I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Tolong Percayalah



"Ra bagaimana kondisi kamu?" tanya Azril sembari merangkul pundak Rara, kini mereka menikmati indahnya bintang di malam hari


"Seperti yang mas lihat aku baik baik saja"


"Apa kepala kamu masih sering sakit?" tanya Azril sembari mengelus kepala Rara


"Gak" jawab Rara sembari menggeleng


"Apa gegar otaknya udah sembuh total?"


Rara mengangguk, sebenarnya tidak total ia masih membutuhkan obat kalau sewaktu waktu sakitnya kambuh, namun itu tak terlalu parah asal ia tak terlalu stres saja In Syaa Allah dia baik baik saja


"Bagaimana dengan fobia darah kamu?" tanya Azril hati-hati


"Udah sembuh dong, di sana aku terapi, Alhamdulillah lambat laun udah gak takut" ujar Rara sumringah, kini ia bisa melakukan aktivitas nya seperti biasa tanpa takut cairan berwarna merah


"Alhamdulillah" Azril memeluk tubuh Rara erat, sungguh ia sangat bersyukur atas apa yang ia dengar


"Maafin mas ya" ujar Azril lirih


"Mas, aku ingin bertanya sesuatu padamu" ujar Rara


"Tanya apa sayang?"


"Siapa yang menjebak kita hingga aku berada di atas kasur mu?" pertanyaan yang sudah sangat lama ingin ia ketahui, namun sayang semua keluarganya bungkam mulut, mereka tak ingin membahas kepedihan dalam hidup Rara


"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Azril mengira bahwa Rara sudah melupakan semuanya dan tak ingin mengungkit masalah itu lagi, tapi lihat kini ia bertanya pertanyaan yang sudah sangat lama


"Penasaran aja, siapa yang menjadi perantara jodoh diantara kita" ujar Rara terkekeh, ia berkata seperti itu untuk meregangkan suasana dan agar Azril mau memberitahunya


Azril tersenyum menatap pipi Rara dari samping


"Kenapa? mau berterima kasih sama dia, atau mau baku hantam?" tanya Azril


"Iya juga ya, jika aku mengetahuinya apa aku akan berterimakasih padanya, atau aku malah akan menghajarnya dan membencinya" batin Rara


"Sayang mas punya sesuatu buat kamu" bisik Azril, ia hendak mengakhiri pembicaraan ini, melihat Rara sedikit melamun membuat ia semakin ragu, lebih baik seperti ini tak mengetahui apapun dari pada mengetahuinya, bener kata orang terkadang mengetahui lebih banyak itu tak terlalu baik


Rara menoleh ke arah Azril "Apa" ucapnya


Azril menyerahkan sebuah kotak, ia membukanya dan mengeluarkan kalung berinisial huruf A


Rara tersenyum "A" ucapnya dengan mulut terbuka


"Ini artinya kak Ammar apa ustadz Afham mmmm apa kak Alif sahabat mas, kalau kak Alfred gak mungkin dong" goda Rara, ia menyebut siapa saja yang berinisial A orang terdekat Azril


"Itu nama mas, AZRIL" ujar Azril bukannya Rara baper malah jadi Azril yang baper dalam artian yang berbeda


"Hahahaha iya iya mas jangan ngambek gitu dong" ujar Rara


"Kalungnya indah mas, terimakasih" ujar Rara sembari tersenyum


"Sama sama sayang" Azril mengecup kening Rara sekilas


"Ra apapun yang terjadi kedepannya jangan pernah tinggalin mas ya" pinta Azril


"Ya gak bisa dong, kalau nanti aku di ambil Allah gimana"


"Suuuttt kamu jangan ngomong gitu, mas, Ay dan Av masih butuh kamu" ujar Azril yang menempelkan jari telunjuknya di bibir Rara


***


"Ra bangun yuk bentar lagi shubuh, ra ayo bangun dulu" Azril menepuk-nepuk pipi Rara sembari mencubitnya


"Iya iya jangan di cubit" rengek Rara


"Bangun dulu kalau gitu"


"Iya ini udah bangun"


"Udah bangun kok matanya masih terpejam"


"Iya"


"Oh mas angkat aja ya"


