I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Gak Boleh Soudzon



Pak Rahmat berkunjung ke restoran Azril pukul 8 pagi sesuai janjinya, mereka membahas beberapa hal tentang pekerjaan, bahkan mereka berdua juga makan bersama


"Baik pak terimakasih selama ini telah membantu saya" ujar Azril tulus


"Ah kamu kayak sama siapa aja, kamu sudah bapak anggap sebagai anak sendiri, kalau dulu Allah tidak mempertemukan kita belum tentu bapak bisa menyekolahkan anak-anak bapak sampai perguruan tinggi serta memberikan kehidupan yang layak buat mereka"


"Rezeki kan sudah ada ngatur pak, ini semua berkat Allah, ah iya pak salam buat istri bapak"


"Sama anak bapak juga gak nih?" goda pak Rahmat


"Hah ... i..iya deh pak salam buat anak terakhir bapak"


"Yang pertama gak?"


"Ya... itu juga" ujar Azril ragu, ia tersenyum kecut kala pak Rahmat mengerjainya


"Iya nanti saya sampaikan, sesekali berkunjunglah ke rumah bawa istri sama anak-anak kamu, ibu juga sudah kangen sama kamu"


"In Syaa Allah pak"


"Ya udah kalau gitu bapak pamit dulu" ujar pak Rahmat sembari berdiri diikuti oleh Azril


"Silahkan pak, hati-hati di jalan"


"Oh ya Azril, kalau minta di mandiin jangan lama-lama kasian istri kamu bisa kedinginan dan.......... kelelahan" ujar pak Rahmat sembari menepuk-nepuk pundak Azril


Azril yang mendengar ucapan itu mengernyitkan dahi bingung, namun sedetik kemungkinan ia hanya mengangguk saja meski tak paham akan ucapan pak Rahmat


***


"Baheer menurutmu apa yang harus saya lakukan?" tanya Azril


"Mungkin lebih baik abang beri tahu saja semuanya, dari pada menimbulkan kebohongan" ujar Baheer


"Apa kamu yakin Rara bakal menerima semuanya?" Azril memicingkan matanya menghadap Baheer


"Kalau itu..... wallahu a'lam bishawab bang" ujar Baheer


"Rasanya saya tidak ingin memberitahukan ke dia tentang masa lalu yang menimpa kita, saya tidak ingin memberitahu siapa sebenarnya Zahra itu, saya tidak ingin memberitahu kenapa kita bisa di jebak, saya tidak ingin memberitahu bahwa malam itu tidak terjadi apapun diantara kita, saya tidak ingin memberitahu apapun itu"


"Saya hanya ingin menjalani kehidupan saat ini, saya bingung kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu padahal dulu ia sama sekali tidak pernah bertanya apapun"


"Mungkin seiring berjalannya waktu non Rara juga penasaran" terka Baheer


"Ia sama sekali tak tahu apapun mengenai ini, ini sama sekali bukan kesalahan dia, kau ingat kan pengakuan Lila dulu bahwa Rara hanya orang yang tak beruntung hingga terlibat masalah dengan saya"


"Jika Rara tahu bahwa kecelakaan ini bersumber dari saya apa yang akan ia katakan, sedangkan dulu saya lah yang selalu menyalahkannya karena dialah yang berada di kamar saya"


"Dia sama sekali tak ada hubungannya dengan masalah ini, saya takut ia akan pergi meninggalkan saya jika ia tahu bahwa yang menjebaknya bukan musuh keluarganya melainkan orang kenalan saya, dan bahkan dulu kita tak saling mengenal satu sama lain"


"In Syaa Allah non Rara bakal menerima semuanya, dia akan memaafkan abang, bukankah non Rara sudah mencintai abang, dan lagi ada anak di antara kalian berdua" ujar Baheer yakin


"Apa menurutmu kata maaf itu mudah? mungkin kata maaf mudah untuk diucapkan namun pasti akan meninggalkan bekas"


"Bagaimana kalau Rara mendiami saya berbulan-bulan, saya sudah tidak sanggup, meski saya sadar bahwa saya yang telah banyak memberikan dia luka" sorot mata Azril terlihat sendu, mungkin rasanya lebih baik Rara mengalami hilang ingatan tentang yang buruk-buruk saja, agar istrinya bisa menjalani hidup dengan tenang dan bahagia


"Ya beginilah hidup bang, tak selalu berjalan mulus"


"Lantas bagaimana jika Rara bertanya lagi tentang siapa yang menjebak kita, waktu ini dia bilang pingin tahu karena dialah perantara jodoh diantara kita, tapi jujur saya masih ragu"


"Apa saya harus menjelaskan dari awal bahwa ustadzah Zahra yang dulu menyiksanya itu sebenarnya adalah Lila yang merupakan kembaran dari Zahra adek angkat Azizah, siapa nama aslinya?"


