
"Aku akan ke sana sekarang"
Dengan segera ia mengambil kunci mobilnya pikirannya sudah kacau di penuhi suara Rara yang terus terngiang-ngiang, sesekali dia memukuli setir mobilnya
"Sebenarnya apa yang telah aku lakukan" Azril mengusap rambutnya dengan kasar
Mobil melesat dengan kecepatan penuh, sesampainya di bandara Azril langsung mempercepat langkah kakinya menuju loket pembelian tiket ia mencari tiket pesawat yang berangkat paling awal namun sayangnya tiket paling awal pukul empat pagi, Azril melirik jam tangannya sekarang masih pukul setengah dua pagi itu artinya ia masih harus menunggu dua setengah jam lagi
Dengan langkah gontai dia berjalan menuju ruang tunggu, dia tidak membawa barang apapun hanya dirinya serta identitas nya
Berkali-kali dia menghubungi hp Afham namun tidak ada jawaban sama sekali terakhir dilihat pukul setengah satu ketika Rara menelponnya, hati Azril terasa gelisah sebegitu menderita nya kah Rara di sana
"Astaghfirullah" Azril mengucapkan istighfar berkali-kali untuk menenangkan hati dan pikirannya
Sesekali ia berdiri dan berjalan mondar mandir hingga membuat orang di sekitarnya ikut resah
"Mas kalau lagi gelisah jangan di bagi-bagi dong, pusing saya liat mas dari tadi bolak balik kayak setrikaan" ujar seorang ibu-ibu yang sedang memangku anaknya
"Maaf bu saya tidak bermaksud membagi kegelisahan saya, mungkin ini rezeki ibu" ujar Azril
"Tau ih mas kalau mau di bagi tuh ketampanannya bukan kegelisahannya" timpal seorang pria yang duduk di samping ibu tersebut mungkin ini anaknya juga
"Mas tampan kok di mata orang yang tepat" ujar Azril asal hingga membuat pria tersebut bergidik ngeri
Setelah menunggu sekian lama akhirnya dia dapat menaiki pesawat, perjalan dari bandara Soekarno-Hatta menuju bandara Juanda sekitar satu jam lebih, hatinya merasa gelisah ntah apa yang akan terjadi tapi hati kecilnya mengatakan bahwa sesuatu sedang terjadi
Azril nampak tidak nyaman, dia berulang kali membenarkan posisi duduknya sesekali dia melirik jam tangan yang bertengger di pergelangan tangannya, tak lupa dia memantau hp yang ia genggam sedari tadi barang kali ada kabar atau berita mengenai Rara
Pesawat mendarat dengan selamat dengan segera dia melangkahkan kakinya untuk singgah di musholla untuk melaksanakan shalat shubuh, setelah selesai bersimpuh di hadapan Allah dia memesan taksi untuk pergi ke pesantren tempat Rara di ungsikan
Azril memasuki pesantren suasana nampak ramai banyak wali murid yang mengunjungi putra putrinya karena hari ini merupakan hari yang sangat spesial bagi siswa siswi akhir
Tujuan utamanya adalah rumah Afham ya karena kemarin Rara memakai hp Afham kemungkinan Afham tahu keberadaannya, namun dia terkejut karena di sana terdapat beberapa polisi yang sedang duduk sembari berbincang bincang dengan Afham, ntah apa yang mereka bicarakan namun sayup sayup ia mendengar nama Syafeera Halwah Adelard, ya tidak salah lagi itu adalah nama istrinya meski dia menyebut nama itu hanya ketika waktu ijab kabul tapi dia masih teringat dengan jelas siapa nama istrinya
"Ada apa dengannya?" mereka semua menoleh ke arah Azril yang masih berjalan mendekati mereka
"Azril kapan kamu sampai?" tanya Afham ragu
"Kenapa kalian menyebut nama istri ku?" tanya Azril penasaran ntah kenapa hatinya merasa deg deg an ketika menunggu jawaban dari mereka semua
Polisi menoleh ke arah Afham seakan-akan bertanya "Siapa orang yang baru datang ini?"
