
"Tara lihatlah dek ini adalah kamar kamu" ujar Dariel yang baru saja membuka pintu kamar Rara, dia memasuki kamar tersebut sembari menggeret koper milik Rara
Rara mengedarkan pandangannya, kamar yang rapi dan luas dengan nuansa cat berwarna kuning muda di padukan dengan putih dan emas
"Nah kamu istirahat ya, kakak masih banyak urusan, jangan kangen oke" Dariel segera pergi meninggalkan kamar Rara
Rara langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan luas, pikirannya masih terasa lelah karena drama berkepanjangan yang terjadi tadi pagi di rumah sakit, setelah dokter memeriksanya tadi siang Rara sudah resmi boleh meninggalkan rumah sakit namun tetap ada kontrol kesehatan, setelah itu papa dan mamanya membawa dia ke salon untuk merapikan rambutnya tentu saja Azril juga ikut mengekori mereka
"Kamu istirahat dulu ya, mama mau buatkan makanan kesukaan kamu untuk makan malam" ujar mamanya yang telah selesai menata baju-baju Rara di lemari
"Makasih ma" ujar Rara dengan mata terpejam nya
Setelah mamanya pergi Rara segera bangkit dari rebahan nya, hal pertama yang ia lakukan adalah duduk di depan meja rias sembari mengamati seluruh wajahnya, meneliti setiap inci dan menyalinnya di otak
"Kalau di pikir-pikir aku tampan juga ya" ujar Rara tersenyum lebar disertai dengan alis yang ia naikan kemudian ia turunkan lagi, ia jadi teringat apa yang dikatakan oleh tukang salon tadi bahwa dirinya tampan, namun papa nya malah marah-marah karena tidak terima putri kecilnya dulu dikatakan tampan
"Siapa bilang istriku tampan?"
Rara menoleh ke belakang dilihatnya Azril tengah berdiri di depan pintu dengan kedua tangan yang ia silangkan di dadanya, melihat itu Rara langsung membelalakkan matanya bukan karena gaya cool Azril melainkan karena koper besar yang berada di samping pria yang bertubuh tinggi itu
"Kamu ngapain ke sini bawa-bawa koper segala" Rara berjalan mendekat ke arah tempat Azril menapakkan kakinya
"Aku mau tinggal sama istri aku, tadi maunya ngajakin kamu ke rumah kita tapi karena kondisi kamu yang belum stabil jadi aku diperbolehkan untuk tinggal di sini" ujar Azril, tentu saja dia malu untuk tinggal di rumah orang tua istrinya tapi mau gimana lagi daripada Rara berpaling darinya
"Gak, gak ada kamu pulang aja, kamu bukan suami aku kok" ujar Rara sembari mendorong-dorong tubuh Azril agar keluar dari kamarnya
"Sayang kok kamu ngusir aku sih" Azril berusaha memegang tangan Rara untuk menghentikan aksinya
"Gak ada sayang sayangan udah sana pergi" gerutu Rara sebal
"Loh ra kok suami kamu gak diizinkan masuk?" tanya mama Rara lembut
"Ma masak aku punya suami kayak gini sih, gak ada yang lain apa?" degus Rara sembari menatap Azril dengan sorotan mata elangnya
"Ehhh sayang jodoh kan gak bisa di pilih udah di atur sama Allah, emang kenapa gak mu sama Azril kan dia tampan pakek banget lagi" timpal mamanya
"Masih tampanan aku kali ma"
"Gak sayang kamu tuh cantik, cantik banget apalagi kalau pakai kerudung"
"Gak ah ma aku belum siap pakai kerudung, lagian di foto besar di ruang keluarga aku gak pakai kerudung tuh" tolak Rara, ntah apa yang ia pikirkan sekarang hingga ia mengatakan perkataan yang bertolak belakang pada hatinya
Mamanya menghembuskan nafasnya pelan "Ya udah gak papa pelan-pelan aja" mamanya tidak ingin memaksa putrinya
