
"Ammar mau abi"
Azril langsung menatap ke arah abangnya dengan tatapan ketidak percayaannya, ada sorot kekecewaan yang terpancar jelas di matanya
"Hahahaha" gelak tawa Ammar memenuhi ruang makan, melihat kakak iparnya tertawa Rara menutup mulutnya dan menunduk ke bawah, rasanya dia juga ingin tertawa lepas seperti itu kala melihat raut wajah Azril
"Heh bang kok malah ketawa sih" tegur uminya
"Lucu aja umi lihat wajah dia yang kayak gitu" Ammar menunjuk ke arah Azril, dengan segera Azril merubah raut wajahnya
"Kamu masih ada rasa ya sama Azizah?" pancing Ammar tiba-tiba
"Gak kok bang, udah gak ada" jawab Azril cepat
"Masak sih?" Ammar semakin gencar menggoda Azril
"Bang udah dong jangan godain adik kamu terus" tegur uminya
"Jadi kamu setuju?" tanya abinya lagi untuk memastikan
"Gak abi aku cuma bercanda hehehe" Ammar malah cengar cengir sendiri
"Bi tolong izinin aku untuk cari pasangan sendiri ya, aku gak mau sama Azizah karena emang dari awal aku gak ada rasa dan gak tertarik sama dia, dia memang wanita yang baik tapi maaf bi Ammar gak mau, apalagi hati dia masih tertera nama pria lain" ujar Ammar bijak sembari menatap ke arah Azril
"Emang kalau hatinya sudah tidak tertera nama pria lain kakak mau?" tanya Rara tiba-tiba
"Ehhh..... ya gak juga sih ra, jujur aja ya kakak gak tertarik, itu kan bukan urusan kakak, lagi pula nih ya kalau dari awal kakak tertarik sama Azizah udah kakak rebut duluan dianya hahahaha" ujar Ammar melirik Azril
"Iya juga ya kak, nikung sahabat sendiri mah udah biasa, kalau nikung saudara kandung sendiri baru luar biasa" ujar Rara datar
"Hahahaha ada-ada aja kamu ra, toh juga kakak sudah menemukan wanita yang menarik perhatian kakak" ujar Ammar
"Siapa kak?" tanya Rara penasaran
"R A H A S I A" Ammar mengeja huruf nya satu persatu sembari tersenyum lebar
Azril merasa lega kala mendengar jawaban abangnya
"Ya sudah kalau itu keputusan kamu abi tidak akan memaksa, sama seperti sebelumnya" ujar abinya
Ammar mengingat kala abinya menawarkan dirinya apakah mau di jodohkan dengan Rara atau tidak, tapi waktu itu dengan mantap Ammar mengatakan mau, maka dari itu perjodohan kedua belah pihak terjadi, berbeda dengan papa Rara yang memaksa putrinya
"Oh ya mas sebentar lagi ada acara di pesantren" ujar umi yang baru saja mengingat ucapan Amy tadi
"Iya dek, tadi udah di telfon sama bang Ar, kalian semua ikut ya" ajak abi
"Iya abi" jawab Azril dan Ammar kompak
***
Mobil keluarga Azril kini telah sampai di pesantren, rumah kakeknya tampak sepi mungkin mereka semua sudah pergi ke lokasi acara
"Ra kamu mau ikut ke masjid?" tanya Azril sembari mengenakan baju kokonya, kini mereka berdua berada di kamar milik Azril, kamar yang dulu pernah Rara singgahi sehabis akad nikahnya, namun sayangnya Rara tidak mengingat hal itu
Rara menatap datar ke arah Azril yang sibuk mengancing baju kokonya
"Mau tapi kayak gini aja" ujar Rara sembari menunjuk pakaian yang ia kenakan
"Hah? ra nanti kamu di taruh di tempat pria aja" ujar Azril menatap ke arah Rara
"Kalau gitu aku di sini aja" Rara merebahkan tubuhnya di kasur
"Ya udah aku berangkat dulu ya, aku tinggalin hp aku di sini kalau kamu bosan bisa main hp, besok aku akan membelikan hp baru buat kamu" ujar Azril
"Dari dulu kek" gumam Rara pelan kala melihat Azril sudah menghilang dari balik pintu
Sedetik kemudian dia beranjak dari rebahan nya, tenggorokannya terasa kering dia bergegas keluar kamar mencari sumber air yang ada di rumah ini
"Mau air" ujar Rara singkat
"Bentar ya aku ambilkan dulu" Azril melangkahkan kakinya ke arah dapur