"Jangan, ini udah bangun" Rara menarik selimutnya agar menutupi aset-aset pribadinya, eh bukan milik pribadi deh udah ia bagi dengan Azril


Rara melihat Azril yang telah rapi dan wangi dengan baju koko serta sarung yang melekat di tubuhnya


Ahhh tampan sekali


Rara mengangguk, ia berjalan berbalut selimut tebal hingga ia nampak seperti pinguin yang kesusahan berjalan


Azril hanya terkekeh melihat istrinya hingga tubuh istrinya menghilang di balik pintu kamar mandi


Setelah sarapan Azril membawa Rara ke rumah orang tuanya


Begitu Rara turun ia terpaku kala melihat sosok buntelan putih yang amat ia rindukan, kucing itu nampak peka kala melihat siapa yang datang, babunya eh bukan majikannya datang setelah sekian lama menghilang, mata mereka saling bertemu menyiratkan kerinduan yang amat mendalam


Beberapa detik kemudian kedua makhluk hidup beda spesies itu berlari ke arah satu sama lain, Rara mendekap tubuh si buntel yang nampak agak terlihat kurus


"Meoww meoww"


"Iya iya kaka juga kangen"


Azril yang melihat drama di depannya berjalan menghampiri mereka


"Nampaknya si buntel kangen banget sama kamu ra" ujar Azril


"Ehhh ada menantu umi datang, ayo masuk dulu"


Rara dan Azril masuk dan berbincang sebentar dengan umi dan abi, kemudian mereka pamit, namun sebelum pulang


"Sayang si buntel sudah berkeluarga loh, anaknya ada dua"


"Hah masak mas, Alhamdulillah ya Allah, ayo kita bawa pulang" ujar Rara senang


"Kita ke rumah Iqba dulu, anak dan istrinya ada di sana"


Setelah perdebatan cukup panjang akhirnya si buntel kalah telak, hak asuh anak jatuh pada gumpel alias Momo


Rara agak kecewa dan sedih, ia memutuskan membawa si buntel sementara, sekalian melepas rindu pada kucing peliharaannya


***


"Sayang mau beli apa lagi?" tanya Azril yang mendorong keranjang belanjaan


"Mau tisu basah dulu mas"


"Ustadzah Zahra" gumam Rara kala melihat wanita ini berada tepat di hadapan Rara


"Ahhh... mmm Rara kan" wanita berjilbab itu nampak mengingat-ingat wanita di hadapannya


"Assalamualaikum ustadz Azril" sapa wanita itu sembari menunduk


"Duhhh kalem banget sih kalau ketemu mas Azril, mana mode rubah nya?" sindir Rara


"Rara" tegur Azril


"Ah maaf" wanita itu nampak kikuk dan penuh penyesalan, sungguh berbeda dari terakhir kali menyusahkan Rara


Rara menatap tajam ke arah Zahra "Maaf?"


"Apa jika seandainya saya tidak memaafkan anda, anda akan berkata Allah saja Maha Pemaaf, kenapa kamu sebagai hambanya tidak mau memaafkan? benar begitu bukan, ustadzah Zahra yang terhormat"


"Ra udah ya" ujar Azril, ia menarik tangan Rara dan membawa ke belakang tubuhnya


"Kamu pergi aja Zahra, sampaikan salam ku pada kedua orang tuamu" ujar Azril


Zahra mengangguk "In Syaa Allah nanti saya sampaikan, mmm ra tolong maafkan saya dan kakak saya, permisi wassalamu'alaikum"


"Mas apaan sih, kamu bela dia, kamu gak tau apa...."


Mulut Rara Azril bungkam dengan bibirnya, astaga ini tempat umum, Rara membalikkan wajahnya yang sudah memerah ntah karena marah atau tersipu malu, ia melirik kanan kiri untung saja tidak ada orang


"Suatu saat nanti mas akan jelasin semuanya, untuk saat ini tolong percaya sama mas" ujar Azril penuh pengertian


Rara hanya diam, akhirnya mereka menyudahi sesi belanjanya, tak ada pembicaraan lagi di antara mereka hingga perjalanan pulang menuju rumah, mereka larut dalam pikiran masing-masing


***