
Suasana nampak canggung di dalam kamar, mereka berdua hanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Rara dan Azril menoleh ke arah pintu, mereka saling berpandangan sebentar hingga akhirnya Azril berdiri membuka pintu tersebut
"Umi" panggil Azril kala melihat uminya berdiri di depan pintu dengan koper di sampingnya
"Ini bantu Rara beres-beres, sekarang kan Rara mau tinggal bareng kita" ujar umi sembari menyerahkan koper milik Rara
Azril tersenyum tipis dan meraih koper tersebut
"Kamu senang kan?"
Azril menganggukkan kepalanya "Banget" ujarnya
"Ya udah umi gak ganggu kalian lagi" pamit umi
Azril membawa koper Rara masuk ke dalam kamar, ia melirik ke arah Rara yang tengah menatap gerak geriknya
"Taruh aja di sana, nanti aku beresin" ujar Rara
"Aku bantuin" Azril menggeret koper menuju ke arah lemari pakaiannya
"Stop aku aja, ada aset pribadi ku di sana" ujar Rara yang memegang tangan Azril yang tengah menarik resleting koper
"Heem" Azril berdehem menetralkan detak jantungnya kala tangannya bersentuhan dengan Rara
"Kenapa jadi grogi lagi" batin Azril yang memalingkan wajahnya
Sadar akan sesuatu Rara segera menarik tangannya dari punggung tangan Azril
"Aku aja, kamu pergi sana"
"Heem"
"Heem"
"Kamu kenapa sih mas, sakit tenggorokan ya"
"Ngak kok"
"Aneh" gumam Rara yang masih dapat terdengar oleh Azril
"Apa gara-gara Rara sudah mengetahui perasaan ku padanya jadi aku makin grogi, bener kata orang lebih nyaman memendam perasaan daripada mengutarakan namun tak ada balasan"
"Tapi dulu gak separah ini kok"
"Astaghfirullah"
Azril berperang dalam batinnya
***
"Baik-baik di sini, mama akan sering mengunjungi kamu, jangan lupa periksa rutin ke dokter, makan yang teratur, jangan terlalu banyak makan makanan yang tidak bergizi, minum susu yang rutin, jangan melakukan aktivitas yang berat"
Rara hanya mengangguk mendengarkan petuah dan nasehat dari sang ibu tercinta, rasanya pagi ini Rara benar-benar merasa kenyang karena telah mendengar mamanya berceramah semalaman, bahkan ia kurang tidur
"Kamu jangan terlalu egois ra, anak kamu juga butuh ayahnya, Azril juga berhak mengetahui kehamilan kamu, dan dia berhak menjaga kamu selama kehamilan kamu, mama menghargai perasaan kamu tapi ingat kamu sekarang gak sendiri ra ada bayi dalam kandungan kamu, pikiran itu baik-baik" ucapan mamanya semalam masih terngiang jelas di otaknya
"Tenang aja nanti umi akan jagain kamu ra" ujar umi ramah
Tin tin tin
Suara klakson mobil membuat segerombolan orang yang berada di halaman rumah Azril menoleh
Alfred, Dariel dan Lan turun dari mobil dengan gaya coolnya, mereka merapikan jas masing-masing, melepas kacamata hitamnya dan kemudian memasukkan tangan mereka di saku celana
"Cihhhh tebar pesona" dengus Rara yang melihat gaya arogan kakak-kakak nya
"Di sini bukan kantor, bukan panggung, apalagi bukan acara untuk menyambut kalian, keluarin tangan kalian, ayo nunduk yang sopan, salim sama besan papa" tegur sang papa yang membuat mereka buru-buru melaksanakan perintah bos dari segala bosnya
"Hahahaha gaya mereka sama kayak kamu Lard" tawa abi Azril
"Kelebihan ku banyak cuman mereka dapet seperempat nya aja jadi gini deh" dengus papa sebal
"Bang aku mau bawa Rara, aku akan menjaga dia" ujar Azril tiba-tiba, ia tidak mau kakak-kakak nya Rara menghalangi dirinya lagi
"Oh ya silahkan bawa aja gak papa, aku ikhlas kok Nobi lahir batin malah" ujar Dariel
"Iya bawa aja" timpal Alfred
"Iya tuan bawa aja, jagain non Rara ya" celetuk Lan
"Kakak" panggil Rara memelas, kenapa sekarang kakak-kakak nya pada menyerahkan dirinya dengan mudahnya
"Aduh kakak pasti bakal kangen banget sama kamu ra" ujar Dariel sembari memeluk tubuh Rara, padahal dalam hatinya "Akhirnya malam ku bisa tenang"
