I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Kembalikan Dia Padaku



"Om"


"Tante"


"Bahkan kini kamu sudah menganggap kami sebagai orang asing" batin Azizah dalam hati


"Apa yang ingin pak Masrur sampaikan?" tanya abi Azril


"Bisakah kalian menolong putri kami?" ucapan ayah Azizah membuang semua orang bingung


"Tolong apa ya?" tanya umi Azril


Ayah Azizah melirik ke arah istrinya memberikan kode untuk berbicara


"Begini.... kami ingin minta tolong kepada kalian semua, tolong relakan Azril untuk putri kami?" ujar bunda Azizah dengan wajah sendunya, dia juga tertekan atas apa yang menimpa putrinya


"Merelakan Azril, maksudnya gimana ya?" papa Rara bertanya dengan nada ketusnya


"Kami mohon kelapangan kalian semua agar Azril mau menceraikan Rara dan rujuk kembali kepada putri kami, hiks hiks saya juga tidak ingin melakukan ini tapi kami juga tidak sanggup melihat keadaan putri kami" bunda Azizah berbicara dengan lelehan air matanya, suaminya dengan sigap merangkul pundak istrinya


Semua orang kaget dengan apa yang di ucapkan oleh kedua orang tua Azizah


"Iya kami mohon jujur saja kami tidak sanggup melihat putri kami yang hidup bagaikan mayat berjalan" ujar ayah Rara penuh harap


Azizah hanya diam menunduk dengan linangan air matanya, ia berusaha menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya


"Apa kalian pikir putri saya itu patung tanpa perasaan, apa kalian pikir putri saya itu barang yang bisa di buang kapan saja" ujar papa Rara dengan nada yang cukup tinggi


"Bapak sangat peduli kan terhadap putri bapak, begitupula dengan saya, saya juga sangat peduli dengan putri saya, bukankah kejadian ini berawal dari putri bapak yang memasuki kamar orang sembarangan bahkan menaiki ranjangnya" ujar ayah Azizah yang ikut geram


"Apa maksudmu hah, putri saya tidak bersalah" bentak papa Rara, wajahnya terlihat sangat murka kala putrinya di tuduh sebagai wanita penggoda, istrinya mengelus punggung suaminya agar tidak terlalu emosi


"Om Tante mohon kalian pulang dulu tolong jangan ribut di sini, bukankah masalah saya dengan Azizah sudah selesai dan kami sudah tidak memiliki hubungan apapun selain pertemanan" Azril mulai membuka suaranya


Tanpa di duga Azizah langsung berlutut di hadapan kedua orang tua Rara "Om Tante saya mohon tolong kembalikan mas Azril pada saya, om saya mohon, saya membutuhkannya" Azizah berkata dengan lirih, air matanya yang mengalir deras sudah cukup untuk mewakili isi hatinya selama ini


Dengan sigap mama Rara langsung memegang bahu Azizah agar ia berdiri "Nak kamu berdiri dulu" namun Azizah tetap kekeh untuk berlutut di hadapan kedua orang tua Rara


"Sayang kamu bangun jangan seperti ini" ujar bunda Azizah yang tidak rela anaknya memohon dengan cara berlutut, orang tua mana yang rela melihat anaknya berlutut memohon kepada orang lain kecuali ketika dia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal


"Azizah abi sama umi mohon sama kamu agar kamu merelakan Azril, kalian berdua tidaklah berjodoh umi yakin kamu akan mendapatkan sosok yang lebih baik dari Azril" umi Azril mendekat ke arah Azizah dia memeluk mantan istri putra bungsunya, kini Azizah terisak di pelukan mantan mertuanya


"Azizah gak bisa umi, Azizah udah coba hiks hiks"


"Kamu pasti bisa zah umi yakin" umi Azril mengelus punggung Azizah lembut


"Berisik banget sih drama apa lagi ini" gerutu Rara sebal ia sudah duduk bersandar di ranjang, mimpi indahnya terusik gara-gara keributan yang terjadi di ruangannya padahal rasanya sudah lama sekali dia tidak pernah memimpikan hal-hal yang berbau keindahan


