
604800 detik kemudian
"Mas hari ini jadwalku kontrol"
"Dua hari lalu kan udah periksa kandungan" ujar Azril, tangannya sibuk mengancing baju kemejanya
"Bukan ke dokter kandungan tapi ke psikiater"
"Astaghfirullah mas lupa, mas kira masih lama"
"Nanti aku ke sana sendiri aja"
Azril nampak bingung pasalnya hari ini ia harus pergi ke Bogor untuk mengurus beberapa hal yang tidak bisa di tunda
"Mas" panggil Rara
"Besok aja ya sama mas, hari ini mas gak bisa"
"Iya makanya aku ke sana sendiri"
"Jangan mas gak tenang, apa di temani sama umi aja"
"Gak usah mas aku bisa sendiri kok, jangan ngerepotin umi lagi"
Azril nampak berpikir hingga kemudian ia menyetujuinya
"Iya boleh tapi di antar sama pak Mino"
"Gak usah mas, pak Mino pasti sibuk"
"Mas chat pak Mino sekarang" Azril meraih hpnya, ia mengetikkan pesan agar dapat terbaca oleh pak Mino
Ia menunggu balasan pesan dari pak Mino, sesekali ia melirik jam di pergelangan tangannya
"Gak usah mas nanti kamu telat lo, ini tasnya" Rara menyerahkan tas ke suaminya
"Mas gak tenang"
Ting
Azril melirik notif di layar hpnya "Eh ini udah di balas"
"Pak Mino bisa ra, nanti diantar pak Mino ya, mas berangkat dulu, hati-hati nanti di jalan, kalau ada apa-apa hubungi mas" Azril memberikan kecupan di dahi Rara sekilas
"Iya iya aku tahu, kamu juga hati-hati" ujar Rara, ia mencium punggung tangan suaminya, kebiasaan ini terjadi beberapa hari setelah ia tinggal di rumah mertuanya, Azril lah yang awalnya menyodorkan tangannya sebelum berangkat kerja di depan umi atau abinya, tentu saja mau tidak mau Rara harus menurut
Rara memandang kepergian suaminya "Maaf mas" gumamnya pelan
Sekitar pukul sembilan sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah Azril dan Rara, nampaknya pak Mino telah datang memenuhi amanat untuk mengantar Rara ke rumah sakit
Mendengar suara bel Rara buru-buru merapikan jilbab ia segera meraih tas dan bergegas ke depan rumah
"Maaf ya pak lama" ujar Rara, pak Mino hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya
Mobil melaju menuju rumah sakit, tak ada pembicaraan yang terjalin di antara keduanya, Rara tak mau membuat kesalahan untuk kedua kalinya pada sosok pria paruh baya yang tengah menyetir, hingga tibalah mereka di rumah sakit
"Pak Mino tunggu sini aja, atau pak Mino boleh jalan-jalan keliling Jakarta, nanti saya hubungi kalau sudah selesai, takutnya pemeriksaannya lama nanti pak Mino bisa bosan"
Pak Mino mengangguk paham, namun ia tetap memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit
***
"Makasih dok, kalau gitu saya pamit dulu" pamit Rara setelah melakukan beberapa instruksi serta menerima obat dari dokter psikiater yang menangani penyakitnya
Rara berjalan melewati lorong rumah sakit, kakinya berhenti tepat di sebuah ruangan, ia mengetuk pintu ruangan tersebut berulang kali
"Masuk" ujar seseorang dari dalam
"Eh Rara, ayo duduk dulu"
Rara menurut ia duduk berhadapan dengan seorang dokter yang sangat ia kenal
"Kamu yakin?"
"Iya om"
"Berbaringlah, biar om USG dulu, kamu belum pernah USG kan"
Rara hanya menanggapi ucapan omnya dengan mengangguk, ia mulai berbaring sesuai perintah tadi
Dokter itu nampak serius memperhatikan layar monitor, dahinya mengernyit kala mendapati dugaannya benar
"Benar ra, jadi apa yang ingin kamu lakukan sekarang?"
Wajah Rara tampak pias, ia dilema tapi baginya ini lebih baik dilakukan daripada kejadian yang dialami oleh mamanya terulang kembali
"Cowok apa cewek?" tanya Rara lirih
"Sebentar" dokter itu melihat ke arah layar lagi dengan teliti, mencari jenis kelamin pada dua janin yang tumbuh dalam kantung yang berbeda, benar-benar keturunan
"Satunya cowok, tapi yang satunya tidak dapat terlihat, janin kamu udah mau lima bulan, salah siapa baru melakukan USG sekarang" timpalnya
Rara menghembuskan nafasnya kasar "Kalau gitu yang cowok saja, kemungkinan besar yang satu cewek bukan"
"Haish jika mamamu tahu..."
"Maka aku akan bernasib sama dengannya bukan, sama dengan sebelum-sebelumnya" potong Rara
"Ra siapa tahu ada keajaiban, apa kamu tega...."
