I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Mendapat Penolakan



"Pergi ke toko happiness cake"


"Baik non"


Wanita itu tersenyum memandang setiap jalan yang mobil itu lewati, udara di luar cukup dingin dengan rintihan hujan kecil, bulir-bulir air membasahi kaca mobil namun tak menghentikan mata wanita itu memandangi jalanan


Kini mobil telah berhenti tepat di parkiran toko kue, seorang pria turun lebih awal sembari memegang sebuah payung, membukakan pintu untuk majikannya dan memayunginya agar tak terkena air hujan yang turun dengan kroyokan, meski hanya rintik-rintik saja


Para pegawai toko menyambutnya dengan ramah, Rara tersenyum mendapat sambutan tersebut, langkahnya berjalan ke etalase kaca yang memperlihatkan kue kue cantik dan lezat di sana


Matanya menelusuri setiap kue bahkan ia bingung hendak memilih kue yang mana, kue kue tersebut nampak lucu dan menggemaskan, membuat orang yang memandangnya menyayangkan untuk di potong, namun begitulah nasib kue, seindah apapun kue tersebut pada akhirnya akan termutilasi juga tubuhnya, hingga menjadi bagian bagian kecil yang siapa di bagikan pada orang-orang guna memanjakan lidah serta perut mereka


Brukkk


"Aduh maaf kan saya" Rara menunduk kala menabrak seseorang, tubuhnya menggeser karena sadar yang ia tabrak adalah seorang pria saking asyiknya melihat kue ia bahkan tak sadar jika ada orang yang sedang memilih kue juga


"Ra...Rara" gumam pria tersebut tanpa sadar,


Merasa namannya terpanggil Rara mendongakkan kepalanya, ia terkejut kala melihat pria yang ada di hadapannya ini, namun buru-buru mimik wajahnya ia netralkan


Deg


"Rara ini bener kamu kan" kedua tangan pria itu memegang kedua pundak Rara dengan lancang, tentu saja lancang karena dia....


"Kamu siapa?" Rara menepis kedua tangan tersebut, ia dapat melihat dari pancaran mata pria yang memendam sebuah kerinduan cukup dalam


Azril terkejut mendengar pertanyaan Rara, tidak mungkinkan Rara hilang ingatan lagi batinnya


"Ra aku..."


Rara memundurkan langkahnya kala pria itu berjalan mendekat


"Stop jangan mendekat, siapa Rara? mungkin anda salah orang?" ujar Rara mantap dengan tatapan yang seolah-olah kebingungan


"Kamu Rara kan, istri aku?"


"Hah maaf saya belum menikah, mungkin anda salah orang" ujar Rara, kedua pengawalnya di belakang menghalangi Azril untuk mengejar Rara


"Maaf tuan tolong jangan ganggu nona saya"


"Tapi dia...."


"Maaf tuan sepertinya anda salah orang" ujar pengawal tersebut kemudian mengikuti langkah Rara yang telah keluar dari toko roti tersebut


Azril berusaha mengejarnya namun sayang mobil itu sudah berjalan


"Apa mungkin aku salah orang tapi dia..." Azril mengacak-acak rambutnya frustasi


"Ahhh mungkin lagi-lagi aku salah mengenali orang" mungkin efek kerinduannya pada istrinya menyebabkan matanya rabun, tidak hanya kali ini saja ia salah mengenali orang dulu ia juga pernah salah mengenali istrinya karena di rasa tubuhnya sangat mirip dengan Rara namun begitu ia hampiri ternyata hanya wanita lain yang sama sekali tak ia kenal


"Hampir saja aku ketahuan" decak Rara, ia memegangi jantungnya yang berdetak tak karuan


"Untung kalian berdua konek" lanjutnya


"Tentu saja non, kalau begitu bisakah non puji kami di hadapan bos besar" canda salah satu pengawal Rara


Rara menggelengkan kepalanya sembari terkekeh pelan, terkadang ada beberapa pengawal yang berani melontarkan sebuah candaan tapi masih dalam batas wajar pada Rara karena mereka tahu bahwa sifat Rara tidaklah arogan seperti Alfred maupun Dariel, tingkat arogan tertinggi jatuh pada... Alfred


"Itu masalah gampang, tunggu saja sebentar lagi jabatan kamu akan beralih menjadi tukang kebun"


"Ahhh terimakasih nona, menjadi pengawal lebih gagah dengan kemeja serta jas" tolaknya halus


Ia tersenyum kala memandang tulisan yang tersusun dari balon-balon kembung "Happy birthday Av & Ay"


"Apa ada yang kurang bang?" tanya Baheer


"Ah ini kuenya, tata yang rapi" Azril menyerahkan box kue yang ia pegang


"Baik bang" Baheer menerimanya dan mulai menata di bantu oleh beberapa pekerja di sana


