I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Ini Nyata Kah?



"Sayang bangun"


"Sayang bangun"


"Ra bangun"


"Rara"


Azril menepuk-nepuk pipi Rara


Mata bulat itu membuka dengan sempurna, ia bangun dengan terkejut


"Kamu mimpi buruk ra?" tanya Azril khawatir


Rara menatap wajah Azril, nafasnya masih tersengal-sengal


"Jam berapa sekarang?" tanya Rara


"Jam tiga pagi" jawab Azril yang sibuk menyeka keringat istrinya


"Hari apa?"


"Hari Rabu"


"Bentar ya mas ambilkan baskom sama air putih dulu" ujar Azril, ia beranjak pergi ke dapur


Rara memukuli kepala berulang kali "Ini nyata kan, apa tadi aku mimpi dalam mimpi"


Azril memasuki kamar kembali, ia mendapati istrinya tengah memukuli kepalanya, buru-buru ia menaruh gelas serta baskom di atas nakas


"Jangan di pukuli kepalanya" ujar Azril yang sudah menggenggam pergelangan tangan Rara


Rara menatap manik mata Azril "Kamu selingkuh kah?" tanya Rara tanpa suara, hanya bibirnya saja yang bergerak


"Apa?" tanya Azril bingung


"Gak pa pa" Rara segera menarik kedua tangannya kembali


"Ini ludah ke kiri tiga kali dulu" pinta Azril sembari menyodorkan baskom


Rara terkejut mendengar ucapan Azril, ini sama persis seperti di mimpinya "Apa belakang ini aku stress" batin Rara


"Sayang kenapa, ayo meludah tiga kali" pinta Azril, akhirnya Rara menurut


"Kemarin aku pergi sama Amel kan?" tanya Rara tiba-tiba


"Iya"


"Terus malamnya aku nonton tv di ruang tamu?"


Azril mengangguk lagi


"Kenapa aku bisa di sini sekarang?"


"Kamu ketiduran, akhirnya mas gendong ke sini"


Rara memijit pelipisnya


"Hp umi mana?" tanya Rara tiba-tiba


Azril mengerutkan dahinya


"Udah mas balikin ke umi" ujar Azril


"Kenapa emang sama hp umi?"


"Gak pa pa"


"Kapan kamu mengembalikannya?"


"Semalam saat kamu sudah tidur umi sama Abi ke sini sebentar" terang Azril, ia memang meminta umi dan abinya ke sini untuk membawa si buntel, sekaligus umi dan abinya hendak memberikan hp Azril yang telah di kirim oleh Baheer ke rumah orangtuanya


"Apa aku sudah kehilangan akal, kenapa kepalaku terasa sakit" batin Rara


"Istirahat lagi ya, kamu pasti capek banget" ujar Azril, ia mulai menarik selimut menutupi tubuh Rara


***


Bukannya sarapan Rara malah merebahkan dirinya di sofa, ia menghentakkan kakinya tanpa tujuan, mimpi tadi benar-benar mengusik dirinya


"Bisa-bisanya mimpi gak jelas gitu" gerutu Rara


"Eh apa jangan-jangan ini mimpi juga"


"Ya nggaklah, tadi sifat kak Alfred dan kak Dariel tidak ketukar tuh seperti di mimpi"


"Meowww meowww"


Rara menoleh ke bawah sofa, ia melihat ada buntelan berwarna putih dengan bulu yang lebat


"Si buntel" pekik Rara, ia menggangkat si buntel ke pangkuannya


"Duh kamu makin gendut aja, makin berat" Rara mengelus bulu lebat itu


"Baru inget ya punya majikan, dari dulu kemana aja hah, asyik-asyikan main kuda-kudaan sama kucing tetangga ya"


"Meoww meowww"


"Kapan kamu ke sininya, diantar siapa, gak mungkin kan kamu terbang ke sini sendiri?" tanya Rara


"Meoww meoww"


"Oh ya ya ya"


"Kangen papah gak, udah ketemu sama papah belum? kakak lagi marahan sama papah kamu, papah kamu jahat"


"Meooww meowww"


"Ok ayo ke kamar, papah lagi sibuk sama laptopnya"


Rara menggendong si buntel meluncur menuju kamarnya


Rara membuka knock pintu sedikit, niatnya ia hendak memasukkan si buntel ke kamar tanpa dirinya


"Alhamdulillah kamu dah sehat"


"......."


"Mmmm ini mau makan"


"......."


"Iya udah kamu jangan pergi bekerja dulu, biarkan badan kamu beristirahat, ingat pesan dokter"


"........"


"........"


