I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Di Bawah Kolong Jembatan



"Periksa semua tempat" perintah Lan pada semua bawahannya


"Baik tuan" ujar mereka kompak


"Periksa juga di bagian bawah sana" perintah Baheer


Namun krik krik tidak ada jawaban yang keluar dari mulut mereka, Baheer mengernyitkan dahinya


"Kenapa mereka tidak patuh terhadap saya?" bisik Baheer


"Mereka bawahan saya untuk apa patuh sama makhluk asing bermuka masam kayak kamu" Lan membalas bisikan Baheer


"Memang benar ya bawahan sama atasan sebelas dua belas, sama-sama sombong tanpa hati" ujar Baheer dengan suara yang sengaja ia keraskan, kemudian dia berjalan ke bawah, sebuah tempat yang kumuh dengan jalanan yang curam


Lan mengikuti langkah Baheer dari belakang dia melirik sana sini memeriksa segala yang terlihat mencurigakan


Dari kejauhan nampak beberapa anak kecil dengan pakaian yang kumuh, kusam, kotor bahkan sudah robek-robek di beberapa bagian


"Dek" panggil Baheer


Semua anak kecil di sana menoleh ke arah Baheer, menunggu apa yang ingin disampaikan oleh pria bertubuh tinggi yang gagah dengan pakaian rapinya


"Apa kalian tinggal di sini?" tanya Baheer yang berusaha melembutkan suaranya, meski terdengar aneh dan memaksa namun inilah dia


Mereka mengangguk pelan, salah satu dari mereka menunjuk sebuah tempat persis seperti gua, tidak lebih tepatnya itu adalah sebuah kolong jembatan yang tak terawat lagi


"Sama siapa kalian tinggal disini?" suara bas Lan membuat mereka ketakutan, Baheer langsung memukul pundak Lan keras


"Kami tinggal sama-sama" ujar salah satu diantara mereka yang memberanikan diri menjawab makhluk datar tanpa perasaan itu


"Mana orang tua kalian?"


Mereka menggeleng dengan kompak "Kami tidak punya orang tua, tapi kami punya kakak yang baik hati"


"Kakak?" Lan mengerutkan dahinya


"Ayo anak-anak makan" teriakan suara wanita yang membuat mereka semua berlari ke dalam, ke dalam tempat yang melindungi mereka dari teriknya panas matahari ataupun derasnya hujan


Baheer dan Lan terkejut kala mendengar suara yang persis dengan suara Zahra, terlihat sekilas wanita itu mengenakan jaket lengkap dengan maskernya


Tapi dengan sigap perempuan itu langsung berlari dengan kencang


"Tangkap dia" teriakan Lan membuat para penjaga di sekitar berhamburan mengejar wanita tersebut


***


Setelah melepas rindu terhadap keluarganya Rara memasuki kamar, samar-samar terdengar suara Azril yang sedang menelpon seseorang


"Dimana posisi kalian?" tanya Azril datar pada orang di seberang sana


"Aku akan segera ke sana, awasi dia jangan sampai dia kabur" perintah Azril


"Mau kemana?" tanya Rara kala Azril telah mematikan hpnya


"Eh ra aku ada urusan sebentar" ujar Azril


"Oh hati-hati" ujar Rara


Azril memandang pergerakan Rara sejenak kemudian dia beranjak pergi


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang dikirimkan oleh Baheer


"Bang" panggil Baheer kala melihat Azril memasuki ruangan


Mata Azril memandang lekat wanita dengan rambut panjangnya yang kini tengah duduk dengan ikatan di kaki serta tangannya


"Benar-benar mirip Zahra" batin Azril


Azril menyeret kursi dan meletakkan tepat di hadapan wanita tersebut dengan jarak sekitar 20 centimeter, kemudian dia menduduki dirinya


"Siapa kamu?" tanya Azril datar


Wanita tersebut tersenyum manis kala melihat Azril


"Saya bertanya siapa kamu?" Azril mengulangi pertanyaannya dengan nada yang ia naikan satu oktaf


"Apakah kamu melupakan ku?" tanya wanita itu lembut


Azril mengernyitkan keningnya "Apa kamu Zahra?" tanya Azril lagi


Wanita itu menggeleng "Zahra" ujarnya dengan senyuman sinis


"Sekarang katakan yang jujur apa maksud mu melakukan semua ini?" tanya Azril geram


"Apa kau benar-benar melupakan ku?" sorot mata wanita itu memancarkan sebuah kerinduan yang mendalam


"Kamu bukan Zahra" ujar Azril yang langsung berdiri hendak meninggalkan ruangan


"Tunggu" suara itu berhasil menghentikan langkah Azril


Azril mengernyitkan keningnya mencerna setiap ucapan yang di lontarkan oleh wanita tersebut, pikirannya ia layangkan pada tujuh belas tahun silam


"Kamu perempuan yang telah menyelamatkan saya?" tanya Azril yang kian mendekat


"Benar, kalau bukan karena saya kamu mungkin tidak akan berdiri di sini" ujar wanita itu tersenyum licik


"Mungkin akan lebih baik kalau kau tidak menyelamatkan saya, karena asumsi mu belum tentu benar, oh apa kamu sedang mengatakan bahwa nyawa saya berada di tangan kamu" ujar Azril sinis


"Kalau iya kenapa, aku yang telah menyelamatkan mu maka kamu harus membalas budi terhadap ku" teriak wanita tersebut


"Balas Budi?"