"Mmmm Azril kamu duduk dulu pasti kamu capek kan baru sampai" ujar Afham sembari mempersilahkan Azril untuk duduk, Azril mengikuti perkataan Afham dia duduk di samping Afham dengan gelisah
"Afham ada apa ini, dimana Rara?" tanya Azril lagi karena sehabis ia duduk semua orang diam membisu ntah apa yang mereka tunggu
"Azril kenapa kamu baru bertanya sekarang sebelum-sebelumnya kamu kemana?" tanya Afham yang membuat Azril terdiam, wajah Afham menyiratkan sebuah kekecewaan yang telah di perbuat oleh saudara sepupunya ini
"Azril kenapa kamu tidak pernah mengunjungi dia?" tanya Afham lagi namun Azril tetap membungkam mulutnya
Afham menghela nafas pelan "Kamu mau ketemu Rara kan, tapi setelah ketemu Rara apa yang akan kamu lakukan?"
"Segampang itu" Afham tersenyum sinis
Dahi Azril berkerut melihat Afham yang tersenyum sinis kepadanya
"Sekarang jawab saya dimana Rara?" tanya Azril kali ini dia bertanya kepada polisi yang ada di hadapannya
Polisi itu menatap ke arah Afham meminta persetujuan, Afham hanya mengangguk lemah
"Apa benar bapak suami dari saudari Syafeera Halwah Adelard?" tanya polisi tersebut
"Iya benar saya suaminya dimana dia sekarang? kenapa kalian bisa berada di sini? apa hubungannya dengan istri saya? apa istri saya melakukan sebuah kesalahan?" tanya Azril bertubi-tubi
"Tidak istri anda tidak melakukan kesalahan apapun, kami kesini hanya meminta data korban..."
"Maksud pak polisi apa? korban apa?" tanya Azril panik dia langsung memotong pembicaraan polisi layaknya memotong jalan dengan paksa yang seharusnya tidak di lewati
"Ya istri bapak merupakan salah satu korban kecelakaan, saat ini dia sedang di rawat di rumah sakit" polisi menghentikan ucapannya ketika melihat raut wajah Azril yang berubah pucat dan tegang
Azril diam terpaku kenapa bisa begini, bukankah semalam istrinya menelponnya, hati Azril bergemuruh sesak rasanya mendapat kabar seperti ini, lagi-lagi Azril mengingat suara isak tangis istrinya suara pilu yang keluar dari bibir mungil Rara terus berputar di otaknya
"Azril" Afham menepuk bahu Azril berkali-kali untuk menyadarkan dirinya dari lamunannya
Seketika Azril langsung bangkit dan berlari, tujuannya hanya satu rumah sakit tempat Rara di rawat
Kini disinilah Azril berdiri, di depan ruang ICU ruangan yang tertutup rapat dengan jadwal kunjungan yang teratur dan batas waktu dalam mengunjungi pasien, tidak boleh sembarang orang memasuki tempat tersebut
"Sus bolehkah saya masuk untuk melihat istri saya" tanya Azril ketika melihat suster yang keluar dari pintu ruang ICU
"Maaf pak belum waktunya kunjungan" ujar suster itu ramah
"Tapi sus istri saya di dalam dia mengalami kecelakaan saya belum melihatnya sama sekali" ujar Azril sendu
"Siapa nama istri bapak?" tanya suster tersebut
"Syafeera dok Syafeera Halwah Adelard" ujar Azril
"Bapak suami dari korban kecelakaan truk pukul dua pagi itu?" tanya suster memastikan
"Iya sus benar saya suami dari korban tersebut, tolong izinkan saya melihat keadaan istri saya" mohon Azril lagi
"Baik pak silahkan masuk" suster tersebut memberi izin untuk Azril memasuki ruang ICU
Azril menatap seluruh isi ruangan, ruangan dengan tiga orang pasien dengan peralatan yang melekat pada tubuh mereka masing-masing tergantung penyakit apa yang mereka alami
Pandangannya ia edarkan mencari sosok Rara, matanya menatap sosok perempuan dengan alat oksigen untuk membantu pernafasannya, dia berjalan mendekat ke arah ranjang tersebut
"Pak mohon maaf pasien yang bernama Syafeera di ranjang sebelah kanan" tegur suster tersebut sembari menunjukkan ranjang milik Rara
Deg