
Enam hari berlalu, hari-hari yang di tunggu Rara telah tiba, liburan ke Bali bersama keluarga kecilnya
"Si buntel gak bisa di bawa?" tanya Rara kecewa
"Ya gak bisa dong sayang, kita titipin di rumah umi sama abi aja, biar pak Mino nanti yang ambil"
Rara memangku kucing kesayangannya, tangannya tak henti-hentinya mengelus kucing putih tersebut, beratnya bertambah karena Rara memanjakannya dengan makanan, apalagi kala ada pesta bakar-bakar si buntel paling semangat dalam meraup ikan
"Ayo ra berangkat, sikem udah siap tuh" ajak Azril
"Iya, dadah buntel baik-baik ya, makan yang banyak, jangan makan makanan sembarangan" pesan Rara sembari memeluk kucing gembil itu dengan penuh sayang
Setelah semua barang kebutuhan sudah di taruh di bagasi dan keluarga kecil Azril juga telah memasuki mobil kini mobil berangkat menuju bandara mereka menunggu setengah jam hingga akhirnya mereka bisa check out
Penerbangan berjalan dengan lancar, mereka sampai di bandara Ngurah Rai dengan selamat, Baheer telah memesankan hotel dengan tiga kamar, rencananya mereka hendak istirahat dulu di hotel baru jalan-jalan, di sana juga sudah ada yang menjemput mereka untuk di bawa ke hotel
"Sekarang kita di Bali gimana seneng?" tanya Rara pada kedua bayinya, ia menusuk-nusuk pelan pipi Ay dan Av dengan jari telunjuknya hingga mengusik kedua bayi yang tengah tertidur lelap
"Sayang sini deh lihat tempat mana yang ingin kamu kunjungi?" pinta Azril sekalian agar istrinya itu tak mengganggu tidur sikem karena kurangnya pekerjaan
Rara turun dari ranjang dan berjalan ke arah Azril yang tengah duduk di kursi, karena kursi cuma satu terpaksa ia menduduki paha Azril dan kedua tangannya berpegangan pada leher sang suami
"Semuanya, mau ke tanah lot, ke beberapa pantai, ke alas kedaton, ke pulau nusa penida, terus mau makan makanan enak juga"
"Ke pantai Kuta tinggal nyebrang aja, nanti sore kita ke sana, lihat sunset"
Rara mengangguk antusias "Sambil makan jagung bakar" ujarnya
"Iya, sekarang istirahat dulu"
Setelah tidur beberapa jam mereka membersihkan diri sebelum berangkat ke pantai, Azril telah memberitahu bi Wawa dan Baheer tujuan mereka nanti sore
Setelah berkumpul mereka pergi ke pantai Kuta, bi Wawa membantu menjaga sikem bersama Baheer, sedangkan dua sejoli itu tengah asyik bercengkrama tanpa beban
"Mas lihat bulenya cakep-cakep, hidungnya mancung, rambutnya pirang, tubuhnya bagus banget, pada tinggi semua lagi" tunjuk Rara dengan matanya
"Rara" sentak Azril, tangannya menutup kedua mata Rara agar tak melihat para bule itu dengan intens, kulit mereka putih-putih kemerahan mungkin karena terkena sinar matahari cukup lama
"Halah mas juga ngelirik bule yang cewek kan, ngaku aja deh mana mereka hanya pakai segitiga dan kacamata lagi" ujar Rara dengan mata yang masih ditutupi oleh Azril, kedua tangannya berusaha menyingkirkan tangan sang suami yang menjadi penghalang penglihatannya
"Astaghfirullah bagaimana mungkin mas ngelirik cewek lain sedangkan di sini udah ada bidadari, ngelihatin mereka kayak gitu sama aja dengan zina mata, gak boleh dosa" tegur Azril
"Iya iya mas, ini dilepas dulu kasian akunya gak bisa melihat ciptaan Allah yang begitu indah dan mengagumkan" pinta Rara
"Tapi jangan natap para bule itu lagi" peringat Azril
"Gimana gak lihat orang mereka berkeliaran dimana-mana" batin Rara
"Ya ya, ini lepas dulu"
Azril melepas tangannya dari mata Rara
