
Sehabis dari masjid ia membuka pintu kamarnya namun ia tak mendapati keberadaan istrinya
"Ra..." panggil Azril berkali-kali, namun tak ada sahutan sama sekali
Ia memeriksa ke dalam kamar mandi namun tak ada, di lemari pakaian tak ada, di bawah kolong tempat tidur pun tak ada, wajahnya mulai panik ia kembali membuka lemari pakaiannya
"Pakaiannya masih lengkap" gumam Azril
"Rara" teriak Azril begitu keluar dari kamar, pikirannya mulai kacau, bagaimana jika Rara kabur dari rumah, dalam keadaan hamil pula
Terdengar suara peralatan dapur dari arah dapur, ia buru-buru melangkahkan kakinya menuju dapur
"Umi Rara........" teriak Azril "mana....." lanjutnya dengan suara pelan kala melihat sosok yang ia cari tengah berkutat dengan peralatan dapur
"Apaan sih mas teriak-teriak kayak orang kerasukan barongsai aja" ujar Rara yang asyik mengaduk-aduk sop ayam
"Kamu bikin mas kaget" Azril berjalan mendekat ke arah Rara
"Aku belum ngagetin kamu hari ini"
"Udah ini barusan, kamu lagi apa?" tanya Azril sembari menaruh kedua telapak tangannya di pinggang Rara
"Lagi ngobok-ngobok sop ayam" ujar Rara
"Mmmmm pasti enak" Azril hendak melingkarkan tangannya di perut istrinya, kepalanya sudah siap hendak bertengger di bahu Rara, ia ingin menciptakan suasana romantis layaknya rumah tangga pada umumnya
"Heem"
"Heem"
Suara deheman umi dan abinya berhasil mengurungkan niatnya, ia menarik kedua tangannya kembali
Azril menggaruk kepalanya padahal tidak ada kutu sama sekali, pandangannya mengedar kemana-mana, ekspresi wajahnya mulai memerah, terpampang jelas bahwa tingkatnya kini telah salah, eh salah tingkah maksudnya
"Eh umi abi, selamat pagi buta" sapa Rara, ia menyenggol lengan Azril, pasalnya Azril lah yang menyeret ia kedalam suasana yang canggung serta memalukan
"Eh umi ganggu ya, padahal umi mau bantuin kamu masak"
"Ehh gak mi kalau umi yang ke dapur mah gak ganggu sama sekali, kalo mas Azril baru ganggu banget" ujar Rara
"Aku gak ganggu kok ra, aku nyemangatin kamu masak, sekaligus memberikan bumbu keharmonisan"
"Kamu belajar darimana kata-kata kayak gitu?" tanya abi curiga, benarkah ini Azril anaknya
"Dari buku bi, masak abi lupa dia beli buku banyak tentang cara menaklukkan hati wanita" sahut umi
"Umi" panggil Azril, bagaimana mungkin uminya bisa tahu kalau dia membeli banyak buku-buku seperti itu
"Jadi dua bulan lalu kamu ngungkapin cinta ke aku di kebun binatang itu hasil dari pembelajaran kamu selama ini?" tanya Rara sinis
Umi dan Abi membelalakkan matanya, dua orang tua itu saling berpandangan hingga akhirnya tawa mereka berdua pecah
Wajah Azril kini telah memerah menahan malu, ia menarik lengan Rara, meninggalkan dapur dengan kompor yang masih menyala tanpa sepatah kata pun
"Mas itu kompornya belum di matiin" ujar Rara namun tak mendapat hirauan dari Azril, langkah kakinya mulai berhenti saat mereka berdua sudah memijakkan kakinya di dalam kamar
"Mas....." belum sempat Rara protes mulutnya sudah di bungkam lebih dulu dengan mulut Azril, wajah Azril sudah memerah sedari tadi di tambah dengan jantungnya yang berdegup tidak seperti biasanya, biar sekalian malu begitulah pemikiran Azril
Rara terkejut bukan main melihat tingkah Azril, biasanya pria itu hanya berani diam-diam mengecup bibirnya, kapan lagi kalau bukan ketika Rara terlelap atau sedang dalam pengaruh sentuhan Azril
