I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
Tolong Jangan Kecewa



"Hallo Ay cantik, udah bangun ya" Rara melihat Ay terduduk di box bayi


"Sini mamah gendong" Rara menggendong tubuh mungil Ay, tubuh kecil dengan aroma khas bayi yang lembut


"Appa hiks oeekk appa" bayi itu menangis memanggil papahnya


"Ay sama mamah aja ya papah kamu masih sibuk" bujuk Rara ia menepuk nepuk pelan pan*** Ay sembari mengelus punggungnya


"Ooee appa" bukannya berhenti Ay malah tambah menangis


"Ini mamah, Ay gak kangen sama mamah"


"Appa appa ooooee hiks hiks"


Mbak Sita yang mendengar suara tangisan bayi buru-buru memasuki kamar sikem


"Eh maaf nyonya, saya mengira tidak ada siapa-siapa di sini" ujar mbak Sita


"Bak bak" Ay meronta minta turun, kedua tangannya ia julurkan hendak pindah ke gendongan mbak Sita


"Sama mamah aja ya" Rara tetep kekeh mempertahankan Ay dalam gendongannya


"Oeee bak appa bi bi " rancaunya masih dengan suara tangisan


"Maaf nyonya sebaiknya saya tenangin dulu" ujar mbak Sita karena tak tega Ay terus menangis tak kunjung berhenti, terpaksa akhirnya Rara menyerahkan Ay


"Gendong Av aja kalo gitu" Rara mengangkat tubuh Av dengan hati-hati bayi itu nampak tertidur lelap


Rara berjalan keluar kamar, ia membawa Av ke belakang halaman rumahnya, duduk di dekat kolam ikan tempat favoritnya


"Av jangan benci mamah, jangan kecewa sama mamah, mamah gak bermaksud ninggalin Av dan Ay" ujarnya lirih, ia menatap pada bayi dalam pelukannya


"Rara, makan dulu yuk" panggil Azril dari depan pintu belakang halaman


"Rara makan dulu" Azril berjalan mendekat, nampaknya wanita itu tengah meratapi sesuatu


"Ra, ayo makan"


"Mas jangan berisik nanti Av bangun, terus nanti dia nangis karena di gendong sama aku" ujar Rara


"In Syaa Allah perlahan dia mau nerima kamu ra, kamu mamahnya"


"Apa mereka kecewa sama aku mas?"


"Ya gak dong, mereka pasti ngerti, Ay memang susah di bujuk, kalau Av gampang kok sayang, kamu tenang aja ya, sekarang ayo makan, udah waktunya makan siang tadi pagi kamu hanya makan sereal aja mana kenyang"


Rara mengangguk, ia mulai berdiri dengan hati hati dan berjalan ke ruang makan


***


"Ra kamu makin cantik ya, makin fresh, makin seger, aku bersyukur kamu baik-baik saja di sana" ujar Azril yang memperhatikan tampilan istrinya


"Jelas dong, aku makin tinggi loh sekarang"


"Alhamdulillah, nambah berapa senti sayang?" tanya Azril, pasalnya ia tak menemukan perubahan dari segi tinggi Rara


"Seperempat senti mas, keren kan" ujar Rara antusias


"Hah ah oh ya ra keren" ia tak ingin merusak suasana hati istrinya, gak pa pa seperempat dari pada tidak sama sekali


"Coba pegang" Rara mengarahkan telapak tangan Azril ke pipinya


"Halus kan mas?"


"Iya halus ra" Azril terus mengusap pipi Rara


"Udah jangan lama-lama ngelus, ntar berujung modus" Rara menyingkirkan tangan Azril


"Mas kangen"


"Iya mas, seharian ini mas udah bilang itu"


"Mas bersyukur kamu pulang"


"Ya mas, kamu juga udah ngomong gitu tadi"


"Mas senang.."


