
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, udah selesai bagiin kue nya ra?" tanya Azril yang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya
Rara menatap intens ke arah Azril, suaminya kini mengenakan sarung serta baju koko, rupanya ia belum mengganti bajunya sehabis dari masjid, bahkan laptop dipangkuan Azril tak luput dari penglihatan Rara
"Kenapa ra?"
Rara memalingkan wajahnya dari pandangan Azril "Udah selesai mas, aku ke kamar dulu" pamit Rara
Azril merasa ada yang aneh dengan istrinya, sebelum berangkat terlihat wajahnya berseri senang, namun kenapa setelah pulang malah menjadi redup dan muram
"Permisi tuan" pamit bibi Wawa yang hendak ke dapur
Azril hanya mengangguk, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada benda di pangkuannya
Azril terus memperhatikan istrinya yang nampak jauh berbeda dari tadi pagi, semenjak sesi pembagian kue Rara hanya diam saja tanpa suara
"Sayang, apa mas melakukan kesalahan?" tanya Azril
Rara hanya tersenyum sekilas dan menggeleng kemudian ia pergi menyibukkan diri pada sikem
"Bik" panggil Azril
"Ehh iya tuan ada apa?"
"Saya mau bertanya, tadi saat bagi-bagiin kue apa terjadi sesuatu?" tanya Azril dengan suara pelan
"Itu...."
"Ada apa bi?"
"Bi popok yang baru di beli kemarin di taruh mana ya?" teriak Rara dari depan pintu kamar sikem
Bibi buru-buru menghampiri Rara dan membantu Rara menemukan popok tersebut
Di meja makan masih terjadi keheningan, Azril dan Rara sibuk menyendokkan makanan ke mulut mereka namun pikiran mereka sama-sama melayang
"Mereka bilang aku tidak berpendidikan" ujar Rara yang memulai pembicaraan
Tangan Azril berhenti dari aktivitasnya, ia menghadap ke arah Rara dengan intens, namun Rara nampak tenang, ia melanjutkan menguyah makanannya
Mulut Azril terbuka, ia hendak mengucapkan sesuatu
"Mereka bilang aku tak pantas mendapatkan kamu" ujar Rara kala mulutnya sudah tak ada makanan, namun setelah ucapannya selesai ia menyendokkan makanan ke mulutnya lagi
"Siapa mereka itu? siapa yang bilang?" tanya Azril
Rara mengalihkan pandangannya menatap ke arah Azril, wajah Azril terlihat marah penuh kekhawatiran
"Jika dipikir-pikir ucapan mereka benar, aku tak berpendidikan hanya sebatas lulusan SMA, aku juga bukan lulusan pondok"
Azril terdiam mencerna perkataan istrinya
"Harusnya kamu mendapatkan wanita yang setara denganmu, mantan istri kamu dia lulusan sarjana dan bahkan lulusan pondok, mantan sekertaris kamu lulusan magister dan bahkan memiliki karir yang bagus, sedangkan aku....." Rara menghentikan ucapannya
"Tak ada yang bisa dibanggakan" lanjutnya dengan suara yang parau
Azril berdiri dan menghampiri istrinya "Jadi karena ini kamu bersedih?" tanyanya lembut
Azril menarik kepala Rara agar dapat bersandar di perutnya, Rara menyembunyikan wajahnya di sana, ia juga melingkarkan tangannya di pinggang suaminya, beberapa detik kemudian terdengar suara isak tangisan, pundak Rara bergetar hebat, sungguh ia tak ingin menangis seperti ini tapi belakangan ini hatinya benar-benar sensitif
Azril membiarkan Rara menangis di sana, tangannya mengusap lembut rambut Rara serta punggung Rara
Rara melepaskan pelukannya setelah merasa cukup tenang, kemudian ia berdiri hendak pergi ke kamar, namun Azril malah mengangkatnya dan mendudukkan ia di atas meja makan
Rara mengusap pipinya "Mas malu kan?" tanya Rara sesegukan
"Iya mas malu" ujar Azril yang menatap Rara dengan lekat
"Mas bukan malu sama mereka, tapi mas malu sama kamu"
"Mas malu belum bisa bahagiain kamu"
"Mas malu karena selalu membuat air mata kamu jatuh"
"Mas malu sama kamu karena kamu sudah berhasil buat mas bahagia sedangkan mas belum berhasil buat kamu bahagia" Azril mengelus lembut pipi Rara, kemudian memeluk tubuh Rara dengan erat