"Mana buktinya? sebelum sebelumnya gak ada kan?"
"Ada ra pasti ada, kita tidak akan tahu jika belum mencobanya"
"Dan ketika kita mencobanya maka hanya ada tanah kubur yang masih basah"
"Ra, tapi kandungan kamu sehat"
"Mama, nenek, nenek buyut, dan sebelum-sebelumnya semua sehat tapi apa" ujar Rara dengan nada yang tinggi
Rara turun dari ranjang ia berjalan dan duduk di kursi "Aku minta prosedur nya"
"Haishh"
Seputar pemeriksaan serta pertanyaan di lontarkan kepada Rara agar proses ke depannya dapat berjalan dengan lancar, ia juga memastikan bahwa kandungan Rara memenuhi syarat
"Om hanya bisa mendoakan kamu yang terbaik, datanglah nanti ketika kamu mendapat telpon dari om, dan saat itu tiba kamu masih bisa membatalkannya"
"Baik om terimakasih, aku percaya sama om"
"Aku pamit dulu om"
"Assalamualaikum"
"Haissshhh ra, aku bisa di bunuh mamamu" pekik dokter tersebut kala pintu telah tertutup
***
"Gimana tadi pemeriksaannya? Disuruh apa aja tadi? Apa ada perubahan? Coba mas lihat hasilnya sama obatnya" baru saja pulang Azril sudah memborong Rara dengan pertanyaan
"Mandi dulu mas, baru nanya nanya, udah aku siapin air hangat"
"Nanti aja mandinya, jawab dulu pertanyaannya mas" Azril malah menarik Rara agar duduk di sampingnya
Setelah Rara menjawab serta memperlihatkan obatnya barulah Azril memasuki kamar mandi
"Pantes di kamar gak ada" ujar Azril kala melihat Rara sibuk memasukkan cemilan ke dalam toples, wajahnya terlihat tampak segar dengan rambut yang masih lembab
"Buat apa sayang?"
"Nih mas cobain basrengnya, ini gak pedes" Rara menyodorkan toples yang penuh dengan basreng
"Ayo makan ini sambil nonton tv" Azril mengambil alih toples dan beranjak ke ruang keluarga, Rara mengikuti Azril dari belakang dengan membawa minuman
Kini dua orang itu sedang menonton tv di temani dengan basreng, Azril merengkuh pundak Rara sembari menikmati film yang ada di hadapannya
"Mas" panggil Rara pelan
"Mmm"
"Mas cinta kan sama aku"
"Banget"
"Gak akan ninggalin aku kan"
Azril menatap wajah Rara dari samping, gak bisanya istrinya berkata seperti itu
"Kan mas harus kerja sayang"
"Ihhh bukan ninggalin seperti itu maksudnya"
"Terus?"
"Ya pergi gitu dari kehidupan aku dan mencari hidup baru dengan wanita lain"
"Astaghfirullah ya gak lah sayang"
"Bener ya aku pegang kata-kata kamu"
"Jangan di pegang aja, tapi juga di simpan di hati"
"Oh ya mas jadi kan pergi ke Surabaya tiga hari lagi?" tanya Rara memastikan
"Gak jadi, perut kamu udah besar gini, mas gak sanggup terlalu jauh dari kamu" Azril mengelus perut Rara lembut
"Yahh" terdengar nada kecewa dari mulut Rara
"Kamu kok kecewa gitu, kamu mau mas pergi?"
"Kan pekerjaan kamu penting mas, gak pa pa pergi aja"
"Kamu lebih penting"
"Mas, gak pa pa kok pergi aja aku bisa nginep di rumah mama, pingin nginep di sana"
"Ya nanti kita nginep berdua"
"Aduh gimana nih kalau gak jadi pergi, bakal berantakan" batin Rara meringis
"Sayang kamu nyembunyiin sesuatu ya?"
"Eh gak kok mas, emang aku bisa nyembunyiin apa dari kamu?"
"Banyak"
"Banyak dari mana, kamu ngehack hp aku lagi kan" gerutu Rara sebal, lima hari lalu ia merasa aneh ternyata benar suaminya menghack hpnya lagi
"Hehehehe ketahuan, habis mas ingin tahu apa aja yang kamu lakukan" Azril malah cengar-cengir mendengar keluh kesah Rara
"Kamu melanggar privasi aku mas" bentak Rara
"Gak ada privasi di antara kita ra, mas pingin tahu semua tentang kamu, apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu alami"
"Kamu juga boleh ngecek hp mas, kamu boleh nanyak apa aja ke mas pasti mas jawab"
"Posesif banget sih"
"Iya harus, karena kamu sosok yang harus mas jaga seumur hidup mas, dan sosok yang harus mas pertanggung jawabkan di akhirat kelak"
Rara memalingkan wajahnya ia tak sanggup melihat ketulusan yang terpancar di mata Azril, jika suaminya tahu apa yang ia rencanakan apa masih ia bersikap seperti ini
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