I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Penghuni Empang



"Hoaaammmmm"


"Astaga naga ya Allah udah jam dua belas" pekik Rara kaget


Rara mengedarkan pandangan nya "Bukan di kamar ku, gimana dong, nanti aku di anggap menantu yang malas aja" ujar Rara melongos


Rara beranjak ke kamar mandi, untung di kamar Azril ada kamar mandinya meskipun tidak seluas miliknya tapi ini sudah lumayan daripada kamar mandi yang berada di luar kamar


"Segar nya" Rara mengeringkan rambut menggunakan handuk ia menatap dirinya dari pantulan cermin


"Kak Elin tunggu rambut aku panjang aku akan mengunjungi mu"


Tok tok tok


"Aduhhh gimana ini" Rara menatap ke arah pintu


"Ra udah bangun belum" terdengar suara umi yang memanggilnya dari luar


"Gawat-gawat, aku bisa habis ini, mana mas Azril gak ada lagi"


"Ra"


"Aduh ngumpet aja kali ya" beberapa detik kemudian tidak ada suara ketukan maupun panggilan lagi


Rara bernafas lega, ia membaringkan tubuhnya kembali di atas kasur, pingin makan tapi takut kalau mertuanya marah, karena ia baru bangun jam segini udah gitu langsung makan lagi


"Umi baik kok orangnya, ayo makan aja"


"Jangan harusnya kamu tahu diri, ini bukan rumah mu kamu gak bisa seenaknya"


"Bilang aja kamu capek makanya tidur sampai siang"


"Tetep aja gak enak, kita belum tahu sifat abi sama umi kayak gimana"


"Udah lah dari pada kamu nahan lapar kasian bayi kamu dia butuh asupan lebih"


"Arrgghhhhh laper" Rara memukuli guling di sampingnya, kini dua batin baik buruknya sedang berperang


Clek


Spontan Rara terduduk kala pintu kamar terbuka


"Kamu udah bangun" ujar Azril memasuki kamar, Rara bernafas lega untung bukan mertua nya


"Mas udah pulang?"


"Iya tadi kata umi kamu belum makan, umi udah ngetuk pintu berulang kali tapi gak ada sahutan, makanya mas pulang"


"Mmmm"


"Baru mandi ya?" Azril mencium aroma sabun dari tubuh Rara, rambut Rara masih nampak lembab


"Iya, aku baru bangun tadi"


"Ayo ke bawah makan dulu"


"Tapi aku takut"


"Takut kenapa?"


"Takut umi marah"


"Kenapa umi marah?"


"Aku baru bangun mas, nanti dikira aku pemalas aja"


"Hahahaha gak gak umi gak gitu kok"


"Tapi kebanyakan mertua gitu kan, kalau ada anaknya dia baik sama menantunya tapi kalau anaknya kerja terus istrinya di tinggal nanti dia berubah, semena-mena sama istri anaknya"


"Darimana kamu tahu gitu?"


"Tv"


"Hahaha korban film" Azril terkekeh mendengar ucapan polos istrinya


"Ihhh film kan terkadang di angkat dari kisah nyata" dengus Rara sebal


"Iya iya ra, tapi umi gak gitu kok, umi baik sama siapa aja"


"Beneran"


"Iya ayo turun ke bawah makan dulu, habis itu minum susunya, biar bayi kita sehat"


Rara menganggukkan kepalanya, ia mengikuti Azril dari belakang


Benar saja uminya menyambut dia dengan ramah, bahkan sehabis makan uminya membuatkan ia susu


***


"Kak Ammar mau kemana?" tanya Rara yang melihat Ammar hendak mengendarai motornya


"Mau ke empang ra" ujar Ammar


Rara berjalan mendekati Ammar, ini sore hari waktu yang pas untuk jalan-jalan sembari menikmati senja


"Mau ikut" ujarnya


"Ehhhhh aduh gimana ya"


"Emmmm jangan ya ra nanti kakak bisa di habisi sama Azril" tolak Ammar halus


"Di empang ada apa?" tanya Rara


"Ada banyak ikan"


"Aku suka ikan mau ikut" pinta Rara dengan wajah memelas nya


"Nanti aja sama Azril ya, kakak kan bawa motor gak mungkin kakak bonceng kamu"


"Yahhh" wajah Rara terlihat sedih


Ammar bingung harus berbuat apa, pasti wanita yang ada dihadapannya ini sangat sensitif akibat kehamilannya


