
"Makasih dok, kami permisi dulu"
Mereka keluar dari ruangan dokter setelah melakukan konsultasi
"Gimana keputusan kamu?"
"Aku pergi"
"Ay dan Av?"
"Aku tak mungkin membawanya"
"Kau akan memberitahukan padanya?"
"Tidak"
"Ra..."
"Aku lelah"
Alfred membawa Rara ke dalam pelukannya, ia mengusap lembut punggung sang adik agar merasa sedikit lebih tegar
***
Beberapa hari kemudian
Rara mengendong bayi mungil itu dalam dekapannya sembari menimang-nimang pelan
"Assalamualaikum" Azril pulang sembari mengucapkan salam
"Waalaikumsalam" jawab Rara
"Cuci tangan cuci muka sebelum menyentuhnya" ujar Rara yang berjalan mundur menghindari suaminya
"Hehehe tau aja, mas kan kangen" Azril segera memasuki kamar mandi, ia mencuci tangan dan wajahnya seperti perintah Rara tadi
"Duhhh anak papah cantik sekali" Azril menciumi pipi putrinya, padahal dulu ia menginginkan bayi yang lucu mirip dengan Rara namun ternyata hasilnya malah pada hampir mirip ia semuanya
Siapa yang tak ingin memiliki wajah seperti Rara, wajahnya yang cantik nan manis tidak membuat orang bosan memandanginya dan yang lebih utama wajahnya yang tak sesuai umurnya, lebih muda dan nampaknya akan awet muda di masa depan, wajahnya tak boros sama sekali justru sangat hemat hingga banyak yang mengatakan ia memiliki wajah baby face dan wajah itu pula yang mampu menutupi sifat garangnya
"Mas" panggil Rara
Azril mengangkat kepalanya menjauh dari si bayi dan mulai menatap Rara "Ada apa sayang?" tanyanya
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, tapi... apapun yang akan menjadi keputusan ku kamu harus bisa menerimanya" ujar Rara yang menaruh bayinya dalam box bayi
"Bicara apa?"
"Aku pamit sebentar"
"Maksud kamu?"
Rara tersenyum "Aku izin, aku ingin melanjutkan pendidikan ku di luar negeri" ujar Rara
Tentu saja perkataan Rara membuat Azril syok "Kenapa harus luar negeri, kamu boleh kok melanjutkan pendidikan kamu tapi di sini" ujar Azril ia memegang kedua pundak Rara
Rara menghembuskan nafasnya "Hanya sebentar, aku titip Av dan Ay"
"Apa? tapi mereka masih dalam tahap menyusui"
"Aku tahu, jadi tolong carikan ibu susu untuk mereka"
"Gak ra gak, mas gak mau, luar negeri itu jauh" ujar Azril
"Maaf itu sudah menjadi keputusan ku" ujar Rara lirih
"Gak ra, mas gak ngizinin" ujar Azril dengan meninggikan suaranya
"Aku gak butuh izin kamu, aku cuma mau minta tolong jaga Av dan Ay sampai aku kembali"
Hati Azril terasa sakit kala mendengar itu, ntah kenapa hatinya bergemuruh hebat rasanya Rara akan pergi begitu lama, apa dia masih marah tapi bukankah belakangan ini hubungan mereka sudah membaik
"Mas suami kamu ra, kamu membutuhkan izin dari mas sepenuhnya agar langkah kamu lebih mudah, dan untuk saat ini mas gak akan izinin kamu" ujar Azril tegas
"Kalau begitu aku gak tahu masih bisa kembali atau tidak"
"Rara" bentak Azril keras
"Apa kamu mau lari dari tanggung jawab, paling tidak lakukan demi Ay dan Av" ujar Azril yang menurunkan volume bicaranya
"Lari dari tanggung jawab? ya mas benar, aku mau lari, sama halnya kayak kamu yang juga pergi meninggalkan aku dan kabur dari tanggung jawab layaknya seorang pengecut"
Azril tersenyum kecut "Jadi... kamu sampai sekarang belum bisa maafin mas?"
"Kamu pikir memaafkan orang itu gampang hah, aku bukan wanita suci, aku bukan wanita berhati lemah lembut, bahkan sampai saat ini luka itu masih ada" ujar Rara keras
Rara menyingkirkan tangan Azril dari kedua pundaknya dan pergi keluar begitu saja, namun sebelum keluar kamar ia mengangkat si buntel dan membawanya pergi bersamanya, buntelan putih itu kemarin baru di jemput dari rumah umi dan abi, ia terlalu betah di sana memadu cinta dengan si gumpel namun dengan teganya Rara memisahkan mereka berdua, dua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu kini harus merasakan LDR an
Rara duduk termenung di dekat kolam ikan sembari mengelus-elus si buntel, biar bagaimanapun si buntel adalah sosok yang menemani Rara sebelum anak-anaknya brojol ke dunia ini
"Maaf telah membentak mu" ujar Azril lirih, ia ikut duduk di samping Rara dan perlahan menaruh kepalanya di pundak sang istri
"Ra bisakah kamu mengubah keputusan mu?" tanya Azril namun Rara menggelengkan kepalanya
"Berapa lama?" tanya Azril lirih
"Paling sebentar setengah tahun paling lama lebih dari itu" ujar Rara
"Itu lama ra, mas gak tahan, tolong ubah keputusan kamu" mohon Azril namun lagi-lagi Rara hanya menggelengkan kepalanya
Azril mengusap air matanya yang tanpa ia sadari keluar begitu saja
"Mas mohon" ujarnya lirih
Rara mengecup kepala Azril sekilas "Aku juga mohon padamu mas, izinin aku pergi sebentar"
Azril mengangkat kepalanya dari bahu Rara, ia menatap manik mata istrinya yang juga nampak berkaca-kaca "Sebentar? itu lama ra, apa.... apa kamu mau balas dendam pada mas?"