Jika di tanya kapan ciuman pertama nya hilang maka dengan mantap Rara mengatakan tidak tahu, yang ia tahu hanya pelaku pencurian ciuman pertamanya siapa lagi kalau bukan Azril
Perlahan Azril membawa Rara pada pangkuannya, ia duduk di tepi ranjang mencari posisi yang enak hingga akhirnya bibir mereka saling terlepas, apa apaan ini berantakan tak ada sensasi apapun hanya tekanan yang membuat Rara meringis
Azril menelungkup kan kepalanya di dada Rara, menyembunyikan rona wajahnya yang sudah terlihat kacau, tangan Rara meraih kepala Azril berusaha menyingkirkannya agar tidak menempel padanya
"Mas lepasin" pinta Rara
"Gak mau ra aku malu" ujar Azril yang semakin erat memeluk dirinya
"Aku juga malu mas" pekik Rara, wajahnya juga sudah memerah sedari tadi
"Jantungku gak aman ra"
"Eh iya ra jantungmu berdetak lebih cepat dari punyaku" ujar Azril yang baru menyadari bahwa suara degupan jantung Rara lebih keras dari miliknya, ia pikir itu tadi miliknya
"Makanya lepasin ihhhh" Rara semakin gugup menghadapi situasi ini
"Bentar ra, rasanya aneh banget kok aku gak bisa ya"
"Emang aku bisa apa, makanya gak usah di lakuin, malu-maluin tau"
"Katanya ngikutin naluri tapi nyatanya aku sama sekali gak konsen"
Azril mendongakkan kepalanya, melepas pelukannya agar dapat melihat ekspresi wajah istrinya, benar saja wajah Rara sudah terlihat semburan merah pada pipinya
Azril terkekeh "Kayaknya kita......."
"Aduuhhh ra sakit"
"Ampun ra lepasin, ini nanti telinga mas bisa copot"
"Maaf" ujar Rara yang telah melepas tangannya dari telinga Azril, tadi dengan refleks Rara menjewer telinga suami nya untuk menghilangkan kegugupan yang ada pada dirinya
Rara merapikan jilbabnya kemudian ia bergegas keluar kamar
"Mau kemana ra?" teriak Azril
"Memasukkan sesuatu ke dalam mulut hingga perut terasa kenyang" jawab Rara dengan teriakan pula
***
"Rara buat apa?" tanya umi kala melihat menantunya sibuk di dapur
"Eh umi udah pulang, maaf Rara gak denger" ujar Rara yang mencuci tangannya, kemudian mengelapnya barulah ia mencium punggung tangan mertuanya
"Iya gak pa pa, lagi buat apa emang?"
"Buat makan siang, untuk umi, abi, kak Ammar sama mas Azril"
"Oalah, sini umi bantuin"
"Yah umi telat udah selesai ini"
"Hahaha besok umi pulang lebih awal deh"
"Abi gak pulang bareng umi?" tanya Rara
"Gak ra, biasanya umi pulang untuk nyiapin abi makan siang"
"Oh gitu, ini udah jadi mi tinggal di bawa aja, kalau umi makan siang di mana biasanya?" tanya Rara
"Di pesantren ra, bareng abi, tapi sekarang mau nemenin kamu makan siang aja di sini"
"Eh gak usah umi, kasian abi gak ada yang nemenin"
"Terus kamu gimana, oh ya kamu makan sama Azril aja di tempat kerjanya, nanti di anterin sama pak Mino aja ya"
"Pak Mino siapa mi?" tanya Rara
"Supir keluarga yang biasa jemput antar" ujar umi
Rara hanya menganggukkan kepalanya paham
"Udah siap ra?" tanya umi yang melihat Rara mengemasi bekal makan siang
"Udah nih mi" jawab Rara sembari menunjuk bekal yang akan ia bawa
"Eh iya mi, mas Azril kerja dimana?" tanya Rara polos
"Hah, kamu gak tahu selama ini Azril kerja dimana?" tanya umi terkejut, Rara hanya menggelengkan kepalanya tanpa dosa
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