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Azril datar


"Aku menginginkan mu, aku menginginkan dirimu seutuhnya untuk menjadi milikku" ujar wanita itu penuh kemenangan


"Maaf aku tidak bisa, aku sudah menikah" ujar Azril datar


"Ceraikan dia! kemudian nikahi aku"


"Apa kamu tidak punya harga diri sebagai seorang perempuan"


"Cihhhh perse*** soal harga diri, aku sudah hidup di luar sana dengan kemampuan ku, tidak ada orang yang menghargai ku, mereka menganggap diriku rendah"


"Kau tahu karena apa? karena aku tidak memiliki orang tua, tidak memiliki harta bahkan tidak memiliki tempat yang layak untuk ditinggali" teriak wanita itu


Azril menghembuskan nafasnya kasar "Bukankah kau mempunyai Allah"


"Cihhhh mana buktinya, bahkan kamu sendiri yang dulu aku anggap baik malah membuang ku, aku menunggu mu setiap hari di dekat pasar tapi kamu tidak pernah datang"


"Aku tidak membuang mu"


"Hahahaha, jika tidak lantas apa? kenapa kamu tidak pernah mengunjungi ku lagi? kenapa?"


"Kau wanita yang baik bukan, kenapa malah menjadi seperti ini?"


"Diriku yang dulu itu sudah mati, untuk menghadapi kehidupan yang kejam aku juga harus berubah menjadi kejam"


"Aku tidak seperti mu yang hidup dengan enak, memiliki orang tua serta tempat tinggal"


Azril menatap wanita itu dengan tatapan nanar, wanita itu mulai mengeluarkan air matanya


Dulu ketika SD Azril selalu mengunjungi sebuah tempat di samping pasar besar, hanya sekedar memberikan makan, uang, ataupun peralatan sekolah, namun ketika ia mulai memasuki pondok tentu dirinya tidak sebebas dulu, setahun berada di pondok akhirnya dia bisa mengunjungi tempat itu lagi namun sayangnya pasar besar itu telah berubah, tempat tinggal anak-anak jalanan dekat pasar kini telah tiada hanya ada bangunan ruko, Azril sudah tidak dapat mencari keberadaan mereka


"Jika aku tidak salah ingat namamu Lila bukan?" tanya Azril


"Iya kau benar"


"Lantas apa kamu memiliki kembaran?" tanya Azril


"Heh, jika iya kenapa, ketika aku bertemu denganmu dia telah diadopsi, betapa mirisnya bukan hidupku"


"Zahra?" tanya Azril lagi


"Hahahaha namanya Lili, awalnya akulah yang mau diadopsi oleh keluarga Lili yang sekarang, tapi kakak siapa yang tega membiarkan adiknya hidup menderita di bawah sana, tanpa sepengetahuan keluarga Azizah aku menukar diriku sendiri dengan adikku"


"Lihat hidupnya sekarang, sangat enak bukan? mendapatkan pendidikan yang bagus, bisa makan enak tiap hari, mendapatkan sebuah kasih sayang......."


"Sekarang dia telah di penjara apa kau pikir dia akan hidup tenang" potong Azril


"Hidup dia lebih baik daripada aku, dia melupakan ku selama sepuluh tahun, padahal aku yang jelas-jelas merubah hidupnya"


"Aku membencinya, kau sama sekali tidak pernah mengerti apa yang aku rasakan, kau tidak lebih baik dari mereka, semua orang sama" teriakan Lila menggema diiringi dengan isak tangisnya


"Maaf Lila kamu tetap akan mendapatkan ganjaran atas perbuatan mu ini"


"Soal balas budi yang kau minta aku akan memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anak yang kau rawat di sana"


"Baheer Lan" panggil Azril, mereka kini tengah berdiri sembari mencatat serta merekam apa saja yang Azril bicarakan


"Baheer tetap awasi dia, besok kita akan membawanya ke ruang tahanan" perintah Azril pada Baheer


"Baik bang" ujar Baheer


"Dan kamu Lan siapkan semua dokumen dan pengacara untuk besok" perintah Azril pada Lan


Lan hanya mengerutkan dahinya, melihat Lan yang tidak bergeming Baheer menyikut lengan Lan


"Hey apa kau tuli?" bisik Baheer


"Tidak, untuk apa saya mendengar perintahnya dia bukan atasan saya" bisik Lan


"Saya telah mendengar setiap perintah atasan mu, sekarang gantian, dasar bawahan laknat" degus Baheer


"Baik Tuan" ujar Lan sopan