I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Hanya Sekedar Flash Back



"Tunggu mas"


"Kenapa ra?" tanya Azril yang ikut menghentikan langkahnya


Rara melirik ke arah masjid, di sana tempat duduk untuk cowok dan cewek di pisah


"Mas aku duduk di samping mas ya?" pinta Rara memelas


"Eh gak bisa ra, masak kamu duduk di barisan pria? lagipula nanti mas mau ceramah, kamu duduk di barisan perempuan ya"


"Gak mau"


"Kenapa gak mau?"


"Gak ada temen ngobrol, lagi pula gak ada yang aku kenal di sana" gerutu Rara


"Ya ampun ra, ke sini itu niatnya untuk mendoakan orang sama dengerin ceramah bukan ngobrol"


"Bosen bikin ngantuk" ujar Rara jujur


"Astaghfirullah" Azril menggelengkan kepalanya


"Aku kan jujur, pasti banyak di antara mereka yang juga sepemikiran sama aku" bela Rara


"Stttutt gak boleh soudzon gitu, udah ayo sini mas anterin sampai kamu duduk"


"Ihhh gak mau canggung, aku diem di rumah kakek mertua aja ya"


"Gak boleh, kamu harus denger mas ceramah, belum pernah kan denger mas ceramah"


"Hah belum pernah?" Rara mendelik menatap Azril


"Terus yang tiap hari ceramah di kamar siapa?" tanya Rara sinis, pasalnya Azril selalu menasehati istrinya ketika sang istri melakukan kesalahan sekecil apapun, nasehat itu berakar hingga menjadi sebuah ceramah dengan banyak dalil yang di kutib dari Al-Qur'an serta hadits


"Beda sayang ini kan di depan banyak orang, kamu gak mau melihat seberapa berwibawanya suami kamu"


"Percuma aku juga gak bisa lihat mas berdiri di depan" timpal Rara, tentu karena ada pembatasan pria dan wanita, hal itu sengaja di lakukan agar tidak timbul fitnah dan saling lirik sana sini


"Seenggaknya kamu denger suaranya mas"


"Emang judul ceramahnya apa?"


"HUKUM ABORSI" Azril menekan kata-katanya


Jlebbbbbb


Rara membelalakkan matanya, ia menelan ludahnya dengan susah payah "Kok rasanya makjllleebb gitu ya" gumamnya


"Makanya sayang kamu harus denger ceramah dari suamimu ini" Azril merangkul pundak Rara menuntun ia berjalan ke tempat tamu wanita di sediakan


Rara hanya diam mematung menuruti arahan suaminya "Nyindir nya ngene banget" gerutu Rara kala sudah sampai di tempat perbatasan


"Mas anterin sampai sini ya soalnya gak boleh masuk, ingat duduk yang manis sayang, pasang telinganya baik-baik, jangan kabur selama mas berceramah di depan" ujar Azril lembut penuh arti, ia menunggu hingga Rara masuk barulah ia pergi


"Dasar suami resek" batin Rara meringis


***


Rara keluar dari masjid dengan wajah lesu, sehabis mendengar ceramah dari suaminya membuat ia semakin merasa bersalah


"Awas kamu mas, tidur di lantai nanti malam, biar aku di keloni sama si buntel aja" gerutu Rara sembari mencengkeram gamisnya kuat


"Eh itu orangnya, syukur deh kalau panjang umur" pandangan Rara mendapati suaminya sedang berbincang dengan seseorang


Rara hendak menghampiri suaminya namun langkah nya terhenti kala menyadari siapa wanita yang tengah berbicara dengan suaminya


Ada rasa kecewa di hatinya, ia bergegas kembali ke rumah kakek mertuanya lebih dulu seorang diri


Rumahnya nampak sepi mungkin semua orang yang ada di sini sedang sibuk sehabis acara aqiqohan salah satu kerabat suaminya


Rara masuk ke kamar Azril, membuka hijabnya dan merebahkan tubuhnya sembari menerawang kira-kira apa yang sedang di obrolkan suaminya dengan mantan istrinya dulu, hingga akhirnya ia teringat pertemuannya dengan mantan istri Azril terakhir kalinya


Flash back on


Clek


Pintu rumah sakit terbuka lebar, menampakkan sosok wanita cantik yang mengenakan jilbab serta gamis panjangnya, wajahnya tampak sedih matanya sedikit sembab


Rara mengetahui siapa wanita ini, dia adalah sosok yang tadi memohon agar Rara dapat mengembalikan mantan suaminya, setelah semua keluarga nya keluar dari ruangan untuk mengurus perpulangan Rara dari rumah sakit, sosok wanita ini masuk kembali tanpa sepengetahuan siapapun


"Silahkan" jawab Rara santai


"Kamu pasti mengingatku bukan? tapi kenapa kamu seolah-olah tidak mengenali ku? apa kamu juga merencanakan semua ini, dan bahkan rela menyerahkan mas Azril dengan mudah"


"Saya tak mengenalmu" ujar Rara datar


"Baiklah kalau kamu lupa, aku adalah mantan istri dari mas Azril yang terpaksa cerai akibat ulah kamu"


Rara mengerutkan dahinya "Maksud kamu?"


