I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Tak Ada Kata Selain MAAF



Azril melihat bayi-bayinya berada dalam inkubator penuh dengan rasa haru, kedua bayinya kini telah hadir di dunia


"Av Altan Athallah"


"Ay Beyza Athallah"


Gumam Azril yang membaca nama identitas bayi miliknya, kalau bisa nanti ia ingin sedikit merubah nama tersebut, atau bahkan menggantinya dengan nama pilihannya sendiri


Ia tersenyum kala melihat wajah kedua bayinya yang nampak tertidur pulas, matanya mulai berkaca-kaca "Maaf abah tidak bisa menemani kalian saat menyambut dunia ini"


"Maaf abah tidak bisa mendampingi ummah kalian saat mempertaruhkan nyawanya"


Panggilan abah dan ummah adalah panggilan yang ingin Azril gunakan agar kelak anak-anaknya dapat memanggil ia dan istrinya dengan sebutan itu, namun Rara tidak menyetujuinya, ia ingin anak-anaknya memanggil papah dan mamah, namun Azril berniat akan membujuknya lagi ketika anak-anaknya sudah lahir, dan saat ini adalah waktu yang tepat


"Mmmm nama kalian unik ya, kalau gak salah ini bahasa Turki bukan? sejak kapan ummah kalian kepikiran menggunakan bahasa ini?" ujar Azril


"Abah adzanin dan iqamahin kalian dulu ya" ujar Azril, tangannya menyentuh ubun ubun baby Av terlebih dahulu, dan mulai mengumandangkan adzan dengan suaranya yang merdu


"Oeeekk"


Nampaknya baby Av merespon ayahnya hingga ia terbangun dengan suara tangisan


Azril beralih pada bayi perempuannya baby Ay, ia melakukan hal yang sama namun baby Ay tidak menangis ia hanya membuka mata sedikit dan menggerakkan tangan mungilnya


"Abah tinggal bentar ya, mau menemui ummah kalian" pamit Azril, ia keluar dari ruangan yang berisi bayi-bayi dalam inkubator dan berjalan menuju kamar istrinya di rawat


Masih sama uminya berada di sana setia mendampingi Rara


"Umi" panggil Azril


"Iya?"


"Apa nama kedua cucu umi itu murni Rara yang berikan?" tanya Azril sedikit tak percaya, dulu aja Rara ingin anak perempuan nya bernama Poshya, ntah bahasa apa dan memiliki arti apa yang jelas nama itu cukup asing bagi Azril ditambah panggilannya Popo


"Itu...."


Belum sempat uminya menjawab nampak Rara yang menggeliat pelan, seperti nya ia terusik akibat obrolan mertua dengan suaminya


Azril yang menyadari itu segera menghampiri istrinya


"Ra apa kamu baik-baik saja?" tanya Azril khawatir


Rara mengerjapkan matanya, nampak bayangan wajah Azril yang terlihat cukup nyata, ia berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya


"Ra" panggil Azril selembut mungkin


"Kamu ngapain di sini?" tanya Rara dingin kala nyawanya sudah berkumpul sempurna


Uminya merasa ada sesuatu yang harus mereka bicarakan berdua, akhirnya sang umi keluar ruangan dan duduk di depan, barang kali Rara membutuhkan bantuannya


"Sayang maaf, mas gak menyangka kamu melahirkan secara prematur, maaf tidak bisa mendampingi kamu pasca melahirkan" ujar Azril penuh dengan rasa bersalahnya


"Kamu pembohong" ujar Rara lirih


"Maaf mas gak bermaksud mengingkari janjinya mas"


Rara terdiam, jika tadi ia mengharapkan suaminya hadir di sini namun tidak untuk sekarang


"Kamu gak usah pulang sekalian"


"Gak gitu sayang, mas benar-benar gak tahu kalau kamu lahiran secepat ini, kalau mas tahu sudah dari kemarin mas pulang" ujar Azril, ia berusaha menjelaskan keadaannya


Rara hanya terdiam tak merespon ucapan suaminya, ia mencoba menduduki dirinya dan bersender di ranjang dibantu Azril


"Sayang mas tadi udah melihat bayi-bayi kita, mereka lebih dominan ke mas ternyata" ujar Azril terkekeh kecil


"Oh ya tadi mas udah adzanin mereka berdua"


"Ngapain kamu adzanin mereka, mereka tuh udah di adzani" ujar Rara ketus


"Mmm memang siapa yang adzani bayi kita?" tanyanya kemudian


"Kak Ammar" ujar Rara asal, padahal bukan cuma Ammar saja melainkan kedua kakaknya serta papanya sendiri ikut andil dalam hal itu


Azril hanya mampu tersenyum kecut, tak mungkin juga ia menyalahkan Ammar, memang bayi yang baru lahir di sunnahkan segera di adzani


