
"Kapan kita mau pindah?" tanya Azril kala mereka sudah sampai di rumah
"Terserah"
"Selama kehamilan kamu mau di sini aja apa di rumah baru?"
"Terserah"
"Gimana kalau kita besok pindahan?"
"Terserah"
"Apa gak ada jawaban selain terserah?"
"Gak"
"Nah tuh ada, kamu jawab gak"
"Terserah"
"Lah balik lagi"
"Mas ke masjid dulu, sampai ketemu di meja makan"
"Haishhh kok aku kesel banget ya lihat mukanya" gumam Rara kala melihat pintu kamarnya telah tertutup rapat
***
"Ra kok gak di makan?" tanya umi kala melihat menantunya hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya
"Eh iya mi, ini Rara makan kok"
"Kenapa? gak suka lauknya?" bisik Azril yang duduk di samping Rara
"Gak *****" Rara membalas bisikan Azril dengan bisikan pula
"Kenapa?"
"Gara-gara kamu"
"Kok aku"
"Ehem, Azril makan yang bener, jangan ganggu istri sama anak kamu makan" tegur abi
"Iya abi"
Pada akhirnya Rara tak bisa mengabiskan makanannya, karena takut mubazir Azril lah yang melanjutkan makanan di piring Rara
"Kamu jangan mogok makan, kasian bayinya"
"Mmm"
"Atau kamu pingin makan yang lain biar mas belikan"
"Gak usah" Rara berdiri meninggalkan meja makan yang penduduknya hanya Azril saja, mertuanya serta kakak iparnya sudah memasuki kamar berkelana dengan urusan masing-masing
"Alhamdulillah kenyang, lama-lama perutku juga kayak Rara aja, nanti orang-orang bingung mana yang hamil" gumam Azril sembari mengelus-elus perutnya
Azril membuka pintu kamarnya, sayup-sayup ia mendengar istrinya sedang berbicara dengan seseorang
"Iya, sehat kok"
"Perut aku dah membelendung besar, padahal baru 4,5 bulan"
"Gak mau, aku benci"
"Kalau emang bener lebih baik salah satunya mati aja"
Rara mematikan telponnya setelah mengucapkan kata yang ambigu
Azril yang berdiri di depan pintu tertegun mendengar perkataan Rara, ia memang tidak mengerti apa yang Rara ucapkan, tapi ketika mendengar kata mati membuat dirinya tak tenang
"Mas kapan masuk?" tanya Rara sinis, kala melihat suaminya sudah berdiri di depan pintu dengan memegangi engsel pintu
"Eh baru kok ra" ujar Azril yang berusaha menyakinkan istrinya agar tak di sangka menguping
"Oh" tak ambil pusing Rara memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia ingin tidur lebih awal
Azril yang belum merasa ngantuk memilih untuk mengemasi barang-barang mereka di dalam koper, agar besok bisa langsung berangkat pindahan, dia juga sudah memberi tahu kedua orang tuanya tentang rencananya
Setelah selesai berkemas yang menyita banyak waktu kini Azril memandangi wajah Rara, pikirannya melayang mengingat perkataan Lan
"Kue kesukaannya itu brownies, kalau buah non Rara suka banget sama buah mangga, malah dia pingin punya pohon mangga di rumahnya, tapi nyonya melarangnya"
"Dia tidak mempunyai alergi apapun terhadap makanan, tapi kadang dia orangnya pemilih, apalagi sayuran dia akan makan seperlunya"
"Dia suka kolam ikan, juga suka kolam renang meski dia tak pandai berenang, jadi kalau mau ngajak non Rara berenang di kolam yang cetek aja, jangan melebihi tinggi badannya"
"Non Rara takut petir, jadi sebisa mungkin kalau hujan biarkan dia di kamar dan jangan kemana-mana, kamar yang kedap suara lebih baik untuknya, non Rara biasa membawa earphone atau headset untuk berjaga-jaga karena itu bisa meminimalisir rasa takutnya"
"Walaupun kilatannya cuek tapi jika ada sesuatu yang berhubungan dengannya maka dia akan kepikiran"
Azril selalu mengingat perkataan Lan mengenai istrinya, bagaimana bisa dia mengenal Rara sedetail itu
"Aku pikir aku sudah mulai bisa mengenalmu lebih jauh, tapi ternyata kita masih menjadi orang asing yang tak mengenal satu sama lain"
