
Melihat Azril seperti sedang mendiaminya Rara pun ikut diam, karena sedari pagi percuma ia berbicara dianggap angin lalu oleh sang suami
"Kapan mau ke dokter hewan?" tanya Azril tiba-tiba saat mereka berkumpul di meja makan
"Nanti jam 10" ujar Rara sembari tersenyum, ia mengira Azril sudah memaafkannya
"Hati-hati" hanya itu yang keluar dari bibir Azril, nampak datar dan.... dingin
"Haishhh" degus Rara, sesudah sarapan Rara membereskan meja makan di bantu bi Wawa, sedangkan Azril nyelonong pergi ke kantor tanpa berpamitan
"Papah kalian marah sama mamah, biarin aja nanti papah kalian cepat tua, terus mamah awet muda, biar nanti di kira mamah anaknya terus kalian di kira cucunya" dumel Rara pada kedua bayinya yang sedang menikmati sarapan bubur, kedua bibir mereka belepotan sana sini menikmati lezatnya bubur bayi
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, ia telah bersiap membawa si buntel ke dokter hewan, karena Rara baik hati dan tidak sombong meski sesama hewan sekalipun ia memasukkan buntel ke dalam tas khusus kucing dan menggendongnya di belakang punggung
"Bi, bi Wawa aku berangkat dulu ya titip sikem" pamit Rara
"Iya non hati-hati di jalan"
Setelah mobil pesanannya datang ia segera memasuki mobil tersebut
"Sesuai alamat ya pak"
"Iya neng"
A few moments later
Rara keluar dari klinik hewan dengan perasaan yang berbunga-bunga, kini si buntel telah di sterilkan itu artinya ia tak akan terjerat hubungan dengan kucing betina manapun
Namun wajah si buntel nampak murung, nampak memelas dan nampak sedih, apa ia tahu kalau dirinya sudah di sterilkan, ntahlah yang jelas habis ini Rara akan memberikan si buntel makanan lezat sebagai penembusnya
Sebelum ke rumah Rara pergi ke kantor kakaknya, ntah kenapa ia merindukan sosok pria kedua yang selalu melindunginya setelah papanya
Ting
Rara masuk ke dalam lift khusus atasan, biar lebih tenang dan tidak grasak-grusuk
"Assalamualaikum kak Lan" sapa Rara
"Waalaikumsalam non, kenapa ke sini gak bilang non, saya kan bisa menjemput non di bawah" ujar Lan
"Gak usah kak, oh ya kak Alfred ada?" tanya Rara
"Ada non di ruangan, masih ada tamu di dalam, mari non duduk dulu"
"Ah iya, beri salam dulu" ujar Rara sembari membalikkan badannya
"Akhh non, bikin kaget aja" ujar Lan terkejut, ada makhluk berbulu di dalam tas transparan yang Rara gendong
"Itu si buntel, kak Lan inget kan?" tanya Rara sembari menoleh ke belakang tanpa membalikkan badannya
"Ahh iya non inget, hay kucing" sapa Lan canggung
Clek
Pintu ruangan terbuka, nampak beberapa orang berpakaian jas keluar dari ruangan, Lan menunduk sembari mengantarkan mereka menuju lift
"Assalamualaikum kak Alfred" panggil Rara yang muncul dari balik pintu
"Waalaikumsalam, loh kok kamu bisa di sini ra?" tanya Alfred bingung
"Terbang" tanpa di suruh Rara sudah nyelonong masuk ke dalam ruangan
"Masih sama ya ruangannya, terakhir kapan ya aku ke sini, sepertinya sudah sangat lama" Rara memandangi seluruh isi di dalam ruangan, masih ada kolam kesukaannya di sana
"Duduk dulu ra, mau minum apa?" tanya Alfred
"Gak usah repot-repot kak, aku ke sini cuma sebentar, pingin lihat wajah kakak aja, tambah keriput gak"
"Makin ganteng yang ada ra, kakak juga bingung kenapa bisa setampan ini, eh kok buto di bawa-bawa, habis ngajak dia jalan-jalan?" tanya Alfred sembari melepaskan tas itu dari punggung Rara biar gak berat
"Buto? ini namanya si buntel kak, bukan Buto" ujar Rara ketus, nama bagus-bagus malah di plesetin jadi jelek
"Iya itu maksudnya, awas jangan sampai dia loncat ke dalam kolam"
"Iya iya, gak bakal dia udah di segel di dalam, aku habis bawa dia ke dokter hewan"
"Dia sakit?"
