
Pria tersebut tersenyum sinis kemudian ia menggeser pagar agar dapat melihat sosok si penguntit dengan jelas
"Kamu mau maling ya?" pria tersebut memandang Rara dari atas hingga bawah
"Ehh... gak kok bener saya bukan maling" ujar Rara gugup
"Dari cara kamu ngomong aja udah gelagapan kayak gitu, wajahnya juga panik, kalau semisal bukan maling mana mungkin gugup gitu, lagi pula mana ada maling ngaku" suara pria tersebut terdengar mengintimidasi
"Bener mas saya bukan maling, sumpah demi Allah, saya ke sini cuma mau nangkep kucing putih aja kok"
"Oh kamu mau maling kucing saya?" pekik pria tersebut
"Ehhh..... sebenernya sih pengen banget" gumam Rara pelan, sang pria yang menajamkan pendengarannya mampu mendengar gumaman Rara
"Tuh kan bener kamu maling, dilihat dari tampangnya aja udah gak bener" tatapan sinis itu membuat Rara kesal
"Ck anak SMA zaman sekarang udah pada hamil aja, penampilan luar dalam sungguh berbeda" ujarnya tiba-tiba kala melihat perut Rara yang membundar
"Emang kenapa kalau hamil, saya bersyukur bisa hamil cepat karena wanita di luar sana banyak yang menginginkan kehamilan tapi Allah belum memberikannya" ujar Rara ngegas
"Siapa nama kamu? tinggal dimana kamu? biar saya laporkan ke orang tua kamu tentang perbuatan kamu ini"
"Ehhh jangan dong, kan saya ke sini cuma mau lihat kucing doang masak sampai segitunya" ujar Rara yang mulai memelas
"Udah jelas kamu mau maling"
"Saya bukan maling, kucing mas aja yang duluan godain saya"
"Ehhh lu kate kucing gua buaya apa"
"Lah buktinya, dia tiap hari selalu datang ke halaman rumah saya duluan, eh ralat rumah mertua saya itu buat apa kalau bukan godain orang"
"Kamu nya aja yang kegatelan nganggap semua cowok bahkan hewan di bilang godain kamu, pantes aja kamu bunting duluan"
"Eh kamu jangan bawa bawa kehamilan saya ya, bilang aja kamu iri kan masih jomblo sampai sekarang"
"Ehhh ngapain lo bawa bawa status gua, meski bener tapi tetep aja gua gak terima di katain jomblo, masih mending kalau lu bilang gua singel"
Perdebatan itu kian memanas hingga nyeleweh kemana-mana
"Rara" teriak Azril dari depan rumah orang tuanya, namun langkahnya kian mendekat
"Mas" gumam Rara yang menoleh ke arah Azril, ia bingung kenapa suaminya pulang sangat awal
Kini ia berdiri tegap di samping Rara, matanya menatap tajam ke arah tetangganya
"Oh jadi cowok ini yang buat kamu jatuh cinta?" wajah Azril terlihat menahan amarah
"Ehh mas ngomong apa sih, cowok kayak dia mah gak bakal laku" Rara memegang lengan Azril untuk meredakan amarah suaminya
Azril beralih menatap tajam ke arah Rara
"Oh jadi ini istri mu az, masih bocah ternyata, ck tadi dia mau maling kucing gua" adu pria yang memiliki nama Iqba
"Ehh enak aja kalau ngomong, saya cuma mau liat kucing kamu aja kok"
"Mas dia nyebelin" rengek Rara sembari menggoyang lengan Azril
"Pulang sekarang!" perintah Azril
"Mas"
"Pulang!" meski ia tak manaikan suaranya namun ia menajamkan tatapannya
"Mas itu kucingnya" Rara hendak mengejar kucing tersebut namun dengan sigap Azril menarik tangan Rara menuju rumah
"Mas itu.." Rara hanya mampu menoleh ke belakang menyaksikan perpisahan dengan si buntel, di tambah dengan wajah Iqba yang menyebalkan sedang meledeknya
"Tega kamu ra" ujar Azril kala mereka sudah berada di dalam kamar
"Mas aku..."
"Mulai sekarang kamu gak boleh melebihi batas pagar dari rumah ini sendirian"
"Ya Allah mas aku salah apa lagi?"
"Kamu masih bertanya, bisa bisa nya kamu deket deket sama Iqba yang jelas jelas bukan muhrim kamu"
"Mas itu gak sengaja, aku cuma mau lihat kucing"
"Gak sengaja tapi sampai jatuh cinta?"
