenni keluar muncul sosok wanita yang belakangan ini menghantuinya
Wanita manis miliknya kini tengah memegang paper bag yang berisi kotak makan, kotak makan itu berisi makanan, makanan itu adalah nasi berserta teman-temannya, nasi itu dari beras, beras itu dari padi, padi itu ........
"Rara" gumam Azril pelan
"Mas kenapa kok pucat?" Rara mendekat ke arah Azril
"Gara-gara kamu sayang" batin Azril meringis
"Mas" panggil Rara kala tak mendapat respon dari suaminya
"Eh ya ra, mas gak pa pa"
"Bang kalau gitu saya keluar dulu ya, itu dokumen yang tadi jangan lupa di periksa"
"Mari bang, mari non Rara saya pamit, assalamualaikum" ujar Baheer yang kemudian menutup pintu ruangan Azril dari luar
"Waalaikumsalam"
"Aku bawain kamu.........." ucapan Rara terhenti kala melirik sepiring nasi serta segelas air di atas meja Azril
"Padahal aku bawain kamu makan siang" gerutu Rara
"Iya ra nanti aku makan" ujar Azril yang kembali mendudukkan dirinya
"Itu yang buat siapa?" tanya Rara pandangannya tak lepas dari piring yang disajikan dengan mewah, tatanannya sungguh sangat menggiurkan
"Jenni" ujar Azril yang mulai memeriksa dokumen
"Dia yang selalu nyiapin kamu makan siang?"
"Iya"
"Kenapa kok dia kan ada yang lain?"
"Mas juga gak tahu, setahu mas dia yang bertugas"
"Apa dia cantik?"
"Iya"
"Lebih cantik dari aku?"
"Jadi bener dia lebih cantik dari aku?" tanya Rara dengan nada yang tinggi
Azril yang mulai menyadari arah pembicaraan mereka menutup dokumen dan menghadap ke arah istrinya, benar saja wajah Rara tampak kesal
"Eh cantikan kamu, manisan kamu, imutan kamu" bujuk Azril ia berdiri dan mendekat ke arah Rara
"Bohong" pekik Rara
"Bener ra" tangan Azril hendak merengkuh pundak Rara namun Rara segera memundurkan langkahnya
"Aku sebel sama kamu, aku juga sebel sama diri aku, kenapa aku jadi baperan gini sih bikin kesel aja" gerutu Rara
"Maaf" ujar Azril lirih
"Kamu gak salah gak usah minta maaf aku yang terlalu sensitif, Popo kita pulang aja ya" ujar Rara yang mengelus perutnya
"Popo?" Azril mengerutkan dahinya di sela-sela ekspresi yang penuh tekanan
"Aku pamit mas, assalamualaikum" ujar Rara yang meraih tangan suaminya
Ketika Rara hendak mencium punggung tangan Azril, Azril segera menarik tangan Rara agar jatuh di pelukannya
"Siapa Popo sayang?" tanya Azril dengan suara bisikannya
"Bayi aku, namanya Popo"
"Bayi kita sayang, mas juga ikut andil di dalamnya"
"Kenapa di namain Popo mas gak setuju"
"Aku suka, aku mau beri nama bayi kita Poshya, dipanggilnya Popo"
"Hah gak gak, nama apa itu, mas gak setuju" ringis Azril
"Kenapa?" tanya Rara polos
"Ya gak suka aja, kan ada nama yang memiliki arti lebih bagus, kita pakai nama yang memiliki arti bagus dalam bahasa Arab aja ya, nama itu kan doa"
"Popo juga bagus"
"Kita kan juga belum tahu jenis kelaminnya apa"
"Cewek" ujar Rara antusias
"Hah masak? Kamu tahu darimana? Udah di periksa kok mas gak tahu"
"Belum sih mas, tapi aku maunya cewek dengan nama Poshya"
"Kapan-kapan kita melakukan USG ya"
Rara menganggukkan kepalanya "Kalau bener cewek harus di beri nama Popo"
"Ehhhhh, kita makan aja yuk ra" Azril melepaskan pelukannya, ia menggandeng tangan Rara menuju sofa
"Ini kedua kali kamu ke sini, kenapa gak bilang sama mas? siapa yang nunjukin ruangan ini?" tanya Azril sembari membuka bekal yang Rara bawa
"Pelayan di sini, aku tadinya mau pergi ke empang tapi kak Ammar sedari pagi gak ada jadinya aku masak aja"
"Kan mas udah bilang jangan sering pergi ke empang bareng bang Ammar"
"Gak sering, baru dua kali nebeng kak Ammar itupun naik mobil, aku duduk di belakang kok"
"Awas kamu macem-macem"
Azril membuka dua bekal tersebut, tangannya menyerahkan satu kotak ke arah istrinya "Wah kamu masak udang asam manis?"
"Iya kata umi mas suka itu, sama sambal baby cumi, sama kangkung juga, itu semua kata umi kesukaan kamu"
Azril tersenyum ia melahap makanannya begitupula dengan Rara, ia juga melahap makanan miliknya hingga hidangan mewah menu restoran yang bertengger di atas meja terlupakan begitu saja
***
Kini kandungan Rara sudah berumur 4 bulan lebih, perutnya semakin membuncit, ia bahkan sudah bisa merasakan gerakan dari si kecil
Azril kini tengah mengelus-elus perut Rara lembut, ia juga ingin ikut merasakan pergerakan dari si bayi, namun nampaknya si bayi tak mau bergerak kala Azril mengusap perut Rara
"Sayang ayo dong gerak, papah mau ngerasain pergerakan kamu" ujar Azril berulang kali, bahkan ia menempelkan telinganya di perut Rara
"Kalau gak mau gerak nanti papah suruh ribuan calon adik kamu mengunjungi kamu lo"
"Mas udah ih geli" pekik Rara kala tangan Azril tak beranjak sedikit pun dari perutnya, malah tangannya semakin naik hendak mengunjungi bagian lain
"Belum sayang dia gak mau gerak" ujar Azril
"Kan udah di bilangin kamu gak bakal bisa ngerasain mas, nanti tunggu sekitaran lima bulanan"
"Besok kita cek yuk biar tahu calon anak kita cowok apa cewek"
"Iya, semoga cewek aamiin" ujar Rara antusias
Melihat Rara yang begitu antusias hendak memiliki bayi perempuan Azril ikut mengaminkan "Aamiin"
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