
Hari terus bergulir enggan untuk berhenti
"Tunggu Baheer saya mau mampir ke sini dulu" ujar Azril, setelah melakukan pertemuan bisnis di lantai mall atas tepatnya di bagian restoran, Azril melangkahkan kakinya ke sebuah toko perhiasan
Pegawai di sana menyambut Azril dengan ramah "Silahkan tuan, mau cari apa?"
"Saya mau lihat-lihat dulu mbak" Azril menelusuri berbagai macam kalung emas yang nampak cantik, namun tak ada yang menarik baginya, ia beralih melihat kalung yang berbahan paladium yang memiliki warna putih perak mengkilap
"Bagus mana menurutmu?" tanya Azril
"Mmmm semua bagus bang"
"Apa yang ini cantik?" tanyanya, ia menunjuk kalung berinisial huruf A
"Cantik tuan, tapi namanya non Rara harusnya berinisial R, atau S nama lengkap non Rara, Syafeera" ujar Baheer
"Kamu sama sekali tidak mengerti sesuatu yang berbau romantis, saya memberikan kalung berinisial A itu karena nama saya depannya A, biar dia bisa mengingat saya terus" ujar Azril
"Oh kalau begitu kenapa tidak membeli kalung couple untuk pasangan, seperti ini" Baheer menunjuk dua kalung yang apabila disatukan akan berbentuk hati
"Tidak saya tidak memakai kalung" ujar Azril
"Mmmm mbak saya ambil yang ini" ujar Azril
"Baik tuan segera saya siapkan"
"Katanya mau yang romantis" degus Baheer
"Ck, jika kamu tertarik sama kalungnya sana usaha cari jodoh, biar gak jomblo, nanti kamu bisa beli kalung itu, kan malu kalau kamu beli tapi jomblo" decak Azril
"Ini lagi usaha bang, lagi menjalankan istikharah" ujar Baheer
"Bayar cash atau pakai kartu?"
"Ini mbak" Baheer langsung menyodorkan sebuah kartu
"Terimakasih tuan sudah berbelanja di toko kami"
Azril dan Baheer mulai melangkah keluar dari toko tersebut
"Benarkah, siapa yang kamu istikharahkan?" tanya Azril
"Saya sedang istikharah mau melanjutkan bekerja dengan abang atau berhenti" ujar Baheer
"Terus apa jawabannya?"
"Belum tahu bang, saya masih ragu meninggalkan abang"
"Apapun keputusan kamu saya tetap tidak akan menaikkan gajimu" ujarnya dingin
"Ck, kirain bakal memohon supaya saya tidak resign" decak Baheer
***
"Ahhh melelahkan" Azril menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan serta meminjat pelan pundaknya
Azril meletakkan kotak kalung yang tadi ia beli di depan meja rias yang biasa Rara gunakan
"Hadiah untuk istriku" ujarnya pelan
Setelah mandi Azril berjalan menelusuri taman mini di rumahnya, sesekali pandangannya menyapu ke arah kolam ikan tempat favorit istrinya
"Kamu bohong ra, katanya aku bisa menghubungi mu tapi kenyataannya tidak sama sekali, dan bahkan seluruh keluarga mu hanya tutup mulut enggan berbicara tentang keberadaan mu"
"Kamu bilang kan kamu pergi untuk kembali, tapi ini udah hampir 6 bulan ra kamu sama sekali tak ada kabar"
"Kau tahu Ay dan Av sudah bisa memanggil papanya namun ia belum bisa memanggil mamanya"
"Umur mereka hampir memasuki bulan ke delapan tidakkah kamu menginginkan melihat perkembangan mereka, tidakkah kamu kangen dengan mereka"
"Kamu..... baik-baik saja kan di sana"
"Apa kamu sudah sembuh"
"Apa kamu sudah tidak merasakan kesakitan lagi?"