"Astaghfirullah nggak mas, kamu salah paham, aku jatuh cinta sama kucing nya, dia gemuk putih lucu banget matanya warna biru"
"Cukup ra, kita gak tau kedepannya, mungkin sekarang kamu jatuh cinta sama kucingnya tapi besok-besok bisa saja kamu jatuh cinta sama pemiliknya"
"Ya Allah mas itu gak mungkin, aku dah jadi milik kamu"
"Ehh mas tunggu...." ucapannya terhenti kala Azril telah menutup pintu dengan keras
"Padahal kamu dah memiliki hati aku" gumam Rara
***
Semenjak kejadian itu lagi-lagi Azril mendiaminya selama tiga hari berturut-turut
"Selalu aja gitu, kekanak-kanakan, apa gak ada hal lain selain diemin orang kalau lagi marah" gerutu Rara kala melihat Azril yang keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi hendak berangkat kerja
"Ini udah tiga hari, awas aja kamu nanti mas" Rara memukul-mukul bantal sembari mengumpat, pandangannya tak lepas dari pintu kamar
"Assalamualaikum" Azril membuka pintu kamarnya namun ia tak mendapati istrinya di sana
"Kemana lagi tuh anak, baru di tinggal 3 jam aja udah kelayapan, udah di bilangin jangan ngelewatin batas pagar masih aja ngebantah"
"Assalamualaikum" terdengar suara pintu rumah terbuka
"Ya Allah umi lupa ngunci pintu tadi, eh itu ada mobil Azril dia udah pulang aja padahal baru jam 10 pagi" ujar umi
"Mungkin ada yang ketinggalan mi" Rara mengangkut belanjaan, banyak sayuran serta buah-buahan yang umi beli tadi di pasar di bantu oleh pak Mino
"Umi dari mana?" tanya Azril, padahal ia dapat melihat sendiri uminya baru pulang sehabis belanja stok persediaan bahan makanan
"Belanja az, persediaan bahan makanan udah habis, ini tolong bantuin umi"
Azril mengambil alih belanjaan yang di bawa umi, sekalian ia juga mengambil alih belanjaan yang di bawa Rara
"Gak usah mas, nanti tambah berat"
"Masih beratan badan kamu kali ra, tapi mas masih sanggup gendong kamu"
"Ehhh kenapa mesti bawa bawa berat badan segala sih mas, ini juga gara gara kamu aku hamil" begitulah wanita terlalu sensitif jika bersangkutan dengan berat badannya
"Eh tunggu dulu, kamu udah gak marah" tanya Rara sinis kala umi sudah lebih dulu pergi ke dapur
Azril hanya memutar bola matanya, kemudian ia mengikuti langkah uminya pergi menuju dapur dengan membawa banyak belanjaan
"Isssss bikin mood rusak aja"
"Meowwww" mendengar suara itu matanya mulai berbinar-binar
"Ehhh si buntel" Rara menghentikan langkahnya yang hendak menuju halaman rumah
"Jangan, tahan ra nanti ada yang ngambek aja" akhirnya dia pergi ke dapur membantu uminya
"Meowww"
"Meooww"
"Ya Allah kenapa suaranya sangat jelas sih, apa dia masuk ke rumah" Rara sedari tadi tak tenang mendengar suara kucing yang terdengar sangat menggemaskan
"Udah beres ra, makasih ya sekarang kamu istirahat aja" ujar umi yang telah mencuci tangannya
"Iya mi, umi juga jangan kecapekan" Rara berjalan menuju kamarnya, suara si buntel selalu terngiang-ngiang
"Kenapa suaranya makin jelas ya"
Clekk
"Aaaaaaa si buntel" Rara berteriak girang kala mendapati sosok buntel gemuk yang putih bersih, wajahnya bulat, dengan mata biru bening, namun nampaknya ini lebih cantik dari yang biasa menggodanya di halaman rumah
Rara berlari menggendong kucing tersebut "Ehh kok dia nurut, mau di gendong, kamu siapa? kamu bukan buntel kan" tanya Rara mengintimidasi
"Ekhhmmm"
Rara menoleh ke arah Azril yang berdiri tak jauh darinya, di samping Azril ada kandang kucing yang nampak baru
"Mas beliin aku kucing?" tanya Rara terharu, dari dulu ia ingin memelihara kucing namun keinginannya tandas begitu saja karena si Dariel yang selalu bersin bersin akibat bulu kucing yang terlalu menyengat
"Mas, terimakasih" Rara menaruh kucing tersebut di lantai kemudian ia berhamburan memeluk suaminya
"Kamu belakangan ini suka ya meluk mas? apa kamu sengaja bikin mas pangling"
Rara mendongakkan kepalanya menatap wajah Azril yang terlihat teduh "Karena berada di pelukan mas membuat aku merasa nyaman"
Blushhhhh
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗
Comment titik doang juga gak pa pa 🙃