
Bughhhh
Bughhhh
Bughhhh
"Bi...." Azril memegangi pipi nya yang terasa berkedut, baru saja ia memasuki rumah kedua orang tuanya sudah di sambut dengan tinjuan bertubi-tubi
"Dasar manusia hina kamu"
"Pendosa, sudah melakukan zina sekarang apa hah malah tidak mau bertanggung jawab"
"Emang dari awal lebih baik kamu itu di hukum mati"
Azril menatap abinya dengan nanar, kenapa bisa abinya membahas soal ini lagi
"Ngak bi, Azril gak berzina, Azril hanya di jebak"
Bughhh
Tinjuan itu melayang lagi hingga membuat tubuh Azril berlutut tepat di hadapan abinya dengan wajah menunduk
"Lebih baik kamu mendapatkan hukuman di dunia daripada di akhirat, ingat Azril siksa neraka itu lebih pedih daripada siksaan di dunia" teriakan abinya membuat hatinya semakin nyilu
"Abi aku mohon percaya sama aku, aku nggak melakukan zina, kita di jebak bi" kedua tangan Azril memegang kaki abinya
"Apa kamu belum puas ketika meninggalkannya sendirian di pondok tanpa nafkah apapun"
"Apa kamu belum puas melihat dirinya koma selama 2 bulan"
"Sekarang apa hah, kamu malah mau menceraikan dia"
"Azril kemana otak kamu"
"Bi Azril mohon tolong dengerin penjelasan Azril dulu"
"Aku gak mau pisah dari dia abi, tapi Rara butuh waktu, aku janji akan mempertahankan pernikahan ini bi, percaya sama aku"
"Bang dengerin penjelasan Azril dulu" ujar umi sembari mengelus punggung suaminya
"Bang bukankah sudah jelas bahwa mereka berdua di jebak"
"Astaghfirullah hal adzim" abi Azril mengelus dadanya pelan
"Umi" ujar Azril lirih, matanya menatap kepergian abinya
"Ayo bangun dulu" umi memapah tubuh Azril dan menuntunnya ke sofa
"Umi....... umi percayakan sama aku?"
"Umi gak tahu, setelah apa yang kamu lakukan selama ini apa masih bisa umi mempercayai pada setiap ucapan kamu"
"Selama ini kamu tidak pernah mengakui keberadaan istri kamu, setiap umi dan abi telpon kamu selalu berkata bahwa Rara baik-baik saja"
"Umi sama abi baru tahu semalam kalau dulu kamu menelantarkannya di pondok tanpa nafkah apapun"
"Hati umi sakit Azril, bagaimana bisa umi mendidik kamu seperti ini, umi tahu sifat kamu itu cuek dan bahkan keras kepala, lantas apakah kamu juga akan mengabaikan perintah agama"
"Azril kamu yang tahu pasti bahwa Islam sangat memuliakan seorang wanita"
"Umi aku tahu aku salah, tolong maafkan Azril"
"Apa yang Rara inginkan sekarang?"
"Dia ingin aku menceraikannya mi, ingatan dia sudah pulih" ujar Azril lirih
"Alhamdulillah ya Allah" ujar umi senang
"Umi......."
"Eh maksudnya Alhamdulillah ingatannya sudah pulih"
"Mi Azril gak berzina waktu itu, orang yang menjebak aku dan Rara sudah mendapatkan hukumannya"
"Dan waktu itu, aku gak melakukan apapun terhadap dia mi"
Uminya mengerutkan dahi "Tapi ada........"
"Itu cuma cairan merah biasa mi"
"Benarkah, kamu tahu dari mana?"
"Tahu lah mi, soalnya waktu itu aku baru......"
