
Hari-hari kembali berjalan seperti biasa, Azril kembali sibuk dengan pekerjaannya sehabis liburan dari Bali, sedangkan Rara mau liburan atau tidak ia tetap sibuk mengurus sikem
"Kak Dariel" teriak Rara kala mendapati kakaknya berada di kamar sikem, ntah sejak kapan pria itu bisa berada di sini padahal Rara hanya meninggalkan sikem ke kamar mandi sebentar
"Sutttt jangan berisik, nanti keponakan kakak bangun" decak Dariel sembari berbisik
"Kakak tuh kebiasaan ya nyelonong aja, mau di kamar ku dulu mau di rumah ku yang sekarang tetep aja sama gak berubah-ubah" gertak Rara dengan suara pelan, tangannya ikut andil dalam mencubit lengan Dariel, pria itu berada di sini bagaikan jalangkung yang datang tak diundang pulang tak diantar
"Stttttt kalau kakak berubah bisa kiamat ra" timpal Dariel sembari meringis
"Kakak main nyelonong gini aku pikir maling tau, paling gak ketuk pintu dulu sembari mengucapkan salam sebelum masuk"
"Lah kakak gak mau kalian repot dek, jadi kakak mandiri masuk ke sini sendiri"
"Dihhhh besok aku bilangin sama pak satpam kalau kakak ke sini gak akan di bukain pintu pagarnya"
"Hahahaha" Dariel hanya mampu tertawa melihat wajah kesal Rara
Mata Rara melotot mendengar tawa itu, ia buru-buru menarik lengan Dariel keluar kamar agar sikem tak terbangun karena gelak tawa kakaknya
"Gini nih orang pengangguran gak punya kerjaan" sindir Rara
"Siapa bilang kakak pengangguran, kamu gak pernah baca majalah atau kamu gak pernah lihat sosmed atau kamu gak pernah nonton TV, hey ra lihat kakak" Dariel memegang kedua pundak Rara agar mau menelisik wajah tampannya
"Kakak ini seorang modeling, model kosmetik, model pakaian bahkan model di beberapa produk makanan" ucap Dariel bangga akan profesi yang ia tekuni saat ini
"Ck, daripada kakak bermain-main seperti itu lebih baik kakak bantu kak Alfred sana di perusahaan"
Dariel mendorong pelan pundak Rara
"Kamu sama saja ra, gak mendukung passion kakak" celetuknya
"Bukan gitu kak, aku mendukung kakak sepenuhnya kok mau kakak jadi modeling, jadi artis, jadi sutradara bahkan jadi penari topeng monyet pun aku dukung kok, tapi seenggaknya kakak bantu lah perusahaan, pekerjaan seperti itu biar jadi sampingan aja" timpal Rara bijak
"Gak bisa ra, perusahaan terlalu ruet, kamu mah enak jadi anak bungsu semua kemauan di turuti bahkan dalam menentukan masa depan pun kamu di beri pilihan" decak Dariel
"Ya itu kan udah hukum alam, hukum alam susah di langgar" canda Rara
"Nah makanya dek, karena hukum alam sudah di langgar kamu bantuin kakak ya" pinta Dariel dengan wajah memelas
"Gak gak mau, aku udah pernah coba malah aku yang kena semprot" tolak Rara, ia tahu kakaknya akan meminta bantuan dalam membujuk kedua orangtuanya agar memperbolehkan Dariel bekerja menggunakan wajahnya
"Coba lagi lah ra, kamu kan tahu aku gak sepintar kamu, otak aku nih cuma pajangan doang, tapi ketampanan ku itu segala-galanya" Dariel menurunkan harga dirinya sedemikian rupa
"Ya udah iya aku coba bicara lagi" tak tega dengan kakaknya akhirnya ia memilih membantu sang kakak
"Nah gitu dong adikku sayang, makin tambah sayang deh, makasih ra" Dariel mengecup pipi Rara sekilas
"Tapi gak janji lo ya bakal di bolehin" timpal Rara
