I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife
A Few months later



"Bi bibi bibi" Azril mengendong bayinya sembari berlari mencari bi Wawa, Av yang berada dalam gendongan Azril sedari tadi menangis tak mau berhenti


"Ada apa tuan" bi Wawa yang baru dari kamar mandi segera menghampiri tuannya yang tengah panik


"Bi ini badan Av panas, bantu saya membawanya ke rumah sakit" ujar Azril yang panik


"Baik tuan" bi Wawa mengambil alih Av benar saja bayi mungil itu sedang deman sedari tadi tangisannya tidak berhenti


Azril juga membawa Ay tak mungkin membiarkan bayi itu sendirian di rumah apalagi ini sudah malam


Ia ingin menghubungi Baheer namun di rasa ini akan memakan waktu lebih lama, jadi ia sendiri yang menyetir dengan bi Wawa di belakang dengan dua bayi


Sesampainya di rumah sakit Azril segera membawa bayinya untuk di periksa


Ponsel Azril sedari tadi berdering, ia memilih keluar dari ruangan dan mengangkat telpon tersebut


"Assalamualaikum ma"


"Waalaikumsalam, ini mama cuma mau bilang kalau besok mama dan papa mau nginep di rumah kamu"


"Oh ya ma, makasih ya ma, mama kapan pulang?" padahal ia berharap akan mendengar kabar tentang Rara


"Baru tadi pagi, gimana kabar cucu cucu oma?"


"Itu ma, Alhamdulillah Ay baik tapi Av sedang demam"


"Apa, dimana kalian sekarang?"


"Di rumah sakit ma"


"Rumah sakit mana?"


"Rumah sakit ××"


"Mama sama papa ke sana sekarang"


".........


"Gak usah ma ini udah malam Av......" Azril menghela nafasnya saat panggilan ternyata sudah terputus


Sepuluh menit berlalu


"Giman keadaan Av Azril?" mama dan papa sudah muncul dari pintu ruangan, kini Azril tengah berbicara pada sang dokter


"Alhamdulillah ma pa, cuma demam biasa"


Kurang puas akan jawaban Azril, kini mama Rara langsung bertanya pada sang dokter


"Bener dok, apa cucu saya menderita penyakit lain, apa ada bagian tubuhnya yang bermasalah?"


"Sejauh ini normal untuk perkembangannya" ujar sang dokter


"Dok periksa yang benar, apa tak ada kelainan sama sekali?"


"Ma sabar, pelan-pelan" sang suami mengelus lengan istrinya yang terlalu khawatir


Setelah dokter menjelaskan panjang lebar akhirnya wanita paruh baya itu dapat bernafas sedikit lega


Setelah dokter pergi mama Rara memilih menemani Av, menjaga bayi itu yang kini telah terlelap


Papa Rara duduk di samping Azril yang nampak termenung "Kamu bisa lihat kan kekhawatiran mama kamu"


Azril mengangguk


Azril mengerutkan dahinya, bagaimana bisa mertuanya berpikiran sejauh itu


"Dia berpikir seperti itu bukan tanpa sebab" ujar papa Rara seakan tau isi otak Azril


"Kutukan yang Rara bilang hanyalah bualan belaka, kembarannya meninggal akibat gagal jantung, kembaran mamanya meninggal juga demikian"


"Mama kamu khawatir jika salah satu anak kamu juga mengalaminya, tapi ternyata Alhamdulillah kedua bayi kamu sehat"


"Apa Rara tidak mengetahui bahwa mereka meninggal karena gagal jantung?" tanya Azril


"Tentu saja dia mengetahuinya, tapi ia enggan mengakuinya"


"Rara mengira salah satu bayinya akan mengalami hal demikian mengingat pengalaman dari sebelumnya, makanya ia memilih menggugurkan kandungannya ketimbang melihat bayi mungil itu lahir tanpa nyawa atau hanya mampu bertahan sementara, mungkin baginya itu lebih menyakitkan"


"Tapi buktinya perkiraan dia salah, itulah takdir kita tidak tahu kedepannya bagaimana, bukankah begitu Azril?"


