I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Akhirnya Jujur Juga



"Lesy Tari kalian berdua di panggil ke ruang guru noh" ujar Zelin di tengah-tengah keramaian


"Ada apa emang?" tanya Lesy


"Ya mana aku tahu aku kan bukan ustadzah" ujar Zelin yang menggidikan bahunya


"Baru aja mau nyamperin ayah bunda" ujar Lesy kesal


"Eh tunggu dulu Rara mana ya?" tanya Zelin yang membuat langkah mereka berdua terhenti


"Gak tahu, dia gak balik ke kamar dari semalam, ngeri aku lihat dia kayak orang kesurupan" ujar Lesy yang langsung melongos pergi diikuti Tari di belakangnya


"Zelinnnnn" spontan kedua telapak tangan Zelin ia taruh untuk melindungi kedua telinganya


"Mana Rara, ini aku bawain dia stoples jangkrik kering pedas lagi kali ini dia harus memakannya jangan sampai lolos" ujar Shella semangat


"Aku juga belum ketemu dia Shel, ayo kita cari sekalian kita foto bareng buat nakut-nakutin tikus di rumah ku" Zelin langsung menarik tangan Shella untuk mencari Rara sebelum acara kelulusan di mulai


Tok tok tok


"Assalamualaikum"


Lesy dan Tari mengetuk pintu sembari mengucapkan salam


"Waalaikumsalam masuk" terdengar suara perintah dari ustadz Afham


"Ada apa ya ustadz manggil kita?" tanya Lesy dengan wajah santainya


"Kalian berdua berdiri yang benar" perintah ustadz Afham dengan tegas, sepertinya sidang akan di mulai


"Jawab dengan jujur apa yang telah kalian berdua lakukan pada Rara?" tanya ustadz Afham to the point


"Kami gak melakukan apapun" ujar Lesy


Brakkkkkk


Lesy dan Tari kaget mendengar suara gebrakan meja yang di pukul dengan kuat oleh ustadz Afham


"Saya tanya sekali lagi kalian apakan Rara?" bentak ustadz Afham, suaranya menggelegar di seluruh ruangan


Lesy dan Tari diam membisu, kepalanya mereka tundukkan agar wajah mereka berdua tidak dapat terlihat


"Masih gak mau jawab, baik sekarang juga panggil orang tua kalian ke sini untuk menghadap saya" ujar ustadz Afham tegas


"Jangan ustadz" Tari membuka mulutnya nampaknya dia tidak mau orang tuanya tahu tentang masalah yang ia buat, apalagi ini merupakan hari kelulusan bagi dirinya tentu dia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya


"Kalian mau berkata jujur atau mau saya bongkar semua tindakan keji yang kalian lakukan di pondok ini di hadapan seluruh santri dan santriwati beserta para wali murid di sini" ustadz Afham memberikan dua pilihan tersulit dalam sejarah hidup mereka di pesantren


"Sebenarnya kita hanya butuh kejujuran kalian, semua kedok kalian sudah terbongkar" ujar ustadz Nathan yang ikut menimbrung dalam sidang


Lesy dan Tari menggelengkan kepalanya, bisa malu tujuh turunan mereka kalau sampai semua orang tahu apa kesalahan yang mereka perbuat selama ini


Lesy dan Tari tampak ragu-ragu tangan mereka gemetaran, namun mulut mereka masih enggan mengeluarkan suara


"Apa kalian berdua yang memotong rambut Rara?" tanya ustadz Afham yang langsung mendapat gelengan dari keduanya


"Tidak ustadz saya tidak memotongnya" ujar Lesy


"Saya juga tidak ustadz"ujar Tari


"Benarkah bukan kalian pelakunya?" tanya ustadz Afham lagi


"Demi Allah ustadz bukan saya pelakunya" ujar Lesy yang mengangkat jari telunjuk dan tengahnya berbarengan


"Demi Allah ustadz saya juga bukan pelakunya" ujar Tari yang mengikuti gaya Lesy


"Oh bukan kalian ya, lantas apa saja yang kalian lakukan terhadap Rara?" tanya ustadz Nathan sinis


Brakkkkkkkk


"Jawab yang jujur" bentak ustadz Nathan keras hingga membuat mereka terlonjak kaget, baru kali ini mereka mendengar bentakan yang dahsyat dari ustadz Nathan