"Umi tahu sendiri lah, kalau umi gak tahu gak mungkin ada bang Ammar"
Umi terkekeh mendengar perkataan putra bungsunya, wajahnya sudah penuh lembam di tambah dengan raut wajah memerah benar-benar ekspresi yang jarang ada
"Umi ambilkan air dulu, nanti umi kasih tahu abi, tapi kamu tetap saja salah" Azril mengangguk mengiyakan ucapan uminya, nampaknya ada peluang untuk mendapatkan maaf dari sang umi
***
Azril mendongakkan kepalanya menatap abinya yang kini sudah bisa mengontrol emosinya
"Abi sudah memaafkan Azril?" tanya Azril dengan penuh harap mendengar jawaban iya dari mulut abinya
"Tergantung performa kamu dulu" ujar abi datar, abi nya adalah sosok yang tegas, sangat patuh terhadap agama, sebisa mungkin dia selalu mematuhi perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya
Azril tersenyum tipis "Abi lihat aja nanti aku akan mengundang abi ke istana baru ku"
"Kapan kamu beli rumah lagi?" tanya abi
"Belum bi baru rencana pembangunan, kalau gitu aku pamit dulu ya umi abi" ujar Azril yang menyalimi kedua orang tuanya
"Mau kemana kamu?" tanya umi heran
"Mau memperjuangkan cinta dunia akhirat"
"Tapi kamu kan belum sarapan"
"Nanti mi, masalah perut gampang di isi, tapi masalah hati itu sangat susah"
***
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Rara sinis dari atas tangga, buru-buru ia melangkahkan kakinya mendekat ke arah ruang tamu
"Ra..... kamu cantik banget" ujar Azril tanpa kedipan, melihat istrinya kini memakai gamis biru muda langit serta hijab segitiga yang mampu menutupi dada teposnya
"Ada yang kangen sama kamu sayang, baru aja tidak melihat kamu seharian udah kelimpungan gimana nanti ya" ujar mama
"Mama" teriak Rara yang melengkungkan bibirnya ke bawah
"Iya iya mama gak ganggu kamu lagi, kalau gitu beli gamisnya di anterin sama Azril aja ya"
"Gak mau ma, kan mama janji mau nemenin shopping"
Mama menatap Azril sembari mengedipkan satu matanya "Aduh mama lupa hari ini mama ada arisan sama ibu-ibu pengajian"
Tentu saja Azril tak mau kehilangan kesempatan ini "Sama aku aja yuk ra"
"Ma arisan sama ibu-ibu pengajian kan biasanya sore"
"Hari ini jadwalnya di ganti jadi pagi"
"Ma jangan mulai deh, biasanya juga......"
"Ssssttttttttt" mamanya mengarahkan satu jari telunjuk nya tepat di bibir, telinganya ia tempelkan hp layaknya seorang yang sedang mengangkat telpon
"Halo assalamualaikum"
"Iya ini baru mau siap-siap, iya......" dengan gerakan perlahan tapi pasti mamanya berjalan meninggalkan mereka berdua
"Padahal layar hp nya dari tadi mati" gerutu Rara
"Heem" Azril berdehem, ia berjalan mendekati istrinya
"Ayo ra mau kemana aku anterin" ujarnya sembari menggandeng tangan Rara
"Gak usah gak jadi pergi" degus Rara yang melepas tangannya dari genggaman Azril
"Ehhhhh kok gak jadi, udah cantik gini masak gak jadi sih"
"Kita jalan-jalan aja yuk, ke taman margasatwa gimana"
"Mmmm anggap aja ini kencan kedua kita"
Rara membulatkan matanya "Kencan? ke kebun binatang, apa otaknya bermasalah" batin Rara
"Ogah, kamu aja sana yang ngunjungin sodara kamu" ujar Rara sinis
"Ya masak gak ada gandengannya, nanti aku di kira singel loh, kamu mau kalau aku di lirik banyak cewek?"
"Hah cewek ngelirik kamu, kayaknya otaknya juga sama bermasalah nya deh sama kamu"
"Loh jangan salah gini gini aku primadona pondok loh"
"Mas ke rumah sakit aja yuk, kayaknya otak kamu emang bener-bener bermasalah deh" ujar Rara miris
"Ayo" dengan senang hati Azril menarik tangan Rara menuju mobilnya
Mobil mulai berjalan meninggalkan pekarangan rumah megah
"Ra kamu suka rumah seperti apa?" tanya Azril memulai pembicaraan setelah sekian menit mereka diam membisu
"Rumah yang gak ada hantunya"
_______________
Jan lupa like comment and vote, terimakasih semua bagi para pembaca 🤗