I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Terbongkarnya Malam Mengenaskan



Azril mengendarai mobil dengan perasaan yang berbunga-bunga, senyuman di wajahnya sedari tadi mengembang tiada henti, ntah kenapa wajah Rara semalam menjadi objek bayangannya kini


Mobil tiba di sebuah gedung, sebelum menuruni mobil ia merubah ekspresi wajahnya menjadi datar, setelah semua aman dia turun dari mobil memasuki sebuah ruangan yang sama seperti kemarin


"Assalamualaikum bang" sapa Baheer


"Waalaikumsalam" ujar Azril datar, pandangannya menatap ke arah wanita yang sedari tadi diam termenung, kemarin sejak Azril meninggalkan ruangan itu mereka melepas ikatan tersebut, membiarkan wanita itu bergerak kesana-kemari di dalam ruangan, melakukan aktivitas yang ingin dilakukan dengan batasan ruangan tersebut, pagi ini mereka mengikat kembali wanita tersebut untuk melakukan interogasi


"La" panggil Azril yang membuat wanita itu menoleh, sebuah senyuman ia berikan kepada sosok laki-laki yang amat ia cintai hingga menghilangkan akal sehat nya


"Saya harap kamu mau diajak kerjasama, lebih baik kamu mengakui segalanya daripada hukuman untukmu bertambah berat" ujar Azril datar


Lila tersenyum sinis "Apa begini caramu membalas budi?"


"Maaf la, tapi kamu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan kamu"


"Aku mendekam di penjara sedangkan kamu hidup enak bersama istri kamu iya, oh tidak seenggaknya kamu menikah dengan orang yang tidak kamu cintai bukan"


"Ini yang ingin saya tanyakan padamu, kenapa kamu menjebak saya dan Rara?" melihat Lila yang tidak membuka mulutnya membuat Azril geram


"Kenapa?" bentak Azril dengan sorot mata yang tajam, tapi siapa sangka wanita yang ia tanyakan lebih menajamkan sorot matanya


"Karena aku tidak ingin kamu menikah dengan orang lain, aku tidak ingin kamu mencintai orang lain, aku hanya ingin kamu mencintai ku, aku mencintaimu maka kamu harus mau menikah denganku" bentak Lila


"Oh benarkah, lantas kenapa bukan kamu yang mengorbankan dirimu di atas ranjang?" tanya Azril sinis


"Aku tidak sebodoh itu, jika aku melakukan nya sendiri tentu kamu akan membenciku, begitupula dengan semua keluarga mu, maka aku membutuhkan orang lain untuk ku jadikan tumbal, dan mengulur waktu hingga aku bisa memiliki mu sepenuhnya"


"Oh ya kamu memiliki tubuh yang indah, itu mu juga lumayan, hampir saja waktu itu aku khilaf, tapi seenggaknya aku sudah pernah memegangnya" ujar Lila sembari terkekeh


Azril melotot kala mendengar apa yang diucapkan Lila, rahangnya mengeras wajahnya mulai memerah


Plakkkk


Satu tamparan berhasil melayang di pipi kanan Lila, tapi wanita itu sama sekali tidak meringis kesakitan, justru sebaliknya dia malah terkekeh pelan


"Kamu gila" teriak Azril


"Iya itu karena kamu" ujar Lila santai


"Oh ya bagaimana kabar istri barumu yang telah kehilangan ingatan akibat ulah mu, aku tidak menyangka ternyata kamu bisa setega ini ya?"


"Tutup mulut kamu, dia bahkan jauh lebih baik dari wanita busuk macam kamu, bagaimana bisa kamu melibatkan orang yang tidak bersalah dalam permainan kamu" teriak Azril geram


"Hahahaha dia hanyalah wanita yang kurang beruntung yang aku temui di jalan, dia begitu polos bukan, bahkan dia sama sekali tidak menyadari apa benar keperawanannya sudah di rengut oleh mu atau belum, hanya karena darah di seprei kalian semua bisa mempercayai nya begitu saja, hahahaha" Lila tertawa mengingat kebodohan mereka


"Berhenti tertawa" Azril semakin geram menyaksikan tingkah Lila


"Baiklah baiklah, aku yakin sampai sekarang kalian belum menjadi suami istri seutuhnya kan, kalau waktu itu aku tidak memberikan obat bius melainkan obat itu pasti tubuhmu sudah di nikmati oleh istrimu, dan aku tidak mau itu terjadi"


"Breng***" nyatanya kepalan tangan yang ingin dilayangkan oleh Azril dihentikan begitu saja oleh Baheer


"Bang tahan emosimu, semuanya telah kita rekam, lebih baik kita segera bawa dia ke kantor polisi" ujar Baheer


"Cihhh kalian memang licik" ujar Lila sinis


"Kamu dengar baik-baik, saya mencintai istri saya, bahkan sangat mencintainya, jika kamu mengira kita belum menjadi suami istri kamu salah besar, saya dan dia sudah menjadi suami istri yang sesungguhnya, bahkan saya telah menafkahinya lahir maupun batin" ujar Azril yang keluar dari pintunya


"Tidak mungkin, kamu bohong" teriak Lila geram


Bughhhhh


Azril memukul pintu dengan keras, ia murka sangat murka


"Baheer selesaikan semuanya sampai tuntas, saya muak melihat wajah busuknya"


***


Brukkkk


"Rara" teriak Dariel yang mendobrak pintu kamar Rara


"Ra aku kangen" Dariel memeluk tubuh adiknya, selama tiga hari ini ia sibuk ke luar kota jadi dia sama sekali belum melihat Rara semenjak adiknya itu balik dari Sidoarjo