"Ehhh itu Azril dah pulang ra, ke sana sama dia aja ya" tunjuk Ammar yang melihat mobil Azril hendak memasuki halaman rumahnya


Rara mengangguk ia segera berlari menghampiri mobil Azril, lebih tepatnya menghadang karena ia berada tepat di depan mobil Azril


Azril menginjak rem secara mendadak


Bruughhh


"Astaghfirullah" ujarnya kala dahinya bertabrakan dengan stir mobil


Matanya menatap Rara yang merentangkan kedua tangannya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun


Azril membuka pintu mobil, ia segera menghampiri Rara


"Kamu gak pa pa ra?" tanya Azril panik, ia menangkup pipi Rara


"Gak pa pa" ujar Rara santai


"Kamu tuh gimana sih, ini bahaya" bentak Azril tanpa sadar


"Kamu tuh sekarang lagi hamil, kenapa malah bertingkah seperti ini"


Mata Rara berkaca-kaca kala mendengar bentakan Azril, bentakan nya mengingatkan pada awal mereka bertemu


Azril memeluk tubuh Rara "Maaf mas khawatir, lain kali jangan seperti ini lagi ya" bisik Azril lembut


Rara melepaskan pelukan Azril "Ayo ke empang"


"Hah"


"Ayo ke empang, kak Ammar udah berangkat duluan" ujar Rara yang berjalan memasuki mobil Azril


***


"Wahh banyak banget ikannya" ujar Rara


"Ra hati-hati nanti kamu jatuh" teriak Azril


"Mas aku mau ngasih makan ikannya" pinta Rara kala Azril sudah berada di belakangnya


"Iya ke sana dulu, jangan di sini nanti jatuh"


Rara melempar makanan ikan, seketika gerombolan ikan meraup makanan secara berebutan


Rara terkekeh geli melihat banyaknya ikan di sana


"Mas ambilin satu, tapi pakai tangannya mas" pinta Rara yang membuat Azril melongo


"Mas gak bisa ra" ujar Azril


"Ihhh masak gak bisa itu lo ikannya banyak"


"Iya tapi licin, susah ra, pakai alat aja ya"


"Jangan pakai tangan kamu aja, lebih efisien"


"Apanya yang efisien malah lebih lama kali ra"


Byurrrrrrr


Azril terkejut kala dirinya sudah terjatuh di dalam empang, bukan hanya Azril melainkan semua ikan di sana jauh lebih terkejut, mereka semua berenang menjauh dari makhluk asing tak bersisik yang memasuki wilayah mereka tanpa undangan


"Wlekkkk" Rara menjulurkan lidahnya, ia pergi begitu saja meninggalkan Azril yang sudah basah kuyup akibat dorongan dari Rara


"Sabar ya Allah sabar" gumam Azril


"Harusnya ikannya yang sabar, noh liat mereka semua ketakutan" ujar Ammar yang berdiri tak jauh dari Azril


"Bang bantuin"


***


"Gak mau jangan deket-deket kamu bau empang" Rara mendorong tubuh Azril agar Azril turun dari ranjang


"Ra mas sudah mandi besar tiga kali lo, padahal kita gak bercinta" ujar Azril memelas


"Gak mau tetep aja kamu bekas empang"


"Ya Allah ra kan kamu yang dorong"


"Udah sana pergi, mana masakan kamu gak enak lagi"


"Kan mas udah bilang mas gak bisa masak tapi kamu tetap maksa"


"Mana rasanya tawar banget lagi"


"Namanya juga ikan tawar sayang"


"Ya udah gak usah deket-deket kalau gitu"


"Terus mas tidur di mana ra"


"Di lantai, ini pakai bed cover nya" Rara menyerahkan bed cover ke tangan Azril


"Ra jangan gitu dong, mas kedinginan nih butuh pelukan"


"Noh peluk bantal sana" ujar Rara yang menyerahkan bantal pada Azril


"Ra......"


"Tadi pagi kamu masih grogi ketemu aku kok sekarang udah berubah lagi"


"Ehhh kilatan ya"


"Jelas banget malah"


"Hehehehe, masih grogi tapi mas lawan"


"Daripada jantung kamu meledak mending tidur di bawah sana"


"Gak bisa ra......"


"Ok mas ngalah untuk malam ini, besok-besok gak lagi" Azril tidur di lantai beralaskan karpet, kamarnya tidak seluas milik Rara, tidak ada sofa di sana jadi mau tidak mau hanya karpet di lantai yang mau menampung dirinya


"Janin papah kamu bau empang kan" bisik Rara pada perutnya sendiri


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