I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Hampir Menjadi Sad Boy



"Sok sok an sad boy nte" ujar Zidan


"Harusnya kita yang merasa sad boy, mana jodoh belum dateng dateng lagi" timpal Alif


Azril hanya diam termenung, ia tak menanggapi ucapan kedua temannya


"Eh Baheer kenapa bos mu tuh?" tanya Alif


Baheer hanya melirik ke arah Azril, ia meminta persetujuan boleh tidak nya menceritakan permasalahan yang di alami Azril


"Halah gak usah izin segala kali, udah langsung cerita aja" timpal Zidan yang melihat gerak-gerik Baheer


"Tapi bang..."


"Mau bos kamu merana kayak gini terus, Allah mengirim kita berdua di sini itu untuk membantu permasalahan yang dialami oleh bos mu itu" ujar Alif bijak


"Padahal mah kita kepo banget" lanjutnya dengan suara yang sangat pelan hingga tak dapat terdengar oleh Baheer


Akhirnya Baheer menceritakan apa saja yang ia tahu, Azril yang berada di sana seolah-olah menutup telinga, obrolan mereka tak mengusiknya sedikit pun


Setelah mendengar cerita dari Baheer Alif mendudukkan dirinya di samping Azril


"Kata talak itu tidak boleh di pakai main, kamu memberikan dua pilihan pada istrimu seperti itu apa kamu benar-benar siap mentalak dia?"


Azril melirik ke samping menatap wajah Alif sebentar, kemudian ia kembali menatap lurus ke depan "Aku hanya mau menggertak nya" ujarnya parau


"Bagaimana jika dia benar-benar memilih salah satu diantara pilihan yang kamu berikan"


Azril tercengang, benar saja bagaimana jika Rara menyetujui nya, mengingat istrinya yang tak kunjung mencintai dirinya, bukankah itu sangat mudah bagi istrinya untuk melupakannya, bagaimana dengan dirinya yang sudah sangat mencintai istrinya apalagi ada anak di antara keduanya


"Apa kamu sudah tak mencintai istrimu lagi?"


Azril terdiam sejenak "Aku kecewa padanya"


"Karena dia mau melakukan aborsi?"


"Bukan hanya itu, dia sudah membohongi ku sejak lama, menyiapkan segala sesuatu untuk menunggu hari aborsi nya agar berjalan aman tanpa sepengetahuan siapapun"


"Bahkan semenjak dari psikiater dia enggan melakukan USG, katanya biar jadi kejutan waktu lahiran, tapi ternyata..."


"Aku suaminya namun ia tak menanyakan pendapat ku, aku bahkan tak mengetahui bahwa ia mengandung bayi kembar, aku sama sekali tak dapat membayangkan bagaimana jadinya jika waktu itu tiket ku tak tertinggal di rumah, pasti salah satu anak ku....." Azril menghentikan ceritanya, ia tak sanggup membayangkan itu terjadi


"Tapi Alhamdulillah Allah sudah merencanakan semua itu, menyusun skenario nya hingga kejadian seperti itu tak terjadi"


"Kalau hatimu sudah siap segera datangi istrimu, istrimu memang sudah melakukan kesalahan besar, kalau kamu tidak ingin berpisah maka beri dia kesempatan satu kali lagi jangan sampai kamu ikut menyesal, kamu masih bisa membimbing dia ke arah yang benar"


"Dari cerita Baheer aku dapat menyimpulkan bahwa kondisi mental istrimu lemah, dikit-dikit memiliki trauma, apa kamu pernah memikirkan bagaimana sekuat tenaga ia mengendalikan dirinya, berpura-pura kuat di depan semuanya namun ternyata dia sangat rapuh"


"Tenangin hatimu, tapi jangan terlalu lama meninggalkannya, kondisinya sedang hamil kan dia juga butuh kamu, sekarang minta petunjuk sama Allah, sekalian tanya sama Allah kapan jodoh ku datang"


Zidan menaruh dua piring nasi di atas meja "Mungkin cukup sekian ceramah yang dapat di sampaikan oleh ustadz Alif, kurang lebihnya mohon di maafkan, untuk acara selanjutnya adalah ramah tamah, dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang disediakan" ujar Zidan yang memaksa dirinya agar dapat duduk di tengah tengah mereka, terpaksa Azril dan Alif menggeser tubuhnya sedikit agar Zidan dapat duduk