"Azril titip Rara ya" ujar Alfred yang membuat Azril memicingkan matanya "Benarkah ini bang Alfred dan bang Dariel, biasa mereka mengancam ku, tapi ini dia malah melerakan adiknya dengan suka rela" batin Azril curiga
Rara beralih memeluk tubuh Alfred erat, Alfred menepuk pelan punggung Rara
"Non Rara jaga kesehatan ya" ujar Lan sopan, kini Rara hendak memeluk tubuh Lan namun
"Ehhhhhh gak boleh" pekik Azril yang menarik tangan Rara
"Kenapa sih mas, dia kan kakak sepupu ku" ujar Rara kesal
"Emang bukan muhrim ra, sini peluk papa aja" ujar papa yang merentangkan tangannya
"Mana belanjaan kalian? kan mama suruh kesini untuk membawa semua kebutuhan Rara, bukan tebar pesona"
"Lan" satu kata dari mulut Alfred membuat Lan harus menjalankan tugas nya
"Astaghfirullah hal adzim kenapa tiga kresek besar isinya susu semua" pekik mamanya
"Kita bingung ma beli yang mana tadi, jadi kita beli semua merk dan semua rasa" ujar Dariel santai
"Lebih tepatnya kita borong satu toko tersebut" timpal Alfred
"Emmmm itu di mobil masih lima kresek besar ma" lanjut Dariel sembari menunjuk mobil
"Bukan keturunan IQ ku kok" ujar papa sembari mengangkat kedua tangannya
Azril melirik belanjaan yang di beli oleh mereka bertiga "Susu ibu hamil" mulutnya bergerak tanpa suara
Ia memandang ke arah Rara "Sejak kapan dia hamil kenapa tadi dia tidak memberitahu ku" batin Azril kecewa
"Bukannya beliin sayur sama buah malah borong susunya aja" gerutu mama sebal
"Eeeiiitttttss kita gak beli susu doang kok ma" Dariel menuju mobil dan mengangkat satu kresek besar
"Ini dia biskuit pelancar asi" ujar Dariel yang menurunkan satu kantong plastik besar di hadapan mereka
"Untuk bayinya bukan untuk kamu" ujar Dariel yang menatap ke arah Azril
Azril hanya tersenyum kikuk, tau aja kesukaannya
Orang tua serta mertua Rara saling berpandangan
***
"Kenapa kamu gak bilang kalau hamil?" tanya Azril kala pintu kamar telah tertutup
"Kamu gak nanyak"
"Astaghfirullah ra, harusnya kamu yang ngasih tahu" ia mengusap wajahnya kasar
"Kapan kamu tahu kehamilan kamu?" tanya Azril
"Sekitar dua minggu lalu" ujar Rara yang menghitung jari-jarinya
"Ra tiap pagi dan sore aku selalu ke rumah mu, tapi bagaimana mungkin aku jadi orang terakhir yang tahu bahwa istriku sendiri tengah hamil"
"Ya udah sekarang udah tahu kan mas"
"Ra"
"Iya iya ah, besok besok kalau aku hamil lagi aku kasih tahu duluan" mata Rara sudah lelah minta di tutup
Azril mencerna ucapan Rara, kemudian seulas senyum terpancar dari wajahnya
"Iya bener ya, tunggu ini lahir nanti kita usaha lagi"
"Hooh"
"Eehhh apa sih mas"
"Ngawur kamu" ujar Rara yang menelungkup kan kepalanya di atas bantal, pikirannya sudah konslet tidak tahu apa yang ia bicarakan tadi
"Aku mau istirahat" ujar Rara yang langsung terlelap di atas kasur
"Ra aku berangkat kerja dulu ya" bisik Azril
"Heem"
Ia mengecup dahi Rara pelan, menyelimuti istrinya dan beranjak keluar dari kamar
"Azril" panggil uminya
"Iya mi"
"Udah mau berangkat?" tanya umi yang melihat putranya tengah memakai sepatu
"Iya mi"
"Ada kabar baru mau dengar gak?"
"Kabar apa mi?"
"Tentang Azizah"
"Kenapa dia mi?"
"Dia mau nikah lo"
"Alhamdulillah, semoga keluarga nya sakinah mawadah warahmah"
"Gak cemburu nih?" tanya Ammar yang baru pulang dari pesantren, ia mendengar pembicaraan umi beserta adiknya
"Gak lah bang, orang bentar lagi aku mau jadi ayah" ujar Azril bangga
"Hah beneran, Rara hamil, aku jadi paman dong" pekik Ammar senang
"Bener lah, makanya abang nikah sana!"
"Harusnya sih abang udah nikah dari dulu, tapi sayang calonnya udah di rebut sama adik sendiri" goda Ammar
"Itu takdir aku bang" ujar Azril kesal
"Udah udah gak usah ribut, sana Azril berangkat, kamu juga Ammar berangkat ke empang sana, urusin tuh ikan-ikan kakek"
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