"Aku ingin, tapi aku tak bisa, kalau aku ingin membalas mu sudah dari dulu aku lakukan itu" batin Rara, ia memutus kontak mata dengan Azril
"Ya" ujarnya dengan suara tercengang
"Kamu boleh membalas mas tapi jangan dengan cara seperti ini" ujar Azril lagi
"Udahlah mas kamu doakan aku saja agar aku bisa kembali ke sisi mu" Rara berdiri dengan mengangkat si buntel namun karena si buntel sedikit memberontak akhirnya buntelan putih itu terjatuh ke kolam ikan
Byurrrrr
"Buntel" pekik Rara
"Nakal, dasar kucing nakal" Rara menepuk-nepuk kepala buntel berkali-kali
"Lepasin dia" pukulan terakhir berhasil membuat si buntel membuka mulutnya namun sayang ikan itu telah meninggal akibat gigitan buntel yang terlalu tajam
Plak
Rara mengeplak kepala buntel lagi
"Kamu jahat pembunuh" ujar Rara kesal, namun bukannya merasa bersalah si buntel malah melahap ikan itu lagi dan berlari kabur dengan tubuhnya yang basah kuyup
Azril tersenyum melihat tingkah Rara, namun perlahan senyuman itu luntur begitu saja, jika Rara pergi siapa yang akan bertingkah konyol lagi, siapa yang akan menerbitkan senyuman di bibirnya
Memang kurang epik memelihara ikan dan kucing dalam satu rumah
***
Azril memeluk tubuh Rara dengan erat, berat rasanya membiarkan wanita kesayangan pergi meski ia berkata hanya sebentar dan akan kembali padanya
Azril mencium dahi Rara serta pipinya berulang kali
"Jaga shalat mu sayang niscaya Allah akan menjaga mu"
"Jaga hati kamu juga sayang jangan sampai ada cowok lain" ujar Azril lirih
Rara mengangguk, ia mengusap air matanya kemudian ia juga mengusap air mata suaminya
Azril tak peduli dengan pandangan orang lain, pada nyatanya titik lemah yang ia miliki ada di istrinya, ntah sudah berapa kali air mata itu menetes untuk istrinya
"Mas udah lepasin aku harus check out" ujar Rara yang berusaha melepaskan pelukan suaminya
Akhirnya pelukan itu terlepas, satu kecupan di punggung tangan Azril melepas kepergian Rara, ia menatap punggung istrinya yang kian menjauh tanpa mau membalikkan badannya lagi hanya untuk sekedar menengok ke arah Azril
Azril mengusap air matanya sembari tersenyum pilu
"Fi amanilah sayang"
***
Kepalaku sering berdenyut rasanya cukup sakit
Hatiku sering resah dan gelisah, tubuhku juga sering lemas
Pikiranku tak henti-hentinya memikirkan hal yang tidak-tidak, disadari atau tidak kini pikiran ku berjalan dengan lambat
Aku membenci diriku yang memiliki kondisi psikologis cukup lemah
Karena itu aku selalu berusaha menguatkan kondisi fisikku
Aku bahagia melihatmu namun aku juga turut membencimu
Meski aku membencimu pada nyatanya cintaku lebih besar dari rasa benci ini
Kenapa harus kamu yang sudah menyakiti ku berkali-kali
Kenapa harus kamu yang sudah menghancurkan aku
Memang siapa kamu kenapa mesti kamu yang bertahta di hatiku
Rasanya aku ingin menghilang sejenak dari dunia ini
Hatiku cukup lelah, pikiranku juga lelah
Jadi tolong biarkan aku menenangkan diriku
Kamulah alasan aku bisa seperti ini
Aku tak mungkin membiarkan kamu mengobatiku disaat kamu sendiri yang melukaiku secara bersamaan
Aku titip Ay dan Av tolong jaga mereka, karena merekalah alasan aku dulu pernah kembali padamu
Percayalah aku pergi untuk kembali
Kapanpun kamu menemukan surat ini maka disaat itu pula aku telah siap memberitahumu alasan aku pergi, namun jika kamu belum menemukan surat ini sampai aku kembali itu berarti kamu suami tidak peka 😤
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***
Alhamdulillah akhirnya, sekarang ayo kita mengarungi kehidupan Ammar dan Zofa sejenak sembari menunggu Rara kembali,