Sembari menunggu Azril dia melangkahkan kakinya ke sembarang arah, dia berjalan sembari membaca nama-nama yang tertera di depan pintu "Lucu" itulah pemikiran Rara
"Rumah ini seperti kos kosan aja banyak pintu kamar" gumam Rara pelan
Tanpa sengaja lengan Rara menyentuh lengan seseorang, Rara tertegun kala sepintas telapak tangannya menyentuh punggung tangan yang tidak asing baginya, dengan cekatan Rara menggenggam tangan tersebut hingga membuat pemilik tangan menghadap ke arahnya
Deg
Dahi Afham berkerut kala melihat tingkah orang yang menggenggam tangannya, namun kemudian dia mengingat wajah ini, ya tidak salah lagi ini adalah Rara
Pemikiran Rara mulai kalut, bayang-bayang tubuh penuh darah melintas begitu saja
"Neng harus selamat"
Ucapan itu tergiang-giang lagi di otaknya, matanya ia kerjapkan berulang kali mencari memori ingatan yang terpotong dalam mimpi-mimpi buruknya
Afham berusaha melepaskan genggaman Rara namun tangan Rara semakin kuat menggenggamnya
Afham terlihat bingung menatap Rara penuh tanya, tangan kiri Rara sedari tadi memegang kepalanya sedangkan tangan kanannya menggenggam kuat tangan Afham
"Tidak salah lagi dia orangnya" batin Rara dalam hati
"Dimana dia? apakah bapak itu selamat?" tanya Rara tiba-tiba
Afham mengunci mulutnya rapat-rapat mencerna ucapan yang di lontarkan oleh Rara
Tak kunjung mendengar jawaban tanpa sadar Rara berteriak "Dimana dia? apa kamu berhasil menyelamatkannya hah?"
Afham tertegun mendengar Rara membentaknya, ya dia tahu bahwa Rara telah kehilangan ingatannya namun tak di sangka Rara masih mengingat dirinya, tidak lebih tepatnya hanya mengingat wajahnya saja
Kedua tangan Rara mencengkeram pundak Afham "Saya tanya dimana bapak itu? waktu itu bukankah saya meminta tolong padamu untuk menyelamatkannya" ujar Rara lirih, air matanya perlahan mengalir menelusuri pipi mulusnya
Azril langsung berlari menghampiri Rara kala menemukan sosok istrinya yang sedari tadi ia cari
"Ra....." Azril bingung akan situasi yang ada di hadapannya ini
"Jawab dimana dia hah?" Rara menguncang-guncangkan tubuh Afham dengan sisa tenaganya
"Jawab dimana bapak itu? apa kamu berhasil menyelamatkannya?"
Azril menatap ke arah Afham, nampak wajah Afham terlihat sendu kala menatap Rara yang terus menangis menanyakan sesuatu yang telah hilang dari muka bumi ini
Perlahan tangan kokoh Azril memeluk tubuh Rara dari samping, tangan Rara yang mencengkram pundak Afham ia lepaskan, dengan seketika tubuh Rara langsung merosot ke bawah, tubuh Azril otomatis mengikuti pergerakan tubuh Rara, tangannya setia memeluk tubuh mungil istrinya dari samping
"Dimana dia? aku ingin menemuinya" ujar Rara sendu dalam pelukan Azril, tak henti-hentinya tangan kiri Azril mengelus lembut kepala Rara, ia berusaha memberikan ketenangan pada istrinya yang terlihat rapuh
"Dimana bapak itu? dimana dia? dia yang sudah menyelamatkan aku, apa kamu berhasil menyelamatkannya?" Rara terus merancau menanyakan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, ingatannya hanya tertuju pada pria paruh baya tersebut
Afham berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Rara yang berada dalam pelukan Azril "Ra Allah lebih sayang sama bapak itu"
Mata Rara menatap Afham dengan lekat "Apa maksud mu?"
"Bapak itu sudah berada di sisi Allah, beliau sudah tertidur lelap dalam gundukan tanah" ujar Afham yang mampu menusuk relung hati Rara
"Ngak kamu bohong, kamu bohong, kamu janji bakal nyelamatin dia kan, kamu janji" teriak Rara tepat di hadapan Afham
"Sayang kamu tenang dulu" Azril semakin erat memeluk Rara
"Sayang"
"Hiks hiks hiks" isak tangis Rara semakin lama semakin melemah, seketika semua berubah menjadi gelap dalam pandangannya