"Ra hati kamu masih milikku kan"
Azril berjalan memasuki rumahnya dengan langkah terburu-buru karena mendengar isak tangis salah satu bayinya
"Cup cup Ay kenapa sayang" tanya Azril ia mengambil alih bayi dalam gendongan bi Wawa
"Haus ya, mau minum susu, mmmm tadi kan udah maem mau maem lagi" Azril gemas dengan tingkah Ay, ia termasuk bayi paling banyak makan daripada Av, sejak memasuki usia bulan ke enam mereka memang sudah di beri mpasi secara bertahap
"Ini susunya tuan" ujar bi Wawa sehabis membuat sufor untuk Ay
"Bi tolong lihat Av ya barang kali dia terbangun" ujar Azril
"Baik tuan" bi Wawa segera memasuki kamar sikem, nampak bayi itu tengah duduk anteng dalam box bayi
"Ehhh si jagoan udah bangun ya, mau minum susu?" tanya bi Wawa namun bayi itu tak merespon, hanya menatap bi Wawa dengan mata bulatnya yang menggemaskan
Bi Wawa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, benar kata orang tua Azril yang sering berkunjung ke sini kalau Av mirip dengan Azril, namun bukan berarti ia tak pernah menangis tentu saja ia juga menangis di kala lapar buang air atau terjatuh kala mencoba belajar berdiri dengan memegangi benda sekitarnya, cuma kadar tangisannya tak sesering Ay
Azril mencium pipi Ay "Udah kenyang mmmm gak mau di habisin ini masih seperempat lo" ujar Azril namun bayi itu malah memalingkan kepalanya "Da da" rancaunya
"Udah kenyang ya, kamu kok sama kayak mamah kamu mmmm suka ngambil makanan banyak ujung-ujungnya gak habis" ujar Azril sembari terkekeh, lagi dan lagi dia mengingat istrinya
***
Azril berjalan memasuki perusahaan model ternama, nampak banyak wanita serta pria yang sibuk bekerja, banyak ruangan studio foto di sana, bahkan tak jarang wanita yang mengenakan pakaian kurang bahan yang bekerja sebagai model
Azril berjalan sembari menunduk dalam hati terus mengucap istighfar, bisa-bisanya ia menyanggupi kakak ipar keduanya untuk bertemu di tempat seperti ini
Bukkkkk
Tanpa sengaja Azril menyenggol lengan seseorang ia mendongakkan kepalanya hendak meminta maaf namun buru-buru ia menunduk kembali
"Maaf mbak maafkan saya" ujar Azril
Perempuan tersebut hanya mengangguk, ia tidak sampai terjatuh ke lantai hanya terhuyung sedikit ke belakang karena bahu mereka tadi saling bertabrakan
"Mohon maaf mbak, tolong jangan lihat atasan saya seperti itu dia telah beristri" tegur Baheer kala melihat wanita itu yang terus memandang Azril tanpa kedip
"Heem" perempuan itu berdehem menetralkan degup jantungnya
"Saya permisi" buru-buru perempuan itu pergi dari hadapan mereka berdua
Azril tersenyum pilu "Ra cepet pulang, gimana kalau nanti suamimu yang tampan ini diambil orang" batinnya lirih, ia mendengar Baheer mengucapkan kata istrinya jadi ia malah mengingat sosok Rara kembali
Azril melanjutkan langkahnya serta Baheer yang mengekor di belakang
"Bang sepertinya ruangan ini" ujar Baheer
"Coba kamu ketuk"
Baheer menurut ia mengetuk pintu ruangan tersebut
"Iya ada apa ya?" seorang fotografer bertanya pada mereka
"Mohon maaf menganggu waktu anda, apa benar di dalam ruangan ini ada tuan Dariel
"Iya benar kalian siapa ya? ada perlu apa?"
Belum sempat menjawab pertanyaan tersebut Dariel sudah menyauti dari dalam
"Eh Nobi udah datang, suruh masuk" perintahnya
Azril dan Baheer memasuki ruangan tersebut nampaknya Dariel sedang sibuk dengan sesi pemotretannya
"Duduk" perintahnya
"Bang..."
"Stop" Dariel mengangkat tangannya menghentikan Azril yang hendak bicara
"Gimana rasanya ditinggal Rara?" tanyanya sembari tersenyum lebar
Azril menghela nafasnya nampaknya kakak iparnya ini hanya ingin mempermainkan dirinya
"Sakit bang" ujarnya singkat
Dariel tersenyum sinis
"Saya akan memberi kabar tentang Rara tapi ada satu syarat, apa kamu menyanggupi syarat nya?" tanya Dariel serius
"In Syaa Allah saya sanggup bang"
"Benarkah?"
"Untuk Rara In Syaa Allah saya sanggup" ujar Azril mantap
"Bagus kamu tenang aja syaratnya gampang kok, cukup....."
***
πΆπΆπΆ