
Tok tok tok
Azril mengetuk pintu dengan keras hingga penghuni di dalamnya buru buru membukakan pintu rumah tersebut
"Den Azril" gumam wanita paruh baya yang umurnya telah mencapai 50 tahunan
"Dimana Zahra bi?" tanya Azril pada pembantu rumah di keluarga Azizah
"Non Zahra ada di dalam den, ayo silahkan masuk dulu" ujar bi Sri sopan
"Siapa bi?" tanya Azizah yang baru saja keluar dari kamar nya
"Itu...." belum sempat bi Sri menyelesaikan ucapannya mata Azizah telah menangkap sosok pria yang amat ia cintai, sorot mata Azizah terpancar akan kerinduan yang mendalam
"Mas Azril" ujar Azizah lirih
"Maaf mbak Azizah kami kesini ingin bertemu dengan mbak Zahra" bukan Azril yang berkata melainkan sosok yang berdiri tegap di samping Azril
Bukannya menjawab Azizah hanya memandang ke arah Azril dengan sebuah tanda tanya yang besar "Untuk apa dia mencari Zahra" batin Azizah bergemuruh
"Ada apa mencari ku?" tanya Zahra lembut, ia baru saja muncul dari arah dapur
Azril menatap Zahra dengan tatapan tajamnya, tangan kanannya mengepal dengan kuat, kalau saja dia meladeni hawa nafsunya sudah pasti kepalan tangan itu melayang ke arah yang dituju
"Apa maksudmu melukai istri saya?" suara Azril terdengar dingin
"Kenapa hah jawab? kenapa kamu memotong rambutnya?" bentakan Azril menggema di seluruh ruangan, bahkan bi Sri terkejut hingga nampan yang ia pegang terjatuh begitu saja
Prangggggg
Di saat seperti ini siapa yang peduli dengan suara pecahan gelas, telinga mereka seolah olah tertutup rapat tak peduli selain dengan pemikiran mereka masing-masing
Azril yang sudah di kuasai oleh amarah berjalan mendekat ke arah Zahra
Plaakkkk
Satu tamparan membuat gadis itu tersungkur ke bawah, sontak Zahra memegangi pipinya yang kini terasa panas
Azizah terkejut melihat kejadian yang ada di hadapannya ini, dia baru saja mengetahui sosok Azril yang dingin tanpa perasaan, wajahnya terlihat murka rupanya setan berhasil mengambil alih tubuh tersebut
Tak puas dengan satu tamparan Azril menundukkan badannya sedikit ke bawah, tangannya sudah siap melayang namun dengan sigap Baheer mencekal tangan Azril
"Bang kuasai amarah mu" tegur Baheer sembari menarik tubuh Azril agar menjauh dari Zahra
"Kenapa kamu menampar ku hiks hiks hiks" terdengar isak tangis Zahra, Azizah yang tak tega dengan kondisi adiknya segera membantu agar Zahra dapat berdiri lagi
"Mas kamu apa apaan sih, kenapa menampar Zahra?" tanya Azizah bingung bercampur kesal
Azril tersenyum sinis "Kamu tanyakan saja pada adik kesayanganmu tentang apa saja yang telah ia perbuat"
Baheer menghela nafasnya kasar "Mari mbak Zahra kita bicara di kantor polisi saja" ujar Baheer sopan meskipun dalam hatinya merasa geram
"Apa maksudnya ini, apa salah adik saya?" tanya Azizah yang terkejut dengan ucapan Baheer
"Melakukan penjebakan, memberikan obat bius, dan kasus pembunuhan berencana" ujar Lan dengan lantang dari arah pintu masuk
Semua orang melihat ke arah pintu, di sana Lan dan Alfred berdiri dengan gagahnya
Suara sepatu keduanya terdengar mendekat ke arah keributan, Alfred memandang Azril dengan sinis tentu saja dilengkapi dengan mata elang yang ia miliki
"Cihhh ngapain lo datang ke sini, mau selingkuh?" ujar Alfred dingin
"Bukan urusan abang" ujar Azril tak kalah dingin
"Segala sesuatu yang berurusan dengan Rara itu termasuk urusan saya" tekan Alfred
"Bos" Lan menegur bosnya agar tidak macam-macam
"Lan seret wanita ini keluar" perintah Alfred tegas
Namun Lan segera menepis pikirannya, tangannya hendak memegang lengan Zahra namun Azizah segera menghalanginya
"Mau kalian kemana kan adik saya? dia tidak mungkin melakukan perbuatan seperti itu, ini pasti fitnah" ujar Azizah yang bersikukuh bahwa adiknya tidaklah bersalah
"Zah kalau kamu tahu apa yang dilakukan oleh adik kesayanganmu, akankah kamu masih membelanya?" tanya Azril datar
"Apa maksud kamu mas, kamu sudah melukai ku, kenapa sekarang kamu malah mau melukai adik ku" perlahan air mata Azizah lolos begitu saja, dia lemah, ya dia lemah jika sudah menyangkut seorang makhluk yang bernama Azril
