I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Terimakasih



Ya semenjak insiden Rara yang mengamuk kini ia lebih memilih untuk diam dan memberikan kebebasan pada dirinya sendiri, sudah cukup ia berperang dengan hatinya meski tak bisa di pungkiri bahwa ia mencintai suaminya, namun ia memutuskan untuk tidak selalu bergantung pada Azril dan sesekali memberi jarak diantara mereka guna suatu saat nanti air matanya tidak akan terbuang banyak seperti sebelum-sebelumnya jika Azril mengulangi kesalahan untuk kesekian kalinya


Kedua orang tua Azril sudah mengklarifikasi hubungan Azril dengan Fera, Azril memang hanya menganggap Fera sebagai temannya tidak lebih, kedua orang tua mereka juga saling mengenal satu sama lain sehingga orang tua Fera bisa mengerti kenapa anaknya di berhentikan bekerja dekat Azril, bahkan Fera kini bekerja di perusahaan lain agar tidak mengingat Azril terus dan bisa melupakan rasa cintanya


Rara termenung didekat kolam ikan, sesekali tangannya mengobok-obok kolam


"Kamu boleh mencintai hamba-Nya, namun jangan melebihi cintamu pada penciptanya"


Itulah kata yang terngiang-ngiang dalam benaknya, perkataan ustadz Afham tempo hari membuat ia semangat menjalani hidupnya kembali


Rara tahu maksud perkataan itu untuk tidak berlebihan dalam mencintai seseorang karena manusia hanya bisa mengecewakan sedangkan Allah tidak, dan jika suatu saat akan ditinggalkan oleh seseorang yang kita cintai maka kita tidak akan terlalu larut dalam meratapi hati yang tersakiti, karena kita punya Allah yang selalu ada dan tak akan meninggalkan kita sampai kapanpun


Ia sempat bertemu ustadz Afham saat berada di rumah mertuanya kala mereka mengklarifikasi hubungan Azril dengan Fera


Kini ustadz tersebut akan segera menikah dengan wanita pilihannya sendiri, dia bilang wanita itu sebelas dua belas dengan Rara dan Rara sendiri pun mengenalnya, awalnya Rara bingung siapa eh ternyata Zelin, Rara tak percaya bukankah Zelin tergila-gila dengan ustadz Nathan, dan ntah bagaimana jadinya kenapa ustadz Afham malah memberanikan diri melamar Zelin dan Alhamdulillah disambut baik oleh kedua orang tua Zelin, sedangkan Zelin ntahlah menerima atau tidak yang jelas mereka akan segera menikah


"Pantes ustadz sering mencari perhatian pada Zelin tau taunya menyimpan sesuatu yang terselubung" ujar Rara kala itu


Ustadz Afham hanya tersenyum, namun Rara tahu bahwa ustadz Afham tersenyum malu karena pernyataan Rara tidaklah salah


"Doakan saja yang terbaik, saya juga akan mendoakan kamu dan Azril agar permasalahan kalian cepat selesai"


Rara mengangguk kecil "Terimakasih ustadz" ujarnya kemudian


"Terimakasih untuk apa?" tanya ustadz Afham


"Untuk semuanya" ujar Rara yang mengembangkan senyumannya


"Terimakasih juga" balas ustadz Afham


"Untuk apa?" tanya Rara bingung, pasalnya ia tak pernah membantu ustadz Afham


"Untuk kamu karena telah baik-baik saja"


Rara tersenyum mengingat pertemuan singkat dengan beliau, pertemuan itu terjadi sekitar tiga setengah minggu yang lalu


"Heem" Azril berdehem kala memergoki istrinya sedang senyum-senyum sendiri


Rara mendongak menatap ke arah suaminya


"Lagi mikirin apa mmmm?" tanya Azril yang ikut tersenyum dan duduk di samping istrinya


"Gak mikirin apa-apa" ujar Rara yang memalingkan wajahnya


"Mikirin mas ya" goda Azril


"Aduh bisa gawat kalau sampai dia tahu aku mikirin cowok lain" batin Rara was-was


"Kalau iya kenapa" ujar Rara asal


Jawaban Rara berhasil membuat Azril merona, mungkin ini awal baginya untuk memperbaiki hubungannya yang sudah renggang selama hampir satu bulan, pikir Azril


"Emmm aku masuk dulu mas" Rara langsung kabur begitu saja setelah berhasil membuat suaminya baper


Azril menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya sembari mengembangkan senyumannya, sayangnya ia salah tangkap kaburnya Rara bukan karena malu, melainkan karena takut ketahuan berbohong, tapi Azril tak menyadari itu


***


Hari ini hari minggu, hari libur kalender nasional, tentu saja berbeda dengan beberapa pondok yang memilih hari libur jatuh pada hari Jum'at


Dengan semangat 45 Rara berkutat dengan peralatan di dapurnya, seluruh bahan-bahan kue yang kemarin ia beli juga ikut andil dalam kesibukan Rara, tak lupa alunan musik menemani Rara agar ia tak jenuh