"Mas mohon jangan kamu tanggapi omongan mereka, karena jika kamu tanggapi maka tidak akan ada habisnya" Azril melepaskan pelukannya, ia menangkup kedua pipi Rara, pipi yang menjadi tempat ternyaman bagi Azril yang sudah sebulan ini ia rindukan, tempat mencubit, menggigit ataupun mencium
"Masih hebatan kamu sayang, meskipun Azizah lulusan sarjana, meskipun Fera lulusan magister tapi mereka tidak bisa bertahta di hatinya mas, cuma kamu yang bisa bertahta di sini, sepenuhnya, sepenuh hatinya mas hanya untuk kamu dan hanya terisi oleh kamu"
"Bohong, dulu mbak Azizah juga bertahta di sini" ujar Rara dengan bibir yang monyong akibat Azril terlalu menekan pipinya
"Tidak sepenuhnya, hanya singgah sebentar kemudian buuussshhh pergi menghilang tanpa jejak, eh kemudian ada yang masuk tiba-tiba ke sini, mas kunci deh biar dia gak bisa kabur dan keluar, habis kadang ia suka memberontak" ujar Azril dengan mimik wajah yang serius
Rara mencibir mendengar perkataan Azril, suaminya ini memang sudah pandai melontarkan kata-kata yang manis serta membuat perumpamaan yang masih bisa di talar meski aneh
"Minggir ih mas, gak boleh tau duduk di atas meja" gerutu Rara
"Eh ya mas khilaf, sini mas gendong" Azril segera menarik tubuh Rara, memposisikan kedua tangan Rara agar melingkar di lehernya, serta kedua kaki Rara agar melingkar di pinggangnya
Azril membawa Rara naik ke lantai atas, memasuki kamar dan meletakkan di atas kasur
"Sayang, masih marah kah sama mas?" tanya Azril hati-hati
Rara mengangguk cepat, kemudian ia buru-buru merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menarik selimut
Baru saja Azril merasakan hangatnya pelukan Rara kini ia sudah merasa hampa lagi "Tunggu kamu tidur sayang maka mas bebas melakukan apapun pada mu" ujar Azril dengan seringainya
Kalau sudah tidur Rara memang tidak merasakan apapun, apalagi kalau terlalu capek sudah seperti orang mati, namun semenjak punya bayi kini ia dapat terbangun kala mendengar suara tangisan buah hatinya, inikah yang di sebut dengan ikatan batin antara ibu dan anak
***
Rara terbangun tengah malam karena mendengar suara tangisan bayinya, buru-buru ia mengumpulkan nyawanya dan berjalan menghampiri ranjang bayi, namun ternyata Azril sudah berdiri di sana sembari menimang baby Av
Rara mengambil alih baby Av dari Azril, karena tangisannya tak kunjung berhenti
"Sini mas saja ra" pinta Azril yang hendak mengambil alih baby Av lagi
"Gak usah...."
"Udah gak pa pa biar mas aja kamu istirahat aja" Azril tetep meminta baby Av dengan kekeh
"Buka bajumu!" perintah Rara
"Hah" Azril agak terkejut dan bingung, pikirannya sudah melayang malam-malam di suruh buka baju, namun tangannya dengan sigap membuka satu persatu kancing baju koko yang ia kenakan
"Mmmm sayang sebaiknya nanti aja saat baby Av sudah tidur lagi" ujar Azril malu-malu
Rara memutar bola matanya malas, ia melirik ke arah Azril yang masih mengenakan baju kokonya namun dengan kancing yang seluruhnya telah terlepas hingga menampilkan dada bidangnya, kemudian ia menyerahkan baby Av yang masih saja menangis
Azril menerimanya
"Susuin dia!" ujar Rara
"Hah mas gak bisa" ujar Azril melongos
"Siapa yang minta dengan ngotot tadi" Rara segera mengambil bayinya kembali dan membuka piyama bajunya, mengeluarkan benda yang menjadi kesukaan kedua bayinya, namun yang paling semangat dalam meminum susu adalah baby Av
Baby Av nampak menikmatinya, sedangkan Azril yang melihatnya ikut meneguk salivanya, anaknya curang padahal sebelum ada mereka Azril lah yang selalu menikmati itu, dan sekarang ia juga pingin
***
Holla semua, jan lupa like dan comment ya, thank you, selamat membaca