"Gak, aku minta di sterilkan di sana"
"Hah, kenapa?"
"Biar dia tidak menghamili kucing lain"
"Hah" Alfred melongo mendengar ucapan Rara
"Kak Dariel mana?"
"Sibuk, kerja jadi model"
"Wedehhh, kak Dariel itu emang suka bekerja mengandalkan tampangnya, bukan otaknya"
"Ya tau sendiri kan otaknya gimana, mau makan ra?" tawar Alfred
"Boleh, spaghetti bolognese satu sama red velvet satu potong"
"Tadi di tawarin minum gak mau, giliran di tawarin makan gercep"
A few moments later
"Makasih kak makanannya, aku pamit pulang, assalamualaikum, ayo kak Lan antar aku pulang" pamit Rara
"Waalaikumsalam, hati-hati ra, Lan hati-hati bawa mobilnya"
"Baik tuan"
"Kak Lan mampir ke toko hewan dulu"
"Baik non"
***
Pukul tiga Rara baru sampai di rumah dengan menenteng banyak makanan kucing yang harganya selangit, mumpung jalan sama Lan bisa pakai black card milik kakaknya
Rara mengeluarkan si buntel dari dalam tas, tak lupa ia menyuguhkan makanan enak untuk kucing kesayangannya
"Besok aku bakarin ikan, sekarang makan ini dulu ya, gak boleh murung lagi ya" Rara mengelus-elus si buntel yang nampak lahap memakan makanan khusus kucing
Rara mengerutkan keningnya kala mendengar suara mobil dari luar
"Tumben udah pulang jam segini" batin Rara
"Untung aku duluan yang pulang" ia mengusap dadanya merasa lega
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, selamat datang di rumah" sapa Rara yang langsung mencium punggung tangan suaminya
"Heem" Azril melewati Rara begitu saja, tak ada kecupan hari ini rasanya begitu ambyar
"Masih marah kah?" batin Rara
Rara membuntuti suaminya dari belakang, ia hendak membantu Azril melepas pakaian namun pria tersebut malah langsung nyelonong masuk ke kamar mandi padahal belum Rara siapkan air hangat di sana
"Nyebelin" Rara menendang udara sebagai pelampiasan
Merasa tak di hiraukan keberadaannya di sini ia turun ke bawah dan masuk ke kamar sikem, mereka berdua sedang bermain ditemani bi Wawa
"Amma amma" panggil Av sembari mengulurkan kedua tangannya minta di gendong
Rara menerima uluran tersebut dan menggendongnya "Mamah sayang bukan amma"
"Amma"
"No, ma-mah"
"A-ma"
"Ma-mah"
"A-ma"
"Ihh gemes" Rara mencium pipi gembul Av berulang kali
"Sekarang waktunya mandi biar wangi" Rara membawa sikem ke kamar mandi dan memandikan mereka berdua ditemani dengan bebek-bebek kuning kesayangan
***
"Surprise" bisik Azril lembut
Rara terkejut kala melihat empat buah tiket pesawat dengan tujuan ke Bali tepat di hadapannya
"Ini beneran?" tanya Rara, ia berbalik badan menghadap ke Azril
Azril mengangguk "Sesuai keinginan nyonya Azril yang pingin liburan ke Bali"
"Katanya sibuk?"
"Tapi kamu lebih utama"
"Aku kesel tapi terharu"
"Kesel kenapa?"
"Kamu diemin aku"
"Sengaja sih, buat ngasih kamu kejutan" ujar Azril sembari terkekeh
"Ihhh gak lucu"
"Gak lucu tapi menyenangkan"
"Mas..." gertak Rara
"Seminggu lagi kita berangkat, kita bawa Baheer sama bi Wawa juga buat bantu jaga sikem"
"Ok tapi bi Wawa nya jangan di comblangin sama kak Baheer ya"
"Eh ya gak lah, meski Baheer belum laku-laku tapi mas gak setega itu sama bi Wawa"
***