"Azril ayo masuk"
Rara berdecak sebal kala mamanya mempersilahkan Azril masuk kedalam kamarnya bahkan mamanya menerangkan seluruh benda-benda yang ada di kamarnya beserta fungsinya, memangnya dia anak TK apa batin Rara
***
Rara duduk di atas kasur sembari membolak-balikkan lembaran album miliknya, foto di album tersebut memang sangat mirip dengannya cuma beda di rambut doang, jika di bandingkan wajahnya yang sekarang dengan lembaran foto masa lalunya rasanya mereka kayak anak kembar beda jenis kelamin
"Ra ayo makan malam" Azril memasuki kamar Rara, dia baru saja melaksanakan shalat Maghrib di masjid
Rara menutup albumnya dan meletakkan di atas meja samping tempat tidur, dia segera keluar kamar dan turun menghampiri keluarganya untuk makan malam bersama
Azril menatap ke arah album milik Rara, perlahan dia mendekat ke samping tempat tidur, matanya melirik ke pintu kamar, setelah aman dia membuka lembaran album di bagian pertama, nampak wajah Rara dengan senyum lebarnya beserta keluarganya, dia duduk di tengah-tengah mama dan papanya sedangkan kakak-kakak nya berdiri di samping papa mamanya layaknya seorang bodyguard, foto ini sama persisi seperti di ruang keluarga namun bedanya di ruang keluarga foto itu sangat besar dengan bingkai yang indah serta nemplok di dinding
"Bisakah aku membuatmu tersenyum seperti foto ini" jari jemari Azril mengusap pelan foto tersebut, jari telunjuk nya berhenti tepat di wajah manis Rara
"Bismillah"
"Aku akan melupakan mu zah, aku akan menggeser nama kamu di hati ku dan mengganti sepenuhnya dengan nama Syafeera Halwah Adelard"
"Wooyyyy makan" teriak Dariel dari pintu kamar Rara yang sedari tadi memang sudah terbuka lebar, ah anak itu benar-benar merusak suasana saja
Seketika tangan Azril langsung menutup album tersebut dan menoleh ke belakang "Ehhh iya bang" ujar Azril gugup
Azril segera berjalan keluar pintu kamar mengekori Dariel ke ruang makan
***
"Kamu tidur di sofa aja ya" ujar Rara yang sudah siap mengenakan piyama tidur berlengan panjang
"Kasurnya luas cukup buat berdua" ujar Azril santai
"Kamu mau tidur di sofa apa mau tidur di kamar kak Dariel?" ujar Rara sinis
"Ehh kok kamar bang Dariel sih" Azril menggaruk kepalanya bingung kenapa negonya jadi gini
"Ya udah pilih"
"Gak ada pilihan lain?"
"Ada"
"Apa?"
"Noh balkon"
"Kamu mau bikin suami kamu kembung apa"
"Makanya di sofa ya"
"Ya udah iya, tapi besok di situ" Azril menunjuk tempat tidur Rara
"Oke" ujar Rara yang membuat Azril tersenyum lebar kala mendengar jawaban dari Rara
Malam sudah sangat larut namun Rara belum bisa memejamkan matanya, dia melirik ke arah sofa nampaknya Azril sudah tertidur pulas, perlahan ia bangun dari kasurnya dan mengobrak abrik seluruh isi kamarnya barang kali ada sesuatu yang aneh di sini, karena tidak menemukan apapun dia berjalan ke balkon dan menatap langit, langit yang begitu luas tanpa batas, ada satu bintang yang sangat bersinar terang menarik penglihatannya
"Neng keluarlah kamu harus selamat"
"Neng jangan tidur dulu ayo keluar"
Rara memejamkan matanya kala mengingat suara itu, suara yang terus terngiang-ngiang di otaknya
"Neng ayo keluar"
"Neng ayo"
Perlahan suara itu terdengar mulai melemah, air mata Rara jatuh begitu saja "Bapak juga harus selamat"