"Nte harusnya tau sikon dan kondisi ustadz Zidan yang terhormat" Alif menyenggol lengan Zidan


"Suuuuutttt diem"


Zidan merangkul pundak Azril


"Kalau istri nte sudah jadi janda bilang ya, ane mau ta'aruf sama dia"


Azril menoleh ke arah Zidan ia melemparkan tatapan tajamnya


"Uuughh" Zidan meringis kala perutnya menjadi sasaran siku Azril


"Dia milikku, selamanya akan jadi milikku, aku gak akan biarkan dia diambil oleh laki-laki lain" Azril menekankan kalimatnya


"Cintanya aja udah separuh jiwa, pakek sok sok an memberikan pilihan berupa talak preeetttt" sindir Zidan


"Aku butuh waktu"


"Iya butuh waktu sampai ........... istri nte kenapa-kenapa kan"


Alif menyenggol lengan Zidan, sahabat nya ini benar-benar main ceplas-ceplos tanpa filter


"Terkadang menasehati orang itu butuh gertakan" bisik Zidan pada Alif


"Udah udah kalau gitu ayo kita makan dulu" ujar Zidan yang meraih sepiring nasi, begitu juga Alif, namun akhirnya mereka saling berpandangan


"Oi kok cuma dua piring" pekik Alif


"Ehhh iya iya, Baheer" teriak Zidan, tadi ia menyuruh Baheer membawa dua piring lagi tapi ntah kenapa orangnya tak kunjung datang


"Iya bang" Baheer muncul dari arah dapur dengan dua piring nasi


"Ayok az makan dulu, jangan bengong terus besok kita pikirkan lagi jalan keluar nya" ujar Zidan yang melihat Azril bergeming


***


"Mau kemana?" tanya Zidan kala melihat Azril hendak keluar


Azril hanya terdiam, ia mengacungkan kunci motor milik Zidan "Pinjam" ujarnya tanpa suara


"Ehhh jangan dong ane mau ngajar ini" Zidan berusaha meraih kunci tersebut namun Azril segera menghindar


"Ya udah sana pakai, ane makek mobil nte aja kalau gitu" ujar Zidan asal


Azril melempar kunci mobilnya tepat di kaki Zidan "Astaghfirullah bang, ini orang bukan ayam" gerutunya


Begitulah keseharian Azril yang numpang hidup di rumah kontrakan milik sahabat karibnya, ia hanya lontang lanting sendiri, tiap waktu shalat ia akan pergi ke masjid, tiap lapar ia akan makan, tiap pagi ia pergi mengendarai motor milik Zidan ntah kemana, dan tak lupa ia selalu memandangi layar hpnya, menatap sosok wanita cantik kesayangannya yang menjadi penyemangat dalam hidupnya


***


"Mau sampai kapanpun mandangin foto kayak gitu gak akan keluar Rara nya" tegur Alif


"Udah seminggu nte di sini, menurut ane udah cukup buat nenangin diri" timpal Zidan


Azril hanya diam saja, tak mempedulikan omongan dua temannya


"Mau tahu sesuatu gak yang berkaitan dengan istri nte?" tanya Zidan tiba-tiba


Azril langsung menoleh ke arah Zidan, jujur saja ia penasaran bagaimana kabar istrinya.


"Kemarin sekilas ane melihat nya di rumah sakit, kayaknya dia pingsan, soalnya dia di bawa pakai ranjang yang bisa di dorong itu lo" ujarnya


Azril terkejut bukan main, ia langsung berdiri dan keluar dari rumah tanpa sepatah katapun


"Hufffhhh" Zidan menghembus nafasnya kasar


"Akhirnya dia pergi juga, siap siap aja bayar air sama listrik naik" ujar Zidan dengan kejamnya


"Semoga dia cepat baikan, gak tega juga liat hidupnya pontang-panting di kontrakan kita, nanti kalau rumah tangganya udah harmonis kembali kita tagihin yuk biaya hidupnya selama numpang di sini" timpal Alif


"Hooh"


"Eh ngomong-ngomong bener yang nte katakan tadi" tanya Alif curiga


"Gak, ane ngasal" ujarnya polos


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