"Mmmm ra, itu bayi kita kamu yang beri nama?" tanya Azril hati-hati


"Bukan, itu kak Ammar yang kasih" ujar Rara datar, lagi-lagi ia menuduh Ammar tanpa memikirkan konsekuensinya


Azril tertegun mendengar jawaban Rara, lagi-lagi abangnya yang mengambil alih tugasnya sebagai seorang ayah serta suami Rara


"Kalau gitu mas mau ganti nama mereka" ujar Azril tak terima


"Gak boleh, aku suka nama itu" kekeh Rara


"Mas ayahnya jadi mas juga berhak menentukan, mas udah nyiapin nama bagus untuk mereka berdua"


"Akhlis Fatih Athallah dan Afsha Ainun Athallah"


"Gimana bagus kan?" ujar Azril, ia sengaja tidak menyamakan nama bayi-bayinya karena mereka kembar non identik dalam kantung yang berbeda


"Gak mau, bagusan Av Altan sama Ay Beyza" kekeh Rara


"Kamu juga harus setuju usulnya mas paling tidak di ubah sedikit, Akhlis Altan dan Afsha Beyza gimana?" pinta Azril


"Aku bilang gak mau ya gak mau" ujar Rara dengan nada yang ia tinggikan, wajahnya tampak kesal dan marah


"Ra mas ayahnya, mas juga berhak menentukan nama mereka" wajah Azril terlihat ikut kesal, masak ia harus memakai nama murni dari abangnya padahal ia ayahnya


"Aku ibunya, aku yang mengandung mereka, aku yang melahirkan mereka, mas tuh cuma bisa buat doang tapi gak mau tanggung jawab" bentak Rara yang membuat Azril terkejut


"Mas tahu gak seberapa takutnya aku di ruang bersalin, aku takut salah satu bayiku mati seperti mama dan oma, di tambah fobia darahku yang belum sembuh membuat aku semakin hancur mas namun aku berusaha bertahan, kamu tahu gak rasanya aku mau mati mas, tubuhku begitu lemas namun aku harus mampu mendorong mereka keluar agar mereka selamat, hiks hiks hiks rasanya tubuhku remuk hancur jadi satu"


"Aku bersyukur ada umi dan mama di ruang bersalin tapi tetap saja mereka tidak bisa menggantikan kamu sebagai sosok ayahnya, kamu sendiri tahu kalau umi tidak tahu kalau aku dulu hendak menggugurkan salah satu janinku akibat rasa takutku yang berlebihan, begitu pula mama yang tidak tahu kalau aku memiliki fobia darah, itulah kenapa aku lebih menginginkan kamu berada di ruang bersalin, dan mengatakan pada dokter apa saja yang aku alami untuk memudahkan persalinan ku, hiks hiks hiks"


Azril memeluk tubuh istrinya "Maaf mas salah, mas yang salah, maafkan mas, mas minta maaf, maaf sayang maaf" Rasa bersalah menyeruak begitu saja dalam relung hati Azril, sakit rasanya membayangkan istrinya berjuang di saat ia melahirkan tanpanya


"Maaf, mas gak akan ngubah nama mereka, nama itu juga udah bagus banget, jangan nagis lagi ya, mas yang salah mas minta maaf" Azril mengelus punggung Rara, diam-diam ia juga terisak melihat istrinya menderita, ia hanya mampu mengucapkan kata maaf berulang kali, benar kata Rara dulu, ia dengan mudahnya mengatakan maaf setelah melakukan kesalahan lagi dan lagi


"Hiks hiks hiks" Rara masih saja terisak dalam dekapan Azril


"Mas minta maaf, mas akan lakuin apa aja asal itu membuat kamu senang" ujar Azril tulus untuk menenangkan istrinya


Setelah di rasa tenang Azril melepaskan pelukannya, ia membenarkan posisi Rara agar kembali berbaring di atas ranjang, Rara segera berbalik memunggungi Azril, ia merasa amat kesal dengan tingkah suaminya


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu, Azril segera pergi membukakan pintu tersebut


"Umi?" ujar Azril pelan


"Umi gak tahu apa yang kalian ributkan, tapi tolong kamu jaga perasaannya Rara, dia baru saja berjuang demi anak-anak mu" ujar umi, sedari tadi di luar uminya mendengar sayup sayup suara keributan serta isakan dari dalam, meski tak jelas apa mereka bicarakan namun tetap saja ini bukan waktu yang tepat untuk ribut


Azril mengangguk mengerti


"Umi titip Rara dulu, umi mau pulang, abi kamu sudah menunggu di bawah" pamit umi


"Hati-hati umi" ujar Azril sembari mencium punggung tangan uminya


"Oh ya umi bisa pinjam hp umi dulu, hp aku ketinggalan di Surabaya"


Uminya menyerahkan hp miliknya, toh juga belakangan ini tak ada hal-hal penting yang uminya kerjakan dengan menggunakan hp


_______________


Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