"Udah tau mas, cukup sekarang lihat penampilan mas" Rara memotong pembicaraan suaminya, lama lama jengah juga mendengar kicauan Azril seharian, meski tak di pungkiri bahwa Rara juga sangat merindukan suaminya


"Mas kenapa sayang?" tanya Azril bingung


"Mas tambah jelek masak gak sadar sih"


"Hah iya iya, habis gak ada yang ngerawat mas"


"Gimana mau mikirin diri sendiri kalau kamu pergi begitu saja, tak ada kabar sama sekali, dalam kondisi sakit lagi" batin Azril


"Ayo sini aku lulurin biar kinclong kulit nya, lihat kulitnya mas kusam dan kering" ujar Rara ia menarik tangan Azril menuju kamar mandi


"Duduk sini, buka kaosnya, celananya jangan ikut di buka" perintah Rara


Namun bukannya membuka Azril malah merentangkan tangannya "Tolongin"


Rara segera membuka kaos Azril kemudian ia menyuruh Azril duduk di kursi kecil, Rara mulai mengaplikasikan lulur di tubuh Azril, tak lupa ia juga memijat pundak serta punggung suaminya


"Ahhh enak ra, yang kuat pijat nya"


Rara menambah kekuatan pada telapak tangannya


"Nah udah selesai sekarang mas mandi sana, berendam air hangat, jangan lupa badannya di gosok sampai bersih" ujar Rara, ia telah menyiapkan air hangat untuk Azril berendam kemudian ia hendak keluar kamar mandi namun di cegah oleh Azril


"Mandiin dong ra, sekali kali kamu mandiin mas ya" pinta Azril


"Ahh gak mau kamu udah tua masak minta di mandiin kayak Av aja"


"Ra mas kan dah sering mandiin kamu, kali ini mandiin mas ya"


"Itu... iituu kan Rara gak minta, mas nya aja yang maksa" ujar Rara, dia jadi teringat pertama kali di mandikan oleh Azril saat berada di Sidoarjo kala ia memeluk Afham


Jujur saja ia malu banget kala itu, dengan telaten Azril memandikannya tanpa hendak bermodus apapun, benar-benar hanya memandikan


"Ya udah kalau gitu kita mandi bareng, lagi pula ini udah sore, mas aja yang mandiin kamu"


"Jangan" tolak Rara cepat


"Ok aku yang mandiin mas"


Azril mulai memasuki bak mandi yang telah di beri aroma terapi oleh Rara, wanginya begitu lembut merilekskan tubuh serta pikirannya


Tanpa sadar Rara memasukkan beberapa mainan bebek di bak mandi, kemudian ia hendak menyiapkan sabun untuk menyabuni suaminya


"Emang mas Av dan Ay apa di kasih bebek" gumam Azril, tangan kekernya memencet bebek tersebut hingga mengeluarkan bunyi


"Hahaha ingat umur mas masih main gituan hahaha" Rata tertawa melihat Azril yang tengah berendam bersama bebek bebek


"Kan kamu ra yang naruh di sini" geurtu Azril


"Ehh masak, aduhh maaf mas kebiasaan mandiin Ay dan Av" ujar Rara


"Mau di pijat lagi gak?" tawar Rara


Azril mengangguk pijatan Rara sungguh enak membuat beban di pundak nya runtuh begitu saja


"Nah kan udah mendingan, kelihatan lebih fresh" ujar Rara sumringah kala melihat Azril yang sudah rapi dengan kaosny


"Ehhh tapi rambut kamu panjang banget mas sini aku potongin" Rara mengambil gunting di laci dan menepuk nepuk kursi depan meja rias, kini ia telah siap menjelma jadi tukang cukur


Azril tersenyum, ia duduk di depan meja rias, pantulan wajah tampannya serta senyumannya merekah membuat Rara tambah semangat mencukur rambut suaminya


"Ternyata kamu bisa cukur rambut ya ra" ujar Azril kagum


"Iya dong, ini baru pertama kali sih"


Ucapan Rara seketika membuat senyumannya runtuh


"Tapi tenang aja pasti hasilnya bagus kok" lanjutnya


"Sayang... anu apa gak sebaiknya kita ke tukang cukur rambut langganan nya mas aja" ujar Azril lembut


"Gak usah mas Rara bisa, doakan saja" gunting itu sudah mulai menyentuh rambut Azril namun dengan sigap ia menahannya


"Anu sayang mas ada urusan penting"


"Urusan apa?" tanya Rara


"Pekerjaan, belakang ini pekerjaan mas menumpuk karena kurang konsentrasi"


"Sebentar doang kok mas tinggal krekkk krekkk" Rara menunjukkan gunting di tangannya seakan akan hendak memotong sesuatu


Azril menelan ludahnya kasar, bisa habis di pangkas rambutnya "Gak bisa di tunda sayang, maaf ya" Azril berdiri dan mengecup kedua pipi Rara, ia buru buru keluar kamar dan masuk ruang kerjanya


"Alhamdulillah selamat"


Rara hanya terdiam melihat suaminya keluar kamar "Ya udah potong rumput aja ah di taman belakang"


****


💇‍♂️ ✂️