"Lili bang"


"Nah itu, terus Zahra yang asli itu juga berdiam diri di pesantren di kota yang sama namun bukan pesantren milik keluarga kita"


"Kamu menyelidiki Zahra palsu (Lila) sedangkan Lan menyelidiki Zahra asli (Lili) maka dari itu kedua sidik jari yang kalian dapat berbeda"


"Orang yang memberi saya kopi panas waktu itu adalah Zahra yang asli (Lili) dan Zahra yang palsu (Lila) tengah bersiap mencari target yaitu Rara, maka dari itu sidik jari Zahra asli (Lili) terdapat di gelas kopi panas dan dia yang awalnya menjadi tersangka, padahal sebenarnya ia hanya di suruh oleh Zahra palsu (Lila)"


"Dan akhirnya terjadilah malam yang seharusnya terjadi" terang Azril, ia sedang berlatih menjelaskan kronologi tragedi malam mengenaskan itu jika suatu saat Rara bertanya kembali


"Loh gak bang, malam yang seharusnya tidak terjadi" tegur Baheer


"Oh ya itu maksudnya"


"Dihhh bilang aja sekarang kecanduan non Rara"


"Iya iya bang, saya lagi memantaskan diri terlebih dahulu sebelum menjemput jodoh saya"


"Nah bagus tuh"


"Tapi bagaimana jika non Rara bertanya apa motif mereka?"


Azril terdiam, benar juga apa yang harus ia jawab, apa ia harus berkata bahwa Lila terlalu terobsesi dengannya hingga nekat melakukan hal gila seperti itu


"Akhhh gak saya gak mau jelasin apa-apa" Azril mengacak-acak rambutnya kasar


***


"Mas sayang" panggil Rara, ia memeluk leher Azril dari belakang dan menaruh dagunya di atas kepala Azril kala pria itu tengah asyik duduk sembari menonton tv


"Ehhh ada apa ini, tumben manggil sayang, pasti ada maunya ya?" Azril sudah dapat menebak sifat Rara


"Ihhh mas gak boleh soudzon gak baik tau" tegur Rara


"Iya iya maaf sayang, sekarang katakan kamu mau apa?"


"Mau liburan" ujarnya


"Liburan kemana?" Azril mendongakkan kepalanya, sedangkan Rara beralih menundukkan kepalanya hingga wajah mereka berjarak hanya beberapa centimeter


"Kemana aja, kalau bisa ke Bali yuk" pinta Rara


Azril mengecup dahi Rara "Boleh, tapi sabar ya tunggu kesibukannya mas mereda?"


"Iya, sebenarnya aku dah pernah ke Bali sih dulu, tapi pingin lagi bareng mas sama anak-anak" ujar Rara, belakang ini Azril nampak sibuk, bahkan tak jarang ia pulang malam


"Iya sayang, sabar ya, eehhh apa mas buka cabang juga kali ya di Bali" ide itu terlintas begitu saja di benak Azril


"Iya mas, semoga aja laris, biar kita bisa sering-sering liburan ke sana"


"Aamiin, mas rundingan dulu sama yang lain, kalau bisa kita bangun di sana kalau gak bisa berarti bukan rezeki kita"


"Iya mas, pokoknya Rara selalu doain mas yang terbaik"


"Makasih sayang atas doanya"


"Aku ngantuk mas mau tidur dulu" Rara beranjak pergi ke kamar sikem, dengan perlahan ia menggendong Ay untuk dipindahkan ke kamar utama


"Mas kalau ke atas tolong bawa Av ya" ujar Rara yang hendak menaiki tangga


"Iya sayang"


"Oh ya lupa" Rara berbalik arah menuju sofa


"Kok balik kenapa?" tanya Azril heran


"Ada yang ketinggalan"


"Apa?"


Cup


Rara mengecup pipi kanan Azril, kemudian ia hendak pergi namun di cegah oleh Azril


"Yang kiri dong sayang biar adil" Azril menyodorkan pipi kirinya yang siap di daratkan sebuah kecupan


Cup


"Udah"


"Dahinya! bibirnya!" pinta Azril


Rara tak menggubris ucapan Azril ia segera pergi namun sebelum menaiki tangga


"Kalau mau lebih ke kamar" ujarnya penuh arti


"Wahh kode nih" Azril tersenyum mendengar ucapan Rara


***