"Om Tante saya mohon tolong om dan tante pulang terlebih dahulu, kondisi Rara belum pulih saya tidak mau menyakiti dia lagi" ujar Azril dengan suara pelan yang hanya dapat di dengar oleh kedua orang tua Azizah


Azizah langsung melepaskan pelukannya dari umi Azril, dia segera berjalan mendekati Rara


"Ra saya mohon tolong balikin mas Azril, saya membutuhkannya, saya mohon ra balikin mas Azril pada saya lagi" Azizah menggenggam tangan Rara penuh permohonan, wajahnya kini sudah penuh dengan air mata


"Tangisan ini" Rara menepis tangan Azizah dan segera memegangi kepalanya yang berdenyut cukup kuat, bibirnya mengeluarkan suara rintihan kesakitan


"Sayang kamu gak papa?" Azril segera berlari mendekati istrinya wajahnya terlihat panik, begitupula dengan kedua orang tua Rara


"Sayang" gumam Azizah pelan, manik mata basahnya menatap lekat ke arah dua orang yang membuat hatinya terasa sakit "Dulu ketika kamu menjadi suamiku kamu tidak pernah memanggilku sayang sama sekali" batin Azizah meringis


Rara menepis pelan tangan Azril yang sempat memegangi kepalanya "Aku gak papa" ujarnya kemudian


"Apa dramanya sudah selesai? dimana kalian sembunyikan kameranya?" tanya Rara yang membuat semua orang bingung, dia masih saja berfikir bahwa kejadian ini hanyalah setingan belaka


"Mohon pak Masrur dan keluarga pulang dulu, menantu saya masih sakit dia belum pulih sepenuhnya, masalah ini lain kali di bicarakan" ujar abi Azril, dia benar-benar merasa bersalah kepada Rara gara-gara putranya yang bahkan sama sekali tidak bisa menjaga istrinya sendiri


"Tapi saya tidak bisa melihat putri saya terpuruk lagi" ujar ayah Azizah dengan suara lantang


"Kalian mau dia kan" Rara menunjuk ke arah Azril "Bawa aja pergi" ujar Rara judes hingga membuat Azril terkejut, begitupula semua yang berada di ruangan tersebut segampang itukah Rara menyerahkan Azril


"Ya elah laki-laki tuh gak cuma dia doang kali"


"Mati satu tumbuh seribu" ujar Rara santai


Azril yang mendengar penuturan istrinya itu langsung memeluk tubuh Rara dengan erat, kepalanya ia tengger kan di bahu Rara


"Ihh apaan sih lepasin" ujar Rara yang berusaha menarik tangan Azril yang melingkar di lehernya


"Sampai kapanpun aku adalah suami kamu, dan kamu tidak bisa seenaknya menyerahkan aku kepada wanita manapun" bisik Azril tepat di telinga Rara


"Benarkah kamu akan mengembalikan mas Azril kepada ku?" tanya Azizah dengan penuh harap dapat mendengarkan jawaban iya dari mulut Rara


"Saya tidak pernah meminjamnya darimu, bawa aja dia pergi" ujar Rara santai, namun dia merasakan sesak karena pelukan Azril yang semakin kuat


"Lepasin kamu mau aku mati" ujar Rara kesal, mendengar kata mati Azril segera melepaskan pelukannya dia menggelengkan kepalanya


"Masak kamu mau aku jadi duda sih" ujar Azril spontan


Ucapan Rara membuat kedua orang tuanya frustasi, bagaimana jika suatu saat ingatan Rara akan kembali dan dia akan menyesali semua keputusannya ini


"Azizah apa yang di katakan Rara itu tidak benar, lebih baik kamu pulang saja, kita sudah tidak memiliki hubungan lagi, maaf kan saya Azizah saya tahu ini berat buat kamu begitupula dengan saya jadi lebih baik kita bahagia dengan pasangan masing-masing" ujar Azril penuh harap agar Azizah mau mengerti keadaannya