
"Mas dulu kamu pernah bilang kan bahwa aku merusak impianmu, tapi kini impianku juga sudah rusak, bukankah kita impas" ujar Rara sembari tersenyum lebar, menampakkan lesung pipi manisnya, mulutnya tersenyum namun matanya berlinang
Azril berlutut dihadapan Rara, kedua lututnya ia gunakan untuk menompa tubuh tegapnya
Azril menggelengkan kepalanya "Kamu tidak merusak impian ku ra, maaf dulu aku menyalahkan mu atas apa yang menimpa hidupku, aku terlalu menutup hati hingga lupa bahwa kamu lah jawaban dari doa-doa ku"
Azril menggenggam kedua tangan Rara
"Ra aku tahu impianmu ingin menjadi seorang dokter kan, aku akan tetap mengizinkan mu meraih impian mu, aku akan selalu mendukungmu hingga suatu saat nanti kamu mengenakan jas putih dengan penuh kebanggaan"
Rara tersenyum miris mendengar apa yang Azril ucapkan, tatapan matanya mulai kosong, menjadi seorang dokter? itu tidak mungkin karena ia kini mengidap hemophobia akibat kecelakaan yang menimpa dirinya
"Ra....." panggil Azril lembut
"Ra apa semua perhatian ku selama ini hanya kamu anggap sebagai kebohongan?"
"Apa semua yang kulakukan selama ini hanya sebuah kepura-puraan?"
"Ra tidak bisakah kamu mendengar suara detak jantungku yang berlebihan setiap aku mendekap mu"
"Apa kamu tidak bisa melihat kecemburuan ku ketika kamu memeluk pria lain, bahkan ketika kamu menjadi sebuah pusat perhatian"
"Ra....."
"Mas" Rara memotong pembicaraan Azril begitu saja
"Itu hanya sebuah rasa bersalah yang kamu miliki terhadap ku"
"Kamu mengganggap kecelakaan yang terjadi padaku itu semua berawal dari kamu"
"Mas andaikan jika aku tidak mengalami kecelakaan apa kamu mau capek-capek memperlakukan aku dengan baik?"
Azril terdiam, ia mencerna setiap apa yang istrinya ucapkan sebelum dapat menjawab pertanyaan tersebut
"Jawab!"
"Iya, aku mau melakukan itu"
Rara tertawa mendengar perkataan Azril
"Bohong kamu mas"
"Kenapa waktu itu kamu tidak mengunjungi ku sama sekali, kenapa kamu tidak pernah meneleponku"
"Waktu itu aku menunggumu, aku selalu menunggumu, bahkan dengan bodohnya aku berharap kamu datang untuk melindungi ku" lelehan air mata mengalir begitu saja dari mata lentiknya
Dengan sigap kedua tangan Azril mengusap air mata tersebut sebelum menetes kebawah
"Aku minta maaf sayang" hanya kata itu yang mampu Azril ucapkan berulang kali
"Mas ayo kita jalani hidup kita masing-masing"
Ucapan Rara membuat Azril terenyuh, ia menahan rasa sesak di dadanya, haruskah ia kehilangan istri kecilnya
"Ra apa tidak ada kesempatan bagiku?" tanya Azril penuh harap, manik matanya sedari tadi tidak lepas menatap sorot mata Rara
Rara menggelengkan kepalanya pelan, bola matanya ia arahkan ke sembarang arah
"Ra coba tatap mata aku, tolong beri aku kesempatan" Azril meraup kedua pipi Rara memaksa gadis tersebut untuk melihat ke arah matanya
Rara menurut, namun ia masih sama menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang Azril pinta
Azril memeluk tubuh istrinya, ia melingkarkan tangannya di pinggang Rara, wajahnya ia sembunyikan tepat di perut Rara
Samar-samar terdengar suara isak tangisan, pundak Azril bergetar, Rara merasa piyama bagian perutnya mulai basah akibat air mata Azril
Tak ada yang bisa Rara lakukan, ia hanya menatap punggung Azril yang bergetar dengan tatapan nanar nya
***
Mata Azril membengkak akibat semalam, ia bahkan tidak bisa tidur semalaman, hanya bersimpuh di atas sajadah untuk mencurahkan seluruh isi hatinya
"Mas" panggil Rara, ia menghampiri suaminya yang tengah duduk di sofa dengan tatapan kosong
"Ra mas gak sanggup, tolong beri mas kesempatan lagi" ujar Azil memohon sembari memegang tangan Rara
"Ayo kita pisah secara baik-baik" ujar Rara
"Tenang aja papa mama sudah tahu kok" Rara melepas tangan Azril dan pergi meraih koper milik Azril