"Kamu ingat hari ini kan ra, hari dimana kamu melahirkan mereka ke dunia ini, hari dimana aku membuat kamu menangis untuk yang kesekian kalinya" batin Azril, matanya tak lepas dari tulisan itu


Setelah semua beres Azril bersiap membersihkan diri untuk menyambut ulang tahun putra putrinya, ia mengadakan pesta syukuran hanya untuk keluarga nya saja, agar tak terlalu menarik perhatian orang-orang, sedangkan para tetangga dan anak yatim ia berikan bingkisan sebagai tanda rasa syukur


Pukul setengah empat, orang tuanya, keluarga kecil kakaknya, mertua serta kedua kakak iparnya, kakek neneknya semua telah datang berkumpul di rumah Azril


Saat acara hendak dimulai pintu utama rumah terbuka lebar, menampilkan seorang wanita cantik dengan memegangi sebuah kue di tangannya, wanita itu tersenyum lebar menandakan sebuah kebahagiaan karena dapat melihat semua orang yang amat ia rindukan


Azril yang menyadari itu segera berlari ke arah istrinya, ia mengambil alih kue tersebut dan menyuruh Baheer memegangnya, tanpa pikir panjang ia merengkuh tubuh Rara masuk ke dalam pelukannya, sangat erat hingga membuat Rara kesusahan bernafas


Semua orang di sana menatap hal itu dengan haru


"Mas lepasin ih, aku gak bisa napas" gerutu Rara kesal, ia bahkan memukul pelan punggung Azril untuk bertahan hidup agar dapat menghirup udara lagi


Untuk saat ini tak ada kata yang keluar dari mulut Azril, namun tingkahnya serta matanya sudah cukup membuat semua orang mengerti bahwa pria ini benar-benar sangat merindukan istrinya


Azril melepaskan pelukannya, ia mengusap air matanya yang mengalir lembut di pipinya, matanya beralih menatap wajah istrinya dengan lekat, ingin sekali ia melontarkan berbagai macam pertanyaan namun ini bukan waktu yang tepat


"Heem, maaf menggangu tuan dan nyonya sekalian, sepertinya kalian salah mengenal hari, ini adalah hari bahagia kedua keponakan saya, bukan hari anniversary kalian" tegur Dariel


"Gini nih orang jomblo syirik amat melihat adegan romantis secara nyata" timpal papanya


"Ehhh pa siapa juga yang iri" gerutu Dariel, namun nampaknya Azril dan Rara tak terganggu dengan perkataan Dariel, mereka sibuk menatap wajah masing-masing


"Kenapa mas Azril jadi kurus gini, jadi jelek" gerutu Rara, namun matanya berkaca-kaca, ia mengedip-ngedipkan matanya untuk memasukkan kembali air yang mengenang di pelupuk matanya, namun air itu malah terjun bebas ke pipi mulus miliknya


Azril mengusap lembut air mata Rara, ia membawa Rara kedalam pelukannya lagi "Karena mas merindukan mu" bisiknya


Setelah acar pelukan dengan suaminya Rara beralih menatap dua bayi yang sudah mulai tumbuh, ia hendak meraih bayi cantik itu untuk ia gendong namun.... Ay menolak ia bahkan menangis dalam gendongan Rara hingga mau tak mau Rara melepaskan bayi itu dan membiarkan uminya menggendong Ay


"Ay gak mau di gendong mamah?" tanya Rara lirih, wajahnya terlihat sedih padahal ia sangat merindukan bayi bayinya


"Pelan pelan aja ra" ujar Azril, ia merengkuh pinggang Rara "Untuk sementara peluk mas aja dulu gimana?" tawar Azril agar Rara tak sedih lagi, sekaligus agar Azril dapat melepas rindu jujur saja ia belum puas memeluk tubuh Rara


"Gak mau" kini Rara berjalan menghampiri Av, ia mengambil alih dari gendongan abinya, namun lagi-lagi ia mendapat penolakan bayi itu meronta minta turun, mimik wajahnya bahkan sudah terlihat hendak menangis


"Digendong sama mamah, Av gak kangen apa sama mamah" Rara mengecup pipi Av namun bayi itu tetap pada pendiriannya hendak turun dari gendongan Rara, atau beralih di gendong orang lain


"Appa appa" panggil Av yang melihat papahnya mendekat, ia menjulurkan tangannya minta di gendong oleh sang papa


"Ini mamah sayang, kamu pasti kangen kan sama mamah" bujuk Azril


Tangis bayi itu akhirnya pecah kala dirinya tak dapat terbebas dari gendongan Rara, akhirnya Azril mengambil alih menggendong Av untuk meredakan tangisannya


Wajah Rara cemberut, ia merasa sedih kala bayinya tak menginginkan dirinya


***


πŸ‘ΆπŸ‘ΆπŸ‘ΆπŸ‘ΆπŸ‘Ά