Azizah semakin bingung, antara Rara pura-pura tidak tahu atau benar-benar tidak tahu sama sekali


Azizah merogoh tasnya kemudian ia menyodorkan hpnya, menunjukkan sebuah foto pernikahan tentang mereka berdua


Rara memperhatikan foto itu seksama "Bukankah ini laki-laki yang mengaku sebagai suamiku, lantas apa maksudnya ini, jadi benar aku istri keduanya, atau ini hanya permainan belaka" batin Rara bergemuruh


"Lihatlah video ini" Azizah menscroll hp miliknya mempertontonkan video pernikahan mereka berdua, mereka berdua tampak serasi begitu romantis dengan pancaran penuh cinta, semuanya tak main main dekorasi yang indah mahar yang cukup banyak serta nyanyian yang merdu dari mempelai pria, sungguh sangat berbeda dengan pernikahannya yang di tunjukkan oleh papanya, video ini tampak asli penuh khidmat dan khusyuk


Rara menatap ke arah Azizah nampak tak ada kebohongan di matanya


"Maaf saya tak tahu apa apa, saya kehilangan ingatan saya, dan saya tak tahu mana yang benar dan mana yang salah" ujar Rara dengan nada datar namun matanya menyiratkan sebuah luka yang tak dapat diartikan


Azizah tertegun mendengar perkataan Rara "Kenapa kamu bisa kehilangan ingatanmu?" tanya Azizah prihatin


"Saya tak tahu, kalaupun saya tahu itu namanya bukan hilang ingatan"


"Oh ya benar juga"


"Bagaimana bisa saya berakhir dengannya?" tanya Rara


"Kalian..... kalian telah melakukan hubungan yang tak seharusnya di lakukan, mirisnya lagi itu saat malam pertamaku" ujar Azizah sendu


"Hah" Rara membungkam mulutnya bagaimana bisa ia merusak hubungan orang lain, apa ia adalah seorang wanita yang breng***


"Lantas sekarang apa yang kamu inginkan?" tanya Rara to the point


"Aku..... aku masih mencintainya, dan kurasa dia juga masih mencintaiku mengingat tiga bulan lalu dia memintaku untuk menjadi istrinya lagi" ujar Azizah


"Meski itu istri kedua" lanjutnya, padahal mereka tahu jika sudah jatuh talak tiga maka sang wanita harus menikah lagi dengan pria lain dan bercerai barulah bisa bersama dengan manta suaminya dulu, namun nampaknya mereka hendak melanggar aturan agama tersebut


"Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan untuk menembus semua dosaku padamu"


"Namun ingatlah satu hal, bahwa hidup di dunia ini tak selamanya akan berjalan sesuai dengan kehendakmu, bukankah dunia ini terkadang tak adil"


Ucapan Rara membuat Azizah terdiam


"Pergilah sebelum keluarga saya datang, saya berharap hidupmu sesuai dengan kehendakmu dan penuh dengan kebahagiaan"


"Kalau gitu aku pergi dulu dan ...... terimakasih" Azizah segera keluar dari ruangan Rara


Flash back off


Cup


Rara tersadar dari lamunan masa lalunya kala sebuah bibir mendarat tepat di bibirnya secara bertubi-tubi


"Mas cariin dari tadi di sana sampai semua tamu pergi tapi gak ketemu-ketemu, ehh ternyata udah di sini" ujar Azril tanpa menjauhkan wajahnya dari hadapan Rara, kini Rara dapat melihat wajah Azril dengan sangat jelas bahkan hampir tak ada jarak diantara keduanya


Rara memalingkan wajahnya dari hadapan Azril, akhirnya Azril mengangkat kepalanya kembali


"Kamu marah ya ra?"


"Maaf ya sayang, mas cuma gak mau orang-orang juga berpikiran untuk melakukan aborsi jika tidak dalam keadaan darurat"


"Mmmmm....... kebetulan juga tema ini cocok untuk aqiqohan anak mereka yang masih bayi, mas kan tadi gak nerangin hukum aborsi aja melainkan cara mendidik anak dari bayi hingga pertumbuhannya" terang Azril, jari telunjuknya sedari tadi ia gunakan untuk menggulung-gulung rambut Rara


Karena tak ada respon dari istrinya ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Rara memeluk tubuh istrinya dari samping


"Ngobrol apa aja tadi sama mantan istri kamu?" tanya Rara


"Hah"


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗


Comment titik doang juga gak pa pa 🙃