"Kak apaan sih kamu kerasukan reog ya" ujar Rara sembari mendorong tubuh Dariel


"Mana mungkin reog berani memasuki tubuh indah ku ini" ujar Dariel sembari mengangkat alisnya, menebarkan seluruh pesona yang ia miliki


"Kak sampai kapanpun aku tidak akan tertarik oleh aura buaya mu itu" ujar Rara sinis


"Ck, tidak bisakah kamu memberiku sedikit muka" degus Dariel


"Oh ya ku dengar kemarin kak Alfred mengajakmu jalan-jalan kemana memang?" tanya Dariel


"Kepo" ujar Rara sembari mendudukkan dirinya di atas kasur


"Ra kamu bosen gak di rumah?" tanya Dariel yang ikut duduk di samping Rara


Rara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban


"Kebetulan sekali mau gak ikut kakak jalan-jalan" ujar Dariel penuh harap


"Ada pokoknya, ini adalah rahasia, gimana mau gak"


"Jangan aneh-aneh tapi"


"Sip ayo"


***


Rara mengerucutkan bibirnya kala tahu tempat apa yang akan mereka kunjungi


Bangunan megah yang menjadi pusat para model serta artis bertemu atau bekerja


"Ayo ra" ujar Dariel dengan semangat 45 yang ia miliki, menapaki kakinya menuju lift


Semua mata memandang ke arahnya, siapa yang tidak mengenal seorang Dariel yang di cap sebagai gay di sini, karismanya memang terlihat mencolok, namun kali ini lebih mencolok kala melihat seseorang yang digandeng olehnya


"Jadi benar dia gay"


"Waw seleranya manis juga"


"Tapi bukankah itu mirip seseorang ya"


"Iya kayak pernah lihat dimana gitu"


"Ck" Rara berdecak kala mengetahui rencana kakaknya


"Kak apaan sih, kayak gak punya kerjaan aja" degus Rara sebal


"Ra kamu adalah tameng terbaik yang aku miliki" ujar Dariel sembari memegang kedua bahu Rara


"Dasar gila"


"Hehehehe ra kamu akan terpesona kala melihat ketampanan ku ini" ujarnya bangga


"Kak dari dulu kamu gak pernah berubah ya, selalu aja narsis" gerutu Rara sebal


"Ya gimana lagi dek, Allah terlalu baik padaku hingga mempercayakan aku tumbuh dengan wajah tam....... eh tunggu dulu dek" Dariel mengerutkan dahinya


"Ingatan kamu sudah pulih?" tanya Dariel tidak percaya


Rara tertegun mendengar ucapan sang kakak, dengan sigap dia merubah ekspresi nya "Bukankah semua orang berkata demikian, aku hanya ikut-ikutan" ujar Rara polos


"Oh iya juga ya, keluarga adalah tempat penyebar aib terbesar" ujar Dariel


Kini mereka telah tiba di tempat pemotretan


"Ra kamu diam di sini dulu, aku akan menunjukkan pesona ku" ujar Dariel yang duduk di depan meja rias, membiarkan penata rias itu melakukan tugasnya


Kemudian dia mengganti pakaiannya sesuai dengan prosedur, kini ia tampil dengan kaos yang dilapisi dengan jas di bagian luarnya, warna celananya senada dengan jas tersebut, rambutnya sudah ditata sedemikian rupa hingga menjadikan dia makhluk yang tampan


Dengan pedenya dia mulai mengambil posisi sesuai arahan instruksi fotografer


Cekrikkk


Cekrikkk


Berbagai gaya Dariel lakukan, hasilnya benar-benar memuaskan tanpa ada kesalahan sedikit pun


"Bagus sempurna" ujar fotografer tersebut sembari melihat lihat hasil bidikannya


"Gimana ra keren kan" ujar Dariel yang mulai menghampiri Rara


"Waw keren kak, jiwa buaya nya semakin di depan" ujar Rara sembari mengangkat dua jempolnya


"Ck, padahal gantengan kakak daripada suami kamu itu" degus Dariel


"Oh jelas beda lah kak, semua orang sudah ada porsi tampannya sendiri sendiri" ujar Rara


"Benarkah kalau gitu gimana dengan wajah kakak?" Dariel mulai merapikan rambutnya menunggu penilaian dari Rara


"Kakak itu tampan, damage nya benar-benar memuaskan tidak ada bandingan, apalagi aura nya mihhh bikin cewek klepek-klepek" ucapan Rara membuat Dariel tersenyum lebar, ia terbang ke cakrawala


"Aura apa ra?" tanya Dariel dengan mata berbinar binar


"Aura playboy nya" ujar Rara yang membuat Dariel melongos, habis di bikin terbang kini ia di hempasan begitu saja


"Kalau Nobi?" tanya Dariel yang membuat Rara kebingungan


"Suami kamu"


"Oh kalau dia tuh tampan nya tampan bercahaya, apalagi kalau dia habis wudhu mihh damage nya sampai ke akhirat"


"Kalau kak Alfred?"


"Kak Alfred itu tampan berwibawa, muka-muka arogan dengan tubuh sempurna, luarnya memang dingin tapi dalamnya hangat"


"Uhuk-uhuk" Dariek tertohok dengan ucapan Rara


"Dalamnya hangat apaan, iya ke kamu dan mama aja dia hangat, lah ke yang lain beku beku dah" batin Dariel mengelak ucapan Rara