Azril mengangguk, dia dulu juga merasa bersalah karena tidak mau memahami kondisi istrinya


"Dulu saya hendak menjodohkan dia karena ingin mengubah dirinya, kau tahu dulu meskipun otaknya encer dan tergolong siswi berprestasi tapi tak jarang dia sering keluar masuk ruang BK"


"Apa kamu ingat kala Rara mengundang angkatannya ke rumah kalian?"


"Saya ingat pa, tapi bagaimana bisa papa mengetahuinya?"


"Saya masih suka memantau dia, jujur saja saya masih was was menitipkan Rara padamu mengingat dulu saya pernah melepas pengawasannya dikarenakan telah bersuami malah membuat ia celaka"


Azril mengangguk paham, mengembalikan kepercayaan seseorang itu tak semudah membalikkan telapak tangan


"Apa mereka semua terlihat dari golongan bangsawan atau anak konglomerat?" tanya sang papa


Azril menggeleng


"Dulu dia memang meminta untuk sekolah di SMA negeri, berbaur dengan berbagai macam anak, dia enggan masuk sekolah internasional kelas atas yang rata-rata murid muridnya orang berada"


"Sebenarnya sifat dia gak bejat bejat amat, tapi balik lagi dia seorang wanita yang bagiamana pun juga akan saya tanggung hingga ia bersuami, saya ingin ia mendapatkan suami yang bisa menuntun ia ke jalan-Nya serta membuat ia bahagia, setelah itu baru saya bisa bernafas lega"


"Niatnya saya ingin menikahkannya dengan Ammar dulu sehabis ia lulus kuliah, namun pemberitahuan perjodohan saya dahulukan agar ia tak macam-macam dengan cowok lain atau memberi harapan palsu pada cowok lain, agar ia juga mampu menjaga diri serta hatinya"


"Jujur saja saya tak menyangka akan melepasnya lebih cepat dari perkiraan saya, bahkan kini dia sudah memiliki dua anak diusianya yang ke dua puluh tahun"


"Saya dulu pernah berniat menyuruh kamu menceraikannya, namun saya urungkan setelah melalui tahap pertimbangan"


"Saya merasa bersalah akan hal yang menimpanya, saya harap kamu tidak mengulangi banyak kesalahan lagi, tolong jaga dia dengan baik dan benar, karena saya hanya ingin melihatnya bahagia"


"Jika suatu saat nanti kamu tak mencintainya lagi jangan bilang apapun ke dia, bilang lah ke saya, kembalikan ia ke saya, saya akan menerimanya dengan tangan terbuka, namun jika hal itu benar terjadi saya tidak menjamin hidup kamu bakal tenang, kau tahu kan kakaknya seperti apa"


"Saya tidak akan pernah melepaskannya pa, terimakasih atas beribu kesempatan yang telah papa dan mama berikan, saya tahu hati manusia itu gampang sekali berubah, kalau pun ada hari dimana saya tidak mencintainya lagi maka saya akan terus memohon pada Allah untuk menumbuhkan rasa cinta saya untuknya kembali, dan jika dia tidak mencintai saya lagi saya tetap tidak akan melepaskannya karena saya juga akan terus memohon pada Allah agar ia dapat mencintai saya kembali" ujar Azril mantap, dari semenjak kecelakaan yang menimpa Rara ia sudah berjanji pada hatinya untuk terus menyimpan nama Rara


***


Beberapa bulan kemudian


Seorang wanita dengan kacamata hitamnya berjalan di sebuah bandara, dibelakangnya terdapat beberapa pengawal yang menggeret koper miliknya, berjumlah tiga koper besar


***


👣 👣 👣 👣 👣 👣