
2 minggu kemudian
"Uhhh dah ganteng anak mamah" Rara menggendong baby Av yang sudah rapi siap menghadiri kondangan
"Sayang ayo" panggil Azril yang memasuki kamar kedua bayinya
"Stroller nya udah di masukin mobil?" tanya Rara
"Iya udah, mana lagi yang mau dimasukin?" tanya Azril
"Itu tasnya" Rara menunjuk ke arah tas yang isinya perlengkapan bayi-bayi mereka
Azril mengangguk ia segera mengangkat tas tersebut dan membawanya ke mobil
"Ada lagi?" tanya Azril yang sudah muncul di ambang pintu
"Ini bawa si Zaza" ujar Rara
Azril menggendong bayi mungil itu dalam dekapannya, ia sudah terlihat cantik dengan topinya
"Aku baru tahu kalau mbak Ita janda" ujar Rara di dalam mobil
Azril mengangguk "Suaminya sampai sekarang belum di temuin dan tidak tahu juga sudah meninggal atau masih hidup"
"Kasian ya mbak Ita, pantas aja ada yang aneh waktu kak Ammar bilang pingin ngelamar mbak Ita, ternyata pak Mino yang memohon agar mbak Ita gak semakin depresi"
"Udah setahun lamanya pergi banyak yang bilang udah meninggal, mbak Ita ditinggal dalam keadaan hamil" terang Azril
"Semoga kak Ammar bisa bahagiain mbak Ita" ujar Rara tulus
"Aamiin" timpal Azril
"Jadi suami yang bertanggung jawab terhadap istrinya"
"Aamiin"
"Dan semoga kak Ammar gak ninggalin mbak Ita sendirian"
"Aamiin"
"Gak buat mbak Ita nangis"
"Aamiin"
"Dan gak suka ngingkarin janji"
"Aa....."
"Eh tunggu dulu kok kayak ada yang aneh ya" gumam Azril
"Sayang" pekik Azril manja
"Kamu nyindir mas ya" lanjutnya
"Gak kok, apa mas ngerasa?" tanya Rara yang melirik ke samping
Baheer yang sedari tadi menyetir ikut terkekeh mendengar obrolan mereka
"Kak Baheer ada yang ngerasa kesindir, emang iya ya mas Azril gitu?" tanya Rara sok polos
"Bisa jadi non, buktinya bang Azril jadi sensi padahal kan non gak nyebutin namanya sama sekali"
"Baheer fokus nyetir" tegur Azril dingin
"Iya jadi tambah sensi" timpal Rara
"Awas kamu sayang" bisik Azril tepat di telinga Rara
"Jangan deket-deket" Rara menggeser duduknya menjauh dari Azril
***
"Duhhh sini cucu umi biar umi yang gendong" ujar umi yang meraih Ay dari gendongan Azril
"Abi juga mau gendong" timpal Abi yang mengambil alih Av dari gendongan Rara
"Acara akad nya kapan di mulai?" tanya Rara yang tidak sabar melihat kedua calon mempelai
"Setengah jam lagi, sabar ya ra" ujar Azril
"Aku gak sabar mau nyicipin hidangannya" ujar Rara, perutnya sedari tadi memang belum terisi karena ia ingin makan banyak di sini
Azril terkekeh "Mau makan sekarang?" tawar Azril
"Gak ah nanti di bilang rakus" tolak Rara
"Mas aku mau ke kamar dulu" pamit Rara
"Ayo mas anter, abi umi titip Ay dan Av ya" pinta Azril
Brukkkk
"Astaghfirullah mas bikin kaget aja" ujar Rara kala Azril menutup pintu dengan terburu-buru
Dengan sekali gerakan Azril mendorong Rara pelan mengapit istrinya ke tembok
"Mas" panggil Rara bingung
Azril menempelkan bibirnya pada bibir mungil yang selalu menjadi candu baginya
"Mas" panggil Rara lagi
"Mulutnya nakal harus di hukum" ujar Azril yang kembali nyosor
Tok tok tok
Rara mendorong tubuh Azril dan segera membuka pintu
"Ayo sayang acaranya mau dimulai" ujar umi yang masih asyik menimang Ay
"Eh iya umi"
"Lipstiknya di benerin dulu sayang itu belepotan" tegur umi yang langsung pergi begitu saja
"Duhhh" Rara meringis karena malu "Jangan sampai umi berpikiran macam-macam, cukup satu pikiran aja" batinnya
"Ayo sini sayang mas benerin" ujar Azril tanpa dosa