"Kami pernah menguncinya di kamar mandi" ujar Lesy ragu-ragu


"Terus" ustadz Afham menyuruh mereka melanjutkan kesalahan mereka


"Kami pernah membuang semua peralatan mandinya serta peralatan makannya"ujar Tari


"Terus"


"Kami pernah menyembunyikan mukenanya" ujar Lesy


"Pernah apa sering?" tanya ustadz Afham sinis


"Sering ustadz eh" Tari mengutuk mulutnya sendiri yang tidak sengaja keceplosan


"Terus"


"Kami pernah memanipulasi surat miliknya" ujar Tari


"Heh bagus kenapa sekarang baru mau jujur hah?" ujar ustadz Nathan dengan suara yang tinggi


"Maaf ustadz kami......"


"Apa kalian juga yang menyebarkan fitnah tentang dia?" tanya ustadzah Ratna tiba-tiba


"Itu kami hanya mendengarnya ustadzah" ujar Tari


"Hanya mendengarnya tapi kenapa seakan-akan gosip itu tidak pernah reda, bahkan terus mengalir hingga mempengaruhi hampir seluruh santri serta guru di sini, kalian berdua tahu pasti bukan bahwa fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan" ujar ustadzah Ratna bijak


"Kami hanya....." ucapan Lesy terhenti, dia sendiri bingung alasan apa yang pantas di lontarkan


"Hanya apa, apa kalian punya dendam terhadap Rara?" tanya ustadzah Ratna namun mereka hanya diam menutup mulutnya


"Sekarang juga kemasin barang-barang kalian, pulanglah bersama orang tua kalian, tanpa membawa ijazah kelulusan" ucapan ustadz Afham membuat mereka terkejut apa kata orang tua mereka jika mengetahui hal ini


"Ustadz saya mohon tolong maafkan saya, saya janji tidak akan mengulanginya lagi" Tari berusaha memohon


"Iya ustadz tolong beri hukuman yang lain kami akan terima tapi tidak dengan ini ustadz" ujar Lesy memelas


"Ketika kalian melakukan semua itu apa kalian berpikir hasil apa yang akan terjadi ketika kalian menyakiti seseorang" tanya ustadzah Ratna


"Kami akan meminta maaf pada Rara ustadzah, mohon jangan tunda kelulusan kami" Lesy memohon dengan menangkupkan kedua telapak tangannya, matanya sudah berkaca-kaca begitu pula dengan Tari bahkan air mata Tari sudah tidak dapat terbendung lagi


"Minta maaf" Afham tersenyum sinis


"Apa kalian tahu kalian sudah menghancurkan dirinya" bentak ustadz Afham, ucapan Rara ketika dia menelpon Azril masih teringat dengan jelas di pikirannya, bukan maksudnya ingin menguping tapi dia tidak sengaja mendengarnya, awalnya memang tidak sengaja tapi lama-lama dia penasaran juga


"Heh kalian salah dengar ya bukan menunda kelulusan kalian tapi membatalkan kelulusan kalian, silahkan kalian pergi dari sini dan ulangi sekolah kalian di tempat lain" ujar ustadz Nathan sinis


"Tidak ustadz kami mohon jangan batalkan kelulusan kami, kami hanya tidak tega setiap mendengar curhatan dari ustadzah Zahra maka dari itu kami membenci Rara" ujar Tari blak blakan


"Sudah kuduga" gumam ustadzah Ratna pelan


Afham tersenyum sinis "Jadi maksud kalian secara tidak langsung kalian di provokasi kan oleh ustadzah Zahra?"


"Iya ustadz bahkan kami mendengar semua gosip tentang Rara dari beliau, kami tidak tega tiap ustadzah Zahra bercerita tentang ustadzah Azizah, maka dari itu kami membantunya menyebarkan gosip tersebut bahkan selalu mengusili Rara" ujar Lesy


"Apa" Azril berteriak dengan keras di depan pintu masuk kala mendengar ucapan mereka dia langsung melirik ke arah Zahra yang berdiri tepat di sampingnya


"Zahra apa benar yang mereka katakan?" tanya Azril dengan tatapan yang tajam


"Aku....."