***
Rara mengangguk ia memeriksa lemari, meja belajar serta kasur, barang kali ada barang penting yang terselip
"Kok kemarin gak bilang mau berkemas?" tanya Rara yang merasa tak enak hati, ia terbangun dengan pemandangan koper-koper serta kardus-kardus yang sudah siap di bawa
"Kamu lagi hamil gak boleh capek-capek, apalagi ngangkat yang berat-berat"
"Ada lagi yang mau diangkut?" tanya Ammar yang muncul di ambang pintu kamar Azril
"Udah semua bang, makasih ya bang"
"Oke, abang tunggu di mobil" Ammar segara pergi keluar rumah
"Ayo ra"
"Azril panggil umi kamu di dapur!" perintah abi kala melihat hanya Azril dan Rara yang muncul
"Baik bi"
"Umi ayo berangkat" ujar Azril ketika telah melihat sosok uminya
"Iya bentar, ini kamu bantuin bawain"
"Astaghfirullah umi, ini banyak banget kotak makannya"
"Iya itu buat persediaan lauk kalian selama beberapa hari, biar Rara gak kecapekan masak sendiri"
"Oh ya mi"
"Kalau bisa kamu mempekerjakan art di rumah biar Rara gak kesepian sekalian biar ada yang jagain, lagian kamu ngapain sih ngebet banget pindahannya sekarang, dia kan lagi hamil kalau di sini banyak yang jagain"
"Gimana kalau nanti tiap aku kerja, aku bawa Rara kesini, pas aku pulang nanti aku jemput Rara"
"Nah gitu dong, umi juga dari kemarin pinginnya kayak gitu"
Azril terkekeh kala melihat raut wajah uminya yang ceria kembali setelah semalaman tampak suram, mungkin ini efek karena tidak memiliki anak perempuan
Kini mereka semua sudah masuk ke dalam mobil, ada dua mobil yang mereka bawa karena barang mereka cukup banyak
***
"Makasih umi, abi kak Ammar" ujar Rara yang mengantar mereka ke depan halaman karena hendak pamit pulang, setelah setengah hari membantu pindahan mereka kini keluar Azril harus pamit pulang
"Jaga diri baik-baik jangan lupa susunya diminum, banyak makan-makanan yang bergizi agar calon bayinya tumbuh sehat, itu nanti makanannya di panasin dulu jangan makan dalam keadaan dingin, rutin periksa ke dokter ya" nasehat umi, mertuanya seakan-akan menjelma menjadi mamanya yang cerewet
"Siap umi, hati hati di jalan" Rara melambaikan tangannya mengiringi mobil yang telah berjalan hendak keluar dari pagar rumah
"Istirahat dulu yuk di kamar, kamu juga harus minum obat" ujar Azril yang melihat istrinya tengah duduk di ruang tamu
"Heem"
"Oh ya mama sama papa kok belum datang ke sini, lagi sibuk ya?" tanya Azril
"Oh ya mas aku lupa ngasih tahu" ujar Rara tanpa rasa bersalah
"Hah, ya udah sekarang mas kabarin dulu aja, biar mama sama papa gak khawatir" Azril mengambil hp dari saku celananya untuk menghubungi mertuanya
Rara berjalan menuju kamar ia hendak merebahkan tubuhnya, belakangan ini tubuhnya terasa gampang capek mungkin efek dari kandungannya yang kian bertumbuh
"Sayang boleh mas tahu semua hal tentang kamu?" ujar Azril yang kini duduk di samping Rara
Rara memicingkan matanya, ia menatap aneh ke arah Azril "Masa lalu yang mana?"
"Semuanya"
"Semuanya? gimana aku menceritakannya?"
"Cerita aja, semua hal tentang kamu, aku ingin tahu"
"Namaku Syafeera Halwah Adelard, umurku saat ini 19 tahun beberapa bulan lagi 20 tahun, aku tiga bersaudara, aku lahir dari keluarga kaya bukannya sombong tapi kenyataan, hobi ku nyanyi sama main gitar, statusku sudah menikah, dan kini telah mengandung bayi, selesai"
Azril tersenyum mendengar biodata singkat dari istrinya, bukan hanya ini yang ia inginkan melainkan lebih
"Sekarang ceritain kenapa kamu bisa takut petir"
"Kamu tahu?"
"Aku suami kamu sudah sepantasnya tahu"
"Dasar mulut mereka ember" gerutu Rara
"Suuuttt gak boleh ngomong gitu, mereka khawatir sama kamu"
"Bener kamu mau tahu"
"Iya"
"Berawal dari......."
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