Rara menatap tajam ke arah Azril, namun pria itu tak mempedulikannya sama sekali, ia malah fokus sama bibir istrinya
"Ayo sini mas benerin" ujar Azril sembari mengacungkan lipstik di tangannya ntah sejak kapan lipstik itu bisa berpindah tempat
***
Rara menatap pada dua mempelai, Ammar dengan wajah berserinya yang selalu tersenyum ramah, sedangkan mempelai wanitanya nampak muram dan sedih namun sesekali ia tersenyum meski dengan paksaan
Rara apalagi Azril tahu senyum yang di berikan kak Ammar bukanlah kebahagiaan melainkan kesyukuran, ntah hari-hari apa yang akan mereka lewati yang jelas Rara dan Azril berdoa agar kakaknya memiliki keluarga yang sakinah mawadah warahmah
"Mas aku mau ngambil sate ya" ujar Rara
"Ambilin mas juga sepiring berdua" ujar Azril
"Gak mau nanti gak kenyang" tolak Rara
"Bener gak mau, sunnah lo ra" pancing Azril, selama hidup dengan Rara kini ia semakin tahu bahwa istrinya akan lemah jika disangkut pautkan dengan agama, baik sunnah apalagi kewajiban
"Masak sih?" tanya Rara bimbang
"Iya gak percaya? tanya sama umi abi" ujar Azril santai
"Ya udah Rara ambilin sepiring berdua" ujar Rara yang segera pergi ke tempat prasmanan di sajikan
Senyum di bibir Azril terbit kala berhasil membujuk istrinya
"Ini mas" wanita itu kini telah duduk di samping Azril dengan sepiring sate dan lontong namun dengan porsi kira-kira dua orang
"Tadi aku di omongin sama orang-orang katanya rakus" adu Rara pada suaminya
"Siapa yang ngomongin sini biar mas tegur"
"Gak tahu siapa mereka pakai almet, terus aku bilang aja ini buat ustadz Azril dia makannya emang dua porsi, eh terus mereka bilang minta maaf katanya jangan di kasih tahu ustadz Azril gitu" ujar Rara dengan santainya
Azril menelan ludahnya dengan susah payah, ia melihat ke piring baginya ini tiga porsi, satenya aja ada sekitar tiga puluhan belum lagi lontongnya yang menggunung dengan saus kacang kecap di atasnya
Apa tadi Rara bilang almet itu berarti santri kelas akhir karena memang hanya santri kelas akhir yang di undang, karena pernikahannya berada di dalam pondok, sedangkan santri lain hanya di beri nasi kotak saja tanpa harus menyaksikan
Bisa-bisanya istrinya menjual namanya hancur sudah harga dirinya
"Mas ayo makan" ujar Rara yang sudah melahap tusukan sate
"Iya ra, makan yang banyak ya" ujar Azril dengan sabarnya
"Kayaknya mereka gak tahu deh kalau aku istri kamu, apa mereka lupa, iya wajar sih wajah aku yang muda gini mungkin dikira sepantaran sama mereka"
"Tapi tadi mereka langsung ketakutan gitu pas aku sebut ustadz Azril, ternyata bukan cuma tikus doang ya yang takut sama mas" rancau Rara
Yups Azril memang sangat di segani di sini bahkan lebih di segani di banding Ammar, ia yang terlalu tegas dan dingin bahkan sangat disiplin membuat para santri putra sangat menghormatinya, ia tak segan-segan menghukum siapa saja yang telah melanggar peraturan tanpa ampun sesuai peraturan dan tak ada toleransi
Rara melirik ke arah Azril, pria itu tak kunjung makan hingga akhirnya Rara mengarahkan satu tusuk sate ke mulut suaminya
Azril melirik ke arah Rara "Ayo makan, udah gak usah sedih aku gak pa pa kok diomongin orang udah biasa" ujar Rara sembari menepuk pelan punggung suaminya
Azril menerima suapan Rara "Kalau kamu suapi gini terus gak pa pa deh kamu jual nama mas" batin Azril senang
***
see you next episode, thanks for your reading, Ilal iqo' wa sanal taqi fi yaumil ghod In Syaa Allah