
"Kamu.... kenapa bisa ada di sini? Sejak kapan kamu datang?" tanya Azril heran sembari menatap ke arah Faishal
"Baru aja datang, sejak kamu bilang maaf ra aku belum bisa mencintai mu, aku juga yakin kamu masih belum bisa move on kan dari mantan kamu" ujar Faishal yang menirukan gaya bicara Azril
"Itu namanya dari tadi" ujar Azril kesal, bisa-bisa nya Faishal menguping isi hati Azril
"Bicara di luar" Faishal langsung berjalan keluar dari ruang ICU
"Ra aku keluar bentar ya, aku gak kemana-mana kok aku di depan" ujar Azril kemudian dia mengikuti Faishal keluar dari ruang ICU
Azril menduduki dirinya tepat di samping Faishal dengan pandangan yang lurus ke depan
"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Azril tanpa mengalihkan pandangannya
"Aku baru tahu kejadian yang menimpa Rara" ujar Faishal
"Terus" ujar Azril datar
"Azril sebenarnya aku bingung sama kamu kenapa kamu jadi begini, kemana ilmu agama yang kamu miliki apakah sudah hangus terbakar di panggangan atau sudah gosong akibat menggoreng terlalu lama" ujar Faishal santai
"Hey apa maksudmu" Azril mengerutkan dahinya
"Ya mungkin karena kamu sudah lama tidak mengajar di pesantren lagi dan malah sibuk mengurus restoran kamu itu makanya otak kamu juga berpindah tempat" ujar Faishal menjelaskan dengan bahasa manusiawi
Azril menatap Faishal tajam yang di tatap malah acuh tak acuh
"Azril sebenarnya kamu percaya takdir gak sih?" tanya Faishal
"Ya percaya lah" ujar Azril cepat
"Apakah jodoh termasuk takdir?" tanya ustadz Faishal dengan nada layaknya bertanya pada bocah SD
"Iya" jawab Azril
"Terus kenapa kamu masih belum bersahabat dengan takdir mu sendiri?" tanya Faishal
"Aku bingung shal, kau tahu sendiri kan bagaimana aku memperjuangkan cinta ku dulu" ujar Azril sedih
"Hooh" Faishal menganggukkan kepalanya
"Kau tahu betapa susahnya bersahabat dengan masa lalu itu, betapa susahnya melupakan orang yang kita cintai, betapa sakitnya mencintai orang yang tidak bisa kita miliki" ujar Azril sendu
"Kau tahu betapa sakitnya mendengar hinaan dan cacian dari orang lain, betapa sakitnya mendapat tuduhan yang sama sekali tidak di lakukan, betapa tidak nyamannya mendapat tatapan ketidak sukaan dari orang yang sama sekali tidak di kenal hanya karena fitnah semata, dan itu semua terjadi pada istrimu" Faishal menusuk beberapa kali dada Azril dengan jari telunjuknya
"Bukankah Rara juga memiliki mantan, itu artinya Rara juga merasakan apa yang kamu rasakan cuma bedanya DIA BISA MENERIMA SEMUA TAKDIR NYA DENGAN BAIK TAPI TIDAK DENGAN LO YANG MALAH TERPERANGKAP DENGAN MASA LALU" ujar Faishal penuh penekanan, Azril tertegun mendengar perkataan dari Faishal biasanya orang ini penuh dengan humornya namun kini tatapannya menyiratkan keseriusan
"CK ck ck ck Rara seorang perempuan tapi mentalnya kuat sedangkan kamu hanya karena putus cinta udah lembek kayak kerupuk yang kena kuah" decak Faishal sembari menggelengkan kepalanya
Azril menatap ke arah Faishal, hatinya mulai melemah kala mengingat kembali telpon terakhir dari Rara
"Aku paham shal, benar kata dia aku telah menyakitinya bahkan sampai titik terendah yang dia miliki, setelah aku menyelesaikan masalah Rara di pesantren aku akan membawanya pergi dari sini, aku akan mencintainya serta membangun keluarga kecil bersamanya" ujar Azril yakin
"Janji" Faishal menyodorkan jari kelingkingnya layaknya bocah berusia lima tahun