"Iya ya, yang penting kamu sudah berusaha" ujar Dariel sumringah
"Eits gak gratis tentunya" ucapan Rara membuat Dariel melongos
***
"Assalamualaikum ma pa Rara pulang" teriakan Rara menggelengar di ruang tamu membuat kedua bayi dalam stroller terlonjak kaget
"Assalamualaikum, mama" teriakan itu terulang lagi dari bibirnya
"Nyonya masih di kamar non" sahut salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di sana dengan sopan
Tak beberapa lama sebuah langkah kaki menuruni anak tangga dengan anggun
"Udah jadi ibu-ibu masih aja teriak-teriak, gak kebayang gimana anak-anak kamu kelak ra" tegur sang mama sembari melepas pelukan putri tercintanya
"Bagus dong mereka punya ibu wonder woman kayak aku" celetuk Rara bangga
"Wonder woman apaan, beri contoh yang baik buat buah hati" mama Rara berjalan ke arah stroller bayi dan membawa Av dalam gendongannya, sedangkan si Ay sedang tenang dalam tidurnya
"Mama cantik banget hari ini"
"Gak ada hujan gak ada badai kamu berkunjung ke sini, pakai modus segala lagi, pasti ada sesuatu yang kamu inginkan kan" tebak mama Rara yang sangat tepat pada sasarannya
"Ahhh gak kok ma, gak salah lagi" ucapnya sembari menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal
"Mau apa?"
"Itu ada hal penting yang harus aku bicarakan"
"Uhhh cucu oma ganteng banget sih, eemm mirip siapa sih mirip opa ya"
"Ma dengerin aku dulu"
"Ya ngomong aja"
"Itu..."
"Mau apa sayang eemm kok gigit gigit jari"
"Ma..." pekik Rara kesal, mamanya malah asyik bermain dengan Av
"Gak usah teriak-teriak mama denger"
"Habis dari tadi aku di cuekin"
"Mau ngomong apa tadi"
"Itu... menurut ku kak Dariel jangan terlalu dipaksa"
"Dipaksa apa?"
"Itu soal pekerjaan, menurutku apa gak sebaiknya biar kak Dariel sendiri yang menentukan masa depannya, eeee... itu jadi model kan juga bagus, susah lo ma punya bakat jadi model gitu, hanya orang-orang tertentu aja yang bisa menekuni bidang itu, gajinya juga lumayan besar lo ma apalagi brand brand tekenal dan ternama, model tuh dikenal banyak orang juga kan bagus jadi terkenal bisa di kenang orang-orang, terus juga kebanyakan model itu juga jadi resentator bisa dapat produk secara gratis di bayar pula, kalau beruntung bisa aja jadi artis main film series atau layar lebar bagus kan ma kalau kayak gitu karirnya" celoteh Rara panjang lebar namun ternyata yang diajak ngobrol masih asyik bermain dengan bayi
"Mama dengerin aku ngomong gak sih" timpal Rara kesal, tenggorokannya sudah kering masak ia gak didengerin
"Justru mama mau nanya udah selesai belum ngomongnya?" tanya mama datar
"Udah"
"Jadi intinya?" lagi-lagi pertanyaan yang datar di pertanyakan oleh sang mama
"Ya intinya mama bolehin dong kak Dariel jadi model" pinta Rara memelas
"Tinggal ngomong gini aja susah banget harus muter-muter kayak kereta api" sindir mama
"Kamu ngomong aja saja sama papa, bukan mama yang mutusin masalah itu"
"Mama kan bisa bujuk papa"
"No... jangan serat-serat mama, mama mau hidup tenang dengan cucu-cucu kesayangan mama" Mama Rara memilih membawa kedua cucunya pergi ke taman belakang
"Isss mama" ia tak ingin menyerah meski lawannya papa, karena ada sesuatu yang harus ia dapatkan