"Asal kamu tahu zah, dialah yang menjebak saya dan Rara hingga berada di atas ranjang yang sama" wajah Azril terlihat sendu kala mengingat kejadian itu, perasaannya benar-benar marah, bukan karena Azizah melainkan karena Rara, karena disitulah penderitaan Rara di mulai
"Apa kamu bilang mas, itu tidak mungkin, dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu" Azizah menutup mulutnya, dia tidak mempercayai hal itu
"Mau bukti?" tanya Lan datar
Azizah sama sekali tidak mengenali semua pria yang tengah berada di rumahnya, hanya Azril saja yang ia kenal
"Ya Allah sebenarnya mereka semua ini siapa?" batin Azizah
"Semua bukti ada di dokumen ini" ujar Lan sembari mengacungkan dokumen yang berada di tangannya
"Biar saya lihat" Azizah memberanikan diri menatap Lan, pasalnya kedua orang tua mereka sedang tidak ada di rumah, tadi sekitar jam 7 pagi ayah bunda nya pergi menjenguk nenek mereka yang di rawat di rumah sakit
Lan segera menyodorkan dokumen tersebut dan di sambut dengan uluran tangan Azizah yang nampak bergetar, dia takut kalau apa yang mereka ucapkan adalah benar
Lembaran demi lembaran Azizah buka, mulai dari foto yang mereka tangkap dari cctv sekitar kompleks, tes obat bius di dalam kopi yang diminum Azril, kesaksian sopir taksi yang membawa Rara dan Zahra kala itu dan bukti-bukti lainnya yang mengarah ke Zahra
"Masih kurang?" tanya Baheer sembari menyodorkan dokumen di tangannya, tentu saja tangan kanan Azril juga memiliki bukti yang cukup kuat
Azizah menerima dokumen tersebut dan betapa terkejutnya ia kala melihat foto seorang wanita yang dulu di salah pahami memiliki hubungan khusus dengan Azril, Azizah tambah membulatkan matanya kala menemukan tulisan yang menyatakan bahwa gadis tersebut telah tewas akibat keracunan makanan, dan makanan itu adalah pemberian dari Zahra
Bruukkk
Dua dokumen jatuh tepat di bawah kaki Azizah, dia tidak percaya apa yang di lakukan oleh Zahra, bukannya Zahra adalah orang yang lemah lembut, sopan santun, dan rendah hati tapi kenapa dia bisa melakukan hal sekeji ini
"Dek apa kamu benar telah melakukan hal ini?" tanya Zahra dengan sorot mata kecewa
Zahra menggeleng pelan, wajahnya ia tundukkan tidak berani menatap wanita yang kerap kali ia panggil dengan sebutan mbak
"Zahra jawab mbak, apa bener kamu melakukan ini semua hah?" bentak Azizah yang mengguncangkan tubuh adik angkatnya
Tubuh Zahra merosot ke bawah, kedua tangannya memegang kaki Azizah sembari menangis sesenggukan, sungguh dia tidak mau semua ini terjadi, tapi apa daya dia tidak memiliki pilihan lain
"Mbak gak butuh tangisan kamu, yang mbak butuh adalah jawaban kamu, apa benar kamu yang melakukan ini semua" Zahra menganggukkan kepalanya pelan, menolak pun sudah tak bisa, bukti telah di depan mata
"Kenapa? kenapa kamu melakukan ini hah? kenapa kamu menghancurkan hidup mbak? apa salah mbak sama kamu? kamu sudah mbak anggap sebagai adik sendiri tapi kenapa kamu malah melakukan hal ini hah?" tanya Azizah bertubi-tubi
Pandangan Azizah mulai buram, pikirannya melayang, segitu teganya kah adik angkatnya terhadap dirinya
Brukkk
Tubuh Azizah terjatuh ke lantai dengan mata terpejam
"Mbak bangun mbak, maafin Zahra mbak, mbak bangun" Zahra mengguncangkan tubuh Azizah berharap kesadaran Azizah dapat kembali
"Baheer bantu dia!" perintah Azril
"Tapi bang dia bukan muhrim saya, biarkan mereka saja yang membantu nya" tolak Baheer halus
"Hey kau pikir kami semuhrim dengannya" ujar Lan sinis
"Bukankah dalam agamamu tidak ada istilah muhrim" ujar Baheer santai
"Hey biarpun muka saya keturunan bule tapi saya seorang muslim" ujar Lan tak terima, lagi-lagi karena wajahnya yang kerap kali di salah pahami oleh orang lain
"Berisik, kalian berdua bantu dia, jangan sampai Azril yang menyentuhnya bisa-bisa dia khilaf" sindir Alfred
"Bang saya masih tahu batasan" Azril langsung pergi meninggalkan rumah Azizah, urusan di sini biar Baheer yang menyelesaikan toh juga ada bawahan Alfred yang membantu menyelesaikan masalah ini, sekarang tujuannya hanya satu menemani istrinya pergi ke Sidoarjo