"Ya sama-sama Fera, tapi tolong jangan sering menghubungi saya"


Rara buru-buru berlari menuruni tangga, namun sialnya pada beberapa anak tangga terakhir ia malah terpeleset hingga terjatuh


"Aduhhhhh"


"Meowwww"


"Hahahaha makanya jalan hati-hati" ujar Dariel sembari terkekeh, kebetulan ia baru selesai sarapan dan hendak pergi menuju kamarnya


Karena tak ada respon dari Rara ia menghampiri Rara yang terduduk di lantai dengan kepala menunduk


Hiks hiks hiks


Terdengar suara isak tangis Rara, Dariel menghentikan tawanya kala mendengar isak tangis tersebut


"Ehhh sakit ya ra?" tanya Dariel yang mulai panik, ia berjongkok dan memegang kedua bahu Rara


"Ra kamu gak pa pa?" tanya Dariel lagi


"Hiks hiks hiks"


Ia mengangkat kepalanya menatap wajah khawatir Dariel "Mas Azril selingkuh hhuuuuaaaaaaa" tangis Rara pecah begitu saja


Dariel tersentak kaget mendengar penuturan Rara, kurang apa adiknya ini hingga Azril tega menyelingkuhinya begitu pemikiran Dariel


"Huaaaaa hiks hiks hiks"


Dariel segera memeluk tubuh adiknya yang kian terisak "Huaaaa hiks hiks, tadi dia menelpon wanita itu hiks hiks hiks"


"Kakak akan hajar dia sampai babak belur, kamu tenang aja ra" hanya perkataan itu yang mampu Dariel ucapakan untuk menenangkan adiknya


"Huaaa hiks hiks, dia jahat kak, dia jahat"


"Iya ra, nanti kakak bunuh ya"


"Nanti aku jadi janda muda dengan dua anak huaaaa"


"Gak ra nanti kakak cariin calon buat kamu ya"


Azril yang baru keluar dari pintu kamar Rara segera turun berlari ke bawah karena mendengar tangisan istrinya


"Ra kamu kenapa?" tanya Azril khawatir


"Huaaaaaaaa" Rara malah semakin mengencangkan tangisannya kala melihat wajah suaminya, ia meluapkan segala emosi yang telah sekian lama menumpuk


Dariel berdiri menghalangi Azril yang hendak mendekati adiknya


Bughhh


Tanpa aba-aba tinjuan bertubi-tubi melayang pada wajah serta badannya


Kalau saja tidak melihat status Dariel yang lebih tua darinya serta mungkin Rara menangis karena dirinya, ia mungkin akan membalas pukulan Dariel


"Ada apa ini ribut-ribut" bentak papa dari atas balkon


Dariel menghentikan tinjuannya, dan menatap tajam ke arah Azril yang telah tersungkur ke bawah


"Huaaaaa suamiku jadi jelekkkkk" pekik Rara kala melihat wajah Azril yang penuh luka lembam bahkan bibirnya sudah mengeluarkan darah


Rara merangkak mendekati suaminya, ia hendak memastikan apakah suaminya benar-benar berubah menjadi jelek


"Huaaaa suamiku benar-benar jelek, hiks hiks hiks aku gak mau punya suami jelek hiks hiks, mau cari yang baru" Rara mengencangkan tangisannya


"Nanti kakak cariin yang tampan ya sekarang bangun dulu" Dariel hendak mengangkat Rara untuk menjauhkannya dari Azril


Namun Azril malah menarik tangan Rara hingga ia jatuh pada pelukannya


"Mas gak jelek, nanti ini sembuh dan tidak meninggalkan bekas, jangan cari suami baru ya" ujar Azril dengan suara yang lemah, bibirnya terasa sakit kala berbicara, bagaimana tidak pipinya yang memar di sana sini serta bibirnya yang sedikit sobek membuat ia kesusahan berbicara


"Jelaskan ada apa ini?" tanya papa dengan nada yang tinggi, kini pria paruh baya itu telah berdiri di antara mereka


"Dia selingkuhin Rara pa" ujar Dariel tajam sembari menunjuk ke arah Azril


"Saya gak selingkuh" elak Azril


"Bohong hiks hiks" Rara menjauhkan dirinya dari Azril


"Dia selingkuh pa hiks hiks" Rara berbicara dengan isakan, sesekali ia mengusap hidung dan matanya


"Mas gak selingkuh ra"


"Apa ada bukti?"


"Tadi dia telponan sama cewek" adu Rara


"Siapa cewek itu Azril?"


"Dia sekertaris saya pa, saya tidak memiliki hubungan apapun dengannya"


"Ra mungkin kamu salah paham"


"Gak pa hiks, tadi dia perhatian hiks sama dia pa hiks, dia juga bicara lembut hiks"


"Ra mas kan dulu pernah bilang dia sekertaris mas sekaligus temannya mas"


"Bohong, kamu bohong, bawa dia ke sini kalau gitu"


"Dimana dia sekarang?" tanya papa


"Dia di rumahnya pa"


"Ayo kita ke sana untuk meluruskan masalah ini"


"Dariel ambil hpnya Azril, jangan biarkan dia menghubunginya untuk saat ini sampai ia benar-benar terbukti bersalah atau tidak"


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗


Nah kan udah di bilang jangan percaya, pasti bingung, pasti gak jelas, hehehehe rasain tu 😈 oh ya btw makasih semua komentarnya, seneng banget udah nyampe 1000 😁


Jadi yang mana nih dunia yang asli


Sampai jumpa di bab selanjutnya, awas kalau kalian kabur 😤😤😤