"Wahhh indah banget" puji Rara kemudian
"Apanya yang indah?" tanya Azril, mungkin istrinya itu sedang memuji betapa indahnya pantai dengan deburan ombak yang menenangkan
"Wajah serta dada bulenya" ujar Rara sembari berlari dari hadapan Azril
"RARA, awas kamu ya, tadi kamu bilang mau lihat ciptaan Allah" teriak Azril kesal sembari mengejar istrinya
"Bule juga ciptaan Allah yang indah dan mengagumkan" balas Rara
"Besok kalau kalian udah besar jangan kayak gitu" ujar Baheer yang ia arahkan pada sikem
"Hey udah di bilangin jangan gitu" Baheer mencubit pipi Ay pelan, pasalnya bayi itu menatap ke arah bule yang cukup tampan tanpa kedip, ntahlah insting bayinya kuat juga bisa mengenal pria tampan, benar-benar patut di acungi jempol emak anak sama saja
"Av hey jangan gitu juga" kini gantian Av yang mendapat cubitan dari Baheer, bayi itu sedang memandang seorang wanita cantik dengan jilbab yang berterbangan, bukan bule yang seksi loh ya
Setelah aksi kejar-kejaran yang melelahkan kini mereka duduk di tepi pantai, menyaksikan senja yang sangat indah di temani dengan jagung bakar yang rasanya pedas manis, perlahan matahari itu menurun seakan-akan di lahap habis oleh lautan
Rara menyenderkan kepalanya di bahu Azril sembari memakan jagung bakar, andai ia bisa ia ingin menghentikan waktu saat ini juga, namun kehidupan kedepannya masih panjang sampai Allah memanggil dan menyudahi skenario hamba-hamba-Nya di dunia
Tak lupa mereka juga mengambil beberapa gambar untuk di jadikan kenangan di hari tua nanti, membuka album bagaikan membuka kenangan di masa lalu kita, maka tak jarang orang akan mengambil gambar di hari bahagia mereka
Setelah shalat Maghrib mereka menyantap masakan halal di dekat pantai, tempat makan seafood yang cukup ramai, soal rasa tak perlu di ragukan lagi bahkan Azril memotret beberapa menu hidangan di sana untuk di jadikan bahan referensi, setelah kenyang mereka kembali ke kamar hotel masing-masing, sedangkan sikem ikut bi Wawa katanya agar bi Wawa tidak kesepian padahal mah mereka punya tujuan tertentu
Rara menatap bulan di langit pada jendela kaca yang besar, malam ini bulan itu bersinar indah dengan bentuk yang sempurna, di sana juga ada titik-titik bintang yang bertebaran meski tak terlalu banyak
"Terimakasih" bisik Azril sembari memeluk Rara dari belakang dengan perlahan agar tak mengagetkan istrinya
"Terimakasih kembali" balas Rara
"Aku akan selalu berdoa kepada Allah agar selalu bersama baik di dunia maupun di akhirat" ucap Azril ia menyenderkan kepalanya di pundak mungil sang istri
"Akupun" balas Rara
"Aku tak akan mengecewakanmu lagi, karena kamu adalah sebaik-baiknya wanita yang telah Allah berikan buatku untuk menjadi pendamping hidup dunia akhirat, dan sebaik-baiknya ibu buat anak-anak ku, jadi....."
"Jadi apa?" tanya Rara yang dapat mencium bau-bau mencurigakan di sini
"Ayo kasih adik buat sikem"
DASAR MODUS
*
*
*
*
*
End_Tok
***
Berjuta-juta terimakasih kepada para pembaca yang telah meluangkan membaca cerita ini, apalagi para pembaca fans, terimakasih banyak semua yang telah memberi like, comment l, vote dan hadiahnya. Alhamdulillah novel ini udah end semoga menghibur kalian semua
Jika berkenan silahkan mampir di novel "Satu Imam Dua Ikatan", kisah ini bercerita tentang Ammar kakak dari Azril
See you next time guys, and the last I say thanks you very much, my Allah bless you all in everytime and everywhere