Azril melihat istrinya lagi-lagi sibuk di dapur sehabis memandikan sikem, istrinya bersenandung ria dengan wajah berseri


"Buat apa?" tanya Azril yang tiba-tiba nongol di belakang Rara


Sontak Rara terkejut karena Azril memanggil dirinya tepat di daun telinganya


"Mas bikin kaget tau" gerutu Rara


"Hehehe maaf, lagian dari tadi dipanggil gak nyaut, kamu juga nyetel musik terlalu keras" Azril mengecilkan volume musik


"Buat kue, mau di bagiin ke tetangga" ujar Rara antusias


"Mas bantu ya" ujar Azril yang menawarkan diri


"Ehh gak usah makasih mas, kamu cukup diam saja itu sudah sangat membantu" ujar Rara, bisa gawat kalau Azril menyentuh dapur, kuenya bukannya sampai ke rumah tetangga malah akan berakhir di tong sampah


"Ya udah mas bantu doa aja, mas main dulu sama Ay dan Av dulu" ujar Azril lesu, padahal lidahnya sangat ahli dalam mencicipi makanan tapi ntah kenapa ia tak memiliki kemampuan memasak sama sekali


Butuh waktu lima jam hingga akhirnya kue-kue tersebut selesai ia buat, bahkan tadi di tengah jalan ia berhenti sebentar kala si bayi menginginkan susu mamahnya


"Mari kita ucapkan hamdalah Alhamdulillah hirabbil alamin" ujar Rara meski lelah namun ia cukup senang


"Sekarang tinggal di bagiin" Rara memasukkan kotak-kotak kue tersebut ke dalam kresek, dulu ia memang sering berkunjung ke toko kue milik tantenya sekalian ia juga ikut belajar dalam membuat kue


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, eh bibi Wawa udah datang, ayo bi kita bagiin kue-kue ini" ujar Rara yang sudah tidak sabaran


"Maaf ya non bibi gak bisa bantuin buat kue"


"Gak pa pa bi, aku ke atas dulu ya siap-siap" pamit Rara


Rara dan bibi membawa banyak kotakan kue, mereka berjalan menelusuri kompleks rumah-rumah di sana, hampir semua rumah di sini bermodelan minimalis dan rata-rata tetangganya memiliki pekerjaan yang bagus


Rumah demi rumah mereka kunjungi namun ketika melewati sebuah cafe ia menghentikan langkahnya, memang salah satu tetangganya ada yang membuka cafe depan rumah


"Gak malu apa ya suaminya Rara dapetin istri yang tidak berpendidikan, dia itu cuma lulusan SMA"


"Yah masih mending saya dong lulusan sarjana meskipun ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga, seenggaknya udah pernah kerja selama lima tahun"


"Padahal suaminya lulusan magister, punya banyak restoran, cucu dari pimpinan ponpes lagi, tapi sayang ya dapetnya yang kayak gitu"


"Iya, mereka kan nikah muda apa jangan-jangan...."


"Stuuuttt ngawur kamu, ya gak mungkinlah, nak Azril itu cucunya pimpinan pondok, gak mungkin berbuat hal-hal kayak gitu"


"Iya juga ya"


"Banyak kali anak pondok yang nikah muda, tapi biasanya mereka tuh di jodoh-jodohin sama yang setara gitu"


"Tapi kemarin pas saya tanya Rara ternyata dia bukan lulusan pondok"


"Kalau saya punya anak kayak nak Azril gak bakal saya jadiin mantu dia"


"Saya juga, oh ya saya duluan ya ibu-ibu mau nyiapin makan siang dulu, sampai ketemu besok bu Sasa di kantor"


"Iya bu hati-hati"


"Duhh besok udah hari Senin aja nih, waktunya kerja lagi, kerja lagi biar naik jabatan"


"Jangan naik lagi kasian tuh anak bungsu kamu masih SD"


"Udah kelas lima dia mah, ada si mbok juga"


Rara hanya diam saja mendengar dirinya menjadi bahan ghibah ibu-ibu kompleks


"Non Rara jangan di dengerin" ujar bibi Wawa khawatir


Rara tersenyum ke arah bibi Wawa dengan deretan gigi putihnya "Gak kok bi kan aku pakai kerudung" ujar Rara


"Ayo bi kita lanjutkan lagi"


"Bibi juga cuma lulusan SMA loh non, tapi dapet suami PNS keren kan bibi"


"Oh ya, hebat banget sih bik, bibi pakai pelet apa hayooo"


"Pelet kecantikan, gini-gini bibi termasuk primadona di kampung"


"Pantesan anak bibi yang perempuan cantik, eh ternyata dari gen ibunya"


"Iya dong, siapa dulu ibunya, duhh bibi jadi kangen sama anak-anak bibi"


"Kalau bibi mau ambil cuti pulang kampung gak papa kok"


"Mereka belum liburan, yang cewek masih kuliah yang cowok kerja di Kalimantan sibuk semua"


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