Tatapan Azril kembali ia kosongkan, biasanya jam segini ia telah pergi bekerja, namun kini ia tidak ingin melakukan apapun, hampa sudah hidupnya
Ponsel Azril bergetar sedari tadi, tangannya meraba tempat di sebelahnya untuk mencari keberadaan ponsel tersebut tanpa mengalihkan pandangannya, ia mengangkat panggilan tersebut dan mendekatkan ponselnya di telinga
"Assalamualaikum bang"
"Tiga bulan bang, mereka menyanggupi pembangunan selesai selama tiga bulan tapi dengan tambahan biaya, karena mereka akan mengirim pekerja lebih banyak"
"Bang untuk desain rumah nya nanti tolong jelaskan secara detail"
"Bang"
"Halo bang"
"Abang di sana kan"
"Halo"
"Baheer, jemput saya" ujar Azril yang memutus panggilan begitu saja
Ia melihat istrinya yang sedari tadi sibuk mengemasi seluruh barang miliknya, tanpa ia pinta lagi-lagi air mata itu lolos mengalir bahkan menetes membasahi celana yang sedang ia kenakan
"Mas empat bulan, tunggu empat bulan lagi" ujar Rara yang telah berdiri di depan suaminya
Azril mendongakkan kepalanya "Apa kamu akan kembali padaku setelah empat bulan itu?" tanya Azril dengan suara serak
"Gak lah, aku akan memberikan kamu undangan pernikahan karena setelah empat bulan itu masa iddah ku berakhir" ujar Rara sembari tersenyum manis
Mendengar perkataan Rara membuat Azril berdiri, ia langsung memegang kedua pundak Rara, masa iddah? Azril saja tidak mau mengucapkan kata talak bagaimana mungkin ada massa iddah
"Gak ra, kamu gak boleh dimiliki oleh pria lain, kamu itu cuma milikku, please ra jangan siksa aku kayak gini"
"Haishhh untuk saat ini kita pisah rumah dulu" ujar Rara
Kini keluarga Rara berkumpul di halaman rumah mereka, Baheer telah datang untuk menjemput Azril
"Pa ma Azril pamit dulu" ujar Azril sembari mencium kedua punggung tangan mertuanya
"Aduhhh baru ditinggal gitu aja udah mewek, sampai bengkak coba matanya" ejek Dariel
"Diem kamu Ari, kamu akan tahu rasanya ketika kelak ditinggalkan atau meninggalkan orang yang sangat kamu cintai" ujar Papa tegas
"Jaga diri kamu baik-baik, mama tidak bisa ikut campur urusan kalian lagi, kalau kalian berjodoh mama yakin kalian akan bersama" ujar mama Rara
"Iya ma, Azril paham" ujar Azril yang memaksakan dirinya untuk dapat tersenyum
"Ma pa terima kasih selama ini telah menampung Azril"
"Kamu ngomong apa sih, kamu kan menantu kita" ujar papa
"Hati hati mas"
Mendengar perkataan istrinya ia langsung memeluk tubuh itu, erat sangat erat hingga Rara merasa sesak di dadanya
Azril melepaskan pelukannya, ia berjalan mendekat ke arah mobil, Baheer telah memasukkan semua barang Azril ke dalam bagasi mobil
"Ra memang sudah sangat lama aku ingin meninggalkan rumah ini, aku tidak akan tinggal di rumah ini lagi"
Semua orang tertegun mendengar perkataan Azril begitupula dengan Rara
"Breng***" umpat Rara yang berjalan ke arah Azril, ia memukuli dada bidang Azril hingga menimbulkan suara
"Azril kok kamu ngomong gitu?" tanya mamanya yang terkejut mendengar ucapan Azril
"Apa cuma sampai di sini saja perjuangan mu?" tanya papa sinis
Dengan susah payah Azril memeluk tubuh Rara lagi
"Rara sayang...... memang sudah seharusnya aku meninggalkan rumah ini, tapi tentu saja aku akan pergi bersamamu, percayalah suatu saat nanti aku akan membawamu pergi dari rumah ini dan tinggal bersamaku, membangun keluarga kecil di istana kita sendiri, serta memiliki bayi-bayi yang lucu persis seperti mu"
Azril melepaskan pelukannya, tangannya mengusap lembut pipi Rara yang penuh air mata, ntah sejak kapan air mata itu mengalir
"Udah sana pergi" ujar Rara yang menepis tangan Azril
"Tunggu aku di sini, selamanya aku tidak akan berpisah dengan mu" Azril memasuki mobilnya, perlahan mobil itu berjalan
"Coba aja kalau bisa" teriak Rara sinis
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