"Shal kamu udah tua gini masih kayak bocah aja kelakuannya, mending aku masuk ke dalam aja nemenin Rara bentar lagi jadwal kunjungannya habis" Azril langsung masuk ke ruang ICU untuk menemui Rara kembali
"Cihh habis manis sepah di buang" ujar Faishal sinis
"Suatu saat nanti kamu akan berterimakasih kepada ku hahahahaha hahahaha" Faishal tertawa sendiri hingga membuat orang yang melewati tempat Faishal duduk bergidik ngeri
***
"Afham tolong panggilin setiap anak yang berhubungan dengan istri ku setelah acara kelulusan selesai, suruh mereka datang ke ruang guru" Azril berbicara di telpon dengan Afham, kini dia sedang berada dalam perjalanan ke pesantren
Sesampainya di pesantren dia langsung ke ruang guru, masih kosong rupanya, beberapa
"Ada apa tadz manggil kita?" tanya Zelin
"Ada apa gerangan ustadz memanggil kita?" ujar Shella sopan
"Apa kalian dekat dengan Rara?" tanya Azril to the point
"Iya bisa di katakan kita tuh sedekat mentari" ujar Zelin
Shella langsung menyikut lengan Zelin "Mentari jauh oneng" bisik Shella tapi tetap mampu di dengar oleh Azril dengan jelas
"Terus apa dong?" tanya Zelin bingung
"Sedekat nadi" ujar Shella membenarkan
"Oh ya lupa, maksud saya kita sedekat nadi ustadz" ujar Zelin membenarkan perkataannya tadi
"Apa kalian pernah menyakiti istri saya?" tanya ustadz Azril
"Mana mungkin ustadz justru kita ini sang penolong" ujar Zelin bangga
"Benar ustadz, oh ya Rara mana ya kami belum foto sama dia, sekalian saya punya hadiah buat dia" tanya Shella
"Benarkah yang kalian ucapkan?" tanya Azril memicingkan matanya
"Tentu saja ustadz Nathan saksinya" ujar Zelin kala melihat ustadz Nathan yang baru saja memasuki ruangan tersebut
Azril menatap ke arah Nathan "Benarkah nath?" tanya Azril
"Kenapa bang?" Nathan yang tidak tahu arah pembicaraan mereka hanya melongo mendengar pertanyaan yang langsung ditujukan ke dirinya
"Apa mereka berdua merupakan teman Rara?" tanya Azril
"Oh iya bang, mereka berdua teman Rara meskipun sedikit tidak waras" ujar Nathan santai
Zelin memelotot kan matanya kala mendengar hinaan dari ustadz Nathan
"Apa mereka pernah menyakiti Rara?" tanya Azril lagi
"Tidak bang mereka berdua yang selalu menemani Rara, oh ya bang aku pamit dulu ya masih ada urusan soalnya" ujar Nathan yang mendapat anggukan dari Azril, tadi dia ke kantor guru hanya ingin mengambil barangnya sebentar
"Siapa saja yang pernah menyakiti Rara?" Azril lanjut mengintrogasi mereka berdua
"Setahu kita cuma Lesy dan Tari" ujar Zelin
"Apa Rara pernah mengatakan sesuatu kepada kalian?"
"Pernah" ujar Zelin semangat kala mengingat perkataan Rara di masjid
"Apa?" tanya Azril penasaran
"Dia bilang pingin nambah suami lagi" ujar Zelin santai, mata Azril langsung melotot mendengar perkataan Zelin
"Tapi....."
"Tapi apa?" nampaknya Azril sudah tidak sabar mendengar kelanjutannya
"Tapi kayaknya dia cuma bercanda hehehehe, waktu itu kita lagi shalat istikharah tapi aku juga gak tau sih dia shalat istikharah untuk apa, kayaknya sih agar mengetahui jodohnya" Zelin mengklarifikasi ucapannya tadi bisa gawat kalau sampai Azril mengamuk, di depannya ini bukanlah ustadz Faishal yang gampang di ajak untuk bercanda
"Ustadz pertanyaan saya tadi belum di jawab, dimana Rara?" Shella mengalihkan ucapannya agar suasana tidak tegang karena ulah Zelin
"Rara di......"